Dalam pertunjukan sastra lisan, ruang (space) adalah aspek yang amat penting. Seorang tukang cerita memiliki teknik dan strategi tertentu dalam menggambarkan ruang kepada khalayaknya (audience), supaya khalayak bisa dirayu ‘masuk’ ke dalam peristiwa cerita. Ada penggambaran ruang yang kuat lewat gesture (gerak tubuh), tapi ada yang yang kuat lewat kata (naratif). Barangkali kecenderungan kedua ini ada pada teks pantun, sebagaimana dapat kita kesan dalam nomor-nomor terdahulu maupun dalam nomor ini.
617.
Urang Padang makan antimun,
Dimakan di Ikua Koto,
Jangan mamang di angin ka turun,
Padoman ada pado kito.
618.
Salampuri labiah bajua,
Labiah pangabek pinggang Sutan,
Hati hati pelang kalua,
Pincalang banyak di lautan.



