Dalam buku Pemetaan Sastra Lisan Minangkabau yang dikompilasi oleh Adriyetti Amir,
Zuriati, dan Khairil Anwar (Padang: Andalas University Press, 2006) disebutkan beberapa genre sastra lisan Minangkabau yang teksnya berbentuk pantun. Genre-genre itu ada yang berbentuk cerita seperti Dendang Pauah (lih. juga Suryadi 1993) dan ada yang tidak, seperti Bagurau. Ini menunjukkan bahwa fungsi pantun di Minangkabau lebih luas dari dan berbeda dengan yang ditemukan dalam lingkungan loterer tradisional etnis lain di Nusantara. Di nomor ini (64) kami sajikan lagi beberapa untai pantun Minang klasik, penyambung nomor terdahulu.
492.
Ka subarang batuduang pinggan,
Panuah barisi layu-layu,
Kasiah Tolan tainggan-inggan,
Kato kami tadorong lalu.
Read the rest of this entry »
Posted on on Januari 24th, 2012 in
Khazanah Pantun Minang, Sastra & Budaya Minang
|
No Comments »
Mengapa satu bahasa sangat kaya dengan kiasan, dan bahasa lain tidak, khususnya dalam ranah literer? Apakah perbedaan ini mencerminkan perbedaan tingkat ‘sofistikasi’ budaya? Pertanyaan ini mungkin menarik dikaji lebih dalam dari perspektif etnolinguistik. Yang jelas, dibanding dengan pantun-pantun Melayu, misalnya, pantun-pantun Minangkabau jauh lebih rumit, lebih esoteris, dan penuh kiasan, sebagaimana dapat dikesan lagi dalam sajian kami di nomor ini (63).
484.
Ampalu di ateh bukik,
Surau Kamba di baliaknyo,
Dapek malu kami sadikik,
Jauah takaba baritonyo.
485.
Dibukak peti bagewang,
Sambilan anak tanggonyo,
Janganlah hati dipacewang,
Nantikan hari kutikonyo.
Read the rest of this entry »
Posted on on Januari 16th, 2012 in
Khazanah Pantun Minang, Sastra & Budaya Minang
|
No Comments »
Gerakan pemekaran wilayah administrasi pemerintahan dari berbagai tingkat akhirnya sampai pula ke level nagari dalam wilayah kebudayaan Minangkabau di Provinsi Sumatra Barat. Gerakan ini jelas terkait dengan isu nasional di satu pihak dan isu daerah di lain pihak. Dari perspektif nasional, wacana pemekaran nagari, dengan berbagai kepentingan (politik, ekonomi, sosial) yang tersembunyi di baliknya, jelas mengikut tren politik yang terjadi di Indonesia pasca tumbangnya Orde Baru (1998). Sejak mulainya era Reformasi banyak wilayah administrasi pemerintahan di seluruh Indonesia, sejak dari tingkat provinsi sampai kecamatan, sudah dimekarkan. Dari perspektif daerah, wacana pemekaran nagari, langsung atau tidak, telah didorong oleh gerakan “Baliak ka Surau ka Nagari” yang dicanangkan oleh Pemerintah Daerah Provinsi Sumatra Barat.
Gerakan “Baliak ka Surau ka Nagari”, yang merupakan reaksi penolakan atas konsep homogen desa (dipinjam dari sistem geopolitik tradisional Jawa) sebagai unit administrasi pemerintahan terbawah di Indonesia yang telah dijalankan selama Orde Baru berkuasa (1967-1998), rupanya berjalan tidak semulus yang dibayangkan. Persoalan kultural utama yang muncul adalah bahwa dalam masyarakat Minangkabau kontemporer sifat gotong royong sebagai ciri khas kehidupan ber-nagari klasik sudah terkikis. Selain itu, campur tangan politik Orde Baru selama lebih dari tiga dekade telah melahirkan aparat-aparat pemerintahan di level nagari (yang pada masa Orde Baru langsung diubah menjadi desa) yang telah ‘tercemar’ semangat hirarkis (merasa bertanggung jawab kepada camat) ketimbang memiliki inisiatif terbuka-kolektif yang bersifat awak samo awak dengan warga nagari-nya, sebagaimana dulu tercermin dalam kehidupan ber-nagari di Minangkabau.
Read the rest of this entry »
Posted on on Januari 10th, 2012 in
Kajian Umum
|
4 Comments »
Mengarang pantun ibarat mengaduk (maaru) gula saka dan santan jadi tengguli. Adukan yang pas akan menghasilkan tengguli yang manis dan enak. Sebuah ungkapan Minang lama berbunyi: ‘Kurang aru cirik kambiangan, talampau aru bapalantiangan’. Ungkapan itu menyiratkan bahwa hanya tangan dan yang cekatan dan emosi yang tertatalah yang dapat menghasilkan tengguli yang bagus. Demikian pula halnya dalam mengarang pantun. Di nomor ini kami turunkan lagi pantun klasik Minangkabau – contoh yang telah sudah, tempat tuah diambil kepada yang menang.
476.
Dicabiak kain dibali,
Dielo tangah tigo elo,
Mintak tabiak kami banyanyi,
Badan ketek kurang pareso.
477.
Balayia kapa dari Kurinci,
Balabuah tantang Pulau Panai,
Kok banci katokan banci,
Jangan ditulak jo parangai.
Read the rest of this entry »
Posted on on Januari 9th, 2012 in
Khazanah Pantun Minang, Sastra & Budaya Minang
|
1 Comment »
Posted on on Januari 4th, 2012 in
Diskusi R@ntauNet
|
2 Comments »
Konon dalam sebuah buku muatan lokal untuk sekolah dasar dan menengah di Sumatra Barat disebutkan bahwa adat Minangkabau yang matrilineal meniru perilaku binatang. Apa sebenarnya yang diajarkan kepada generasi muda kita dalam buku muatan lokal itu? Mengapa, misalnya, melalui buku muatan lokal itu tidak diinformasikan juga khazanah sastra Minangkabau seperti pantun, teka-teki, kaba, dan lain sebagainya. Bahan-bahan untuk itu lebih dari cukup, seperti yang kami sajikan lagi di nomor ini.
469.
Anak buayo di Gunung Tabua,
Anak ruso di dalam padi,
Mudiak ka Padang patang-patang,
Lalu diburu masuak kampuang,
Kasiah ka Adiak lah tatabua,
Tolong latak’an dalam hati,
Pikia dek Adiak duduak surang,
Kasiah mularaik masuak jantuang.
Read the rest of this entry »
Posted on on Januari 2nd, 2012 in
Khazanah Pantun Minang, Sastra & Budaya Minang
|
No Comments »
Jeremy Wallach
Modern Noise, Fluid Genres; Popular Music in Indonesia, 1997–2001 Madison, Wisconsin [etc.]: The University of Wisconsin Press, 2008 xvi + 323 halaman.
ISBN 978-0-299-22904-7 (paperback)
Modern Noise, Fluid Genres: Popular Music in Indonesia, 1997–2001 adalah studi mutakhir yang mendalam mengenai muzik pop Indonesia. Penulisnya sendiri menyebut studi ini sebagai an ethnographic investigation of Indonesian popular music genres and their producers and listeners during the period of dramatic political and cultural transformation (mukasurat 3). Jelas bahawa penulisnya menaruh kesedaran atas perubahan mendasar politik Indonesia selepas tumbangnya Rezin Orde Baru (1998) yang kemudian berganti dengan Era Reformasi. Semula buku ini adalah disertasi Wallach yang bertajuk “Modern Noise and Ethnic Accents: Indonesian Popular Music in the Era of Reformasi” (University of Pennsylvania, 2002).
Read the rest of this entry »
Posted on on Desember 30th, 2011 in
Resensi Buku
|
No Comments »
Dalam kajian tradisi lisan, pantun dapat dikategirikan ke dalam verbal art (Inggris) atau taal kunst (Belanda) – seni verbal. Seperti dicatat oleh Ruth Finnegan, seorang ilmuwan tradisi lisan dalam bukunya Oral Traditions and the Verbal Arts (London & New York: Routledge, 1996:10), istilah verbal art – yang awal mulanya diperkenalkan oleh W.R. Bascom (1955) – mencakup cerita rakyat, mitos, legenda, petatah-petitih, teka-teki, dan genre-genre literer lainnya, termasuk pantun. Kajian-kajian ilmiah tentang pantun Minangkabau, khususnya dari perspektif tradisi lisan, tentu harus terus digalakkan. Di nomor ini (60) kami sajikan lagi untaian pantun Minangkabau untuk para pembaca setia rubrik ini.
463.
Ramilah pakan di Baringin,
Soraknyo lalu ka subarang,
Hati siapo nan tak ingin,
Maliek bungo jolong kambang.
Read the rest of this entry »
Posted on on Desember 27th, 2011 in
Khazanah Pantun Minang, Sastra & Budaya Minang
|
No Comments »
Selama dua dekade lalu industri rekaman daerah di Indonesia berkembang dengan pesat. Hampir setiap kelompok etnis di Indonesia memiliki musik pop sendiri yang sekarang tersedia dalam rekaman-rekaman komersial berupa kaset dan VCD. Perkembangan pesat industri rekaman daerah di Indonesia ini juga mempengaruhi sastra lisan etnik, termasuk seni verbal tradisional di Minangkabau. Sumatra Barat merupakan salah satu pusat industri music terbesar di Indonesia setelah Jakarta. Meskipun produk utama dari perusahaan-perusahaan rekaman di Sumatra Barat adalah Pop Minang, genre seni verbal tradisional Minangkabau juga tercermin sangat kuat. Ketika persaingan di antara perusahaan rekaman meningkat, ada mediasi budaya Minangkabau yang ekstensif, termasuk sastra lisan, yang mempengaruhi secara struktural dan sosiologis bentuk-bentuk seni tradisional.
Read the rest of this entry »
Posted on on Desember 23rd, 2011 in
Jurnal dan Artikel
|
No Comments »
Pantun Minangkabau, sebagai salah satu varian dari genre pantun yang dapat ditemukan di banyak bahasa daerah di Nusantara, jelas mempunya ciri tersendiri. Namun, belum banyak kajian yang menyibak kekhasan bahasa dan literer pantun-pantun Minangkabau. Salah satu keunikan pantun Minang, misalnya, ditemukannya bait-bait yang lebih dari 4 baris/larik, bahkan ada bait-bait yang sampai lebih dari 20 baris/larik. Di nomor ini (59) kami turunkan lagi beberapa bait pantun Minangkabau klasik guna pengasah-asah pisau bahasa literer kita yang penuh kiasan itu, yang kurang lebih dua dekade terakhir ini dibuat tumpul oleh berbagai elemen budaya luar, termasuk media, yang membanjiri budaya Minangkabau.
455.
Tuan Obos kumandua lauik,
Tidua lalok di tangah hari,
Apo katenggang alang lauik,
Tidak sabandiang jo matoari.
Read the rest of this entry »
Posted on on Desember 21st, 2011 in
Khazanah Pantun Minang, Sastra & Budaya Minang
|
No Comments »