Suryadi

Historiografi Bahasa Minangkabau

30 Apr 2006 - 10:12 WIB

Sudah banyak studi mengenai Bahasa Minangkabau (BM) dilakukan para ahli linguistik, terutama sekali dari perguruan tinggi yang berada di Sumatra Barat sendiri. Namun, yang agak langka adalah studi mengenai historiografi BM itu sendiri. Bagaimana situasi kebahasaan orang Minang di masa lampau, sejarah usaha pembentukan BM ragam tulis, intervensi orang Belanda dengan hoeroef Walanda-nya (huruf Latin/Rumi) terhadap BM di abad ek-19, dan efeknya terhadap masyarakat dan kebudayaan Minangkabau, khususnya di bidang bahasa, belum pernah diteliti secara mendalam.

Tulisan ini mendeskripsikan secara sepintas historiografi BM, sekadar untuk menambah pengetahuan kita mengenai perjalanan sejarah BM, syukur-syukur ada yang tertarik untuk menulis disertasi mengenai historiografi Bahasa Minangkabau, mengingat bahwa tersedia data yang cukup sebagai bahan rujukan. Sesungguhnya aspek historis BM penting untuk diketahui agar kita dapat memahami beberapa gejala linguistik dalam BM ragam tulis yang ada sekarang. Bentuk BM hari ini ditentukan pula oleh sejarahnya di masa lalu.

BM adalah bahasa lisan. Memang ada kemungkinan sebelum Islam berkembang di Sumatra ada semacam huruf Sumatra kuno yang juga dipakai oleh orang Minangkabau (lihat: P. Dt. Simulie, Ditemukan di Pariangan dan Sulit Air dua macam huruf asli [aksara] Minangkabau, Semangat 1, 14 dan 20 Mei 1980; baru-baru ini filolog Uly Kozok juga menemukan sebuah naskah kuno di Kerinci yang berasal dari abad ke-12 yang ditulis dalam apa yang disebutnya huruf Sumatra kuno). Tetapi seiring dengan berkembangnya Islam di Sumatra, huruf Sumatra asli itu dialahkan oleh aksara Arab hasil adopsi orang Melayu, yang lebih dikenal dengan istilah huruf Jawi (lihat :Anonim, Bahasa I. Insulinde Tahoen I [Boelan April 1901]: 21-22).

BM lisan itu mulai membentuk ragam tulis yang agak standar berkat pemakaian aksara Jawi itu, karena sebetulnya ia sudah punya semacam sistem ortografi (ejaan) sendiri (yang bukan bikinan orang Eropa) dan, yang lebih penting lagi, ia dapat menjembatani berbagai kelompok dialek penutur BM. Khaidir Anwar dalam Beberapa Aspek Sosio-Kultural Masalah Bahasa (1995) mengatakan BM ragam tulis standaryang awal itu dipakai untuk menuliskan dokumen-dokumen tradisional semisal surat pagang gadai, mantra pengobatan, ranji, dll. Belakangan, di abad ke-18 dan 19 ia dipakai untuk menuliskan khazanah budaya lisan Minangkabau yang lain. Demikianlah umpamanya, kaba dan tambo ditulis setelah Islam masuk ke Minangkabau dengan BM standar berkasara Jawi itu (Dt. Tan Basa, Aman Makmur 1.6, 1970). Beberapa surau menjadi pusat penulisan (skriptorium), seperti terungkap dalam penelitian M. Yusuf dan kawan-kawan (Tokyo: in press) mengenai khazanah pernaskahan Minangkabau. Yang agak sulit adalah mengetahui keadaan BM ragam tuliskalau adapra-aksara Jawi: belum dapat dipastikan apakah orang Minang sudah punya bahasa ragam tulis dengan sistem ortografi sendiri pada waktu itu, karena memang sampai sekarang belum ditemukan bukti ilmiah yang memadai.

Memasuki pertengahan abad ke-19 BM ragam tulis beraksara Jawi itu mengalami semacam goncangan karena intervensi orang Eropa, khususnya Belanda, yang ingin menciptakan BM ragam tulis beraksara Latin (Rumi). Ide ini berkaitan dengan strategi politik kolonial Belanda yang ingin menjauhkan huruf Arab dari masyarakat pribumi, khususnya yang beragama Islam. Para penasehat Pemerintah Kolonial Belanda, seperti KF Holle, membisikkan Batavia bahwa dengan menjauhkan huruf Arab dari masyarakat pribumi, maka efek radikalisme agama yang membahayakan Pemerintah Kolonial dapat dieliminasi.

Pada tahun 1807 peneliti Inggris William Marsden dalam artikelnya On the Traces of the Hindu Language and Literature Extant among the Malays (Asiatic Researches 4, 1807: 217-224) menyatakan bahwa BM adalah salah satu ancestral home (rumah asal) Bahasa Melayu. Namun kajian ilmiah terhadap BM baru mulai marak beberapa dekade kemudian, seiring dengan penerapan Sistem Tanaman Paksa (Cultuurstelsel) pada tahun 1830-an, menyusul pengenalan sekolah Eropa di Keresidenan Sumatras Westkust mulai tahun 1825. Seperti diuraikan Elizabeth E. Graves dalam disertasinya, The Ever-Victorious Buffalo: how the Minangkabau of Indonesia solved their Colonial Question (1971), orang Minangkabau menyambut baik sekolah-sekolah model Eropa yang kemudian bertambah banyak muncul di Minangkabau, khususnya masyarakat sebuah kampung kecil di dekat Bukittinggi: Kota Gedang (sejak semula, sebelum Bahasa Indonesia ada, sudah ditulis demikian). Bahkan orang Minang menciptakan sendiri sekolah yang meniru model sekolah Eropa, yang disebut sekolah nagari (de nagari school).

Sampai tahun 1830-an pe-latin-an BM masih jarang ditemukan. Meskipun pada tahun 1824 (atau sesudahnya) sebuah percetakan Inggris sudah berdiri di Padang, pindahan dari Bengkulu, yaitu percetakan Misionaris Nathaniel Ward (lihat Annabel Teh Gallop, Early Malay Printing: An Introduction to the British Library Collection, JMBRAS 63.1,1990: 85-124), namun tidak ada bukti bahwa percetakan itu pernah menerbitkan buku-buku BM beraksara Latin.

Belanda mulai mengintervensi BM menyusul kemenangan mereka dalam Perang Padri (1837). Para administrator dan guru sekolah yang dikirim oleh Pemerintah Kolonial melalui Departemen Dalam Negeri (Departement Binnenlandsch Bestuur) dan Departemen Pendidikan dan Ibadah (Departement van Onderwijs en Eredienst) mulai mereplikasi BM lisan ke dalam ragam tulis memakai huruf Latin.

Pada tahun 1847 A. Meursinge, instruktur Bahasa Melayu di Akademi Delft, salah satu think tank Pemerintah Kolonial Belanda, mulai mengomentari (menyangsikan) keakuratan sistem transliterasi yang dibuat oleh orang Minangkabau sendiri. Campur tangan orang Belanda terhadap BM, dengan demikian, mulai makin nyata. Sekitar 1857 J.A.W. van Ophuijsen (ayah Ch. A. van Ophuijsen, yang kemudian amat menentukan jalan sejarah Bahasa Melayu dengan Edjaan Van Ophuijsen-nya [1901]) menulis sebuah manuskrip dalam huruf Latin, berjudul Tjajar Sapi, isinya tentang pengetahuan mengenai vaksinasi. Bahasanya Melayu Riau (BMR) bercampur BM. Itulah bukti yang cukup awalkalau bukan yang pertamatentang BM ragam tulis beraksara Latin (naskahnya sekarang tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden dengan kode Or 12.168 A).

Tahun 1872 terbitlah bunga rampai pertama dalam BM dalam dua aksara: Jawi dan Latin: Menangkabausch-Maleische Zamenspraken. Penerbitnya Martinus Nijhoff di Den Haag (The Hague). Pengarangnya bernama Si Daoed Radja Medan, Kepala Pengawas Sekolah Pribumi di Padang (sebelumnya ia menjadi guru di Sekolah Radja, Kweekschool,, Fort de Kock [Bukittinggi]). Ahli Bahasa Melayu di Akademi Delft, Prof. Pijnappel, menulis pengantar (vorrede) untuk buku ini, dimana ia mengeluhkan minimnya perhatian akademik terhadap BM, dan mendesak kalangan akademis Belanda untuk menelitinya dengan lebih mendalam.

Buku Radja Medan itu ternyata menarik perhatian para sarjana pada waktu itu, terutama mengenai sistem transkripsi untuk aksara Latin yang dipakainya (tampaknya ia tidak menciptakan suatu sistem ortografi yang khusus untuk BM untuk bukunya itu); juga beberapa pernyataan Pijnappel dalam kata pengantarnya di halaman I-IXV. Sama halnya dengan Meursinge, Pijnappel menganggap BM hanyalah salah satu dialek saja dari BMR. Beberapa sarjana Belanda yang (pernah) tinggal di Minangkabau bereaksi terhadap pernyataan Kubu Akademi Delft itu. Di antaranya yang paling vokal adalah J.L. van der Toorn, pengajar di Rekolah Radja (Kweekschol) in Fort de Kock (1874 - 1895), dan J. Habbema, seorang ahli pendidikan yang pernah tinggal di darek selama 3 tahun (1877-1880). Keduanya mengatakan bahwa BMdengan jumlah penutur kurang lebih sejuta orang pada tahun 1880-an, 600.000 di antaranya tinggal di darekadalah bahasa tersendiri (lihat artikel Van der Toorn, Het Minangkabausch tegenover Riausch, TBB 1e deel, Nos.1-6, 1888:36-49 dan artikel Habbema, Proeven van West-Sumatraansch Maleisch, TBG 26, 1879:337-361).

Pada tahun 1891 Van der Toorn menciptakan sistem ortografi pertama untuk BM beraksara Latin, terdiri dari 26 huruf (19 konsonan, 6 vokal), yang diimplementasikannya dalam Kamus Minangkabau-Melayu-Belanda yang disusunnya bersama Si Daoed Radja Medan (1901). Ia menganggap BM dialek Agam lebih murni ketimbang yang dituturkan di kawasan pantai seperti di Padang, Pariaman dan Pesisir Selatan. Pada tahun 1899 Van der Toorn menerbitkan buku Tatabahasa Minangkabau yang pertama: Minangkabau Spraakkunst.

Tak mungkin saya senaraikan puluhan artikel menyangkut perdebatan akademis mengenai Bahasa Minangkabau pada tahun 1870-an sampai 1930-an dalam tulisan yang pendek ini. Sebagai catatan untuk pembaca, kebanyakan artikel itu dimuat dalam Tijdschrift voor het Binnenlandsch Bestuur (sering disingkat TBB), Tijdscrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde (sering disingkat TBG), Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde (sering disingkat BKI), dan De Indische Gids. Penelusuran kepustakaan melalui sumber-sumber di atas dapat membimbing kita untuk menemukan sumber-sumber kepustakaan yang lain. Para sarjana yang pernah memublikasikan transkripsi BM dalam aksara Latin (sering dengan bantuan asisten Minangnya), atau ikut dalam perdebatan mengenai BM, pada periode itu antara lain A. Meursinge, A.F. von de Wall, A.W. Juynboll, Ch.A. van Ophuijsen, H.C. Klinkert, J. Pijnappel, Si Daoed Radja Medan, J.F.L. Schneider, J.J. Limbourg Brouwer, J.C. van Eeerde, J.L. van der Toorn, M. Thaib gl. St. Pamoentjak, R. van Eck, J. Habbema, Gerth van Wijk, G.J. Harrebome, L.K. Harmsen, A.L. van Hasselt, W. Hoogkamer, G. de Waal, Ph.S van Ronkel, M.G. Emeis, dan Abd. Azis Soetan Kenaikan.

Wacana akademik mengenai BM semakin gencar memendekati akhir 1880-an, terutama setelah suksesnya De Sumatra Expeditie (Ekspedisi Sumatra) di bawah pimpinan AL van Hasselt (1877-1879). Perdebatan di kalangan sarjana mengenai BM sepanjang paruh kedua abad ke-19 menyangkut dua hal penting: 1) menciptakan sistem ortografi yang stabil untuk BM dalam aksara Latin (sistem ejaan/ortografi yang dibuat oleh seorang sarjana dikritik oleh sarjana lain; persoalan yang pelik adalah melambangkan bunyi luncuran [diftong] dan glottal stop); 2) kedudukan BM terhadap BMR: apakah yang pertama merupakan dialek dari yang kedua atau masing-masing adalah bahasa tersendiri.

Dari perdebatan itu dapat disimpulkan bahwa usaha Belanda untuk menciptakan BM ragam tulis beraksara Latin, dengan menciptakan sistem ortografi untuk BM berbasis nagari, gagal. Tampaknya terjadi penolakan oleh orang Minang sendiri. Sebaliknya sebuah sistem ortografi yang berterima oleh dan comfortable bagi seluruh penutur dialek BM tidak kunjung jua dapat diciptakan. Susahnya, BM terlalu banyak dialek: Van Ronkel dalam artikelnya, Mededeelingen aangaande een palataliseerend Minangkabausch dialect (BKI 74, 1918:407-418) mengatakan di darek saja ada empat dialek besar: Dialek Turawan, Dialek Si Jangek, Dialek Pagaruyung, dan Dialek Gurun. Di kawasan pantai tentu banyak pula dialeknya.

Usaha terakhir Pemerintah Kolonial Belanda menciptakan BM ragam tulis beraksara Latin pada tahun 1930-an, dengan menerbitkan buku berbahasa Minang Lakeh Pandai (LP), Kini lah Pandai, dan Dangakanlah karangan M.G. Emeis, dan menjadikannya sebagai bacaan wajib di sekolah-sekolah nagari dan sekolah pemerintah di Keresidenan Sumatras Westkust dan Tapanuli, juga ditolak oleh orang Minang. Pada tahun 1939, para intelektual Minang dan persatuan guru pribumi, dipimpin oleh Abd. Azis Soetan Kenaikan, menyampaikan protes kepada Dewan Minangkabau (Minangkabau Raad) di Padang. Mereka minta Pemerintah Kolonial menarik LP dari sekolah-sekolah.

Sebenarnya, pada tahun 1928, orang Minang sudah mendengar rencana Pemerintah untuk menggantikan BMR dengan BM sebagai bahasa pengantar di sekolah rakyat. Mereka langsung memrotes: Persatuan Guru pribumi dari Keresidenan Sumatras Westkust dan Tapanuli mengadakan kongres di Fort de Kock. Mereka minta Pemerintah Kolonial membatalkan rencana itu. Tapi protes itu tidak digubris Pemerintah. Buku LP akhirnya diterbitkan juga dan wajib diajarkan di sekolah-sekolah; BMR dihapuskan sebagai bahasa pengantar dan mata pelajaran pokok di sekolah-sekolah. Tahun 1933 Persatoean Goeroe Indonesia (PGI) dalam konferensi mereka di Padang Panjang juga memrotes buku LP.

Protes Abd. Azis Soetan Kenaikan dan kawan-kawan dimuat dalam koran Sinar Sumatra (7 & 13 Juli 1939). Di sana jelas motif penolakan orang Minang terhadap LP. Kenaikan mengatakan bahwa pengajaran BM ragam tulis beraksara Latin, melalui buku LP, sama artinya dengan me[nge]rem kemadjoean rajat Minangkabau. Orang Minang memelesetkan Lakeh Pandai (cepat pintar) menjadi Lakeh Pandia (cepat bodoh). Kenaikan mengatakan bahw jelas ini memalukan Pemerintah. Akhirnya Pemerintah Kolonial bereaksi juga, tapi tidak mau menghentikan program itu secara total. Pada bulan Mei 1939 jumlah jam pelajaran untuk buku LP dikurangi. Sekuelnya, Kini lah Pandai (4 jilid) dan Dangakanlah (2 jilid) yang sudah terlanjur dicetak, tidak jadi disebarkan ke sekolah-sekolah.

M.G. Emeis dalam LP, Kini lah Pandai dan Dangakanlah menggunakan apa yang disebutnya Bahasa Minangkabau caro pakan, yang menurut Kenaikan tidak merepresentasikan satu dialek pun dalam BM dan terasa amat janggal di luar dinding sekolah. Emeis juga menciptakan sistem ortografi baru yang merupakan modifikasi dari sistem ortografi ciptaan Van der Toorn (belakangan sistem ortografi Van der Toorn ini dimodifikasi lagi oleh M. Thaib glr. St. Pamoentjak dalam kamusnya, Kamoes Bahasa MinangkabauBahasa Melajoe-Riau (1935).

Para sarjana Belanda mengingkari kenyataan bahwa sesunguhnya orang Minang sudah memiliki semacam bahasa ragam tulis yang cukup standar ciptaan mereka sendiri, hasil resapan linguistis dari berbagai pengaruh luar, mula-mula Islam, kemudian Barat, dan unsur-unsur dalam kebudayaan Minang sendiri. Mereka juga sudah punya sistem tulisan Jawi yang dapat dipahami oleh penutur antar dialek dalam BM. Seperti dikatakan Jeffrey Hadler dalam disertasinya, Place like Home: Islam, Matriliny and the History of Family in Minangkabau. (2000), BM ragam tulis itu merupakan hasil dari reaksi orang Minang terhadap Perang Padri yang menghadirkan kekuatan Belanda di negeri mereka, pengaruh sekolah Eropa dan sekolah agama (sistem pendidikan surau) dan juga aktivitas individu-individu melek huruf dalam masyarakat Minangkabau. Kombinasi dari semua pengaruh itu membentuk apa yang oleh Ph.S. van Ronkel disebut BM ragam tulis gaya schoolschriften (tulisan sekolahan).

Puluhan naskah schoolschriften itu sekarang masih tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden. Bahan-bahan itu merupakan data penting untuk studi historiografi BM. Sayang sekali belum banyak disentuh oleh peneliti (setahu saya baru Jeffrey Hadler yang banyak menggunakan bahan-bahan itu untuk data disertasinya). Demikianlah umpamanya, ada naskah Dari hal orang kawin di Kota Gedang (Or 6002) dan Dari hal orang beranak di Kota Gedang (Or 6005) oleh Soetan Sarit, Tjakap2-Rampai2 orang isi negeri Manindjau (Or 5905) oleh Soetan Marohoem, Pada menjatakan orang kawin di Padang dan Pada menjatakan toeroen mandi anak di Padang (Or 6004) oleh Soetan Ibrahim, dan Hal perempoean di Si Djoenjoeng (Or 6003) oleh Arifuntuk sekadar menyebut contoh.

Dari segi semantis dan leksikon, BM ragam tulis gaya schoolschriften itu unik dan berbeda dengan BMR ragam tulis yang juga memakai huruf Latin. Sepintas ia mungkin dikatakan sebagai peminangan BMR ragam tulis. Tapi sebenarnya ia punya struktur dan ciri tersendiri. Salah satu cirinya adalah penulisan nama kampung atau nagari tertentu di Minangkabau yang berbeda dengan pelafalannya dalam BM secara lisan: Air Tiris untuk Aia Tirih (lisan); Matur untuk Matua (lisan); Tapakis untuk Tapakih (lisan); Sekerat Hulu untuk Sakarek Hulu (lisan); Sunur untuk Sunua (lisan); Sungai Puar untuk Sungai Pua (lisan); Solok Selaya untuk Solok Salayo (lisan); Ampat Angkat untuk Ampek Angkek (lisan). Contoh ini dapat diperbanyak. Tentu saja penulisannya sesuai dengan sistem ortografi masa itu, yang sayangnya tidak tunggal, karena masing-masing sarjana mentranskripsikan BM dengan cara berbeda-beda, dan pada umumnya mereka hanya bersandar pada ilmu linguistik Eropa saja. Nagari-nagari dengan nama depan atau belakang koto, dalam BM ragam tulis gaya schoolschriften berubah menjadi kota (Kota Gedang, Kota Enau. Kota Tua, VII Kota, V Kota, XII Kota, dll.). Menarik juga bahwa secara historis nama Minangkabau pernah ditulis dengan beberapa variasi: Minangkabau (yang umum diketahui), Minang Kabau, Menang Kabau, dan Minangkerbau. Orang Belanda sering juga menulisnya Manangkabau (jadi, sesuai dengan mitos bahwa kerbau orang Minang yang kecil dapat menang [BM: manang] dari kerbau orang Jawa yang besar).

Dua asumsi dapat dikemukakan di sini berkaitan dengan asal-muasal penulisan seperti itu. Pertama, ketika huruf Latin disosialisasikan oleh Belanda di Minangkabau pada paruh pertama Abad ke-19, orang Minang secara lansung mentransfer sistem penulisan berdasarkan ortografi Jawi ke huruf Latin. Kita tahu bahwa aksara Jawi tidak sepenuhnya bisa mengkodifikasikan seluruh bunyi BM, khususnya bunyi luncuran (dalam manuskrip Minang, misalnya, kata aia selalu ditulis dengan alif-ya-ra). Jadi, apa yang sudah berlaku dalam BM ragam tulis beraksara Jawi kemudian diteruskan dalam BM ragam tulis beraksara Latin. Tapi asumsi ini agak lemah, mengingat bahwa nama-nama kampung atau nagari tertentu yang sebenarnya dapat dikodifikasikan sesuai dengan bentuk lisannya, ternyata tetap ditulis berbeda: Koto Anau, misalnya, sebenarnya dapat dituliskan persis seperti itu dalam tulisan Jawi, tanpa harus mengubahnya menjadi Kota Enau.

Asumsi keduayang lebih masuk akaladalah bahwa sistem penulisan nama-nama kampung atau nagari seperti itu disebabkan keadaan penutur BM yang berada dalam situasi diglosia: pada situasi tertentu mereka memakai BM, pada situasi lain mereka memakai BMR. Dalam diglosia dua bahasa yang berbeda dipakai dalam dua situasi sosial yang berbeda pula. Seperti dikatakan oleh Khaidir Anwar dalam artikelnya, Languages Use in Minangkabau Society (Indonesia Circle No.22,1980:55-63), orang Minangkabau tidak merasa dibebani oleh pengunaan Bahasa Indonesia, dan sejak dulu menganggap BMR sebagai bahasa mereka sendiri. Catatan Van der Toorn pada 1881 menggambarkan situasi diglosia penutur BM pada abad-19: orang Minang mengenal apa yang disebutnya bitjaro gadoeang atau haloeih (halus) untuk penggunaan BMR (yang berwarna/berciri Minang) dan bitjaro kasa (bahasa kasar) yang merujuk ke bahasa lisan BM yang berciri dialektis.

Bitjaro gadoeang digunakan dalam situasi resmi antar penutur yang berasal dari etnis yang berbeda, atau antar orang Minang yang terpelajar dengan orang Belanda, atau di kalangan terpelajar sesama orang Minang sendiri dalam situasi resmi. Ini sebetulnya bentuk lisan dari schoolschriften. Sedangkan bitjaro kasa dipakai dalam situasi informal di antara orang Minang sendiri yang berasal dari satu dialek.

Sangat mungkin sistem penulisan nama kampung atau nagari yang berbeda dalam tulisan dan lisan itu, yang masih dapat dikesan sampai sekarang, disebabkan oleh situasi bitjaro gadoeang itu. Kalau begitu, masuk akal mengapa dalam catatan orang-orang Eropa mengenai Minangkabau kita melihat penulisan nama kampung atau nagari tertentu dengan sistem seperti itu (lihat misalnya catatan harian Thomas Stamford Raffles yang mengunjugi Pagaruyung tahun 1819); saya menduga orang Minangkabau, ketika menulis atau berbicara dengan orang luar, misalnya orang Belanda, cenderung membahasa haluskan nama-nama nagari tertentu, sehingga mereka menulis atau mengucapkan Puar Datar ketimbang Pua Data, Alang Lawas ketimbang Alang Laweh, Salida ketimbang Salido, Saningbakar ketimbang Saniangbaka, Pasar Gedang ketimbang Pasa Gadang, dsb. Malah, menurut dugaan saya, sistem penulisan seperti sudah ada jauh sebelum aksara Latin digunakan untuk mengkodifikasikan BM ragam tulis, yang sebenarnya akibat pengaruh bahasa lisan formal orang Minang. Ini sebenarnya masih dapat dikesan sampai sekarang: kalau orang kampung mencoba berbicara bahaso gadoeang itu (misalnya kalau diwawancarai) maka kira-kira akan muncul kalimat begini: Saya orang Cubadak Air, setiap hari pakan saya pergi menggalas ke Air Tiris. Itulah pekerjaan saya. Kalau ada lada, lada digalas, kalau ada kerambil, kerambil digalas.

Jadi, penulisan nama-nama kampung atau nagari dengan sistem seperti itu bukan karena pengaruh Bahasa Indonesia (lihat artikel Zuriati dan Ivan Adilla,Tabing atau Tabiang? Pengindonesian Nama-nama Daerah di Sumatra Barat, Padang Ekspres, 22-01-2006). Jauh sebelum Bahasa Indonesia secara resmi diikrarkan dalam Sumpah Pemuda tahun 1928, orang Minang sudah menuliskan nama-nama kampung atau nagari tertentu dengan cara berbeda antara yang dilisankan dengan ragam tulis. Itu sudah merupakan bagian dari sejarah BM ragam tulis sejak abad ke-19, atau mungkin lebih awal lagi. Kita juga tidak perlu khawatir atas kemungkinan pergeseran Makna akibat sistem penulisan yang berbeda dengan bentuk lisannya. Orang Minang tetap mengerti bahwa Bandar Berkali itu maksudnya adalah Banda Bakali (lisan), asal jangan ditulis Bandar Ber X saja.

Suryadi Peminat Bahasa dan Sastra Daerah, alumnus Fakultas Sastra UNAND Program Studi Bahasa & Sastra Minang, dosen dan Peneliti di Opleiding Talen en Culturen van Indonesi Universiteit Leiden, Belanda

Sumber: Harian Singgalang, Minggu, 25 & 30 April 2006


TAGS  


Author

Recent Post

Recent Comments

Archive