Suryadi

Menyelamatkan Kekayaan Bahasa Minangkabau : Tantangan Ahli Bahasa dan Pekamus

30 Apr 2006 - 22:38 WIB

Seperti halnya bahasa-bahasa daerah lainnya di Indonesia, Bahasa Minangkabau terus berubah. Pengaruh Bahasa Indonesia sudah menyebar jauh ke pelosok daerah di Sumatra Barat, dibawa oleh media audio visual seperti televisi dan radio, membengkokkan lidah generasi muda Minangkabau, yang mulai terbata-bata berkomunikasi dalam bahasa ibunya sendiri. Suka atau tidak suka, Bahasa Indonesia, dan mungkin juga bahasa asing seperti Bahasa Inggris, makin mempengaruhi masyarakat penutur Bahasa Minangkabau. Demikianlah umpamanya, di banyak desa aktivitas budaya tempat menuturkan Bahasa Minangkabau ragam adat makin jarang dipraktekkan. Kalau dulu acara pasambahan menjemput mempelai pria (manjapuik marapulai), misalnya, bisa memakan waktu berjam-jam, dimana kemampuan bersilat lidah benar-benar dipraktekkan, yang penuh dengan mamangan, pepatah, gurindam, pantun, dan idiom-idiom yang penuh metafora, maka sekarang masyarakat cenderung main praktis saja: niat dan maksud disampaikan dalam pembicaraan pendek dalam kalimat-kalimat denotatif, lalu makan, kemudian pulang.

Bahasa daerah seperti Bahasa Minangkabau jelas punya keterbatasan dalam mengkodifikasikan pengetahuan modern. Oleh sebab itu makin lama ruang pemakaian Bahasa Minangkabau makin menyempit. Ditambah lagi dengan kenyataan bahwa Bahasa Minangkabau tidak memiliki sistem ejaan (orthography) yang standar dan stabil dan sejak semula lebih berciri lisan.

Sejak 30 tahun terakhir, makin banyak kosakata, frase, idiom, dan petatah-petitih Bahasa Minangkabau yang tidak terpakai lagi dan berangsur lenyap, yang merupakan bagian dari kekayaan Bahasa Minangkabau. Kebanyakan generasi muda Minangkabau sekarang tidak mengerti lagi dengan bahasa kiasan yang telah arkhais itu, yang penuh dengan metafora. Misalnya, jangan tanyakan arti mangapik daun kunik atau mangapik kapalo harimau atau baanak jawi kepada anak muda sekarang. Mereka akan bingung dan tidak mengerti. Kita tidak dapat menyalahkan mereka, karena basis kultural Bahasa Minangkabau ketika mereka hidup juga sudah berubah. Mungkin mereka tidak lagi kenal kata sakin, sanduak, laka, talenang, payan, saleyan, dan lain sebagainya. Mereka hidup dalam rumah tangga yang telah memakai kompor gas, dan peralatan dapur modern.

Di sinilah tantangan intelektual Minangkabau, khususnya ahli bahasa dan pekamus. Kekayaan Bahasa Minangkabau itu harus diselamatkan: dicatat di atas kertas. Jika kita tidak bertindak cepat, dengan mencatatkan seluruh kosakata, frase, idiom, dan petatah-petitih Bahasa Minangkabau itu, terutama sekali yang telah arkhais dan menjadi klasik, maka dapat dipastikan sedikit jejak yang akan tertinggal di masa depan. Menurut hemat saya, para ahli bahasa dari UNAND, UNP, dan Universitas Bung Hatta, harus bekerjasama menyusun Kamus Webster Bahasa Minangkabau. Pemerintah Daerah Sumatra Barat punya kewajiban untuk mengalokasikan dana untuk itu. Apalagi sekarang Pemda Sumatra Barat sudah menunjukkan komitmennya untuk meningkatkan anggaran pendidikan. Tentu bisa juga menggandeng pihak ketiga (sponsor-sponsor lain) yang bersedia diajak bekerjasama. Universtas Bung Hatta, misalnya, yang sudah bekerjasama dengan Max Planck Institute for Evolutionary Anthropology, bisa mencoba menjajaki kerjasama dengan institusi yang berpusat di Leipzig itu. Momentum pembukaan stasiun Max Planck Institute di Padang, yang sudah dimulai dua bulan lalu, hendaknya dapat dimanfaatkan untuk kepentingan yang lebih luas bagi penelitian dan penyelamatan Bahasa Minang yang lebih bermanfaat bagi orang Minang sendiri. Salah satu kemungkinan adalah penyusunan kamus lengkap Bahasa Minangkabau, yang mencakup unsur-unsur bahasa Minangkabau klasik maupun kontemporer.

Penyusunan kamus itu hanya mungkin dilakukan dengan kerjasama ahli bahasa dan pekamus yang punya komitmen ilmiah tinggi, disokong oleh pemerintah daerah yang punya visi budaya. Kamus itu mungkin akan terdiri dari beberapa jilid dan penyusunannya mungkin akan memakan waktu bertahun-tahun, yang akan melibatkan periset utama dan para pembantu untuk mengumpulkan data di lapangan. Kamus itu mesti lebih kaya dengan contoh-contoh penggunaan idiom di bawah setiap lema. Bisa jadi sebuah lema akan memakan setengah halaman atau lebih. Ini sebuah proyek jangka panjang yang dapart dilakukan secara bertahap.

Kamus-kamus Bahasa Minangkabau yang sudah ditulis masih harus disempurnakan. Umumnya kamus Bahasa Minangkabau yang ada miskin akan contoh frase dan idiom untuk setiap lema. Padahal kekayaan Minangkabau adalah pada keragaman makna dan idiom yang penuh metafora itu. Kamus Bahasa Minangkabau pertama disusun oleh J.L. van der Toorn, berjudul Minangkabausch-Maleisch-Nederlandsch woordenboek (s Gravenhage: Nijhoff, 1891). Kamus ini dapat dijadikan salah satu rujukan klasik untuk menyusun kamus yang baru itu; mungkin banyak kata-kata klasik Minangkabau yang tidak dikenal lagi sekarang tercatat di kamus itu.

Kemudian terbit kamus susunan M. Thaib gl. St. Pamoentjak, yang berjudul Kamoes Bahasa MinangkabauBahasa Melajoe-Riau (Batavia: Balai Poestaka, 1935). Kamus in cukup bangus: banyak contoh frase, idiom, dan ungkapan Minangkabau diberikan di bawah setiap lema. Beberapa dekade kemudian muncul kamus sederhana Bahasa Minangkabau, karangan Yunus St. Majolelo, yang berjudul Kamus Kecil Bahasa Minangkabau : Indonesia-Minang, Minang-Indonesia disertai dengan uraian tentang Bahasa Minang (Jakarta: Mutiara, 1983). Dua tahun kemudian terbit kamus Marah Rusmali [et al.], yang berjudul Kamus Minangkabau-Indonesia (Jakarta : Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1985).

Beberapa tahun kemudian terbit kamus kecil susunan Khaidir Anwar, yang berjudul Kata-Kata Khusus Minangkabau (Specific Minangkabau Vocabulary) (Padang: Yayasan Pengkajian Kebudayaan Minangkabau,1987). Beliau juga menulis Ungkapan Bahasa Minang (Minangkabau Expressions) (Padang: Yayasan Pengkajian Kebudayaan Minangkabau, 1989). Kedua-duanya mengerjemahkan kata dan istilah bahasa Minangkabau ke dalam bahasa Indonesia dan Inggris.

Kamus Bahasa Minangkabau yang agak baik dan cukup kaya adalah susunan Grard Moussay: Dictionnaire Minangkabau-Indonesien-Franais (2 vol.) (Paris: LHarmattan & Association Archipel, 1995). Kamus ini paling lengkap dibanding kamus-kamus Bahasa Minangkabau yang lain. Lema-lema tertentu dilengkapi dengan ilustrasi (gambar). Kamus ini juga dilengkapi dengan toponim (toponym) nagari dan kampung-kampung yang ada di Minangkabau. Pendeta Grard Moussay, yang pernah tinggal beberapa tahun lamanya di Bukittinggi, telah mengumpulkan banyak kosakata, frase, idiom, dan petatah-petitih Minangkabau dari sumber-sumber klasik Minangkabau dan juga para informan orang Minangkabau sendiri. Ia merupakan contoh modern penulis kamus bahasa-basa daerah di Indonesia yang berasal dari kalangan missionaris yang sudah muncul sejak zaman kolonial. Akan tetapi kamus susunan Grard Moussay ini ditujukan untuk pembaca berbahasa Perancis. Saya pernah mendengar bahwa ada recana menerbitkan versi Indonesia kamus ini, tapi sampai saat ini tampaknya belum muncul.

Kemudian terbit kamus susunan Abdul Kadir Usman, yang berjudul Kamus umum Bahasa Minangkabau-Indonesia (Padang : Anggrek Media, 2002). Kamus bahasa Minangkabau yang terbaru adalah susunan Gaouzali Zaydam: Kamus Lengkap Bahasa Minangkabau (Padang: PPIM, 2004). Kedua kamus yang disebutkan terakhir ini tidak begitu kaya dengan lema klasik, apalagi frase-frase dan idiom-idiom Minangkabau yang sudah menjadi arkhais.

Sejauh yang saya ketahui, juga ada satu kamus Bahasa Indonesia-Bahasa Minangkabau, yaitu susunan Nurlela Adnan, Ermitati, dan Rosnida M. Nur: Kamus bahasa Indonesia-Minangkabau (Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1994). Kamus ini diterbitkan kembali tahun 2001.

Semua kamus yang disebutkan di atas, kecuali kamus susunan Nurlela Adnan dkk., tentu dapat digunakan untuk menulis kamus yang baru. Akan tetapi pencarian data, terutama kosakata, frase, idiom, dan petatah-petitih yang sudah klasik, mestilah diperluas ke sumber-sumber lain, seperti kaba, surat kabar lama, buku-buku Minangkabau klasik, naskah-naskah Minangkabau yang tersimpan di beberapa perpustakaan di dunia, dan tulisan-tulisan orang Eropa, khususnya Belanda, tentang Bahasa Minangkabau dari abad ke-19.

Selain itu, informan-informan di kampung-kampung dari kalangan generasi tua, seperti tukang kaba (tukang rabab, tukang dendang Pauah, tukang Sijobang, tukang Taram, tukang Salawat, tukang saluang [bagurau], dan lain sebagainya), pemangku adat, dukun, guru silat, dan para tetua kampung, tentu merupakan sumber-sumber data yang tak ternilai. Mereka pada umumnya sudah tua, sudah berumur di atas 50 tahun. Jika ahli bahasa dan pekamus kita tidak bertindak cepat mencatat kekayaan Bahasa Minangkabau yang ada dalam repertoar mereka, maka dalam satu dekade ke depan generasi itu sudah tidak ada lagi; perpustakaan yang kaya itu akan terbakar sebelum kita sempat menyelamatkan isinya. Memang ada generasi berikutnya, tetapi mereka berbicara dalam Bahasa Minangkabau yang semakin kering. Maka itu berarti makin sempurnalah kehilangan kita atas kekayaan Bahasa Minangkabau itu.

Sejarah akan mencatat jika kamus impian saya ini dapat diwujudkan oleh orang-orang pandai kita, dan disokong oleh orang (Minang) yang berkuasa dan ber-uang. Sebab Bahasa Minangkabau itu memang kaya. Jika lenyap tanpa sempat dicatat, maka itu berarti kerugian besar bagi suku bangsa Minangkabau sendiri. Satu kata Bahasa Minangkabau saja dapat melekat pada puluhan frase dan idiom yang memiliki makna yang amat kaya dan beragam, dan hampir semua bersifat metafora. Sekadar contoh, inilah frase-frase dan idiom-idiom yang dapat diletakkan di bawah lema aia (air). Saya mencatatnya dengan membalik-balik tulisan-tulisan orang Belanda, buku-buku klasik Minangkabau, naskah-naskah Minangkabau (termasuk kaba), teks-teks sastra lisan, koran-koran lama, omongan orang tua-tua, pemangku adat, dan penampil (performer) seni pertunjukan tradisional di kampung-kampung. Inilah yang baru saya dapatkan, sekadar contoh. Mungkin masih banyak yang lain.

aia mato; aia salero; maaia; kaaiaran (Den andokan lah gak samiang anu ko, kok dibagi indak ka kaaiaran); indak mambaokan aia lai; lah jadi aia (Baa galeh ang? Lah jadi aia); aia aiai; kaaia; karaia/buang aia (karaia/buang aia gadang; karaia/buang aia ketek); bak mambalah aia; tabuang aia [Jan malawan ka waden! Beko den baliakan tabuang aia waang!]; maukia aia; pambuluah aia; manyonsong aia ilia; mailiaan aia; gapuak baraia; aia mandi (Baampok tu lah aia mandinyo tumah); aia muko; muko aia; aia susu; kuciang aia; lauak aia; sipatuang aia; mambao ka aia; sarupo itiak dapek aia; saaia mandi; panjilek aia liua; aia mancua; aia raso; aia ka[ra]mbia; siriah aia; kapalo aia atau lidah aia; galak [-galak] aia; aia rudan; aia kamah; bacamin aia; bak buni aia; ulu aia; masak aia (nasinyo lah masak aia; Karajonyo indak ado nan masak aia); mananak aia; bagadang aia urang; aia basuah; aia ameh (tikuluaknyo baaia ameh); aia perak; aia kareh; kuniang aia (Padi den di sawah lah kuniang aia); mato aia; aia lato; mambari urang aia; urang auih dibari aia; aia malade; batang aia; aia katuban; aia sumbayang; maaiai (maaiai sawah urang); kagadangan aia (Kagadangan aia waang mah, indak tantu onyok), sasek aia; bak aia di daun taleh; dimandikan jo aia sagaluak; bak kambiang dialau ka aia; bondong aia bondong dadak; baabih aia; indak baurang di aia (Jan dipabini si Reno tu! Lah indak baurang di aia lai); ka aia; aia gadang batu basibak; anak aia; kutu aia; manjawek aia (sumbayang); sabun aia; aia janiah ikannyo jinak; aia susu babaleh jo aia tubo; maradeso di paruik kanyang manjilih di tapi aia; gulainyo raso aia lalu; babali-bali jo aia; aia urang disauak rantiang urang dipatah; nan lurah juo nan dituruiki aia (bukik juo nan dilajang paneh); bak mambandakan aia ka bukik; kecek maangekan aia; tasubarang di aia gadang; bak manyurek [malukih] di ateh aia; aia mato jauah ka paruik; aia tanang maanyuikan; cirik aia; lembang-lembong aia; main aia basah main pisau luko; lah tagantuang alu laluan aia; aia cucuran atok jatuahnyo ka palambahan juo; ulak aia; aia kawa; aia kajamban atau aia kasungai; aia bangan; indak manggadangkan aia; aia [liua] barih; aia didiah; aia cirik nagan; tiuang aia (sejenis burung sawah); manunggangkan aia ka lauik; managguak di aia karuah; manapuak aia di dulang; aia indak karuah basi-basi manyemba; tak aia talang dipancuang (tak kayu janjang dikapiang); bak cando aia kajinyo; aia bariak tando tak dalam; kaladi aia; kada aia; sakali aia gadang sakali tapian baranjak/barubah; bakariang aia liua; aia rimbo; manjua aia liua; indak laku sagadang jo aia; salamo aia ilia salamo gagak hitam; bak urang pai ka aia; bak padusi di aia; bak manampuang aia di limeh pasuak; mangaiakan anak; sawan aia; baraia rakuangan; mambasuah muko jo aia liua; bak cando aia (bak cando aia tajam taji ayam tu); tabik aia; bak kantuik jo aia liua.

Tentu saja bisa dicatatkan pula toponim yang bermula atau berakhir dengan kata aia (yang dalam hal nama nagari/kampung biasanya ditulis air; ini bukan karena pengaruh Bahasa Indonesia!), misalnya: Air Terbit, Ulu Air, Air Itam, Subarang Air, Air Sunsang, Anak Air Dadok, Cubadak Air (50 Kota), Air Bapatuak, Air Angek, Air Mancur (Tanah Datar), Air Angek (Agam), Air Runding, Air Balam, Air Kijang, Air Bangis, Air Manggis, Tumbukan Air, Air Angek, Air Dingin, Air Luo (Solok), Pulau Air, Anak Air, Hulu Air (di Pangkalan Koto Baru), Luak Air, Mata Air, Sulit Air, Cubadak Air, Silareh Air (di Pelembayan), Jambu Air (di Bukittinggi), Balah Air dan Air Sampan (di Sungai Sarik), Air Tanang dan Air Talang (di Gadut, Bukittingi), Air Bertumbuk (di Gunung Talang), Air Dingin (di Lembah Gumanti), Air Angek (di Koto Baru, Solok), Air Terbit, Air Tiris, Air Sirah, Air Mancur, Air Balam, Air Sunsang, Air Batapuak, Air Santok (dekat Pariaman; kampung si Joki yang mati di tiang gantungan karena membunuh mande-nya Siti Baheram di tahun 1920-an), Air Mati (di Solok), Air Tajun (dekat Lubuk Alung), Air Manis, Air Camar, dan Air Tawar (di Padang), Air Amo, Air Bangis, Air Molek dan Air Runding (di Pasaman), Air Lumpo dan Air Haji (Pesisir Selatan). (Terima kasih kepada Bapak H. Masoed Abidin, Ivan Adilla, Adrayoza, dan Sudarmoko atas informasinya). Saya yakin masih ada lagi nama-nama nagari/kampung di Minangkabau yang bermula atau berakhir dengan kata air (aia) yang belum disebutkan di sini. Sampai sekarang belum ada buku gadang yang mencatat toponim seluruh nagari/kampung di Minangkabau, suatu pekerjaan yang menunggu uluran tangan dan kerja ilmiah yang penuh komitmen dari para dosen dan peneliti kita, khususnya mereka yang berada di Fakultas Sastra UNAND, UNP, dan Universitas Bung Hatta.

Tentunya para pembaca mengerti makna beberapa frase dan idiom di atas, atau tahu dimana letak nagari/kampung yang disebutkan di atas. Tapi beberapa yang lainnya mungkin sudah lenyap dalam pikiran Anda, karena ada frase atau idiom yang sudah arkhais dan klasik. Dan untuk itulah gunanya sebuah kamus (lengkap): Kamus Webster Bahasa Minangkabau, yang juga dilengkapi dengan toponim nagari/kampung. Semoga cita-cita ini dapat diwujudkan. Di dalamnya semua unsur Budaya Minangkabau non-materi dicatat, untuk diwariskan kepada generasi Minangkabau di masa datang, juga untuk dunia.

Suryadi, Dosen dan peneliti pada Opleiding Talen en Culturen van Indonesi, Universiteit Leiden, Belanda (E-mail: s.suryadi@hum.leidenuniv.nl)

Sumber: Padang Ekspres, Minggu, 30-April 2006


TAGS  


Comment

Author

Recent Post

Recent Comments

Archive