Suryadi

Seorang Pangeran Aceh Asal Minangkabau

17 May 2006 - 23:16 WIB

Sejarah mencatat bahwa banyak faktor yang menyebabkan orang Minang pergi merantau. Di zaman kolonial, orang Minang terpaksa meninggalkan kampung halamannan dicinto karena dibuang oleh Belanda. Sedikit di antara mereka yang kembali, dan lebih banyak yang berkubur di rantau pembuangan selamanya. Betul kiranya gambaran sebuah pantun Minang:Bukik Putuih Rimbo Kaluang / Dirandang jaguang diaguihsi / Di kida jalan ka kabalai / Tampak galanggang pacu kudo // Ukun putuih badan tabuang / Dipandang kampuang ditangisi / Sadang bansaik badan marasai / Duya dikisai rang nan kayo (Bukit Putus Rimba Kalong / Direndang Jagung dihangusi / Di kiri jalan menuju pasar / Tampak gelanggang pacu kuda // Hukum putus badan terbuang / Dipandang kampung ditangisi / Sedang miskin badan sengsara / Dunia diaduk orang kaya).

Salah seorang Minangkabau yang dibuang Belanda di akhir abad ke-19 adalah seorang laki-laki dari Tilatang Kamang, bernama Abdullah Pakih Nagari. Tapi, berbeda dengan nasib kebanyakan perantau Minang lainnya, yang pergi merantau memburu tuah kepeang (menjadi pedagang atau pegawai pemerintah), kisah Abdullah Pakih Nagari cukup aneh. Justru karena keanehan itu kita kini dapat mengetahui kisah petualangannya di rantau Aceh. Kisahnya mirip cerita Robinhood saja, tentu dengan karakteristik Minangkabaunya: cerdik dan agak ciluah. Kisahnya dimuat dalam Insulinde no.6 (Sept. 1901: 224-226), berjudul SAORANG ORANG RANTAI DI TANAH ATJEH, JANG TERPANDANG SEPERTI WALI DAN SEPERTI ANAK RADJA (PRINS). Bulanan Insulinde didirikan oleh Dja Endar Moeda, pemimpin redaksi C.H. van Ophuijsen, pertama kalinya terbit di Padang pada bulan April 1901. Kisahnya sebagai berikut:

Pada tahun 1901 seorang panglima perang Aceh bernama Tengku Tapa tewas dalam pertempuran di Kerti [Aceh]. Mayatnya diselimuti dengan bendera bertuliskan huruf Arab, dan diberi pakaian sutra, layaknya seorang hulubalang gagah perkasa yang tewas dalam peperangan.

Kebanyakan orang Aceh percaya bahwa almarhum adalah Sultan Malim Dewa: seorang anak raja yang sangat termasyhur di zaman purbakala karena kegagahberanian dan kesaktiannya, sebagaimana dikisahkan dalam cerita rakyat Aceh. Akan tetapi sesungguhnya Tengku Tapa adalah seorang tahanan Belanda (orang rantai) yang telah bertahun-tahun melarikan diri. Akhirnya ia menjadi terkenal dan mendapat kemuliaan dan dipuja-puji oleh orang Aceh.

Tengku Tapa sebenarnya adalah orang Minangkabau keturunanbiasa, yang hidup sebagai seorang petani; namanya Abdullah Pakih Nagari [ditulis Negeri] yang berasal dari Tilatang dekat Bukittinggi. Pada tahun 1885 ia ditangkap Belanda karena terlibat dalam kerusuhan di kampungnya. Lalu Ia dibuang ke Aceh sebagai orang rantai dengan hukuman 20 tahun. Tapi ia berhasil melarikan diri, kemudian bergabung dengan orang Aceh yang memberontak melawan penjajah Belanda.

Abdullah Pakih adalah seorang Muslim dan pandai membuat azimat bertulisan Arab. Karena itulah ia menjadi terkenal di kalangan orang Aceh dan menjadi terpandang disana sebagai seorang dukun yang pandai. Ia kemudian diangkat menjadi dukun di Istana Keumala. Tidak lama kemudian ia diberi kepercayaan oleh Sultan untuk memungut uang belanja perang dari kepala-kepala negeri di wilayah pantai utara dan timur Aceh.

Tak lama kemudian Abdullah Pakih lenyap dari Istana itu, karena ia bertengkar dengan salah seorang famili Sultan, yang kemudian dibunuhnya. Ia melarikan diri dan bersembunyi di Gayo yang tidak takluk ke bawah perintah Sultan itu. Lalu ia pindah ke Bulu Blang [Buluhblang, di Lhokseumawe] untuk menghindari balas dendam Sultan. Di sana ia bersembunyi dan bertapa. Karena itu ia jadi termasyhur dan dihormati orang banyak. Masyarakat setempat memberinya gelar Tengku Tapa [dari kata bertapa].

Pada masa itu penduduk yang hidup di pedalaman Aceh masih biadab [belum banyak bersentuhan dengan dunia luar]. Para pemimpin merekasering terlibat perang dengan para pemimpin Islam, seperti dari Gayo dan Jalak Kecil. Salah seorang pemimpin Islam itu bernama Tengku Husin, yang sangat benci kepada orang-orang biadab itu. Ia telah sering melucuti kekuasaan pemimpin mereka yang kurang kuat. Lalu ada orang yang mengabarkan kepada mereka bahwa Tengku Tapa dapat menolong mereka melawan Tengku Husin dan pengikutnya. Sejak itulah nama Tengku Tapa menjadi termasyhur, apalagi dalam waktu singkat ia dapat membunuh Tengku Husin yang ditakuti itu.

Di Aceh dikenal suatu hikayat tentang tokoh Malim Dewa yang sangat gagah perkasa dan sakti. Ia diyakini sebagaiseorang anak raja dari Pasai, yang berkuasa sampai ke tanah Jawa dan negeri Cina. Malim Dewa mampu melakukan pekerjaan yang sulit-sulit, di bumi dan di langit. Ia diyakini punya kendaraan seekor naga yang dapat membawanya terbang ke langit, menyelam ke dalam laut dan masuk ke perut ikan besar.

Pada suatu ketika Malim Dewa menghilang dari dunia tanpa diketahui orang kemana perginya. Ada yang percaya bahwa ia masih berada di dunia, tinggal sendirian di hutan di gunung-gunung di Aceh Timur. Orang Aceh percaya bahwa Malim Dewa dapat dilihat apabila ia berkelahi dengan Belanda, dimana ia dengan gagahnya menebas batang leher serdadu Kompeni, dan memberi kemenangan kepada orang Islam. Mereka percaya bahwa Malim Dewa sudah kembali ke dunia untuk menolong mereka melawan Belanda. Maka yang mereka percayai sebagai Malim Dewa adalah Tengku Tapa itu. Tak lama kemudian muncul pula Putri Andam Dewi, istri Malim Dewa, tanpa seorang pun tahu dari mana datangnya.Maka Malim Dewa Putri Andam Dewi duduk dengan segala kebesarannya di istana mereka di Plada.

Pada suatu hari, ketika Malim Dewa sedang duduk di istananya, di hadapan orang banyak, ada seseorang di antara mereka yang menuduhnya sebagai Malim Dewa palsu dan telah mendustai orang banyak. Orang itu pun lalu dipukuli orang banyak sampai mati. Sejak kejadian itu tidak ada orang yang tak percaya kepada Malim Dewa, dan namanya pun makin masyhurlah; yang tak mempercayainya tidak berani mengatakannya di depan umum karena takut dibunuh.

Pada suatu hari seorang kepala kampung dari Simpang Ulim bernama Teuku Makam datang mengunjungi Malim Dewa. Setelah bertemu dengan pangeran itu ia tak dapat menahan tawa,karena ia tahu betul bahwa orang yang mengaku Malim Dewa itu adalah anak raja palsu. Apalagi ketika melihat Putri Andam Dewi, yang tiada lain adalah mantan babunya. Akan tetapi Teuku Makam tidak berani mengatakannya kepada orang banyak.

Dalam waktu singkat, jumlah pengikut Malim Dewa sudah menjadi 10.000 orang. Penduduk Aceh di gunung-gunung di sebelahselatan, utara, dan timur, Gayo, Edi Cut, Edi Besar, Simpang Ulim, Pasai, Perlak, dan Sungai Jalak, semuanya tunduk kepadanya.

Malim Dewa makin masyhur namanya karena pada suatu hari ia menunjukkan kesaktiannya di hadapan orang ramai: mereka berkumpul di sebuah tanah lapang. Malim Dewa mengimami mereka sembahyang. Orang banyak diam seperti tertidur mendengarkan suaranya yang nyaring mengimami mereka. Selesai shalat, maka terdengarlah suara menggema yang mengatakan bahwa imam mereka itu betul-betul Malim Dewa asli. Ia didatangkan kembali oleh Allah S.w.t. ke dunia ini, lengkap dengan segala kesaktiannya seperti dahulu kala, untuk menghancurkan kaum kafir (Belanda) di Aceh.

Mendengar suara itu, orang ramai itupun terperanjat dan heran, karena mereka tidak tahu darimana datangnya suara itu. Mereka percaya bahwa itulah suara Allah untuk memberitahukan kepada massa bahwa memang imam mereka itu adalah Malim Dewa asli.

Akan tetapi bagi orang yang tahu, hal itu tidak mengherankan, karena batang pohon besar itu berlubang, dan di dalamnya ada seseorang bersembunyi, orang suruhan Malim Dewa. Orang itulah yang mengeluarkan suara itu.

Semenjak itu uang pun mendatangi Malim Dewa: waktu ia tetirah empat hari lamanya di Tepian Batu, ia mendapat sedekah sebanyak 10.000 dollar. Malim Dewa memberikan sebagian besar uang itu kepada kepala-kepala kampung untuk membeli senjata guna melawan Kompeni. Banyak juga kepala kampung itu yang melarikan uang itu ke Panama [sebuah daerah di Aceh] dan hidup senang disana.

Waktu Kompeni melakukan ekspedisi di Pedir tahun 1898, Tengku Tapa mencoba menyerang Kompeni, tetapigagal. Sebanyak 10.000 pengikutnya berkumpul dekat Tangsi Edi, siap menyerang pasukan Kompeni. Belanda segera minta bantuan pasukan ke Kutaraja. Juli 1898 sampailah di Edi 2 kompi serdadu Kompeni dari Batalyon 7. Malim Dewa mulai merasa takut; banyak pengikutnya diam-diam pergi meninggalkannya. Namun Tengku Tapa tidak mau mundur karena masih ada lagi ribuan pengikutnya.

Pada 4 Juli 1898 serdadu Kompeni, yang tidak begitu besar jumlahnya, menyerang pengikut Tengku Tapa, tapi mereka dapat dipukul mundur. Kompeni minta bantuan pasukan lagi kepada Jenderal Van Heutz di Kutaraja. Pada 9 Juli terjadi lagi kontak senjata antara pengikut Tengku Tapa dengan serdadu Kompeni, yang menewaskan 27 orang pengikut Tengku itu.

Pada 11 Juli Kompeni menyerang pengikut Tengku Tapa secara besar-besaran. Serangan itu sangat membahayakan keselamatan Tengku Tapa, karena sudah 80 pengikutnya tewas. Tengku Tapa dan pengikutnya menyingkir ke Tepian Batu. Komepeni mengejar mereka kesana. Tengku Tapa dan pengikutnya terus lari ke Gayo. Di sana mereka selamat karena daerah itu belum dikenal oleh Kompeni. Akan tetapi setelah sampai di Gayo barulah pengikut Tengku Tapa mengetahui siapa sebenarnya pemimpin mereka itu, yang tidak lain adalah seorang orang biasa. Mereka merasa ditipu dan satu per satu pergi meninggalkan Tengku Tapa. Sedangkan Putri Andam Dewi palsu melarikan diri pula dan kembali menjadi babu di Simpang Ulim.

Kemudian ada lagi beberapa orang yang mengangkatnya jadi pemimpin, tapi orang ramai tiada lagi percaya kepadanya. Untuk ketiga kalinja Tengku Tapa masih dapat mengumpulkan beberapa orang pengikut untuk melawan Kompeni. Akhirnya ia tewas dalam satu pertempuran melawan pasukan Kompeni. [Berdasarkan informasi dalam Voksalmanak Melajoe (Serie No. 561, 1922:204) deketahui bahwa pasukan Kompeni yang menewaskan Tuanku Tapa itu dipimpin oleh Colijn dengan bantuan pasukan marsose yang dipimpin oleh Sersan Weirata asal Ambon]. Kali ini Malim Dewa betul-betul hilang dari dunia.

Demikianlah riwayat Tengku Tapa. Insulinde menutupnya denga kalimat: Tuan-tuan pembaca di Bukittinggi adakah yang kenal dengan Abdullah Pakih itu?

***

Kisah Abdullah Pakih Nagari dari Tilatang ini adalah pernik-pernik sejarah yang sering dilupakan orang. Melalui kisah ini kita mendapat gambaran bahwa Perang Aceh tidak melulu berarti perseteruan antara orang Aceh versus Belanda. Mungkin banyak orang dari suku bangsa lain yang terlibat dalam perang itu, yang telah membantu orang Aceh melawan Kompeni, seperti Abdullah Pakih Nagari dari Minangkabau ini.

Terdapat kesan bahwa Abdullah Pakih Nagari sangat membenci Belanda. Mungkin karena dia dibuang oleh Belanda, tapi mungkin juga karena didorong oleh keyakinan agamanya. Karena agama inilah terjadi pertalian yang cukup erat antara orang Aceh dan perantau Minang selama abad ke-19. Banyak perantau Minang berjuang bahu membahu dengan orang Aceh dalam memerangi Belanda. Sebaliknya, orang Aceh, terutama yang tinggal di pantai barat, seperti Singkil, Trumon, dll. banyak membantu orang Minang selama Perang Paderi: mereka menyelundupkan senjata kepada pasukan Paderi di Bonjol lewat pelabuhan-pelabuhan seperti Air Bangis,Tiku, dan Katiagan.

Kisah perantauan Abdullah Pakih Nagari ini juga menunjukkan karakteristik perantau Minang secara umum: panjang akal dan sedikit ciluah: memanfaatkan celah apa saja untuk bisa survive di rantau dan, kalau bisa, menjadi tasabuik. Dengan kepandaian membuat azimat dan memanipulasi mitos Malim Dewa, Abdullah Pakih mendapat kepercayaan orang Aceh dan menjadi terkenal. Ini mengingatkan kita pada kisah seorang perantau Minang lainnya: Raja Kecil, perayau dari Pagaruyung itu yang, seperti diceritakan dalam Hikayat Siak danTuhfat al-Nafis, telah menyerang Istana Johor di Semananjung Malaya pada tahun 1718.

Raja Kecil (ada yang mengatakan ia hanya seorang perantau Minangkabau pedagang telur ikan terubuk di Siak) mengaku bahwa ia adalah anak Encik Pong, gundik Sultan Mahmud (Mangkat Dijulang) yang mati dibunuh oleh menterinya, Orang Kaya (Megat Seri Rama). Raja Kecil mengaku bahwa ibunya telah menelan mani Sultan Mahmud sebelum baginda mati ditikam oleh Orang Kaya pada tahun 1699 karena dendam kepada sang raja yang telah membunuh istrinya.

Encik Pong yang telah menelan mani Sultan Mahmud pun hamil dalam pelariannya, yang kemudian melahirkan Raja Kecil, pewaris sah istana Johor. Dan kini, sebagai keturunan Sultan Mahmud satu-satunya, ia datang (entah dari mana, tetapi jelas dari Siak) untuk mengambil haknya atas tahta Kerajaan Johor. Ia, yang dibantu oleh Orang Laut yang setia kepada almarhum ayahnya, berhasil menduduki Istana Johor. Seperti telah ditunjukkan Leonard Andaya (1975) dan Timothy P. Barnard (1994), penaklukan Johor oleh Raja Kecil, perantau Minang yang cerdik itu, telah menentukan sejarah Kerajaan Johor dibelakang hari.

Cerita yang menarik ini pun menunjukkan akal ciluah perantau Minang pada masa yang lebih awal (abad ke-18): sekali lagi dapat dikesan di sini bagaimana seorang perantau Minang dengan cerdik memanfaatkan mitos pembenihan (menelan mani) untuk mencapai maksudnya. Ceritanya mungkin dapat saya suguhkan untuk pembaca Singgalang pada kesempatan lain.

Suryadi, Dosen dan peneliti pada Opleiding Talen en Culturen van Indonesi Universiteit Leiden, Belanda (email: s.suryadi at hum.leidenuniv.nl)

Catatan: Artikel ini perah dimuat diharianSinggalang(Minggu 17 Mei 2006).


TAGS  


Comment
  • Bemi 2 years ago

    Assalamu’alaikum Wr,Wb.Pak Suryadi Mohon Bantuan Informasi nya mengenai Nagari koto Anau (Solok) Pak, Makasih Pak.

  • teuku fandy paloh 2 years ago

    Asaalamualakum saya teuku fandy paloh keturunan TEUNGKU PAKEH SENDRI ULEE BALANG XXI MUKIM PIDIE sama saya ada buku silsilah keturunan mukim pidie yg berada di aceh pidie dari cerita dibuku moyang saya tengku sendri dari sulawesi suami istri pulang dari mekah istri nya hamil besar dan meminta diberhentikan di pidie tetapi kapal tidak berhenti dan beliau berdua loncat kelaut sampai lah selamat di pidie…mohon info apakah ada kaitan nya semua ini saya dimedan hp 081262624924

  • Suryadi 2 years ago

    Salam Sdr. Fandi,
    Saya sendiri belum pernah menemukan datang mengenai Sultan Tantukang ini. Kalau saya menemukannya, akan saya kabarkan kepada Sdr. Fandi.

    Wassalam,
    Suryadi

  • fandi 2 years ago

    Assalamualaikum
    pak bolehkah saya bertanya saya pernah di ceritakan oleh nenek saya bahwasanya kami ini keturunan sultan tantukang di Bukittinggi ,Indonesia dan bolehkan saya tanya sultan tantukang tersebut keturunan dari silsilah keturunan raja mana ya pak solanya dari info yang saya terima dari nenek saya sultan tersebut memiliki wilayah tempat tinggal mencakup seluruh wilayah ampang gadang dan wilayah kecamatan ampek angkek
    terima kasih

  • Suryadi 2 years ago

    Yth. Bapak Sulaiman Athar,
    Terima kasih atas komentar Bapak. Memang masih ada silang pendapat mengenai keetnisan Hatta. Demikianlah umpamanya, Deliar Noer mengatakan Hatt, dilihat dari segi keturunan, bukanlah orang Minang karena ibunya adalah seorang perempuan keturunan Jawa. Kalau ibunya orang Minang, tentu otomatis dia menjadi orang Minang karena Minangkabau menganut sistem kekerabatan Matrilineal. Dalam MEMIR-nya sendiri Hatta tidak menyebut2 nama ibunya. Namun, komentar Bapak Sulaiman di atas, yang mengatakan bahwa ayah Hatta berasal dari Aceh (atau keturunan Aceh), adalah informasi yang baru bagi saya. Mungkin ada pembaca lain di forum ini yang mengetahuinya lebih jauh, mohon kiranya menambahkan info. Mungkin juga Pak Sulaiman dapat menyebutkan rujukan/referensi yang Bapak gunakan, sehingga dapat ditelusuri lebih jauh oleh pembaca.

    Wassalam,
    Suryadi

  • Suryadi 2 years ago

    Tuan KabauMinang yang terhormat,

    Saya kira Tuan salah komentar. Bukan saya yang membuat cerita di atas. Saya hanya menyalinnya untuk pembaca masa kini. Apakah Tuan sudah membacanya secara lengkap? Seperti saya katakan di atas, cerita itu saya kutip dari berkala INSULINDE no.6 (Sept. 1901: 224-226), yaitu sebuah majalah bulanan yang didirikan oleh Dja Endar Moeda (seorang putra Tapanuli yang sangat terpelajar)dengan seorang Belanda yg bernama C.H. van Ophuijsen di Padang pada awal abad 20. Jadi, kalau Tuan menceracau dan berkata bahwa saya yang mengarang cerita itu, saya kira Tuan salah berkomentar di sini. Dan pada akhirnya, komentar Tuan itu tentu akan dibaca oleh para pembaca lain di sini, dan hanya akan menunjukkan bahwa Tuan sangat tidak terpelajar. Dari komentar Tuan, saya mengira Tuan masih anak muda mentah yang belum tahu banyak dunia ilmu pengetahuan. Tapi, dalam hidup ini tiada batas waktu untuk belajar. teruslah belajar, Tuan.

  • Sulaiman Athar 2 years ago

    Saya juga ada buku menarik yg menguak sejarah keturunan muhammad hatta sang wakil presiden RI era soekarno yg ber ayah kan putra aceh. Dia beribu orang bukit tinggi dan berayah orang pidie aceh lalu pertanyaan nya “muhammad hatta” orang minang atau orang aceh kah dia? Kalau kita ambil jalur keturunan ayah (patrilineal) yg di pakai di seluruh dunia maka muhammad hatta berdarah aceh malah satu marga dgn saya. Bahkan matrilineal yg di pakai di tanah minangkabau (sumbar) ga di pakai di negara islam bahkan di seluruh dunia karena matrilineal itu aliran sesat tidak di akui oleh negara.

  • KabauMinang 2 years ago

    Cantek sangat lah kabau buat cerite. Mengubah sejarah. Macam mane kalau pahlawan kabauminang banyak berasal dari aceh, melayu dan jawa? Saya kasih name kabauminang sesuai dgn sifat tamak nya

  • zainuddin madika 2 years ago

    Yth. Pak Suryadi

    Mohon informasinya bagaimana hubungannya Teungku Pakeh yang berasal dari Bugis dengan Kerajaan Pedir dan Raja Giegieng di kecamatan Simpang Tiga Sigli Kabupaten Pidie di Aceh.

    demikian dan terima kasih.

    salam,
    zainuddin

  • Suryadi 2 years ago

    Terima kasih atas infonya, Pak Husein. Akan saya coba cari hari Senin di perpustakaan sini.

    Salam,
    Suryadi

  • Husein-Knabe 2 years ago

    Pak Suryadi, ini yg dapatkan kemaren..https://www.yumpu.com/nl/document/view/5898204/jrg-58-1919-kitlv/138
    —mengenai T Pakeh seundri mulai dari halaman 79.

  • Husein-Knabe 3 years ago

    Yang terhomat Bapak Suryadi,

    saya mohon bantuan untuk mencarikan email adr. dari bapak “Palawijaya”, semoga saja yang terhormat Tuanku Raja T,B.Syah
    As-Sayyid Asy-Syarif Mir Maulana juga membacanya dan sudi memberikannya agar kita bisa membincangkan sejarah leluhur KITA yang bermula dari Teungku Pakeh Seundri.

    Semoga bapak Suryadi bisa membantu. Terimakasih

    Wassalam,
    Manyana Husein-Knabe

  • Puntodewo 3 years ago

    Yth. Bpk. Suryadi.
    Ada beberapa catatan kolonial yang sy temukan, dimana Kenegerian Langsa (ookust van Ateh) disebutkan didirikan oleh seorang Minangkabau pada paruh kedua abad ke 18, bernama Datoe Dajang, apakah itu benar ? Dalam silsilah Raja-raja Langsa disebutkan juga bahwa Datuak Dayang adalah keturunan dari Kerajaan Pagaruyung, apakah itu juga benar ?. Mohon bapak berkenan menanggapi akan hal ini. Atas bantuan Bapak sebelumnya saya haturkan ribuan terimakasih.
    Wassalam dan hormat saya
    Padusi di rantau.

  • nazar 3 years ago

    kita semua berasal dari nabi Adam AS,,, so,,, sering2 baca cerite nabi,,,, yg pasti kbenaran nya,,,,,, sejarah itu boleh di monupulasi,,,,, ooops,,klau salah kati tlong dinperbaiki y,,,,, slm syurga,,,,,

  • Suryadi 3 years ago

    Menarik sekali Tambo-nya, Pak Osaka. Mungkin dapat dikonsultasikan dengan yang lain.

  • osaka mitra 3 years ago

    Ditambo saya ada put I reno Hadji .put I reno bulan sutan bakabuik .APA me mang jalur kerajaan pagaruyung menganut matriakat?

  • osaka mitra 3 years ago

    Thanks pak suryadi.Kamia adalah keturunan puti nan gadang tunjuak yg berdomisiki dipariaman .yg says tanyakan KNP tambo yg says miliki Tanya menuliskan gar is matrilineal?was. Osaka mitra

  • Husein-Knabe 3 years ago

    Assalamualaikum pak Suryadi…terimakasih dg adanya blog ini bisa bertukar pikiran dg yang lainnya…sukses terus ya pak…

    Assalamualaikum pak Palawija…bagaimana kalo kita bicarakan hal leluhur via privat mail aja? mail saya: Husein-Knabe@T-Online.de
    Kelihatannya banyak lagi yg harus diperbincangkan, semoga pak Palawija setuju.

    pak Suryadi tentunya jika ada penerangan selanjutnya kan saya beritahukan utk catatan pak Suryadi.

    Wassalam

  • sutan sati 3 years ago

    Yth. Tuan Suryadi
    Saya kagum dengan kesabaran tuan. Cerita yg tuan sampaikan tertulis dalam bukti sejarah. Lanjukan penelitian tuan, jangan terhalang karena mereka yang merasa lebih tau, padahal ilmunya tentang sejarah hanya mendengar cerita tanpa ada usaha membuktilkannya lebih jauh. Trimaksih

  • Suryadi 3 years ago

    Perlu dicontoh Bung Rudi ini. Pintar sangat, seperti Cindua Mato. Tahun berapa lahir, Bung Rudi? Suku apa? Apakah ada kerektan dengan Tuanku Nan Renceh?

  • rudi setiawan 3 years ago

    Saya dri bukitinggi tilatang kamang,,,kab.agam,,,,kami org nya duduak nak d ateh,,,tagak nak d katinggian,,,,sehari atw 2 hari bodoh d negeri org,,,hari k tiga milik kami,,,,cntoh ,,,saya pernah pergi ke aceh pakai vespa,,,dngan modal 100rb……slama 45 hari saya balik lagi k padang,,,tanpa menipu,,,maling,,saya bsa hidup ,,,mkan 5 kali sehari….

  • rudi setiawan 3 years ago

    Anda asal2an aja bikin blog…..

  • rudi setiawan 3 years ago

    Maaf,,,saya org bukittinggi tilatang kamang,,,saya belum tau crita mengenai ini……

  • Suryadi 3 years ago

    Saya orang Minang asal Pariaman, Tuan Agam. Apa maksud Tuan dengan komentar ‘asal aja buat blog?’ Kalau Tuan pikir isi blog ini tak ada manfaatnya bagi Tuan, Tuan tak usah kunjungi blog ini. Tak ada kewajiban Tuan harus mengunjungi blog ini, dan saya pun tiada rugi. Mungkin bagi orang lain (yang rendah hati dan ingin menambah ilmu), blog hamba yang sederhana ini masih ada manfaatnya.

    Sekian komentar saya untuk Tuan Agam.

    Wassalam,
    Suryadi

  • agam 3 years ago

    Org mana kamu,asal aja buat blog

  • Suryadi 3 years ago

    Terima kasih atas tambahan maklumat dari Bapak Palawija. Mudah2an dengan bantuan tulisan ini, dan juga atas sharing info di antara pembaca, orang2 yang sebenarnya berasal dari satu nenek moyang, dapat berkontak dan bersilaturahmi lagi.

    Wassalam,
    Suryadi

  • palawija 3 years ago

    AssWrWb bpk Husein knabe

    mungkin keterangan dr sy bisa sedikit membantu..ya. krn ini ada bertautan dgn silsilah nenek (ibunya ayah saya)..teungku sendri atau teungku sigeuli itu adalah DAENG MANSYUR dari WAJO anak raja makasar yg berada di PIDIE-ACEH.singkatnya beliau dari menurunkan Zainal abidin menurunkan punya anak bernama Tuanku Maharajalela Melayu yg kemudian jadi raja aceh bergelar sultan alaidin ahmad syah punya anak bernama sultan alaidin johansyah(pocut uek) dan pocut muhamad & pocut keling. dari pocut muhamad ini menurunkan anak dan cucu di pariaman menurunkan datuk rang kayo basa Muhammad Saleh(Me’saleh),dan ayahnya nenek saya : Sutan..???(waaah sy lupa namanya hrs sy liat lagi arsipnya)….

    mudah-mudahan ….info ini bermanfaat bagi bapak. kita semua bersaudara…dan saya juga mengucapkan banyak terimakasih kepada Bapak Suryadi. tanpa jasa bpk suryadi (minang saisuak) mungkin saya akan kesulitan dalam mencari sanak saudara yg berada di minang kabau.

    wass.

    Tuanku Raja T,B.Syah
    As-Sayyid Asy-Syarif Mir Maulana

  • Nalfira Pamenan 3 years ago

    Uda Suryadi Yth.
    Salam Kenal,
    Ambo sangat tertarik dengan peristiwa dan sejarah nagari-nagari di Sumatera Barat. Sudah cukup banyak tulisan yang ambo baco. Ambo sangat tertarik dengan tokoh, peristiwa dan kejadian lainnyadi zaman kolonial dulu: dari zaman perang paderi sampai zaman Japang. Namun sayang, sampai kini ambo belum menemukan cerita tentang kampuang ambo. Ambo asal Panampuang Ampek Angkek Kabupaten Agam. Mohon uda carikan informasi tentang:
    1. Kiprah urang Panampuang di zaman saisuak tu. Carito perang paderi melibatkan Kamang, Koto Tuo, sampai ka Bukik Batabuah. Semestinya pergerakan tokoh-tokoh dalam peperangan tu melewati kampuang amboinnyo. Tapi dak ado informasi atau carito tentang itu ambo peroleh dari urang tuo-tuo maupun sumber.
    2. Kalau ingin mencari literatur tentang Nagari Panampuang tersebut, seperti apa ejaannya (yang dituliskan oleh Belanda), sehingga bisa ditelusuri (browsing) dunia maya, termasuk nama Ampek Angkek
    Demikian sajo dari ambo terima kasih,

  • muhammad noorzahiry 4 years ago

    Sepupu saya yg bapa saya bagitahu ada di sungai garingiang.namanya kandan anak embah halus(nama maknya)

    Tak silap saya…

    Kisahnya datuk rasul saya merantau ke malaya..tak tahu sebab mengapa?
    Berkemungkinan kerana belanda..

  • muhammad noorzahiry 4 years ago

    Adakah saya keturunan raja pagaruyung.mengikut,kata bapa moyang malim dari suku paliang..tak tahu sama ada betul ke tidak.

    Boleh tolong saya..

    Malim sidi
    Embah malim
    Malim dewa

    Mereka adalah keturunan minangkabau..betul kan?..

    Jika moyang malim saya itu salah satu nama di atas.saya hendak kepastian

  • muhammad noorzahiry 4 years ago

    Saya tengah mencari susur jalur saya dari sebelah bapa saya.
    Nama saya seperti berikut.

    Muhammad noorzahiry bin muhammaddan bin rasul bin malim..

    Bapa saya berketurunan minangkabau sumatra.
    Saya hendak tahu sama ada saya dari keturunan..

    Malim sidi
    Embah malim
    Malim dewa

    Sebab saya tidak tahu nama moyang malim seterusnya..

  • Urang Chaniago 4 years ago

    Sekedar menanggapi Sdr. Muhammad Nabil Berri. Pendudukan Aceh hanya di sepanjang pesisir Minangkabau, tidak sampai ke pedalaman, dan terpaksa dibiarkan oleh penguasa Minangkabau karena Kerajaan Pagaruyung dalam keadaan lemah. Jejak peninggalan Aceh masih ada sampai saat ini di daerah pesisir tersebut, tapi di daerah pedalaman yang merupakan inti Minangkabau sama sekali tak terdapat jejak peninggalan Aceh. Terima kasih.

  • Suryadi 5 years ago

    Pak Safrijal, Saya belum menemukan data mengenai Raja Idra yang Bapak sebutkan dalam postingan di atas. Semoga ada ada mengenainya yang terselip2 dalam jutaan buku di Leiden.
    Wassalam, Suryadi

  • Safrijal 5 years ago

    Asalamu\’alaikum wr.wb..
    Saudara suryadi yg sya hormati.mohon gambarannya tentang \’raja indra\’dipulau tiga dan raja \’sayid nur ibrahim dengan panglimanya sitagas dan sipasa asa da\’erah lukup ataupun aceh tamiang.kalau memang ada secuil gambarannya dlm pengetahuan anda,mohon di muat untuk pengetahuan sejarah saya ataupun org laen.
    Sebelumnya trimakasih.waalam…

  • Suryadi 5 years ago

    Salam Pak Hamza,
    Coba gambarkan kepada saya di mana posisi geografis Kampung Blang Aweu. Terima kasih.

  • hamza 5 years ago

    askum bapak bsakah bapak cari tau sejarah kampung blang aweu mereudu konon kata@ bunyut saya orang blang awe merudu…

  • hendra novison 5 years ago

    keturunan kami kini masih ada uda dan di kampung kami ada kitab topah asli karangan sech ibn hajr ambo panah mandanga terjemahan kitab itu ado pada maso sri sultan hemngubuwono II dalam bahaso jawa…kirab bahaso arab itu kini talatak di rumah gadang kami di tiku namo kampung keteknyo topah…

  • Sutan Khalifah 5 years ago

    Assalamu’alaikum wr.wb. Uda Suryadi…
    Saya, Riza Syahran Ganie gelar Sutan Khalifah yang diberikan oleh almh. nenek/oma saya sebelum menikah, ingin menceritakan mengenai silsilah keluarga saya dari garis keturunan ayah dan nenek saya keatasnya, karena saya, terus terang, merasa “kehilangan jejak”…..
    Ayah saya, alm. Amaludin Ganie, adalah anak dari nenek saya, Siti Zubaidah, dalam tambo silsilah keluarga, yang diperbuat oleh Sutan Ali dan diperbaharui oleh M. Joenoes gelar Sutan Bagindo pada tanggal 28 Mei 1952 di Kutaradja, Aceh, disebut dengan nama Siti Zabidah. Sedangkan nenek saya, Siti Zubaidah atau Siti Zabidah, adalah anak dari Sutan Abdullah mantan Mantri Boom di daerah Meulaboh pada jaman Belanda.
    Sutan Abdullah mempunyai anak 5 orang anak (dalam tambo silsilah tidak disebutkan nama istri beliau, namun menurut keterangan paman saya, Nusyirwan, istri dari Sutan Abdullah adalah bernama Puti Reno Dewan), yaitu nama anak-anaknya adalah: i). Sutan Sjamsuddin (pernah menjadi Menteri Kesehatan pada jaman Bung Karno), ii). Siti Zabidah (nenek/oma saya), iii). Siti Rohani (ibu dari paman saya, Nusyirwan), iv). Siti Raisah, v). Siti Maimunah, yang kesemuanya saya sebut diatas (termasuk ayah saya) sudah meninggal dunia, kecuali paman saya, Nusyirwan.
    Sutan Abdullah adalah anak ke-enam dari 10 bersaudara dari ayahnya yang bernama Tuanku Sulthan Abdul Madjid (yakni Radja ke-9 didalam negeri Pasaman Kehasilan Kalam) dari istri yang tidak disebutkan namanya dalam tambo silsilah (sehingga kami tidak mengetahui nama istrinya). Adapun nama anak dari Tuanku Sulthan Abdul Madjid adalah sebagai berikut :
    1. Si Djawab gelar Saidi Sutan Pension Mantu Kopa, beranak 5 orang, yaitu : i) Sutan Sarif Muhammad, ii) Sutan Marzuki, iii) Tidak ingat nama, dan iv) M. Nasir, v) Siti Djazah.
    2. Siti Mariah, beranak 5 orang, yaitu : i) Saidi, ii) Siti Atikah, iii) M. Jusuf, iv) Tiarab, dan v) Siti Andun.
    3. Alhadji Sutan Mohd. Sjaleh, beranak 6 orang, yaitu: i) Siti Kalsum, ii) Mohamad, iii) Hawiah, iv) A. Malik, v) Djaimah, dan vi) Zabidi.
    4. Sutan Ali, beranak 5 orang, yaitu : i) Siti Absah, ii) Sutan Sjarif, iii) Sutan Mohd. Nur, iv) St. M. Jahja, dan v) Siti Rapiah.
    5. Siti Djariah, mati waktu kecil.
    6. Sutan Abdullah, beranak 5 orang, yaitu : i) Sutan Sjamsuddin, ii) Siti Zabidah (Siti Zubaidah, nenek saya), iii) Siti Rohani, iv) Siti Raisah, dan v) Siti Maimunah.
    7. Siti Madinah, beranak 2 orang, yaitu : i) Sutan M. Jasin, dan ii) Sutan Husin.
    8. Siti Raimah, beranak 4 orang, yaitu : i) Umi, ii) M. Saleh, iii) M. Sarai, dan iv) Bachtiar.
    9. Sutan Aminuddin, beranak 8 orang, yaitu : i) Nurela, ii) Saleha, iii) M. Junus, iv) M. Idir, v) M. Husin, vi) Fatimah, vii) Djuri, dan viii) Sutan Mansur.
    10.Siti Maredjan, beranak 6 orang, yaitu : i) Siti Ramah, ii) Siah, iii) Siti Zabidah, iv) Siti Rawi, v) Achmad, vi) Siti Nurima.

    Berdasarkan cerita unyang (bapaknya nenek) saya, Sutan Abdullah, yang diceritakan kembali oleh paman saya, Nusyirwan, pada waktu negeri Pasaman Kehasilan Kalam menyerah pada Belanda (VOC), yang tidak disebutkan tahunnya, maka Sutan Ali dan Sutan Abdullah pindah keluar dari Pasaman, mereka berdua ke Negeri Aceh yang pada waktu itu masih berperang melawan Belanda (VOC) dibawah pimpinan Teuku Umar. Sutan Ali akhirnya menjadi tangan kanan (kepercayaan) Teuku Umar, namun pada saat Teuku Umar menyerah yang pertama kali kepada Belanda, Sutan Ali pindah lagi ke Negeri Sembilan (atau Djohor, paman saya lupa ceritanya) dan disanalah anak keturunan Sutan Ali beranak pinak. Sedangkan Sutan Abdullah tetap di Aceh, malahan pada waktu Teuku Umar berperang kembali melawan Belanda (VOC), Sutan Abdullah menggantikan posisi Sutan Ali sebagai tangan kanan (kepercayaan) Teuku Umar, sampai akhirnya Teuku Umar menyerah kembali pada Belanda (VOC). Pada akhirnya, Sutan Abdullah diangkat Belanda (VOC) menjadi Mantri Boom di Meulaboh dan kemudian akhirnya dipindah ke Langsa, menjadi Mantri Candu sampai pensiunnya. Demikianlah sekilas cerita mengenai asal usul keturunan saya, dari ayahnya nenek/oma saya atau kami panggil unyang, Sutan Abdullah. Semua keturunan Sutan Abdullah menetap di Aceh, Meulaboh dan Langsa, dimana Langsa adalah kota kelahiran ayah saya. Sedangkan keturunan yang lainnya (anak ke-1 s/d ke-3, anak ke-5 dan anak ke-7 s/d ke-10, yakni saudara kandung dari Sutan Ali dan Sutan Abdullah) dari Tuanku Sulthan Abdul Madjid, selain Sutan Ali (anak ke-4) dan Sutan Abdullah (anak ke-6), menetap di daerah Talu, Sumatera Barat.
    Pusat Kerajaan Pasaman Kehasilan Kalam adalah di Parit Batu, dengan urutan radja-radja didalam negeri Pasaman Kehasilan Kalam (berdasarkan copy tambo silsilah) adalah sebagai berikut :
    1. Paduka Seri Sulthan Seri Radja di Radja Alam Sjah.
    2. Paduka Maharadja di Radja Alam Sjah…..bersaudara dengan Puteri Intan Djohor, beranak 2 orang, yakni i.Paduka Radja di Radja Alam (Radja ke-3) dan ii. Puteri Intan Saman berkawin dengan Basar Nan Barampek di Kampung Air Gadang, beranak 2 orang, yaitu i. Radja Nan Garang (Radja ke-4) dan ii. Putri Intan Tjahja, berkawin dengan Jang Dipertuan di Padang Nunang dalam Negeri Rawo dengan adat Mas Sekati Lima, beranak 2 orang, yaitu i. Paduka Radja Nan Tjerdik (Radja ke-5) dan ii. Puteri Seri Negeri, berkawin dengan Hakim, beranak 1 orang, yaitu Puteri Intan, berkawin dengan Tuanku Maharadja Lela, anaknya Paduka Radja Nan Tjerdik, beranak 3 orang, yaitu pertama Jang Dipertuan Sakit Kaki (Radja ke-6), kedua Puteri Saman, beranak 5 orang, yakni i. Puteri Intan Saman, beranak 2 orang, yakni Puteri Ambun berkawin dengan Tuanku Maharadja Lela anak dari Jang Dipertuan Sakit Kaki beranak 5 orang (tidak disebut nama) dan Puteri Awan Alhadji Abdulkasim beranak 3 orang (tidak disebut nama).; ii. Radja Kudiman, mati kecil, iii. Puteri Intan Marak, beranak 3 orang yakni Puteri Kete, Tuanku Muda (Radja ke-8) dan Khali Radja, iv. Puteri Angkat, beranak 2 orang, yakni Puteri Batas dan Radja Putih, v. Puteri Intan Manis, beranak 4 orang, yaitu Puteri Banun mati kecil, Tuanku Sulthan Abdul Madjid (Radja ke-9), Radja Djohan dan Baginda Ibrahim; dan ketiga Puteri Gandum Suri berkawin dengan Penghulil Air Gadang, beranak 2 orang, yakni Radja Lembang Alam (Radja ke-7) dan Puteri Saman.
    3. Paduka Radja di Radja Alam.
    4. Radja Nan Garang.
    5. Paduka Radja Nan Tjerdik.
    6. Jang Dipertuan Sakit Kaki.
    7. Paduka Jang Dipertuan Radja Lembang Alam.
    8. Tuanku Muda.
    9. Tuanku Sulthan Abdul Madjid.
    10. Paduka Daulat Jang Dipertuan Mohd. Ali Hanafiah.
    11. Paduka Jang Dipertuan didalam Negeri Pasaman Mohd. Siam, raja yang penghabisan, cucu dari Tuanku Sulthan Abdul Madjid.

    Demikianlah Uda Suryadi, jika mengetahui mengenai hal tersebut diatas, sudilah kiranya menginformasikan ke saya. Oh ya, saya tinggal di Jakarta, Jl. Harapan Mulya no. 50, Lubang Buaya, Jakarta Timur, dan no hp saya adalah 021-36971235 atau 0821-25802333. Terima kasih, wassalamu’alaikum wr.wb.

  • Suryadi 5 years ago

    Salam Sanak Hendra,
    Saya coba mencari2 informasi mengenai beliau. Mohon diberikan info lebih lengkap.

  • hendra novison 5 years ago

    uda saya hendra novison dari tiku saya punya keturunan datuk rangayo bungsu yang pada masa penjajahan belanda saya mau tau ada gak uda ketahui tentang keturunan kami itu

  • Abdul Hakim 5 years ago

    Saya kutip kalimat Anda:
    “kurang mencoba melihat peran suku-suku lain dalam perjuangan mereka menentang penjajah Belanda”

    Contohnya? Dalam kasus Tengku Tapa ini kan baru terungkap sekarang karena adanya penelitian Anda..

  • Suryadi 5 years ago

    Salam Bapak Abdul Hakim yang baik,

    Maksud saya dengan ‘chauvinisme’ Aceh (dalam tanda kutip) adalah bahwa selama ini orang Aceh, karena sifat bangganya sebagai etnis yang pernah punya sejarah gemilang), kurang mencoba melihat peran suku-suku lain dalam perjuangan mereka menentang penjajah Belanda. Kisah Pakih Nagari di atas menunjukkan bahwa di tingkat lokal, orang-orang Aceh telah bekerjasama pula dengan orang-orang dari suku-suku lain dalam mengusir penjajah Belanda dari negerinya. Atau dengan kata lain: orang2 dari suku lain pernah membantu orang Aceh melawan penjajah Belanda.

    Saya tentu tidak bangga orang Minang jadi penipu di rantau orang. Tapi dalam kasus Abdullah Pakih Nagari ini saya cukup bangga juga, karena penipuan yang dia lakukan juga dalam rangka menghimpun kekuatan melawan penjajah Belanda. Saya kira kontribusinya, walau sesedikit apapun, perlu dicatat dalam sejarah Aceh.

    Wassalam,
    Suryadi

  • Abdul Hakim 5 years ago

    Apa maksud Anda dengan chauvinisme Aceh?

    Jadi Anda bangga ya ada orang Minang yang jadi penipu di rantau orang?

  • Suryadi 6 years ago

    Mungkin ada beberapa risalah yang sudah dibuat, Pak Muhammad. Artikel Taufik Abdullah tentang Some notes on the kaba Tjindur Mato, juga bagus. Coba juga cari artikel2 yang ditulis oleh J kathiry Thamby-Wells tentang sejarah pantai barat Sumatra. Mungkin ada di google.

  • Muhammad Nabil Berri 6 years ago

    Salaam..

    Saya ingin mengetahui sejarah penaklukan tanah Minangkabau oleh Kerajaan Aceh. Bagaimana kedudukan negeri-negeri di Minangkabau dalam Kerajaan Aceh? Apakah sebagai jajahan, negara bagian atau bagaimana? Kemudian apa latar belakang penaklukan tersebut.

    Di mana saya bisa menemukannya di internet?

    Terima kasih..

  • P M Husein-Knabe 6 years ago

    Asslm. Wr. Wb.,

    tulisa pak Suryadi: Di Pidie ada tokoh lokal Teuku Pakeh Seundri pada abad ke-18 yang moyangnya berasal dari Bugis (dari Sindreng).
    Menurut silsilah kami, beliau di thn 1570 dan turunannya yg di thn 1740 adalah t. pakeh po kalam- kalu ada e-mail adr bapak saya ingin menerangkan lebih lanjut, agar saya bisa dibantu, kerena disini tdk mungkin saya nenatarkan isi silsilah kami. semoga saja pak Suryadi ada waktu utk membantu dan terimakasih sebelumnya.

    Sampai nanti dan salam saya,
    Ibu P. manyana Husein-Knabe
    Husein-Knabe@T-online.de

  • Lan 7 years ago

    salam,
    Nenek saya berasal dari Sumatera, Indonesia. Datang ke Malaya di bawa oleh bapa saudaranya di usia lebihkurang 6 tahun. Lari dr peperangan Belanda. Ayah nya bernama Malim Maulana sementara susur galur nenek nya Malim Muda( ?) dan Malim Putih. Masa kecil saya pernah di beritahu tentang Aceh dan Mandailing. Abang nenek bernama Hj Muhd Taib da adik perempuan ( berlainan ibu) bernama Hjh Mariam yg pernah tinggal di Aceh.
    Bagaimana boleh saya perolehi maklumat salasilah keluarga saya? Terima Kasih.

  • AUGI JD 7 years ago

    Asslm.Wr.Wb.

    Dalam tulisan ini tersebut Puti Andam Dewi, (bundo kanduang ?).
    Pada riwayat Aceh, Minang, Johor ada pula nama Puti Lindung Bulan.

    Putri Lindung Bulan (Cerita Rakyat Aceh)
    http://www.acehbooks.org/pdf/ACEH_02499.pdf

    Puti Lindung Bulan ada pula di Minang Kabau
    Bahakan ada Istana Si Lindung Bulan.

    Mohon penjelasannya.

    Wass.Wr.Wb.

  • Suryadi 7 years ago

    Bapak Husein yang baik,
    Saya masih terus menelusuri informasi2 historis mengenai Teuku Pakeh Seundri, tapi sampai saat ini belum banyak data yang saya peroleh. Ini dikarenakan pada abad ke-18 Belanda belum banyak merancah daerah Aceh. Oleh sebab itu tidak banyak juga data2 sejarah menyangkut Aceh pada periode itu. Namun demikian saya terus berusaha mencari data2 mengenai Teuku Pakeh Seundri ini.
    Wassalam,
    Suryadi

  • P M Husein-Knabe 7 years ago

    Di Pidie ada tokoh lokal Teuku Pakeh Seundri pada abad ke-18 yang moyangnya berasal dari Bugis (dari Sindreng). Jadi, masih banyak aspek dari sejarah Aceh yang, menurut hemat saya, harus dikaji dan diungkapkan. Penelitian ke arah itu bisa dilakukan jika sikap chauvinistik orang Aceh yang terlalu berlebihan dapat dibuka sedikit. Wassalam, Suryadi.

    ini adalah jawaban yg Bapak tulikan utk pak Rahmat. saya ingin mengetahui lebih lanjut mengenai Teuku Pakeh Seundri ini. ingin saya ketahui, thn lahir, wafatnya dan tugasnya di aceh /pidie dan hubungannya dgn kota Labui, mesjid labui dimana makamnya juga berada disana juga keluarga pakeh.
    wassalam,
    P M Husein-Knabe
    Kastanienweg 5
    37287 Wehretal
    Germany

  • Suryadi 7 years ago

    Ampon Rahmat yang terhormat,
    Cerita ini bukan KARANGAN saya. Sekali lagi, cerita ini bukan KARANGAN saya. Maaf, saya bukan novelis, saya asalah seorang scholar who write something BASED ON BIBLIOGRAPHICAL AND EMPIRICAL DATA. Seperti sudah saya sebutkan dengan jelas pada paragraf kedua di atas “Kisahnya dimuat dalam [jurnal] Insulinde no.6 (Sept. 1901: 224-226)”. Jadi, sumber kepustakaan/bibliografinya jelas,tocht Ampon? Kalau masih belum percaya, silakan cek sendiri Jurnal INSULINDE itu (catatan: Jurnal ini terbit di Padang, dan diusahakan oleh seorang Muslim asal Tapanuli: Dja Endar Moeda. Ekseplar Jurnal itu ada di Universiteitsbibliotheek Leiden, Belanda. Kalau Ampon mau kopian aslinya teks di atas, dengan senang hati akan saya kirimkan. Ini sudah tugas sholar saya sejak bertahun2: sudah banyak teman2 di Indonesia, sejak dari Sabang sampai Merauke, memintai tolong saya mengopikan data2 kepustakaan yang mereka perlukan yg hanya ada di Belanda. Kalau tak percaya coba tanya Dr. Eka Sri Mulayani, doktor Muda Aceh lulusan Australia yang sekarang ngajar di Univ. Syiah Kuala. Jadi, kalau Ampon Rahmat mau, silakan catatkan alamat pos Ampon Rahmat.

    Soal cerita Malem Dewa, itu dikenal di banyak daerah di bagian barat Sumatra, tidak di Aceh saja. Fenomenanya sama dengan cerita Malin Deman yang dikenal di Aceh, Minangkabau, Semenanjung Malaya, dll. Lihat juga bersinya dalam budaya Jawa: cerita Jaka Tarub. Jadi, mohon Ampon jangan salah mengerti: bahwa Ampon pikir cerita di atas saya yang mengarang (-ngarang). Het is helemaal verkeerd! Sama sekali ini bukan cerita karangan saya. Sebenarnya yang belum banyak dikaji dalam sejarah perang Aceh adalah apakah ada bantuan2 dari pihak2 lain, misalnya saudara sesama Muslimnya (dari Minangkabau, Bugis, Melayu,Patani, dll.)? Hal ini sulit terungkap karena ‘chauvinisme’ Aceh selama ini. Harap Ampon catat bahwa dalam judul di atas saya menempatkan kata PANGERAN ACEH dalam tanda kutip. Kisah Abdullah Pakih Nagari asal Minangkabau yang dibuang Belanda ke Aceh ini dimuat dalam Insulinde hanya beberapa minggu setelah kejadian di Aceh Tengah itu. Insulinde menulisnya berdasarkan laporan media di Aceh dan laporan pejabat Militer Belanda yang bermarkas di Padang. SO, GIMANA AMPON SAMPAI PIKIR CERITA INI DIKARANG (-KARANG) OLEH SURYADI? Lagi pula, cukup masuk akal bahwa Abdullah Pakih Nagari menggunakan berbagai cara–termasuk mengekploitasi mitos dan kepercayaan rakyat; apa bedanya dg mitos Nyi Loro Kidul di Jawa yg digunakan untuk melegitimasi raja-raja Jawa?–untuk membalaskan dendamnya kepada Belanda di Aceh, karena Belanda telah membuangnya dari Kampung halamannya di Minangkabau. Dan sangat masuk akal juga pada zaman perang Aceh ada berbagai bantuan dari saudara sesama Muslim kepada orang Aceh, sebab sejak lama Aceh bukanlah daerah tertutup. Bandingkan misalnya, bantuan2 dari Raja Bujang Trimon kepada pasukan Paderi selama tahap akhir perang Paderi di Minangkabau (1820-30-an). Sejarah munjukkkan bahwa kota2 pantai Aceh, sejak zaman kejayaan Kesultanan Aceh sudah banyak dikunjungi oleh imigran dari luar. Di Pantai Barat Aceh, misalnya, seperti di Trumon, Susoh, Bulusama,dll. sudah lama bermastautin para perantau dari Minangkabau. Di Pidie ada tokoh lokal Teuku Pakeh Seundri pada abad ke-18 yang moyangnya berasal dari Bugis (dari Sindreng). Jadi, masih banyak aspek dari sejarah Aceh yang, menurut hemat saya, harus dikaji dan diungkapkan. Penelitian ke arah itu bisa dilakukan jika sikap chauvinistik orang Aceh yang terlalu berlebihan dapat dibuka sedikit. Wassalam, Suryadi.

  • rahmat 7 years ago

    rasanya cerota yang anda tulis tidak benar adanya, karena terjadi percampuran antara cerota tuan tapa dan malem dewa, cerita tuan tapa itu terjadi di aceh selatan (Tapaktuan), sedangkan malem dewa itu di aceh tengah (takengon). dan pada hakikatnya dimata orang kedua cerita diatas hanya sebuah dongen di aceh. tolong klau nulis bisa sedikit dibuat rujukanya sehingga jelas kebenaranya. krn dalam kehidupan pejuang aceh tidak ada satupun yang menyebut adanya kelibatan tokoh dongeng itu dengan perang melawan belanda.

    saleum

  • husein-knabe 7 years ago

    Siapa nama lengkapnya, Pak Husein? Tengku Pakeh Seunri? Apakah ada ancang2 tahunnya? Saya coba telusuri.

    tdk diketahui nama lengkapnya hanya tengku pakeh sindri/sendri yg tertulis dan menuruti sislsilah sepertinya 15-16-an? terimakasih

  • Suryadi 7 years ago

    Saya belum pernah dengar nama itu, Sdr. Juan. Bisa diceritakan sedikit konteks sejarahnya? Menurut cerita yang Juan engan kapan H. Malagani hidup?

  • juan 7 years ago

    Pak, apakah sejarah Minang kabau terutama di Bukittinggi sejauh yang bapak tahu mengenal yang namanya H.Malagani. terimaksih atas bantuannya..

  • Suryadi 7 years ago

    Siapa nama lengkapnya, Pak Husein? Tengku Pakeh Seunri? Apakah ada ancang2 tahunnya? Saya coba telusuri.

  • husein-knabe 7 years ago

    apakah bisa membantu utk mencarikan keturuna dari leluhur “tengku pakeh seunri” yang katanya beasal dr bugis dan terdampar di aceh? adakah hubungannya dg semua ini ?
    wassalam,
    husein-Knabe

  • Suryadi 8 years ago

    Puan/Encik Surya,
    Apakah Puan/Encik tahu dimana kampung asalnya Malim Maulana itu? Mungkin bisa ditelusuri melalui arsip2 sejarah kolonial sama ada yang tersimpan di Indonesia atau di Belanda.
    Wassalam,
    Suryadi

  • surya mawarni 8 years ago

    saya mencari asal usul keturunan yg kononnya dahulu nenek saya merupakan keturunan malim maulana yg dulunya dilarikan ke tanah melayu akibat dari perang belanda.bagaimana saya mahu mendapat detail mengenai salah silah keluarga saya ini

Author

Recent Post

Recent Comments

Archive