Suryadi

Membangun Museum Pers Di Padang

28 May 2006 - 22:42 WIB

Padang adalah kota yang terbilang tua di Indonesia. Kota ini kaya akan nilai sejarah yang, kalau diolah dengan cermat dan berkelanjutan oleh pemdanya, akan menjadi aset wisata historis yang menarik. Pemda kota Padang bisa mencontoh Pemda kota Melaka di Malaysia yang mampu mengelola pontensi sejarahnya menjadi aset wisata, yang menambah pendapatan Pemda kota itu dan meningkatkan perekonomian masyarakatnya.

Beberapa sejarawan menjuluki Padang sebagai kota pers. As far as the history the vernacular press in Sumatra is concerned, Padang seems to have the longest history in the press business, kata sejarawan Ahmat Adam (1975). Namun selama ini potensi historis itu tampaknya terbaikan, mungkin juga karena konsep pembangunan kota Padang yang tidak berwawasan historis. Ahmat Adam tidak berlebihan: pada saat banyak kota Hindia Belanda di luar Jawa belum mengenal vernacular press, di Padang sudah terbit surat kabar berbahasa Melayu pertama, Bintang Timor, pada Dember 1864. Kemudian menyusul terbit di Padang beberapa surat kabar lainnya, seperti Bintang Purnama (1872), Bentara Melajoe (1877), Palita Ketjil (1886), Pertja Barat (1890?), Sinar Minangkabau (1894?), Warta Berita (1895), Tjahaja Sumatra (1897?), dan Tapian na Oeli (1900?). Sejumlah koran berbahasa Belanda juga terbit di kota ini pada masa itu.

Memasuki abad ke-20 makin banyak surat kabar pribumi yang terbit di Padang: Insulinde (1901), Wasir Hindia (1903), Bintang Sumatra (1903), Alam Minangkerbau (1904), Taman Hindia (1904), Sinar Sumatra (1905), Binsar Sinondang Batak (1905), Al-Imam (1906), Minangkabau (1908), Warta Hindia (1908), Bintang Tionghoa (1910), Al-Moenir (1911), Oetoesan Melajoe (1911), Soenting Melajoe, koran wanita pertama di luar Jawa (1912), Soeara Rakjat (1912), Soeara Melajoe (1913), Soeloeh Melajoe (1913), Al-Achbar (1913), Saudara Hindia (1913; terbit di Bukittingi), Extra-Maloemat (1918?),Soeara Perempoean (1919), dll..

Pada dekade 1920-an sampai 40-an, seiring dengan menguatnya nasionalisme Indonesia, di Padang bermunculan, misalnya Periodik, Dunia Achirat, Adabiah, Dempo Bergerak, Benih Pengetahoean, Panas, Sasaran Rakjat, Petir, Soeara Momok, Torpedo, Boeka Mata, Medan Rakjat, Pahlawan Moeda, Soeara Poeblik, Hoa Sin, dan Dagblad Persamaan. Masing-masing membawa ideologi tertentu; yang berorientasi komersial juga ada. Inilah masa puncak gairah intelektualisme Minangkabau: surat kabar menjadi sarana polemik, diskusi, dan debat terbuka untuk mengadu berbagai paham dan pemikiran.

Kota-kota lain pun menerbitkan surat kabar. Misalnya, Sasaran Rakyat (Solok); Warta Perniagaan, Berita Balai Derma, Seng Po, Aboean Goeroe-Goeroe, Al-Bajan, dan Kodrat Moeda (Bukittingi); Djago-Djago, Pelita, Al-Manarul Manar, Pemandangan Islam, Signal, Sinar Sumatera Tawalib, Pahlawan Moeda, Attablig, dan Skis (Padang Panjang); Al-Adab, Obor Islam, Nurul Yaqin, dan Utusan (Batusangkar).

Yang unik, beberapa nagari pun memiliki media cetak sendiri, umpamanya Berita Kota Gedang dan Soeara Kemadjoean (Kota Gedang), Pengantar Matoer (Matoer), Al-Munawarah (Sulit Air), Soeara Sumpur (Sumpur), Warta Tjoebadak (Talu), Al-Mizan (Maninjau) Soeara Tambang (Sawah Lunto), Djihad (Padang Japang), Al-Bajir (Sungayang), Al-Bajan (Parabek), Suluh Masjarakat (Lubuk Sikaping), dan Tjahya (Pariaman).

Melihat kekayaan historis persuratkabaran Sumatra Barat itu, kiranya Padang perlu memiliki sebuah museum pers. Pada hemat saya, Pemda Kota Padang, Pemda Sumatra Barat, dan PWI cabang Sumatra Barat, perlu memikirkan hal ini. Eksemplar-eksemplar surat kabar yang pernah terbit di Sumatra Barat masih tersimpan dengan baik di beberapa perpustakaan di dunia, seperti di Jakarta (Indonesia) Belanda, dan USA. Semuanya tentu bisa dikembalikan ke kota kelahirannya dalam bentuk fotokopi, mikrofilm, atau CD room. Pengunjung museum itu dapat melihat penampilan fisik setiap surat kabar itu dalam bentuk foto-foto besar berbingkai indah yang dipajang. Kalau perlu, koleksinya bisa diperluas: periode pasca 1945, juga koran-koran kuno dari daerah lainnya di Indonesia.

Salah satu ciri kota wisata, sebagaimana ditunjukkan oleh kota-kota wisata utama dunia, adalah kemodernan diselingi images tentang masa lalu kota itu yang bisa berupa kompleks bangunan kunonya yang rapi dan bersih dan juga berbagai museum. Tidak ada kerugian apapun jika sebuah kota memiliki (makin) banyak museum dan memelihara bangunan-bangunan kunonya.

Dalam mengembangkan industri pariwisata di era persaingan bebas sekarang ini, setiap daerah harus mampu menampilkan kekhasan masing-masing, antara lain dengan menampilkan keunikan budaya dan khazanah historis daerah bersangkutan. Museum (pers) tidak saja akan menarik wisatawan domestik dan mancanegara, tapi juga akan mencerdaskan warga kota. Konsep pengembangan pariwisata yang hanya membangga-banggakan keindahan alam saja, dan tidak didukung oleh unsur pariwisata historis dan budaya, niscaya akan kurang berhasil.

Suryadi

Dosen dan peneliti pada Opleiding Talen en Culturen van Indonesi, Universiteit Leiden, Belanda (E-mail: s.suryadi@hum.leidenuniv.nl)

Sumber: harian Singgalang Minggu (kolom Mantagi), 28 Mei 2006


TAGS  


Author

Recent Post

Recent Comments

Archive