Suryadi

Sumuk….

26 Jun 2007 - 13:24 WIB

(Lies Suryadi-Belanda)

Geachte Zev,
Langsung aja… Saya juga ingin berbagi pengalaman, tepatnya keluh kesah (yg aneh). Saya dan sudah tinggal di Belanda, di kota kecil/kota pelajar Leiden yang tenang, sejak 1998. Istri dan anak menyusul tahun 2001.

Kami tinggal di rumah kecil saja. Kemana-mana pakai sepeda. Saya kerja di universitas, tapi gaji tidak begitu besar juga. Istri juga kerja di sebuah restoran, gajinya juga tak besar. Tapi cukuplah buat kami untuk hidup bulan ke bulan. Dan menabung sedikit buat hari tua. Juga ada pensiun sedikit. Kami senang2 saja, sebab ada jaminan kesehatan (disubsidi lagi oleh pemerintah Belanda); anak juga hampir dibilang gratis masuk sekolah. Kami enjoy2 saja: toh bukan kami sendiri yg hidup

dengan cukup-cukupan begitu. Saya sering lihat orang2 bule, terutama mahasiswa, dengan sisa 20 atau 50 euro di rekeningnya. Malah sering juga minus. Tak ada masalah. Anak2 SMA atau mahasiswa biasa kerja part time di restoran, ngantar koran, dan macam2 lagi. Anak professor saya mengantar koran. Mereka sudah biasa hidup mandiri. Tak ada yg mengetawain: “Eh…ayah professor kok ngantar koran? Malu dong”. Tak ada yg memandang hina mereka yg naik sepeda atau nganggur kurang uang.

Ya, enjoynya di situ: senang saja lihat gadis cantik bahenol pake sepeda omprengan kriuk-kriuk; lihat rektor saya (Rektor Univ. Leiden) jinjing tas sendiri jalan kaki atau pake sepeda ke kantor; lihat orang-orang berperahu hilir mudik di musim panas; lihat orang2 mabok di taman dengan minta uang sesen-dua dengan sopan: “Mag ik heb een euro Meneer. Ik ben honger”! kalau tidak dikasih, tetap bilang “Als u blijf meneer!”;lihat cewek2 putih bule…pacaran sama orang2 hitam kayak pantat kuali. Ya…senangnya di situ: kalau ketemu orang hampir selalu bilang “goede morgen”, “Goede Middag”; kalau masuk ke gedung, orang di depan kita menahan pintu untuk kita, dan selalu terdengar ucapan “”mersi” atau “bedank” kepada kita; kalau berdiri di pinggi jalan dg zebra cross, otomatis mobil2 berhenti sambil sopirnya memberi tanda silakan lewat dari belakang kemudi; kalau ngurus surat di kantor Balaikota tunggu 10-15 menit, dan pegawainya tak sok kuasa.

Ya…enjoynya di situ aja: bukan karena uang banyak;kalau hari agak panas pergi saja ke taman sambil bentanng tikar atau kain, minum, kasih makan remah2 roti kepada burung2 yg mendekat. Ya..enjoynya di situ: anak saya bergurau dengan polisi, minta dicobain pakai borgol. Anak kecil 5 tahun itu berani saja nanya orang besar atau orang tua di kereta: ” Hoe oud bent u Meneer? Orang tua jawab kayak dengan temannya saja.

Pokoknya enjoynya sulit juga dijelaskan.

Nah masalah timbul kalau kami pulang ke Indonesia, ke Sumatra sana. Kami selalu pulang paling tidak sekali setahun. Kami selalu rindu pulang. Dari Belandanya serasa ingin mati mau pulang; sebulan sebelum berangkat kpernya udah penuh. Sampai di kampung yang ditanya orang2: kapan beli mobil baru? Atau mau pinjem uang buat modal usaha. Wah…hebat! Banyak duitnya. Istri saya biasanya pulang dengan gaya biasa saja (seperti biasa di Belanda). Teman-temanya tanya: udah jauh merantau gitu kok nggak mampu beli emas? Nggak ada yg kuning di badanmu?

Kami bingung. Kayaknya yang ada dalam pikiran orang2 kampung kami uang saja. Apa ya yg terjadi dengan masyarakat kita kini? Orang memandang hormat orang lain dengan melihat materi saja. Uang.. .uang… uang.. itu saja ukuran sukses.

Juga di mana-mana: di jalan, di pelabuhan, di kantor-kantor. Kami merasakan sesuatu yang aneh: suatu aroma kekerasan, kasar,tidak jujur, tipu muslihat, kekuasaan yang kuat menindas yang lemah. Semua orang seperti memburu sesuatu dan diburu sesuatu, tak sabar,…pokoknya sulit mencari titik-titik ketulusan, kesederhanaan, tampil apa adanya.

Anak saya lebih bingung lagi: ia pergi ke sekolah sepupunya, lihat gurunya marah2. Ia bilang: Ik wil niet gaat naar school hier”. Ia merasakan pengalaman yg lain sama sekali dengan di sekolahnya di Leiden. Sekali ia berteriak marah lihat orang membunuh burung dengan senaoang angin, membiarkan bangkai burung itu tergeletak. Itu dilakukan demi kepuasan saja. Lalu kami merasa dikepung oleh sesuatu yang nggak tampak tapi mengerikan. Cepat2 kami ingin menghindar darinya.

Biasanya setelah tiga-empat minggu di Indonesia kami kembali ke Belanda. Sampai di Belanda ada rasa lega: kami melihat lagi gadis2 cantik dg sepeda kriuk-kriuk, melihat lagi penghormatan orang2 kaya kepada pejalan kaki atau pengendara sepeda seperti kami. Tapi setiap tahun kami ingin pulang lagi melihat kampung halaman di Sumatra sana. Tapi yg kami temukan hal yg sama lagi, malah terasa makin parah.

Suatu saat kami ingin pulang. Tapi saya kuatir dengan anak saya. Kami sendiri mungkin dapat berdamai. Mungkin ini sudah nasib kami atau orang2 Indonesia lain yg punya jalan hidup seperti kami.

*************

Pembaca rubrik Kesehatan KCM entah di Bontang, Inggris, Bali, Belanda, New Jersey, Kuwait, Australia, atau di Kediri, silakan berbagi pengalaman seputar kehidupan sehari-hari. Kirimkan via email: zeverina@kompas.com.

http://www2.kompas.com/ver1/Kesehatan/0607/26/234700.htm


TAGS  


Author

Recent Post

Recent Comments

Archive