Suryadi

Syair Lampung Karam : Kesaksian Pribumi tentang Letusan Krakatau 1883

9 Sep 2008 - 15:03 WIB

Radio Nederland Wereldomroep : Suryadi soal Krakatau

Ternyata orang pribumi juga menulis risalah tentang meletusnya Gunung Krakatau pada bulan Agustus 1883. Orang itu adalah Mohammad Saleh yang menulis risalah berjudul Syair Lampung Karam, yang diterbitkan dalam bentuk cetak batu di Singapura tahun 1883. Selama ini, semua laporan tentang letusan dahsyat Krakatau itu hanya berdasarkan pada laporan orang-orang asing, terutama Belanda dan Inggris. Pelbagai kajian yang membahas laporan itu juga tidak mencantumkan Mohammad Saleh. Berikut penjelasan Suryadi, peneliti dan ahli filologi pada Universitas Leiden, penemu Syair Lampung Karam.

Suryadi: Satu-satunya dokumen kesaksian kaum pribumi sejauh yang tahu mengenai letusan Gunung Krakatau yang dahsyat itu, berjudul Syair Lampung Karam. Tetapi pada edisi-edisi berikutnya ada beberapa variasi sedikit mengenai judul itu. Dan syair itu ditulis oleh seorang pribumi yang bernama Mohammad Saleh. Saya coba membacakan berdasarkan edisi tahun 1883 dari syair itu, ia katakan:

Hamba mengarang fakir yang hina
Muhammad Saleh nama sempurna
Kerana hati gundah gulana
Melainkan Allah yang mengetahuinya

Jadi Mohammad Saleh mencantumkan namanya sebagai pengarang teks itu. Di dalam beberapa bait Syair Lampung Karam, dia mengatakan bahwa dia berada di Lampung pada saat letusan dahsyat itu terjadi. Dan dia selamat dan setelah itu dia pergi ke Singapura. Saya menduga bahwa dia salah seorang pengungsi dari letusan itu dan dia mengatakan bahwa dia menulis itu di kampung Bangkahulu di Singapura. Yang sekarang menjadi Bengkulen Street. Itu Singapura lama.

Arab Melayu

Dan dia menulisnya di sana. Dan selesai kira-kira tiga bulan setelah letusan Gunung Krakatau itu. Yang menarik bagi saya, dalam Syair Lampung Karam ini yang ditulis dalam aksara Arab Melayu, atau Jawi kata orang di Malaysia sana. Mudah-mudahan masih ada orang muda di Indonesia yang bisa membaca sekarang. Kalau tidak ini sudah saya latinkan dan bisa dibaca nanti. Mudah-mudahan bisa diterbitkan di Indonesia.

Yang menarik bagi saya bahwa bahasanya cenderung agak Melayu-Riau. Jadi kemungkinan dia bukan orang Lampung asli. Dan pada waktu itu memang seperti digambarkan dalam syair ini, Lampung menjadi pusat bisnis. Banyak orang ke sana.

Misalnya dia menulis kata “kerana” bukan “karena”. “Kerana” seperti yang kita kenal di Malaysia sekarang, masih dipakai, ini agak Melayu-Riau. Jadi jelas sekali kaf yaa dan setelah huruf raa itu tanda alif. Jadi dibaca kerana bukan karena.

Segi humanisme

Radio Nederland [RN]: Tapi mungkin yang paling menarik ialah ceritanya. Ini satu-satunya laporan seorang Melayu tentang letusan Gunung Krakatau pada waktu itu. Apakah bapak Suryadi bisa menerangkan sedikit tentang isinya syair itu dan mungkin juga ada bedanya dengan laporan orang Belanda? Karena orang Belanda banyak sekali laporan?

Suryadi: Memang ini menarik sekali. Selama ini dari banyak laporan mengenai Krakatau dan mungkin bapak dan ibu tahu juga bahwa, sampai sekarang itu masih menjadi insprirasi bagi banyak penulis. Apakah dia itu orang akademik maupun penulis novel, Krakatau menjadi insprirasi. Dan saya menemukan satu bibliografi yang mencatat sekitar 2000 tulisan mengenai Krakatau. Anehnya, Syair Lampung Karam ini tidak tercatat. Jadi memang selama ini dilupakan. Dan yang menarik, sejauh yang saya amati dari hasil transliterasi atau alih aksara yang sudah saya buat mengenai syair ini, berbeda dengan orang Barat yang melihat letusan Krakatau dari segi ilmu, atau dari segi geologinya, dari segi geografinya dan macam-macam.

Tetapi dalam Syair Lampung Karam, Mohammad Saleh justru melihat dari segi humanismenya, dari segi kemanusiaannya. Bagaimana orang dalam keadaan kacau seperti itu saling tolong-menolong. Tetapi ada juga yang mencuri barang orang lain, dan memperkaya diri dengan mengambil banyak harta orang lain. Dan bagaimana tuan controleur Belanda datang dan membagi uang kepada orang, menyuruh para saudagar yang masih hidup, untuk membawa beras dan menolong masyarakat di sana.

Dan juga penulis Mohammad Saleh menekankan bahwa ini bencana dan kita harus tetap dekat kepada Tuhan seperti itu. Jadi ini aspek kemanusiaannya lebih terasa. Dan kita tidak akan menemukan gambaran seperti ini dalam laporan orang Eropa. Ini pentingnya teks ini. Jadi saling melengkapi, bagaimana gambaran historis, sejarah mengenai letusan itu pada waktu itu.

http://www.ranesi.nl/tema/budaya/syair_lampung_karam080903


TAGS  


Comment

Author

Recent Post

Recent Comments

Archive