Suryadi

MENGUBAH ADAT ISTIADAT (Kasus “Punah, etc”)

27 Mar 2009 - 22:21 WIB

new-rn-logoPak Saaf, Pak Azmi, Buya HMA, Sanak R.Avenzora dan dunsanak lainnya di lapau,

Assalamualaikum ww.wb.,

Sambil menahan rinduterhadap kampung halaman, saya “inok-manuangkan” polemik tentang konsep “punah” yang semula diapungkan di ‘lapau’ kita ini oleh Pak Saaf, yang ternyata mendapat tanggapan hangatdan kritis dari beberapa dunsanak kita.Kebetulan saya sedang membaca dan meresensi buku Jeffrey Hadler, Muslims and Martriarchs: Cultural Resilience in Indonesia through Jihad and Colonialism (Muslim dan Pengamal Nasab Ibu: Kelenturan Budaya di Indonesia melalui Jihad dan Kolonialisme) (Ithaca & London: Cornell University Press, 2008) yang menggambarkan betapa ‘bandelnya’ sistem Matrilineal (nasab ibu) Minangkabau: selama hampir satu sentengah abad digempur habis-habisan (pakailah kata Inggris “onslaught“dalam konteksini) oleh dua ideologi besar yang datang dari luar–Gerakan Islamradikal (baca: Perang Paderi, 1803-1837) dan kemudian dilanjutkan oleh Negara Kolonial Hindia Belanda yang dua-duanya berorientasi patriarkal (cenderung mendelegasikan kekuasaan kepada kaum lelaki)–sistem matrilineal Minangkabau ternyata lolos dari kepunahan; meminjam kata-kata Jeffrey Hadler sendiri: “The Minangkabau matriarchate is hard to kill” (hlm.177).

Di tempat lain di dunia, seperti di Kerala (India Selatan), di Sri Lanka,dan di Negeri Sembilan (Malaysia), demikian Hadler,sistem matrilineal yang dianut masyarakatnya punah rarah akibat intervensi indeologi patriarkal yang dikembangkan oleh kolonialis Inggris yang dicucukkanke setiapaspek kehidupan masyarakat pribumi setempat. Bercermin dari realitas historis itu, sebagai orang Minangkabau, apakah kita bersyukur mendapati kenyataaan bahwa sistem matrilineal kita masih survive (walau terjadi pergeseran di sana-sini) atau malah sebaliknya, menyayangkan kenapa kedua ideologi asing besar yang patriarkal itu gagal melenyapkannya? Pertanyaan saya ini tentu bersifat resiprokal dan saya yakin masing-masing kita di ‘lapau’ ini, sebagai orang Minangkabau,punya jawaban sendiri-sendiri.

Buku Hadlersangat bagus menggambarkan dinamika yang dihadapi sistem matrilineal Minangkabau sejak awal abad ke-19 sampai 1930-an. Mencermati polemik tentang konsep “punah” yang sedang mengapung di lapau ini, saya membatin bahwa (berbagai aspek dari) sistem matrilineal Minangkabau tetap mendapat kritikan, serangan (baik dari luar maupun dari dalam masyarakat Minangkabau sendiri) tetapi sekaligus pembelaan. Sebagai akademikus (kalaulah boleh disebut demikian) saya hanya mengamati polemik yang terjadi (rencana saya akan menulis suatu artikel tentang ini untuk koran di Sumbar, biar nanti ada catatan sejarah, betapapun sederhananya,mengenai apa yang kita polemikkan saat ini). Tapi sebagai anak Minangkabau, saya jelas ikut juga tak steril dari subjektifitas ketika mengikuti polemik ini. Sayamerasa bahwa”GARIS DEMARKASI”antara adat dan agama yang terefleksi dalam konsep ABS-SBK tetap menjadi sebuah “perbatasan” yang “panas” danpenuh gejolak, dan terustak stabilsampai kini, dan mungkin sampai akhir nanti. Ini mungkin sebuah nasib etnis Minangkabau yang khas, tapi haruskan kita menyesalinya?

Dalam kaitannya dengan polemik yang sedang berlansung ini, mungkin ada baiknya Pak Saaf menjawab beberapa pertanyaan Pak Azmi dan dunsanak yang lain. Pak Saaf coba menguraikan secara deskriptif-analitis pokok-pokok pikiran Pak Saaf dalam sebuah tulisan yang mungkin bisa dilampirkan di milis lapau ini: bagaimana betul pikiran dan gagasan-gagasanPak Saaf mengenai konsep “punah” itu, dan kalau dilakukan koreksi budaya terhadapnya (berdasarkan ajaran Islam) apa-apa saja konsekuensinya (positif dan negarif) terhadap kebudayaan Minangkabau, khususnya sistem nasab ibu (matrilienal) Minangkabau. Mungkin juga Buya Mas’oed Abidin dapat pula memberikan uraian untuk pencerahan dan perbandingan bagi kita semua. Walau bagaimanapun, saya kira, gagasan-gagasan Pak Saaf, langsung atau tidak, akan menimbulkan implikasi kultural (saya mencerapknya dalam artian positif saja). Itu sebabnya belum lama ini saya tertarik untuk menanyakan inskripsi “Basuku ka Ibu; banasab ka Bapak; basako ka Mamak” (warna merah dari Suryadi) yang selalu Pak Saaf postingkan di bawah nama Pak Saaf. Dalam interpretasi saya ini jelas semacam reaksi oposisi Pak Saaf terhadap nasab ibu Minangkabau.

Sebagai refleksi idologis terhadap polemik ini, setidaknya untuk merasa-rasakan sendiri di ‘kaki’ ideologi yang mana kita bersitekan, saya kutipkan kalimat Jeffrey Hadler dalam bukunya yang telah saya sebutkan di atas: “Since the 1820s, the people of West Sumatra have been involved in an intensive three-way contest among reformist Islam, the traditions of the matriarchate, and what would become European progressivism“(hlm.177) Saya kita ketiga elemen itu, dalam wujud yang berbeda tapi hakikatnya sama, tetap ada dalam masyarakat Minangkabau sekarang ini (kita yang ada di ‘lapau’ ini tentudapat merasa-rasakan sendiri ke elemen yang mana dari ketiga elemen itu kita secara ideologi berafiliasi, he he).

Di halaman lain Jeffey menulis: “The conflict and interaction among the matriarchate, reformist Islam, and the colonial state [sekarangtentu bisa disubstitusikan ke negara Indonesia; Suryadi] destabilized the most essential elements of Minangkabau society“. (hlm.180). Tapi destabilisasi itu pulalah yang membuat orang Minang cenderung dinamik. Bukankan Pak Mochtar Naim dalam disertasinya, “Merantau: Minangkabau Voluntary Migration” (NUS Singapore, 1973) telah memperlihatkan bahwa destabilisasi dalam budaya Minang itulah yang antara lain menjadi faktor pendorong munculnya tradisi merantau yang melembaga di kalangan orang Minangkabau. “The disproportionate contribution of Minangkabau peole to Indonesian national politics“, demikian Hadler, “is a direct result of this destabilization. Hamka, Mohammad Hatta, Tan Malaka, Muhammad Natsir, Haji Agus Salim, Sutan Sjahrir, and countless other leaders were shaped by homes and schools in which all sacred thruths were questioned” (hlm.180)


Akhirul kalam, saya senang melihat polemik ini, menandakan bahwa kita sebagai orang Minang tetap memikirkan identitas kultural kita (di tengah virtualreality yang semakin menjadi2 akibat perkembangan teknologi modern).Orang-orang seperti Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi danDatuk Sutan Maharaja tetap akan muncul dalam setiap generasi Minangkabau.Koreksi, serangan, dan pembelaan terhadap (aspek-aspek) kebudayaan Minangkabau menandakan sebuah ikatan batin yang terus-menerus dengan idetitas etnis itu.

Saya yakin Minangkabau “masih ada harapan”, meminjamtajuk buku Pak Saaf (2004). Setidaknya hal itu dapat dikesan dari betapa masih tetap bersemangatnya kita dalampolemik ini, menandakan bahwa kita masih memikirkan budaya dan masyarakat kita. Saya kira Jeffrey Hadler tidak terlalu berlebihan menulis di paragraf paling akhir bukunya: “The history of West Sumatran politics is of recurring defeat. But the story of Minangkabau culture is one of survival” (hlm.180). Semoga……

Wassalam,

Tulisan ini menanggapi postingan Pak Dr.Saafroedin BAHAR tentang judul DiskusiMENGUBAH ADAT ISTIADAT (Kasus “Punah, etc”) pada Mailing List Minang terbesar, R@ntauNet [http://groups.google.com/group/RantauNet]


TAGS  


Author

Recent Post

Recent Comments

Archive