Suryadi

Merantau ke Deli: Lelaki Minang dalam Memori…

15 Apr 2009 - 22:33 WIB

Dalam Merantau ke Deli, jelas sekali ideologi dan pandangan dunia Hamka, sekaligus nasionalismenya. Dapatkah kita membaca apa yang ingin disampaikan Hamka dalam novel itu melalui kegagalan perkawinan tokoh Leman dan Mariatun, gadis sekampungnya, dan, sebaliknya, malah bahagia dalam perkawinannya bersama Poniem, gadis imigran dari Jawa yang sederhana an suka bekerja keras? Jelas sekali bahwa Hamka mengeritik eksklusifisme perkawinan Minangkabau dalam Merantau ke Deli.

Sampai sekarang, sejauh yang saya tahu, hanya dua orang pengarang Minangkabau yg mencoba menyampaikan pesan nasionalisme Indonesia melalui hubungan perkawinan antaretnis. Mereka adalah Adinegoro dan Hamka. Adinegoro memperlihatkan hal ini dalam hubungan perkawinan antaretnis antara Nurdin (Minangkabau) dan Rukmini (Sunda) dalam Darah Muda (1927). Tema yang sama digarap lagi oleh Adinegoro dalam novelnya Asmara Jaya (1928) melalui hubungan perkawinan antar etnis antara Rustam (Minangkabau) dan Dirsina (Sunda).

Hamka…….jelas beliau berada di garis depan dalam pemikiran ini. Ini dapat dilihat dalam hubungan perkawinan antar entnis yang cukup mencolok antara tokoh Poniem (Jawa) dan Leman (Minangkabau) dalam Merantau ke Deli (1939). Hubungan ketua tokoh dari etnis yang berbeda ini sangat menentukan alur cerita novel ini. Setting novel ini adalah daerah Deli dan Medan pada zaman sebelum perang. Leman adalah salah seorang perantau Minang yang mengadu nasib di daerah Deli yang sedang berkembang karena dibukanya onderneming2 tembakau oleh Belanda. Dan Poniem adalah buruh dari Jawa yang datang ke Deli karena hal yang sama: berkembangnya ekonomi Deli akibat pembukaan onderneming2 perkebunan besar di daerah itu.

Poniem sadalah salah seorang langganan tetap Leman yang menjadi pedagang keliling. Akibat sering bertemu, kedua makhluk Tuhan yg berbeda suku (tapi satu agama) itu saling jatuh cinta dan akhirnya memutuskan untuk menikah. Banyak perantau Minang di Deli yang menilai pernikahan antar etnis itu amat berani. Biasanya orang Minang kawin sesama orang Minang. Leman telah melanggar sebuah kelaziman. Pernikahan itu membuat pasangan Leman-Poniem berbahagia. Mereka giat bekerja, dengan modal tenaga sendiri. Rumah tangga mereka bahagia.

Namun kebahagiaan itu yang menjadi awal petaka rumah tangga Leman-Poniem. Sebagaimana umumnya tipikal inti konflik rumah tangga Minang, orang ketiga –biasanya salah satu dari pihak keluarga laki2 atau perempuan — campur tangan untuk mengganggu keharmonisan itu. Demi mendengar Leman an Poniem hidup bahagia di Deli, keluarga Leman di kampung datang ke sana dengan maksud untuk mengawinkannya lagi dengan gadis sekampungnya. Akhirnya, Leman dipaksa oleh keluarganya kawin lagi dengan Mariatun, gadis sekampung yang masih punya hubungan keluarga dengannya, pilihan familinya sendiri. Perkawinan itu akhirnya membawa kesengsaraan kepada diri Leman.

Melalui Merantau ke Deli, Hamka tidak saja mengeritik Minangkabau dari dalam, tetapi juga mulai memperkenalkan kemungkinan menciptakan INDONESIA yang ‘utuh’ melalui pembauran antar etnik melalui hubungan perkawinan (PARA PERANTAU MINANG ANGGOTA LAPAU Rantau-Net INI YANG KAWIN CAMPUR berterima kasihlah kepada Hamka). Bagi Hamka agama yang penting: biar berlain etnis, asal sama-sama Islam boleh menikah, asalah itu membawa kebahagiaan. Perkawinan antara sesama Minang belum menjamin kebahagiaan.

Banyak novelis Indonesia yang bersikap ekslusif, ‘bakaluntun-puntun’ dalam labirin adat etnisnya sendiri. Hamka menunjukkan kecenderungan sebaliknya. Mungkin karena sejak muda beliau sudah mengenyam udara rantau dan bergaul rapat dg intelektural bumiputera dari berbagai etnis lain.Nasionalisme keindonesiaan melalui hubungan perkawinan antar etnis dalam karya sastra kembali diperlihatkan Hamka melalui tokoh Zainuddin (yg dari sudut pandang Minangkabau dianggap suku Bugis karena ayahnya dari Minang tapi ibunya dari Bugis) dan Hayati gadis Minangkabau dalam Tenggelamnya Kapal Van der Wijk.

Berbeda dengan Adinegoro yang mengkhiri novel2nya dg happy ending, kedua2 novel Hamka di atas berakhir dengan esedihan. Baik Leman dalam Merantau ke Deli maupun Zainuddin dalam Tenggelamnya Kapal Van der Wijk, hidup sengsara dan merana. Ini seolah2 mengisyaratkan bahwa dari segi budaya, masih diperlukan perjuangan yang kuat dan berterusan untuk mewujudkan bangsa Indonesia yang berbilang puak itu, yang melihat antar sesamnya dalam posisi setara. Hamka, melalui novel2nya, seolah mengisyaratkan betapa KEBHINNEKAAN dalam pluralisme budaya Indonesia yang berbilang suku itu masih dalam proses pematangan dan oleh karenanya harus terus diperjuangkan.

Kini, bertanyalah para pengunjung lapau ini yang telah memutuskan memilih pasangan hidupnya dari etnis yang bukan Minang.. Apakah sumando yang bukan Minang itu lah ditarimo elok dek dunsanak di kampuang?

Wassalam,

* Catatan ini sedikit sari dari artikel Suryadi, “Negara Tanpa Bangsa: Fakta dan Interpretasi terhadap Wacana Novel Indonesia”, Jurnal Melayu (Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur), Jilid 2, Bilangan 2 (Disember 2004): 162-189.

Disampaikan dalam menanggapi postingan Merantau ke Deli: Lelaki Minang dalam Memori… pada Mailing List Minang terbesar, R@ntauNet [http://groups.google.com/group/RantauNet]


TAGS  


Author

Recent Post

Recent Comments

Archive