Suryadi

Infotainment Akan Disensor

15 Jul 2010 - 21:43 WIB

JAKARTA, TRIBUN-TIMUR.COM - Program infotainment dan reality show di seluruh televisi swasta nasional di Indonesia setiap hari menginvansi ruang publik. Dengan semena-mena memasuki wilayah domestik warga negara, yang semestinya tidak boleh menjadi konsumsi publik. Hal ini potensial untuk mengacaukan kehidupan kita, baik sebagai warna negara maupun sebagai individu.

Karena itu, upaya penyensoran program infotainment dan reality show sebelum ditayangan perlu dan penting, agar program yang tidak mendidik itu karena materinya gosip selebritas, dan opini-opini murahan,–bisa berubah menjadi program bermanfaat bagi pemirsa, dan terutama ramah anak dan remaja.

Demikian antara lain kesimpulan perbincangan dengan dosen dan peneliti sastra dan media culture (budaya media) di Indonesia dari Universiteit Leiden, Belanda, Suryadi, Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Seto Mulyadi, dan pakar komunikasi yang baru-baru ini penelitiannya untuk disertasi di Universitas Indonesia tentang Studi Budaya Televisi pada Program Infotainment, Mulharnetti Syas. Mereka dihubungi secara terpisah di Jakarta, Kamis (15/7).

Seperti diberitakan, tiga institusi, yakni Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Pers, dan Komisi Penyiaran Indonesia, sepakat program infotainment dan reality show akan disensor. Hal itu sebagai konsekuensi infotainment da sejenisnya bukan siaran factual, tetapi nonfactual (Kompas , 15/7/2010).

Suryadi mengatakan, fenomena infotainment dan reality show di dunia pertelevisian Indonesia, memiliki karaktristik sendiri yang khas Indonesia, yang tidak dapat ditemukan dalam dunia pertelevisian di negara-negara lain.

Secara umum saya lihat infotainment dan reality showterkait dengan budaya lisan yang memang kental dalam masyarakat kita. Ini juga terkait dengan budaya gosip. Sebanarnya, dari perspektif media studies , tidak ada yang namanya reality show (pertunjukan realitas), karena sesuatu yang telah dimediasi pasti mengandung subyektiv itas tertentu, menurut sudut pandang tertentu, ungkapnya.

Perlu dikawal

Suryadi setuju bahwa infotainment dan reality show disensor. Alasannya, praktisi pertelevisian kita sepertinya masih jauh dari dewasa untuk menyadari pekerjaannya sebagai bagian dari upaya mencerdaskan bangsa. Orientasinya ke profit saja. Kebanyakan program infotainment dan reality show tidak mengandung nilai pendidikan kepada para pemirsa televisi kita yang, malangnya, juga terseret kepada yang dibuat oleh media.

Media kita, khususnya melalui program-program infotainment, menurut dia, cenderung telah dengan semena-mena memasuki wilayah domestik warga negara, yang semestinya tidak boleh menjadi konsumsi publik. Hal ini potensial untuk mengacaukan kehidupan kita, baik sebagai warga negara maupun sebagai individu.

“Saya melihat beberapa program infotainment dan reality show cenderung bersifat subjektif dan malah menghasut. Secara tidak sadar program-program seperti ini jatuh kepada provokasi. Apa yg ingin s aya katakan adalah bahwa dalam dunia pertelevisian kita harus ada aturan sampai batas mana para praktisi media, dalam hal ini televisi, boleh memasuki wilayah domestik setiap warga negara,” jelas Suryadi.

Menurut Suryadi, praktisi dunia pertelevisian kita yang belum matang dan dewasa harus tetap dikawal oleh institusi-institusi kebangsaan, pemerintah maupun nonpemerintah. Sehingga dunia pertelevisian kita tetap bermanfaat untuk kemajuan bangsa Indonesia.

Seto Mulyadi juga mendukung upaya penyensoran program infotainment dan reality show. Sebab, televisi adalah sahabat yang baik bagi banyak anak. Sejak pagi buta hingga malam anak-anak ditemani oleh tayangan-tayangan yang sangat menarik dan terkadang membuat mereka larut. Saat anak-anak tidak mempunyai kegiatan, lari ke televisi adalah hal yang paling mudah dilakukan oleh anak.

Tanpa disadari oleh orangtua dan anak, televisi sebenarnya bukanlah merupakan sahabat yang baik. Ternyata televisi membawa pengaruh negatif yang jauh lebih besar daripada pengaruh positifnya. Program infotainment dan reality show pun tak luput jadi tontonan anak anak dan remaja, ujarnya.

Seto yang baru kembali dari Swedia mengikuti pertemuan yang membahas media dan anak-anak menjelaskan, media tanpa sadar cenderung merusak anak-anak. Seksualitas, kekerasan, mistik, gossip yang menjadi materi program, tak bermanfaat bagi pencerdasan bangsa, pencerdasan anak-anak dan remaja. Justru merusak mereka.

Menurut Seto, harus ada unsur idealisme dari media (televisi), jangan hanya berdasarkan rating. Pertelevisian di Indonesia perlu dirancang program-program yang mencerdaskan dan ramah anak.

Mulharnetti Syas mengatakan, karena ratingnya tinggi, program infotainment dan reality show menjadi program andalan industri televisi di Indonesia. Program tersebut banyak mendatangkan uang melalui iklan. Bahkan, dari penelitian, pada tahun 2008 program infotainment Insert merupakan penghasil iklan terbesar di Trans TV. Baik Insert Pagi, Insert Siang, maupun Insert Sore (Insert Investigasi).

Persoalannya, gosip di program infotainment frekuensi dan durasinya tinggi, serta subyek yang digosipkan adalah kaum selebritas. Buktinya, program infotainment menginvansi ruang publik kita setiap hari. Karena bukan karya jurnalistik, maka infotainment perlu penyensoran, katanya.(*)

http://www.tribun-timur.com

Kamis, 15 Juli 2010


TAGS  


Author

Recent Post

Recent Comments

Archive