Suryadi

Kandang Rasul dan Bantuan Pasca Gempa Sumatra Barat

11 Aug 2010 - 21:07 WIB

Gempa Sumatra Barat tanggal 30 September 2009 telah menimbulkan berbagai persoalan dalam masyarakat, baik yang menyangkut fisik, seperti banyaknya rumah dan fasilitas publik yang rusak, juga yang menyangkut psiko-sosial masyarakat yang penanganannya jauh lebih kompleks.

Berbagai bantuan telah datang dari dalam dan luar negeri untuk membantu korban gempa Sumatra Barat, baik melalui institusi-institusi pemerintah maupun LSM-LSM. Banyak bantuan diarahkan untuk perbaikan fisik seperti renovasi rumah-rumah yang rusak. Namun, ada juga yang menggunakan momen bencana itu untuk melakukan misi-misi pengalihan akidah, seperti kasus khotbah misionaris dan pembagian Kitab Injil di desa Cumanak yang video rekaman amatirnya telah tersebar di internet.

Kandang Rasul

Sekarang di beberapa nagari di Sumatra Barat, khususnya di Kabupaten Padang Pariaman, masyarakat diresahkan oleh kehadiran kelompok yang menyebut dirinya Kandang Rasul, yang tampaknya punya misi teologis tertentu tapi dikaitkan dengan iming-iming bantuan gempa. Pimpinan penggiat kelompok ini di Padang Pariaman bernama Drs. Yuridis asal Sungai Limau. Dalam dokumen pengangkatannya, tertanggal 8 Januari 2009, Yuridis mendapat nomor NIPRN: 1305141112670001 dan disebut sebagai Pelayan lingkari dunia dengan damai yang harus bekerja sesuai sumpah janjinya. Saksi Alam Leluhur dan Para Sufi Negara untuk Melaksanakan Kewajiban kepada Rakyat, Bangsa dan Negara Dunia.


Yuridis dan beberapa orang pembantunya sangat aktif mencari pengikut di desa-desa di Padang Pariaman. Seorang pengikut kelompok ini di tingkat desa disuruh mengumpulkan 20 orang anggota. Jadi, sistem perekrutannya dilakukan dengan cara beranting. Mereka yang sudah bersedia ikut diajak rapat secara periodik. Jika di satu desa mereka dilarang rapat, maka mereka pindah rapat ke desa lain. Untuk wilayah Kodya Pariaman, mereka sering mengadakan pertemuan kelompok di nagari Marabau, Pariaman Selatan. Para pengikut ajaran ini juga dimintai sumbangan untuk biaya administrasi dan aktivitas para penggiatnya.


Tampaknya kaum wanita lebih banyak tertarik ikut dalam kelompok ini. Mereka diiming-imingi bantuan ratusan juta rupiah untuk merenovasi rumah dan modal usaha. Disebutkan bahwa uang bantuan itu, yang jumlahnya milyaran rupiah, berasal dari uang peninggalan Presiden Sukarno yang disimpan di bank di Swiss.


Melihat redaksi dokumen-dokumen tertulisnya, ajaran ini sepertinya mengandung prinsip yang mirip dengan prinsip kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang pernah dikembangkan di Zaman Orde Baru. Intinya: semua agama benar. Namun, banyak unsur redaksional dokumen-dokumen tertulisnya yang cukup absurd untuk tidak mengatakan esoterik, misalnya ungkapan AMANAT AGUNG INTERNATIONAL ASSET: CDC INA NUSANTARA PERTIWI NEGARA DUNIA INDONATIONS WARIS TUNGGAL NEGARA SLAMET SSSSS RI.I.XXI/CENTURY GENERATIONS SURYANEGARA JATINEGARA NATANEGARA RAJA DIRAJA, yang dari segi semantik tidak jelas maksudnya.


Sebelum dikembangkan di Sumatra Barat, ajaran Kandang Rasul pernah dikembangkan di Kabupaten Lebak, Jawa Barat, sejak 2008. Namun Majelis Ulama Indonesia (MUI) setempat kemudian melarang ajaran ini dan mengeluarkan fatwa bahwa Kandang Rasul dinyatakan sebagai ajaran sesat karena mengakomodasi semua agama dan berbau penipuan karena adanya iming-iming bantuan jutaan rupiah dari uang warisan Presiden Sukarno yang sudah lama menjadi mitos itu. Ajaran ini dianggap dapat meresahkan masyarakat dan berpotensi menimbulkan konflik sosial. Pengawasan Aliran Kepercayaan Masyarakat (Pakem) Kabupaten Lebak juga memberikan peringatan keras kepada para penggiat ajaran ini (lihat: NU Online, Selasa, 8 April 2008).


Tampaknya, setelah dinyatakan ilegal di Jawa Barat, para penggiat ajaran Kandang Rasul mencari tempat lain untuk menyebarkan ajaran mereka, dan Sumatra Barat yang masyarakatnya secara psikis baru terguncang akibat gempa menjadi salah satu pilihan mereka. Ternyata, masyarakat Padang Pariaman yang sedang mengalami chaos psikologis itu banyak yang tertarik mengikuti ajaran ini, dan ini tentu terkait dengan iming-iming bantuan ratusan juta rupiah yang dijanjikan oleh para penggiat ajaran ini.


Perlu Klarifikasi


Sebelum menimbulkan keresahan sosial yang lebih parah, sebaiknya otoritas keagamaan di Sumatra Barat, juga unsur-unsur adat, khususnya di Kabupaten Padang Pariaman, segera memberikan klarifikasi kepada masyarakat mengenai status ajaran Kandang Rasul ini. Seharusnya MUI Sumatra Barat segera menjelaskan kepada masyarakat mengenai status ajaran ini. Jangan sampai terulang kejadian di Kabupaten Lebak dimana justru masyarakat yang mendesak MUI untuk segera mengeluarkan fatwa mengenai ajaran ini (lihat: berita ANTARA, Selasa, 1 April 2008).


Di zaman demokrasi ini, publik dapat diberi kejelasan mengenai ajaran ini dengan, misalnya, mengajak penggiat ajaran ini berdialog dengan MUI dan unsur lembaga adat melalui media publik, misalnya TVRI Sumatra Barat. Mereka bisa pula menggunakan media cetak lokal untuk menjelaskan prinsip-prinsip ajaran ini dan tujuan-tujuannya di balik misi bantuan kemanusiaan pasca gempa Sumatra Barat. Dengan demikian dapat dihindari munculnya kesan ilegal dalam pandangan sebagian masyarakat kita terhadap kelompok Kandang Rasul ini.


Sejauh yang saya amati, ada dua potensi konflik yang terjadi di level akar rumput akibat aktifitas kelompok Kandang Rasul ini. Pertama, konflik dalam keluarga sendiri. Contoh kasus adalah keluarga Sadri di Koto Rajo Sunur yang mengikuti kelompok ini. Dalam KK asli keluarga Sadri (No. 1305030712090004) tercatat semua keluarganya beragama Islam. Namun dalam fotokopi KK keluarga Sadri yang berada dalam arsip Kandang Rasul tercatat salah seorang anak Sadri, Ryan Permana Koto, beragama Kristen. Tidak jelas mengapa catatan agama Ryan ini bisa berubah, dan muncul dugaan yang simpang siur di nagari Sunur mengenai tujuan pengubahan status keagamaan Ryan itu.


Kita tahu bahwa soal agama sangat sensitif dalam masyarakat kita di level akar rumput, khususnya lagi dalam masyarakat Minang. Akibatnya, nenek Ryan, Yuliar, marah-marah begitu mengetahui bahwa cucunya tercatat beragama Kristen dalam fotokopi KK Sadri yang berada dalam arsip Kandang Rasul. Dalam keluarga den indak ado nan baagamo Kristen doh, kata Yuliar (wawancara, Sunur, 25-7-2010). Aden indak rela cucu den jadi urang kapia doh. Duo kali dijajah Ulando jo Japang, indak ado urang Sunua ko nan maubah agamonyo doh tambahnya lagi. Sekarang hubungan Yuliar dengan anaknya, Sadri, menjadi tegang dan mereka sering cekcok. Fenomena ini potensial terjadi pada keluarga-keluarga lain yang anggota keluarganya ikut dalam kelompok Kandang Rasul ini.


Kedua, potensi konflik antara pengikut kelompok ini dengan para pemuka nagari setempat yang tidak setuju dengan ajaran ini dikembangkan di kampung mereka. Para pengikut ajaran ini cenderung tidak lagi mau mendengarkan perintah-perintah dan nasehat dari wali korong dan wali nagari mereka.


Semua pihak seharusnya berkomitmen: bahwa segala bantuan terhadap korban gempa Sumatra Barat sebaiknya betul-betul hanya didorong oleh misi kemanusiaan semata. Jika misi-misi ideologis, agamis dan politis tetap diboncengkan di balik bantuan-batuan itu, kasihan kita kepada masyarakat kita yang lugu dan sudah sengsara itu. Bukan kesejahteraan dan perbaikan kualitas hidup yang akan mereka nikmati, tapi anarkisme baru yang potensial akan muncul.


Suryadi, dosen dan peneliti pada Institute for Area Studies, School of Asian Studies, Leiden University, Belanda


Catatan: Artikel ini dimuat di harian Singgalang, Rabu, 11 Agustus 2010


TAGS  


Author

Recent Post

Recent Comments

Archive