Suryadi

Saya Puas “Syair Lampung Karam Dapat Apresiasi

29 Aug 2010 - 13:47 WIB

Saya Puas “Syair Lampung Karam Dapat Apresiasi

suryadi-lampung-post1DI dunia fi lologi, Suryadi adalah nama yang tengah bergema. Ia ramai dibincangkan berkat temuannya tentang naskah klasik karya Muhammad Saleh: Syair Lampung Karam (SLK). Saleh, penulis asal Lampung (?) dan menjadi satu-satunya pribumi yang merekam betapa dahsyatnya letusan Gunung Krakatau pada 1883 yang menewaskan 36.000 manusia itu.

SLK ditulis tiga bulan setelah letusan dahsyat itu. Temuan Suryadi menyingkap tabir SLK selama 125 tahun tersimpan di beberapa negara. Telaah komprehensif ini dibukukan dengan judul Syair Lampung Karam, Sebuah Dokumen Pribumi tentang Dahsyatnya Letusan Krakatau 1883 (cetakan ke-1 Agustus 2009 dan cetakan ke-2 Januari 2010). Buku yang dieditori Yurnaldi ini diterbitkan oleh Komunitas Penggiat Sastra Padang.

Krakatau yang terletak di Selat Sunda itu telah batuk-batuk sejak Mei 1883, tapi baru menggelegar pada 26, 27, dan 28 Agustus. Dan, puncak malapetaka dan kengerian itu terjadi pada 27 Agustus 1883. Lebih dari seribu tulisan ilmiah tentang letusan Krakatau telah dipublikasikan, tetapi tak satu pun menyentuh SLK. Ia seperti tersembunyi di tempat-tempat sunyi: selain di Indonesia, ia juga tersimpan di beberapa perpustakaan di Inggris, Belanda, Jerman, Rusia, dan Malaysia. Berkat ketekunan Suryadi, setelah selama dua tahun berburu, kini SLK jadi hidup kembali. Suryadi melakukan transliterasi dari huruf Jawi (Arab-Melayu) ke aksara Latin sehingga bisa dinikmati publik.

Filologi (bidang naskah lama) adalah dunia yang sepi. Tapi, di dalam dunia sepi itu justru membahagiakan pria yang pernah gagal menjadi pengajar tetap di almamaternya: Fakultas Sastra, Universitas Andalas, Su matera Barat, juga Universitas Indonesia. Tapi, kegagalannya menjadi dosen di dalam ne geri (karena tak pernah lulus ketika tes menjadi pegawai negeri), justru mengantarkan nasibnya lebih bersinar di Eropa. Pada 1998 ia diterima sebagai pengajar dan peneliti pada Jurusan Studi Asia Tenggara dan Oseania Universitas Leiden, Belanda. Hasil penelitian Suryadi telah dipublikasikan di berbagai jurnal internasional. Selain SLK, Suryadi juga telah mengkaji surat raja-raja Buton, Bima, Gowa, dan Minangkabau. Semuanya dimasukkan dalam satu proyek (Malay Concordance Project) yang berpusat di Australian National University, Canberra, Australia. Ia juga dipercaya memimpin satu proyek yang dibiayai British Library.

Sebagai duta naskah-naskah lama di mancanegara, Suryadi yang tengah menyusun disertasi program Ph.D di tempatnya mengajar ini, kerap diundang menjadi pembicara berbagai seminar pernaskahan. Mengambil momentum 127 tahun meletusnya Gunung Krakatau, Lampung Post mewawancarai ayah dua orang anak ini, lewat surat elektronik seputar Syair Lampung Karam. Berikut petikannya:

***

Punya arti apa baik secara pribadi maupun akademik penemuan SLK karya Muhammad Saleh bagi Anda?

Secara pribadi, saya merasa puas melihat hasil suntingan dan transliterasi teks SLK yang saya kerjakan ini mendapat apresiasi positif di Indonesia. Buku ini diekspos oleh beberapa media cetak seperti majalah Gatra dan Tempo serta diluncurkan dan dibedah juga di Newseum Cafe, Jakarta, 29 Juli lalu (yang digagas oleh Taufi k Rahzen). Mudah-mudahan akan terbit juga resensinya di beberapa media cetak nasional.

Saya kira apresiasi yang tinggi ini tak lepas dari momen yang tepat pula: bahwa buku ini terbit ketika negara kita beberapa tahun terakhir ini sering dilanda bencana alam, khususnya gempa bumi.

Secara akademis, saya harap (dengan rendah hati) buku ini akan memberi sumbangan pagi body of knowledge tentang sastra Melayu lama dan juga mengenai sejarah natural disaster di dunia, khususnya di Indonesia. Buku ini berhasil mengungkapkan satu lagi dokumen pribumi mengenai sejarah masa lampau negeri kita. Dokumen seperti ini jelas langka, apalagi menyangkut bencana alam. Kita memang harus mengakui bahwa dulu, bahkan sampai sekarang, bangsa kita lebih menghidupi tradisi lisan. Jadi, dalam soal dokumen-dokumen dan data sejarah, mau tak mau kita tergantung ke sumbersumber Barat, bangsa yang sudah lama hidup dalam budaya tulis. Tapi, dengan penemuan salinan-salinan teks SLK ini, terbukti bahwa bangsa kita juga pernah mencatat letusan Krakatau 1883 secara tertulis, yang merefleksikan bagaimana perspektif orang pribumi sendiri melihat bencana alam yang dahsyat itu. Saya sangat senang mengetahui bahwa beberapa studi terakhir mengenai sejarah bencana alam di Indonesia memperkaya rujukannya dengan hasil studi saya mengenai SLK ini, misalnya The Dutch Colonial Go vernment and Its Response to the Krakatau Disaster oleh Erlita Tantri (Univ. Leiden, 2009; BA Thesis) dan The Indigenous Perception on Natural Disaster oleh Reza Indria (Univ. Leiden, 2010; MA Thesis).

Benarkah dari berbagai pelacakan Anda, SLK satu-satunya karya pribumi yang merekam meletusnya Krakatau?

Sampai saat ini saya mendapati memang teks (-teks) inilah satu-satunya sumber pribumi yang merekam letusan Krakatau 1883. Saya belum menemukan indikasi adanya teks lain karangan orang pribumi yang mencatat bencana alam yang dahsyat itu.

Benarkah Muhammad Saleh berasal dari Lampung? Bisakah jejaknya dilacak ?

Bisa saja, meskipun sulit. Bayangkan, pada waktu itu yang terjadi adalah sebuah catastrophe. Semua hancur, dan barangkali juga keluarga Muhammad Saleh sendiri. Dia hanya satu noktah kecil dari korban bencana besar dan dahsyat itu, yang membuat kehidupan di sana menjadi kacau balau dan dan boleh dibilang nyaris musnah, seperti digambarkan sendiri oleh Muhammad Saleh dalam Syair Lampung Karam. Jadi, sulit melacak siapa Muhammad Saleh sebenarnya. Jelas cukup sulit untuk menyusun biografi nya yang lebih lengkap. Dari redaksi teks SLK, Muhammad Saleh menggambarkan bahwa dia berada di Lampung ketika bencana itu terjadi. Sangat mungkin dia adalah salah seorang korban letusan Krakatau yang berhasil mengungsi ke Singapura. Saya tak dapat memastikan apakah dia orang Lampung asli. Tapi, yang penting di sini bukan soal dari mana aslinya Muhamad Saleh; yang penting adalah bahwa dia adalah satu-satunya(?) orang pribumi yang telah meninggalkan warisan dokumen tertulis kepada kita tentang bencana alam letusan Krakatau 1883 yang mengerikan itu.

Apa benar SLK satu-satunya karya Saleh? Mungkinkah ada karya lain?

Saya belum menemukan karya (-karya) Muhammad Saleh yang lain. Tapi justru karena itu pula teks SLK ini unik. Maksud saya: karena ini satu-satunya karya Muhammad Saleh yang diketahui, maka kita dapat menduga bahwa dia bukan seorang sastrawan profesional, jika kita meminjam istilah sekarang, yang mungkin menulis fi ksi, walau berdasarkan kenyataan sosial, untuk tujuan mencari uang. Saya menduga, Muhammad Saleh hanyalah orang biasa, yang tak ber pretensi mengada-ada dalam karangannya yang hanya satu-satunya ini. Ia lebih sebagai seorang pelapor, seperti layaknya seorang wartawan, ketimbang seorang penulis cerita (sastrawan). Ia mungkin telah bicara apa adanya, berdasarkan pe ngalaman dan keyakinan agamanya sendiri (Islam). Dalam teks SLK, dengan rendah hati Muhammad Saleh mengatakan ia tidak pandai mengarang syair. Tujuannya menulis syair itu semata-mata untuk berbagi cerita duka warga Lampung yang dilanda musibah hebat itu kepada sesama orang pribumi.

Menurut Anda dalam menulis Krakatau, penulis Barat lebih menekankan aspek geologis, sedangkan penulis Timur pada aspek kemanusiaan. Apakah ini sejalan dengan apa yang dikatakan Sutan Takdir Alisyahbana bahwa Barat hidup dalam kebudayaan progresif (dipenga ruhi ilmu dan teknologi), sementara Timur hidup dalam kebudayaan ekspresif (yang dipengaruhi seni dan agama?

Saya setuju. Memang soal dimensi progresif dan ekspresif itulah yang membedakan secara hakiki antara orang Barat dan orang Timur, sebagaimana terefl eksi dalam berbagai aspek kebudayaan masing-masing, termasuk hasil-hasil tulisan. Namun, bukannya tak ada dimensi kemanusiaan dalam laporan-laporan orang Eropa tentang letusan hebat Krakatau 1883. Tetapi, tetap saja ada bedanya dengan cara seorang pribumi se perti Muhammad Saleh memandang tragedi itu. Coba lihat betapa kentalnya dimensi keagamaan dalam laporan Muhamad Saleh dalam SLK. Orang pribumi melihat peristiwa itu sebagai cobaan dari Allah ter hadap manusia yang mungkin sudah banyak berbuat dosa. Hal ini telah dibahas dengan menarik sekali oleh Reza Indria dalam tesis nya yang sudah saya sebut di atas. Orang Eropa melihatnya berdasarkan logika: ini sebuah gejala alam akibat peristiwa geologis dalam kerak bumi.

Apa benar SLK diabaikan banyak peneliti karena banyak sejarawan kurang memahami aksara Jawi?

Saya duga demikian. Dalam kurikulum sejarah di Indonesia, misalnya, tak ada mata kuliah membaca aksara Jawi. Itu aneh se kali. Jadi, wajar saja kalau banyak sejarawan tak bisa membaca aksara Jawi. Faktor lain: ada anggapan catatan-catatan orang Barat di anggap sebagai data sejarah yang lebih aku rat. Tulisan-tulisan orang pribumi dianggap absurd atau mengandung unsur fi ksi. Pandang an seperti ini jelas terkait pula de ngan sejarah ilmu pengetahuan modern. Ada semacam pandangan Eropa sentris di sana.

Bukankah banyak naskah lama di Nusantara juga ditulis dengan huruf Jawi dan banyak pula yang sudah ditransliterasi?

Ya, ada lebih 18 ribu naskah seperti itu yang berasal dari berbagai tempat di Nusantara yang kini tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden, belum lagi di tempat lain seperti London, Berlin, Paris, dll. Banyak yang sudah diteliti dan ditransliterasi, tapi lebih banyak lagi yang belum disentuh peneliti.

Dari sekian banyak telaah naskah lama, Syair Lampung Karam paling memuaskan Anda?

O ya, dengan terbitnya buku ini saya merasa puas, karena saya berhasil memberitahukan kepada umum, khususnya kalangan akademisi, mengenai keberadaan teks ini yang selama ini seperti dilupakan begitu saja. Soalnya, Krakatau, akibat letusan nya yang mahahebat itu, gunung yang paling menarik banyak ilmuwan (dari berbagai disiplin) di dunia. Tapi mereka seperti buta terhadap keberadaan SLK ini.

Anda menggeluti dunia sepi, obsesi apa yang belum terwujud?

Apabila saya memasuki ruang naskah di Perpustakaan Universitas Leiden, dan juga perpustakaan-perpustakaan lain di dunia, saya selalu tertarik untuk membaca naskah-naskah Melayu beraksara Jawi. Saya selalu ingin membacanya dan mengetahui apa isinya. Jadi, kalau bicara obsesi, saya ingin bilang bahwa mudah-mudahan saya diberi Tuhan umur panjang untuk selalu dapat membaca naskah-naskah itu dan menulis karya ilmiah; artikel, buku mengenainya. Suatu obsesi yang pasti dinilai cukup aneh di zaman sekarang ini di mana orang berlomba menjadi politikus dan selebritas.

(Djadjat Sudradjat)

WAWANCARA Lampung Post, Minggu I 29 Agustus 2010


TAGS  


Author

Recent Post

Recent Comments

Archive