Suryadi

‘Pesta Gula’ Idul Fitri 1431 H di Belanda

15 Sep 2010 - 17:18 WIB

suryadi-pesta-gula-idul-fitri-1431-h-2010-di-belanda1Seperti halnya di Indonesia, puasa di Belanda dimulai tanggal 11 Agustus 2010. Karena puasa tahun ini jatuh di akhir musim panas, maka jarak waktu antara imsak dan berbuka masih cukup lama, yaitu rata-rata kurang lebih 18 jam sehari. Makin dekat ke ujung bulan Ramadan, mengikuti perubahan musim panas menuju musim gugur, jarak waktu antara imsak dan berbuka makin memendek, menjadi rata-rata sekitar 16 jam saja sehari.

Akhirnya umat Islam Indonesia di Belanda menutup bulan Ramadan tahun ini pada hari Jumat, 10 September 2010, mengikuti pengumuman resmi Kedutaan Besar Republik Indonesia di Den Haag. Umat Islam asal Maroko dan imigran-imigran Muslim dari negara-negara non Eropa lainnya yang tinggal di Belanda juga merayakan 1 Syawal 1431 H pada 10 September. Umat Islam dari Turki merayakan Idul Fitri pada hari Kamis, 9 September.

Dalam bahasa Belanda hari raya Idul Fitri disebut Suikerfeest, yang artinya ‘Pesta Gula’. Mereka menyebutnya demikian mungkin karena memang selama perayaan Idul Fitri di Belanda, banyak kue yang manis-manis, yang mengandung banyak gula, dibuat oleh orang Islam di Belanda. Boleh jadi pada mulanya orang Belanda asli (autochtoon) melihat pesta para pendatang (allochtoon) dari Maroko dan negara-negara Arab lainnya yang tinggal di Belanda ketika merayakan Lebaran. Bila Idul Fitri datang, mereka memang membuat aneka macam kue dengan kandungan gula yang berlebihan sehingga rasanya sangat manis manyalinok.

Seperti biasanya, umat Muslim asal Indonesia, yang tinggal di berbagai daerah di Belanda, beramai-ramai melaksanakan salat Idul Fitri di Mesjid al-Hikmah, yang beralamat di Heeswijkplein 170-171, 2531 HK Den Haag. Mesjid itu awalnya adalah salah satu gereja di Belanda, bernama Gereja Immanuel yang dibangun tahun 1958. Gereja itu kemudian dibeli oleh pengusaha Probosutedjo, adik sepupu almarhum Presiden Soeharto, seharga 1. 350. 000 Gulden. Kemudian gereja itu dirombak menjadi sebuah mesjid yang diberi nama al-Hikmah.

Pada awal juli 1996 Mesjid al-Hikmah diwakafkan oleh Probosutedjo kepada masyarakat Indonesia di Belanda. Probosutedjo mewakafkan masjid ini atas nama kakaknya, Haris Sutjipto yang wafat di rumah sakit di Leiden, Belanda pada akhir tahun 1995. Belakangan mesjid itu terkenal pula dengan nama Mesjid Indonesia.

Masjid Al Hikmah merupakan bangunan dua lantai yang mampu menampung sekitar 800 jamaah. Pada hari Jumat dan selama bulan Ramadan, biasanya jumlah jamaah bisa mencapai sekitar 400 orang.

Lantai dasar, digunakan untuk kegiatan remaja masjid Persatuan Pemuda Muslim se-Eropa (PPME) Den Haag, dan aktivitas pengajian lainnya, sementara lantai atas, dipergunakan untuk salat.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini banyak juga warga Muslim dari negara-negara lain, seperti dari negara-negara Afrika, yang juga melaksanakan salat Idul Fitri di Mesjid al-Hikmah, selain tentunya mayoritas warga Muslim Indonesia yang sejak pagi sudah berdatangan dari berbagai pelosok Belanda. Yang cukup mencolok tentu saja para bule yang datang ke mesjid itu. Umumnya mereka adalah suami wanita-wanita Indonesia yang menikah dengan lelaki Eropa. Mereka umumnya adalah para muallaf yang diajak oleh istri mereka untuk memeluk Islam. Ada juga yang masuk Islam dengan kesadaran sendiri. Anak-anak dari perkawinan antarras ini juga meramaikan salat Idul Fitri di Mesjid al-Hikmah.

Salat Ied dilaksanakan pada jam 10 pagi, dengan didahului oleh takbir bersama dan beberapa penjelasan dari pengurus Mesjid al-Hikmah. Tercatat zakat yang terkumpul berjumlah 2.220 Euro dan infak dari jamaah berjumlah 331 Euro lebih. (Totalnya sekitar 25.000.000 Rupiah lebih). Biasanya zakat dan infak itu disalurkan ke pihak-pihak yang membutuhkan di Indonesia.

Usai salat Eid, khatib memberi khotbah. Nama khatib itu didatangkan dari Jakarta, namanya Ahmad Gufron Romdhoni. Sayang sekali khotbahnya telah menimbulkan perbincangan di kalangan jemaah seusai salat. Masalahnya, ia berkhotbah memakai bahasa yang sangat kasar: memaki-maki dengan suara melengking tinggi, bahkan sampai menggebrak mimbar segala. Cara pidato agitatif begitu jarang dilihat orang dalam ceramah publik di Belanda. Adalah biasa juga di Belanda bila orang-orang yang bertemu di mesjid menjelang dan seusai salat Eid biasa bersalaman tempel pipi, termasuk antara pria dan wanita. Sang khatib juga mengeritik kebiasaan itu dengan nada penuh amarah. Duta Besar Republik Indonesia untuk Belanda, Bapak Junus Effendy Habibie, juga kelihatan tegang dan marah sekali mendengar ceramah khatib itu. Gaya khotbah khatib itu berpotensi menimbulkan citra buruk Islam di Indonesia yang damai dan toleran di Belanda.

Seusai salat Eid, masyarakat Muslim Indonesia yang ada di Belanda berdatangan ke rumah kediaman Duta Besar Belanda di Wassenaar. Tradisi seperti ini berlansung setiap tahun: Duta Besar mempersilakan warga Indonesia untuk datang ke kediamannya, memberi kesempatan kepada mereka untuk bersalaman dengannya.

Pihak Kedutaan menyediakan makanan di tenda-tenda. Sebelum acara makan siang dimulai, Duta Besar memberi sambutan. Beliau meminta kepada warga Muslim Indonesia di perantauan Belanda untuk tetap mengenang tanah air yang jauh, menjaga citra Indonesia di luar negeri, dan membantu kampung halaman dengan cara masing-masing.

Begitulah perayaan Idul Fitri tahun ini di Belanda. Keramaian di rumah Kediaman Duta Besar berakhir kira-kira jam 14.00. Setelah itu orang-orang pulang ke rumah masing-masing. Biasanya akan ada satu dua undangan dari teman dekat yang beragama Islam sesame warga Negara Indonesia. Pelajar Indonesia yang sedang tugas belajar di Leiden juga mengadakan makan bersama.

Beruntung bahwa 1 Syawal 1431 H tahun ini jatuh hari Jumat, menjelang weekend. Jadi, kami dapat merayakan Lebaran di akhir pekan. Kalau tidak, sehabis lebaran kami harus kerja lagi ke kantor, sebab tidak ada hari libur di Belanda untuk bulan Ramadan dan Idul Fitri.

Berbahagialah mereka yang tinggal di Tanah Air, mendapat jatah libur seminggu untuk merayakan Lebaran. Selamat Idul Fitri 1431 H. Minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir-batin.

Suryadi, Perantau Minang di Leiden, Belanda

Catatan: Artikel ini dimuat di harian Singgalang, Rabu, 15 September 2010.


TAGS  


Author

Recent Post

Recent Comments

Archive