Suryadi

Dokumen Emas Pagaruyung Ditelusuri ke Den Haag

4 May 2011 - 06:00 WIB

Padang, Singgalang - Isu tentang adanya utang emas oleh Malaysia kepada Kerajaan Pagaruyung sebesar RM 125 miliar (setara dengan Rp350 triliun) cukup menyita perhatian masyarakat, khususnya di Sumbar. Hal ini karena sejarah Sumatra Barat tidak bisa dilepaskan dengan Kerajaan Pagaruyung tersebut.


Sampai tadi malam, masih banyak warga yang menanyakan kepastian kabar itu kepada Singgalang. Para sejarawan dari Sumbar, tidak ketinggalan pula untuk ikut berkomentar.
Sejarahwan sekaligus Ahli Filologi Minang, Suryadi mengatakan ia akan segera meneliti kebenaran isu ini. Jika terbukti benar, katanya, hal ini akan menjadi warna baru bagi sejarah Indonesia-Malaysia, yang selama ini tidak terungkap.

Ini adalah wacana yang menarik. Wacana seperti ini perlu dikaji dengan pende-katan sejarah yang lebih komprehensif, ujar peniliti yang saat ini mengajar di Leiden University, Belanda itu kepada Singgalang, dari Leiden, Senin (2/5).

Untuk membuktikan hal ini, Suryadi berencana menelusuri data dan dokumen transaksi di Mahkamah Internasional di Den Haag, Belanda. Seperti yang diberitakan oleh suratkabar Kontan Edisi Minggu, 2 Mei, seorang WNI bernama E.Suharto mengaku mengetahui dokumen-dokumen tersebut disimpan di Mahkamah Internasional di Den Haag di Belanda.
Saya berharap dokumen-dokumennya bisa diakses, karena sejarah Indonesia masih banyak yang belum terungkap dengan benar, ujar Suryadi.


Diragukan


Di lain pihak, sejarahwan dari Universitas Negeri Padang, Mestika Zed meragukan kebenaran isu tersebut. Yang meragukan baginya adalah lalu lintas transaksi antar dua negara tersebut tidak jelas.
Jika utang itu memang ada, siapakah yang menerimanya? Pemerintah atau keturunan Pagaruyung? ujar Mestika mempertanyakan. Meski demikian, Mestika berargumen, isu seperti ini berkembang karena masyarakat terbiasa membayangkan adanya harta karun di saat negara sedang dilanda krisis.

Dalam pembelajaran sejarah, kita mengenal adanya fenomena ratu adil. Orang-orang yang terjepit dalam kesusahan suka membayangkan kemunculan ratu adil ini. Peninggalan Pagaruyung ini salah satu contoh yang cukup relevan untuk hal ini, ujarnya.


Walaupun meragukan kebenaran wacana ini, Mestika mengatakan hal ini perlu dibuktikan oleh yang lebih berkompeten di bidang sejarah Indonesia dan Malaysia.


Soal utang-piutang ini diberitakan Kontan Minggu dan dikutip Singgalang keesokan harinya. Malaysia dikabarkan berhutang emas kepada Kerajaan Pagaruyung dari 1955 hingga saat ini. Utang tersebut diberikan dengan jaminan senilai RM125 miliar (sekitar Rp350 triliun dengan kurs saat ini).


Upaya penukaran ringgit ini heboh, karena diduga melibatkan pejabat tinggi Malaysia dan Indonesia, bahkan ada fee 15 persen. Namun upaya repatriasi ini belum kunjung berhasil.
Ahli waris Kerajaan Pagaruyung, Raudha Thaib yang dikontak sama-sekali tidak mengenal nama E. Suharto. Saya tidak kenal, apa itu nama asli atau samaran, kata dia. Raudha juga belum tahu soal Malaysia meminjam uang pada Pagaruyung. Namun, ikatan kekeluargaan antara Pagaruyung dan Malaysia, terutama Kerajaan Negeri Sembilan memang erat.


Utang Malaysia pada Pagaruyung terjadi pada 1955. Saat itu pemimpin pertama Malaysia Tuanku Abdul Rahman bertemu dengan Presiden RI Soekarno. Kedua pemimpin, kata Kontan dalam laporan utamanya, membicarakan soal kemerdekaan penuh Malaysia dari Inggris. Salah satu yang dibicarakan keinginan Malaysia untuk mencetak uang. Namun, saat itu Malaysia tidak memiliki jaminan atau kolateral berupa emas sebelum menerbitkan uang kertas. Singkatnya, Malaysia mendapatkan pinjaman emas dari Pagaruyung. (arif)

Harian Singgalang | Selasa, 03 Mei 2011


TAGS  


Comment

Author

Recent Post

Recent Comments

Archive