Suryadi

Khazanah Pantun Minangkabau # 30 - IKAN TERKILAT DALAM LUBUK

31 May 2011 - 06:37 WIB

Setiap kebudayaan memiliki ruang dan model yang khas dalam memberikan ruang engekpresi kepada kaum mudanya untuk menyatakan perasaan hati dan pikiran mereka. Dalam kasus Minangkabau, kata-kata literer dalam bentuk pantun menjadi media yang penting untuk tujuan itu. Kita teruskan menikmatinya di nomor ini.

236.

Padi sipuluik tanak baru,

Karambia mudo lah babalah,

Kami di muluik sudah tau,

Bahaso Adiak lah barubah.

237.

Kabau nan gadang kabau jantan,

Tunjang siapo ka mambali,

Adiak dimukasuik ka pakaian,

Hilang siapo ka mangganti.

238.

Anak itiak di sawah gadang,

Barakuak bantuak paruahnyo,

Sajak ketek dinanti gadang,

Lah gadang banyak tangguahnyo.

239.

Taluak Balai suduiknyo tigo,

Ka darek Padang Sikaduduak,

Sabab talalai dagang siko,

Ikan takilek dalam lubuak.

240.

Ikan takilek jalo tibo,

Putuih taruntun kanai batang,

Siang maliek malam tiado,

Itu nan mamutuih hati dagang.

241.

Alang sariknyo jalan ka tambang,

Patah batungkek batang padi,

Alang sakiknyo anak dagang,

Tidaklah buliah kandak hati.

242.

Tidak kami marampak padi,

Padi marampak dulang-dulang,

Tida kami manapak lai,

Kami di dalam tangan urang.

243.

Kok iyo salasiah Jambi,

Tanam karakok di pambatang,

Kok iyo kasiah ka kami,

Kirimlah rokok tigo batang.

Bicaranya yang tak lagi seperti biasanya mengindikasikan bahwa hatinya sudah berubah (bait 236). Jadi, ke depannya Anda seharusnya tahu diri saja. Bait 237 mengungkapkan kesan pertama yang begitu menggoda yang seterusnya tidak akan berubah. Si bujang ingin mempersunting si gadis (ka pakaian), dan dia bilang sulit mencari pengganti kalau si gadis pergi. Tampaknya si bujang amat serius. Jadi, sepatutnya si gadis menyambutnya dengan antusias pula.

Bait 238 merefleksikan sifat enggan menerima kasih sayang. Mungkin karena terlalu pilih-pilih. Sudah lama Anda menunggu si dia, sudah sejak kecil dipertunangkan oleh orang tua. Tapi setelah besar banyak kilahnya, bertangguh berkali-kali. Tentu muncul rasa kecewa di hati Anda.

Ada gadis yang tacelak di suatu desa: kembang desa (buah salek). Jika Anda melintas di desa itu, pasti akan tertegun langkah Anda, terpana melihat kecantikan dan keelokan budinya. Saya yakin Anda akan berulang ke desa itu, mungkin menyamar menjadi pembeli ayam atau pura-pura mencari kerbau yang lepas. Demikian maksud bait 239.

Mungkin Anda akan jadi tergila-gila setelah melihat ikan yang terkilat dalam lubuk itu. Jika beruntung, ungkapan perasaan hari Anda akan disambutnya. Tapi, untuk beberapa waktu lamanya tentu Anda hanya akan dapat berjumpa dengannya di siang hari, itu pun mungkin terbatas; di malam hari Anda terpaksa marunuih dalam kain sarung mengingat kembang desa itu. Demikian refleksi terhadap bait 240.

Maka, sebaiknya cepat saja mengajukan lamaran kepada orang tua si gadis. Kalau Anda berlalai-lalai, dijamin Anda akan kecele, dipotong oleh sedan berkilat yang lain tanpa menghidupan lampu sen (sign). Jika hal itu terjadi, ungkapan dalam bait 241 mungkin akan tersua oleh Anda: gigit jari. Si dia disambar elang karena Anda anak dagang, yang konotasinya agak berkekurangan secara ekonomi. Tentu Anda sakit hati kecewa berat.

Bait 242 merefleksikan sikap yang baik jika Anda sudah bertunangan. Jangan coba-coba rambang mato lagi (jangan manapak lai). Tunggu sajalah hari alek yang penuh kebahagiaan itu. Ini pesan penting untuk pembaca rubrikKhazanah Pantun Minang yang sudah bertukar cincin tunangan atau sudah berjanji setia sehidup semati.

Bait 243 agak berisi unsur garah: kasih yang diukur dengan rokok tiga batang. Ini mengingatkan kita pada fungsi rokok dan sirih dalam undangan perkawinan di Minangkabau. Dan dulu di Minangkabau, di bilik anak daro juga tersedia rokok untuk menantu baru, rokok titipan dari mamak si anak daro untuk orang semenda barunya.

(bersambung minggu depan)

Suryadi [Leiden University, Belanda]

Padang Ekspres, Minggu, 29 Mei 2011


TAGS  


Comment

Author

Recent Post

Recent Comments

Archive