Suryadi

Khazanah Pantun Minangkabau # 39 - KAMI TARAMBAU HILANG SAJA

4 Aug 2011 - 21:34 WIB

Ada yang berpendapat orang Minangkabau sekarang sudah mada (bebal), tidak mempan lagi oleh kata-kata kiasan. Tinggal kabau saja lagi. Padahal ungkapan lama sudah mengingatkan Manusia tahan kias, binatang tahan palu. Akan tetapi masih banyak orang Minang yang memakai adab sopan santun dalam berkata-kata, di mana kata-kata kiasan masih terpakaikan. Bahasa pantun, seperti yang kami sajikan lagi di nomor 39 ini, jelas bisa menjadi bahan pelajaran untuk memahami penggunaan kiasan dalam bertutur kata di Minangkabau.

308.

Bajau bunian ‘nak ‘rang Daiak,

Lalu bagalah ka labuahan,

Bungo baringin kami ambiak,

Larangan kumbang jo tabuhan.

309.

Pai ka Solok batambilang,

Tibo di Solok ilia mudiak,

Tangan nan suok tapakalang,

Tangan nan kida panyalisiak.

310.

Kapeh gajombang ‘nak ‘rang Bawan,

Tagok barenggong baraunci,

Payah barulang anyo Tuan,

Larangan di tangan kami kini.

311.

Kilangan si panco-panco,

Pariuak timbun di hulu,

Larangan iyo lah nyato,

Nak ka nian kami dahulu.

312.

Tinggilah Kapau jo Maninjau,

Tampak nan dari Koto Tinggi,

Manjalang Tanjuang Silayu,

Turunlah angin jo langkisau,

Mancaliak gunuang tadiri,

Manjalang kampuang si Anu.

313.

Anjalai sarumpun gamam,

Digamam di gamo-gamo,

Bacarai samalam damam,

Ka luluah kok lamo-lamo.

314.

Sariak tarantang dalam tabek,

Tanam cikarau mudo-mudo,

Adiak tagamang lai bajawek,

Kami tarambau ilang sajo.

315.

Anyuikkan galah dari hulu,

Ambiak pangabek rantiang bungo,

Adiak baralah lah dahulu,

Isuak siapo nan ka punyo.

Bait 308 merekam aksi seorang bujang pemberani yang berhasil menggaet hati gadis yang selama ini tak terdekati oleh siapapun karena diproteksi ketat oleh keluarganya (mungkin mamak-mamak-nya parewa dan pendekar; kakak-kakak laki-lakinya orang bagak di pasar dan pelabuhan; dan ayahnya orang terpandang di Terminal Lintas Andalas [yang kini telah dimusnahkan]). Tapi semua itu tidak membuat ciut hati si pemberani itu. Karena cintanya begitu besar, akhirnya dia berhasil mempersunting gadis yang dilindungi oleh kumbang dan tabuhan (tawon) itu.

Ada erotisme tapi tidak terasa vulgar dalam bait 309. Sebaiknya saya minta tukang saluang saja menyampaikan makna tangan kanan kebentur sesuatu yang menonjol (takapalang), sementara tangan kiri terus menyelisik. Ini menunjukkan bahwa unsur erotisme juga ada dalam pantun Minangkabau, juga genre sastra lisan Minangkabau yang lain. Erotisme itu, seperti masih dapat dikesan dalam pertunjukan bagurau sekarang, menjadi indah karena disampaikan dalam kata-kata kiasan.

Tiga bait berikutnya (310-312) mengiaskan aksi seorang bujang yang masih nekat berusaha mendekati seorang gadis yang nyata-nyata sudah berpunya. Walaupun bunga larangan (gadis) itu sudah di tangan seseorang (310), tapi ia tetap nekat berulang pergi ke sana (311). Tampaknya dia berani ambil resiko. Malah dia berseru kepada angin dan langkisau supaya bisa melayarkan pelangnya menuju kampung halaman gadis itu (312) sebuah gambaran tentang sifat keras hati dan berani.

Jika sedang mabuk kepayang, memang takut berpisah, walau sehari saja. Dapat dibayangkan bahwa rasa rindu akan membakar diri jika perpisahan itu terjadi berbilang tahun. Itulah refleksi baris-baris isi bait 313. Jadi, sebaiknya si dia digunggung dibawa terbang saja.

Nasib sebatang kara atau seorang yang miskin yang dibandingkan dengan orang lain yang mempunyai banyak anggota keluarga yang melindunginya direfleksikan dalam bait 314. Tapi bait ini juga menyiratkan hati yang sedih karena masalah cinta: kalau engkau sedang bersedih hati karena putus cinta, ada yang menghibur; tapi kalau diriku yang mengalaminya, aku menanggungnya sendiri. Demikian makna yang tersirat dalam bait ini.

Bait terakhir (315) mengingatkan saya pada lirik lagu Terlambat sudah kau datang padaku. Si bujang memohon kepada si gadis untuk mundur (baralah) dulu, sebab dirinya sudah ada yang punya. Mudah-mudahan dia akan mendapatkan seorang kekasih yang baik. Begitu halus bahasa penolakan itu, sehingga, walaupun mungkin merasa sedih, yang tertolak cintanya tidak merasa menjadi pencundang. Bait terakhir ini jelas menjadi pelajaran penting bagi remaja (cewek maupun cowok) pembaca setia rubrik Khazanah Pantun Minang yang lagi digandrungi oleh lebih dari satu lawan jenis. Jika Anda menolak cinta seseorang, pakailah bahasa yang sopan, supa hatinya tak tersayat sembilu.

(bersambung minggu depan)

Suryadi [Leiden University, Belanda]

Padang Ekspres, Minggu, 31 Juli 2011


TAGS  


Author

Recent Post

Recent Comments

Archive