Suryadi

Khazanah Pantun Minangkabau # 52 - ENTAH JIKA LAPUK RANTAI HATI

1 Nov 2011 - 06:00 WIB

Ada sebuah ungkapan Minangkabau yang mungkin sudah dilupakan atau sudah tidak terpakaikan lagi oleh sebagian orang Minang sekarang: Jan baco nan tasurek sajo, tapi baco pulo nan tasirek (Jangan baca yang tersurat saja, tapi baca juga yang tersirat). Ungkapan itu menjelaskan salah satu inti dari kepribadian orang Minang, khususnya dalam adab bertutur kata, yang kelihatannya makin bonsai dalam kehidupan orang Minangka sekarang. Rubrik Khazanah Pantun Minang ini di-ada-kan antara lain bertujuan untuk mengasah kembali kepekaan orang Minangkabau dalam membaca yang tersirat, menyelam ke balik kata, yang tentunya bermanfaat bagi siapa saja, terutama bagi para pemimpin di daerah ini.

402.

Antakkan galah ka bubuangan,

Rambuiktan ka labek tidak,

Sarahkan bana ka Junjuangan,

Manggih hutan ka dapek tidak.

403.

Bungo malua bungo malati,

Katigo bungo pandak kaki,

Kok tak dapek nan kandak hati,

Usah banamo laki-laki.

404.

Pinang mudo di kandang kudo,

Ramo-ramo di tapi kain,

Tuan mudo amboa pun mudo,

Samo-samo cari nan lain.

405.

Putuih tali jalo jamantuang,

Cubadak jalan ka Payo,

Putuih hati nak bagantung,

Tuan anggan apo kadayo.

406.

Gadang jambatan Sidempuan,

Tampak sarumpun kayu aro,

Gadang mukasuik pada Tolan,

Tolan ndak namuah apo kadayo

407.

Layang-layang di Pulau Judah,

Singgah mancilam ka Batu Haji,

Kasiah sayang tak kan barubah,

Antah kok lapuak rantai hati.

408.

Ayam jalak disabuang manang,

Patah tulang cilako inyo,

Manangih manyambuang banang,

Putuih tak tau karanonyo.

Manggis hutan dalam bait 402 jelas merupakan sebuah simbol. Berdasarkan pantun-pantun yang lain dan melihat konteksnya, jelas bahwa buah manggis hutan adalah lambang untuk wanita cantik, yang menjadi rebutan banyak lelaki. Bait ini mengandung sindiran kepada seseorang yang tidak mungkin akan mendapatkan wanita cantik idamannya walau sudah meminta kepada Tuhan.

Namun, ada jawaban pada bait berikutnya (403) yang merepresentasikan reaksi si pemuda yang besemangat baja itu: Bukan lelaki aku namanya, jika tidak mendapatkan dirinya, katanya. Silakan berjuang, asal tidak melalui bantuan dukun sirompak di lereng Gunung Sago. Sikap fair harus dibudayakan dalam diri.

Bait 404 merupakan pelerai dari ekspresi emotif dalam dua bait terdahulu. Memang jika satu sama lain tidak ada kecocokan, sebaiknya masing-masing mencari pasangan yang lain saja. Kalau tidak ada rasa saling menyayangi, untuk apa kebersamaan dipertahankan? Sebaiknya perpisah baik-baik, karena tak ada guna dendam kesumat ditanam dalam hati yang lembut selunak tubuh siput itu.

Bait 405 dan 406 mengilatkan cinta yang bertepuk sebelah tangan: nan sorang kuaik ka iyo, nan sorang lai kuaik ka indak. Kata bagantuang pada bait 405 merepresentasikan bahwa si aku lirik dalam kedua bait ini mewakili suara perempuan. Banyak kejadian seperti ini tersua dalam masyarakat kita: awak namuah tapi urang anggan. Maka tersualah oleh Anda pepatah Melayu lama: bagai si pungguk rindukan bulan. Ini catatan penting untuk para gadis: kalau si dia terlalu jual mahal dengan wajah ganteng dan saku taba-nya, maka tak perlu Anda terus merengek dan mencium empu jari kakinya segala untuk mendapatkan cintanya. Anda juga bisa mendapatkan kasih sayang yang tulus dari bujang yang lain. Bukankah pada nomor yang lalu sudah dikatakan bahwa kasiah sayang dicari buliah, tapi tampaik hati jarang batamu.

Bait 407 sungguh indah metaforanya. Kita diberi bayangan bahwa dua hati yang sedang terpilin kasih sebenarnya diikat oleh sebuah rantai besi imajinatif. Kini Anda seperti diyakinkan bahwa kisan Laila Majnun atau Romeo and Juliet bukan hanya ada dalam dunia sastra. Dalam bait ini si aku lirik mencoba meyakinkan kekasihnya bahwa kasih sayangnya tidak akan berubah, kecuali kalau rantai besi (baca: tali cinta suci) yang mengikatkan dia dengan kekasihnya putus.

Nomor ini ditutup dengan baik 408 yang kata berumpamanya runding berkiasannya sangat menawan dan merawan hati. Hanya mereka yang bisa membaca yang tersiratlah yang dapat menangkap maknanya. Bayangkanlah seorang gadis yang sedang merenda di anjung tinggi rumah gadang, membunuh waktu sambil menunggu kekasih hati yang telah merantau berbilang tahun. Dalam penantian yang panjang dan penuh harap, sering jemari si gadis bergetar memasukkan ujuang benang ke mata jarum, membuat bengkalai tak jua sudah dan kulindan basah oleh air mata.

Tapi jauh di balik yang tersurat itu, kata benang yang dipakai dalam bait ini menjalarkan pikiran si Minang yang tahu di kata bayang kepada cinta yang genting dan akhirnya putus juga oleh badai kehidupan. Bait ini dengan syahdu merekam kisah cinta yang bertahan dalam badai, tapi akhirnya hancur lebur juga oleh terpaan topan Katrina yang paling akhir.

Itulah kehebatan pantun Minangkabau: meniti kata, menyelami makna, sungguhpun kail yang dibentuk, ikan di laut yang dihadang.

(bersambung minggu depan)

Suryadi [Leiden University, Belanda]

Padang Ekspres, Minggu, 30 Oktober 2011


TAGS  


Author

Recent Post

Recent Comments

Archive