Suryadi

Signifikansi Budaya Ateis Minang

4 Feb 2012 - 06:00 WIB

suryadiBerita tentang pengakuan seorang Minangkabau bernama Alexander Aan yang menganut paham ateis telah menggemparkan Sumatera. Sebagaimana dapat dikesan dari berita yang muncul di berbagai media, pengakuan calon pegawai negeri sipil (CPNS) Kabupaten Dharmasraya dan administrator fb group Ateis Minang yang anggotanya tercatat sudah lebih dari 1.200-an orang itu, telah menimbulkan reaksi keras, tidak saja di Minangkabau, etnis dari mana dia berasal. Banyak orang Minang berpendapat bahwa Alexander Aan tidak boleh tinggal di Indonesia, negara yang hanya boleh dihuni oleh orang yang mempercayai adanya Tuhan, sebagaimana dinyatakan dalam sila pertama Pancasila.


Dalam beberapa minggu belakangan ini, muncul berbagai opini dan komentar di media cetak dan siber terhadap kasus Alexander Aan. Masyarakat Minangkabau yang menganut Islam dan berfalsafahkan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK) tampaknya tidak dapat menerima kenyataan bahwa ada warganya yang ateis. Banyak pihak berpendapat bahwa kasus ini menunjukkan adanya penggerusan nilai-nilai keagamaan dalam masyarakat Minangkabau, pertanda keroposnya pemahaman generasi muda Minangkabau terhadap adat dan budaya sendiri, dan tidak berfungsinya lembaga Tali Tigo Sapilin dan pemangku adat dan agama pada umumnya.

Munculnya penganut ateisme di Minangkabau mau tak mau menggiring pikiran kita kepada apa yang disebut ateis Islam, yang sebenarnya sudah lama muncul tapi jarang diungkapkan. Munculnya pemikiran ateis di kalangan penganut Islam dapat dirujuk dalam karya filusuf dan scholar Islam terkenal dari Mesir, Abdul-Rahman Badawi (1917-2002), yaitu Min Trkh al-Ilhd fi al-Islam (1945), yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Khoiron Nahdiyyin menjadi Sejarah Ateis Islam: Penyelewengan, Penyimpangan, Kemapanan (Yogyakarta: LKis, 2003).
Timbulnya pemikiran ateisme dalam Islam, meminjam kata-kata Badawi sendiri, pada dasarnya merupakan perkembangan lebih jauh dari konflik antara wahyu dan akal, atau yang lebih kuno dalam sejarah Yunani adalah konflik antara pengetahuan yang didasarkan pada mitos dan ilmu pengetahuan (hal. x, versi terjemahan Indonesia).
Namun demikian, pemikiran ateis dalam Islam agak berbeda dengan yang dipahami di Barat (oleh karenanya dalam konteks ini saya menempatkannya dalam tanda petik). Intinya adalah: keyakinan bahwa Muhammad bukanlah salah satu syarat iman untuk memperoleh keselamatan di akhirat. Para penganut ateis Islam tidak mengakui pentingnya nabi-nabi sebagai penyambut wahyu Tuhan yang menjadi agent penyampai firman-firman-Nya kepada umat manusia. Bahkan mufassir kenamaan Fakhruddin Al-Razi, misalnya, lebih radikal lagi: menurutnya akal manusia mampu menemukan kebenaran Tuhan tanpa perlu dibantu oleh wahyu. Dengan demikian, pemikiran ateis Islam lebih merupakan renungan filosofi tentang perlu tidaknya wahyu dan nabi sebagai agent pembawanya bagi manusia dalam menemukan hakikat Tuhan.
Lha, jika wahyu-wahyu (yang kemudian dikumpulkan sehingga menjadi Kitab Suci Al Quran) dan juga para pembawanya (nabi-nabi) tidak diakui, itu kan sama saja artinya dengan bukan Islam alias anti-agama, meskipun sebenarnya mereka tidak menafikan adanya Tuhan. Jadi, para ateis Islam sebenarnya tetap menganut paham deisme, namun menolak perantaraan apa pun (termasuk nabi-nabi) dalam menemukan kebenaran Tuhan. Banyak tokoh-tokoh besar Islam yang selama ini dihormati ternyata penganut ateis Islam, seperti Ibn Ishaq ar-Rawandi dan Ibnu Sina.
Kasus Alexander Aan memunculkan pertanyaan: apa sebenarnya yang mendorong seorang yang notabene dibesarkan dalam lingkungan budaya Minangkabau yang kental keislamannya, dijalari oleh pemikiran ateis? Mengapa pula di media facebook muncul grup Ateis Minang, IMAM, dan sejumlah fb group lainnya yang berlabel Minangkabau yang hakikatnya mempertanyakan dengan sengit dan sarkastis elemen-elemen kebudayaan Minangkabau yang dianggap tidak sesuai dengan Islam.
Berbagai mailing list dan fb group yang bertebaran di dunia maya itu, jelas merupakan cultural sites melalui mana kita dapat meneropong dinamika kebudayaan Minangkabau dewasa ini. Berdasarkan fakta-fakta tentang kemunculan berbagai mailing list fb group seperti Ateis Minang, Ateis Minangkabau, IMAM, dan lain sebagainya, yang dengan tegas menonjolkan label etnis (Minangkabau), setidaknya dapat dikemukakan dua interpretasi:
Pertama, bahwa pemberian nama berlabel etnisitas itu dimaksudkan untuk memprovokasi secara internal masyarakat Minangkabau, yang selalu diidentikkan dengan Islam. Dalam konteks kontestasi agama di dunia yang tampaknya tidak akan berkesudahan ini, di mana Indonesia yang plural dari segi budaya dan agama ini adalah contoh mikronya yang paling representatif, interpretasi seperti itu cenderung dikaitkan dengan usaha-usaha untuk mengalihimankan umat Islam, dalam konteks ini masyarakat Minangkabau. Sebagaimana ditunjukkan oleh beberapa hasil observasi (misalnya, Helmidjas Hendra, Dari Surau ke Gereja: Murtad di Ranah Minang, 2009), penetrasi gerakan penginjilan ke dalam masyarakat Minangkabau tampaknya tak pernah berhenti.
Kedua, fenomena ini mengindikasikan adanya sengketa budaya yang tak kunjung usaimeminjam nada tajuk buku Jeffrey Hadler: Sengketa Tiada Putus: Matriarkat, Reformisme Islam, dan Kolonialisme di Minangkabau (2010)dalam masyarakat Minangkabau sejak era Perang Paderi. Keputusan drastis Tuanku Imam Bonjol yang terkesan terburu-buru dilakukan untuk menyandingkan hukum Islam yang diperjuangkannya dengan hukum adat yang semula ditentangnya, selepas mendengar berita yang mengejutkan yang dibawa dari Mekkah oleh Tuanku Tambusai dan Pakih Muhammad atas suruhan Tuanku Imam Bonjol sendiri bahwa gerakan pemurnian Islam di Semenanjung Arabia sudah out of date (lihat: Sjafnir Aboe Nain (translit.), Naskah Tuanku Imam Bonjol.

Padang: PPIM, 2004:39-40, 53-55), telah menjadi titik pemantik dilema kultural berkepanjangan yang dialami oleh generasi demi generasi Minangkabau sampai kini. Sejak zaman sosialisasi awal media cetak di akhir abad ke-19 di sampai era teknologi internet sekarang berbagai aspek kebudayaan Minangkabau yang digugat, diperdebatkan, dan dipolemikkan oleh orang Minangkabau sendiri dapat dirujuk benang merahnya ke satu titik simpul, yaitu anggapan (dan si sini juga berarti perasaan sendiri) tentang adanya paradoks dan ambivalensi antara sistem adat Minangkabau yang matriarkal dan hukum Islam yang patriarkal (lihat mis.: Azmi Dt. Bagindo, Polemik Adat Minangkabau di Internet, 2008).
Interpretasi kedua ini mungkin lebih logis karena sejauh yang dapat dilacak di internet, hampir tidak ditemukan warga etnis lain di Indonesia yang membuat mailing list atau fb group ateis yang diembel-embeli dengan nama etnis masing-masing. Memang ada beberapa fb group lainnya yang sekategori, seperti Ateis Bali, Ateis Batak, dan Ateis Jawa, tapi partisipannya sedikit sekali dan lamannya hampir tanpa postingan. Ini sangat berbeda dengan fb group Ateis Minang, Ateis Minangkabau, dan IMAM yang dikunjungi oleh banyak subscribers dengan ramai postingan.
Fakta empiris di atas mengindikasikan bahwa gagasan ateisme dalam masyarakat Minangkabau, sebagaimana terungkap (baru) dalam kasus Alexander Aan, sangat mungkin memperoleh faktor-faktor pendorong dari dalam budaya Minangkabau sendiri. Bukan tidak mungkin fenomena ini merupakan salah satu bentuk simptom dari apa yang disebut penyakit Padang complex.
Sejarah dan historiografi budaya Minangkabau menunjukkan bahwa persandingan unik dan sarit antara sistem matrilineal Minangkabau dengan sistem patrilineal Islam telah menghadirkan suatu keadaan darurat permanen (permanent emergency) di mana secara sosial-psikologis suasana gencatan senjata (truce) dan garis demarkasi kultural (cultural demarcation line) selalu terasasebuah komunitas etnis yang memiliki tingkat kegelisahan kultural yang tinggi.
Kasus Alexander Aan yang mengaku ateis (tapi konon sudah berjanji untuk mendalami Islam lagi) memperpanjang track record kegandrungan dan kegairahan orang Minangkabau mencicipi berbagai ideologi asing yang di masa lalu menurut Christine Dobbin (1983) dibawa ke Ranah Bundo mereka oleh para perantaunya. Tetapi di zaman global kini, berbagai ideologi asing itu bisa saja masuk ke Ranah Minang lewat inang media elektronik (radio, televisi, film, internet, dan lainnya). Mungkin tidak berlebihan jika Jeffrey Hadler (2008:180) mengatakan bahwa West Sumatrabecame an ideological breeder reactor (reaktor pemijahan ideologi) sejak dulu sampai kini.
Tuanku Nan Renceh (Islam konservatif), Fakih Saghir (Islam moderat), Haji Abdul Gani Rajo Mangkuto (kapitalis), Tan Malaka dan Upiak Itam (komunis), Sutan Sjahrir (sosialis),dan kini Alexander Aan (ateis) diyakini hanyalah representatif (wakil yang tampak) dari anggota masyarakat Minangkabau penggandrung berbagai ideologi yang dibesarkan dalam kebudayaan yang intinya mengandung paradoks, dan oleh karenanya terus-menerus berada dalam situasi darurat permanen itu. (*)

[ Red/Redaksi_ILS ] - Padang Ekspres Jumat, 03/02/2012

Suryadi Leiden University Institute for Area Studies (LIAS), Leiden, Belanda


TAGS  


Comment
  • anonim 4 years ago

    apakah arti matrilineal sesungguhnya pak,? sepengetahuan saya diminang hanya garis keturunan saja dihitung dari ibu. sedangkan pembagian harta pusaka tetap mengikuti peraturan islam, kecuali pusaka tinggi (harta peninggalan). begitu juga dalam pernikahan syarat-syarat agama tetap dijunjung tinggi, nikah jg dilakukan dengan syariat-syariat islam. semuan yang berhubungan dengan nikah, pembagian harta pencaharian ibu dan bapak sepenuhnya dilakukan menurut islam. apakah menghitung garis keturunan ibu dapat dikatakan bertentang dengan Islam? atau adat yang mengatur kesukuan, bisa dikatakan bertentangan dengan Islam?

Author

Recent Post

Recent Comments

Archive