Suryadi

HParangai DAN DOMESTIKASI TEKNOLOGI MEDIA

29 Feb 2012 - 05:30 WIB

suryadiKurang lebih setahun lamanya rubrik HParangai menemani pembaca setia Padang Ekspres. Rubrik ini muncul pertama kali pada 17 Juli 2011 (berjudul: Urang ba HP Acok Indak Bataratik Kutiko Rapek) dan untuk terakhir kalinya terbit di Padang Ekspres edisi Minggu, 19 Juli 2012 (berjudul: Suko Indak Suko Maangkek Panggilan Hape). Rubrik ini diasuh oleh Yusrizal KW dan Cornelis. Yusrizal KW menangani ide naskah dan Cornelis yang mengonsep gambar.

Bila saya membaca Padang Ekspres edisi Minggu, saya tidak pernah melewatkan rubrik HParangai karena di samping isinya yang sangat kocak (bikin saya ketawa sendiri), juga karena rubrik itu penting bagi saya sebagai pengamat budaya media (media culture) di Indonesia, sebagaimana yang akan saya jelaskan nanti.

Dalam pengantarnya di nomor pertama pengasuh rubrik ini mengatakan bahwa HParangai dimaksudkan untuk merekam perubahan-perubahan perilaku manusia Indonesia akibat penggunaan teknologi komunikasi telepon genggam (HP, singkatan dari handphone), yang pertama kali masuk ke Indonesia pada tahun 1998. Sekarang jutaan orang Indonesia, sejak dari metropolitan sampai desa terpencil di seantero negeri ini telah menggunakannya, sejak dari Presiden di Jakarta sampai tukang baruak di Ulakan. Indonesia tercatat sebagai Negara keenam terbanyak sebagai pengguna telepon genggam di dunia setelah Cina, India, USA, Rusia, dan Brazil, dan merupakan pasar potensial bagi penjualan berbagai macam merek telepon genggam buatan negara-negara Eropa, Jepang dan Korea. Sadar atau tidak, teknologi ini telah mempengaruhi masyarakat Indonesia, baik secara sosial maupun individual. Indak disangko, hape lah banyak lo maubah parangai urang. Macam-macam parangai dek karano dipabudak hape. (HParangai, Edisi 1, Padang Ekspres, 17-07-2011).

Pilihan judul rubrik ini mencerminkan kecampinan orang Minangkabau bermain dengan bahasa atau mempermainkan kata-kata. HParangai adalah kombinasi yang khas (bijzonder) antara sebuah singkatan yang terkait dengan teknologi luar/asing (HP) dan sebuah kosakata Minangkabau (parangai, perangai, tingkah laku). Judul ini secara implisit merefleksikan pertembungan budaya global dengan budaya lokal yang kini sedang maondoh masyarakat Indonesia dengan derasnya, tidak terkecuali etnis Minangkabau. Di sisi lain, setelah membaca seluruh edisi rubrik ini, saya mendapat kesan munculnya fenomena glokalitas (glocality) dalam penggunaan telepon genggam di Indonesia. Secara sederhana pengertian glokalitas adalah tempat global yang terletak secara lokal (a global place locally situated) di mana hubungan lokal-global dibentuk melalui praktek-praktek kekuasaan yang bersifat sosio-spasial.

Bart Barendregt (2006, 2009) yang meneliti dimensi sosial dan religius penggunaan HP di Indonesia dengan menarik menunjukkan proses domestikasi teknologi ini oleh masyarakat Indonesia. Salah satu yang menonjol adalah penggayutan aspek keislaman ke dalam media HP, sebagaimana dapat dikesan pada maraknya SMS lebaran, nada panggil (ringtone) dan nada sambung (ringback tone) yang bernuansa Islam, dan lain sebagainya. Namun, kedua artikel tersebut kurang mengeksplorasi impak psikologis media HP terhadap manusia Indonesia. Di sinilah pentingnya rubrik HParangai yang dengan detail (melalui kata-kata yang kocak dan sketsa/gambar yang lucu) merekam perubahan-perubahan perilaku masyarakat Indonesia akibat penggunaan media HP. Bagi para peneliti budaya media di Indonesia di masa depan, khususnya media telepon genggam, rubrik-rubrik HParangai jelas merupakan salah satu sumber data yang penting untuk menelusuri efek-efek kultural dan psiko-sosial akibat penggunaan media ini dalam masyarakat Indonesia. Banyak hal menyangkut perangai pengguna telepon genggam di Indonesia yang dicatat dalam rubrik HParangai: orang yang terus sibuk meng-HP ketika sedang rapat atau seminar, orang yang mudah mendustakan di mana dia sedang berada dalam pembicaraan melalui HP, maraknya penipuan melalui HP, perubahan perilaku pasangan suami-istri karena HP, maraknya selingkuh karena HP, orang yang suka memotret apa saja dengan HP, orang yang suka gonta-ganti HP, para koruptor yang mencitrakan diri islami melalui HP, misalnya dengan memasang nada panggil suara Azan dalam HP mahal berlapis emasnya (ingat slogan kritik: Ringtone Islamis, akhlak minimalis), dan banyak lagi.

Banyak harian di Indonesia, baik koran nasional maupun daerah, memiliki rubrik komik (editorial cartoon) dalam edisi Minggu-nya, seperti Panji Koming dan Konpopilan di Kompas, Doyok dan Ali Oncom di Pos Kota, dan Gam Cantoi di Serambi Indonesia. Berbeda dengan komik konvensional, editorial cartoon mempunyai tema-tema yang berbeda setiap kali terbit. Menurut Riri Kertayasa dalam thesisnya Indonesian Comics: A Popular Medium in Conveying Socio-political Messages (2011) aspek visual editorial cartoons merefleksikan fungsi sosialnya yang cenderung mempengaruhi kebiasaan kolektif masyarakat (hlm.30). Komik-komik di koran-koran juga menjadi medium untuk mengkiritisi pelbagai fenomena sosial dalam masyarakat atau kebijakan-kebijakan sosial-politik dan ekonomi yang dibuat oleh pemerintah.

Namun, berbeda dengan editorial cartoons yang konvensional, di mana definisi umum mengenai komik dengan cukup pas dapat dilekatkan, yang menekankan pentingnya dua aspek, yaitu kata-kata dan aspek visual (words and images) (lihat: David Kunzle 1973; Scott McCloud 1994; Aaron Meskin 2007; Will Eisner 2008), rubrik HParangai justru mengombinasikan tulisan (dalam Bahasa Minang) dan gambar (aspek visual) yang di dalamnya sendiri ada pula tulisan (the word ballon) berisi teks naratif yang merupakan bagian dari gambar itu sendiri. Antara kedua unsur itucerita dan gambar yang juga berisi naratif bersifat komplementer, meskipun sebenarnya orang bisa saja memahami pesan yang disampaikan pengarang dengan membaca salah satu di antaranya (cerita atau gambar yang berisi naratif). Dengan kata lain, rubrik HParangai memiliki struktur yang khas yang berbeda dengan editorial cartoon pada umumnya yang banyak ditemukan di berbagai surat kabar di Indonesia dan juga di luar negeri. Oleh karena itu, struktur rubrik HParangai memaksa kita memikirkan kembali definisi editorial cartoon yang sudah berterima selama ini.

Penggunaan Bahasa Minang dalam rubrik HParangai secara tidak langsung merefleksikan betapa besarnya pengaruh media komunikasi telepon gengggam dalam masyarakat lokal Indonesia. Dengan membaca narasi dalam teks rubrik initeks cerita dan narasi dalam komiknyasampai batas tertentu kita dapat mengetahui bagaimana persepsi orang Minangkabau sendiri terhadap media komunikasi HP. Esensi kritik rubrik ini terasa mengena sekali karena bahasa yang digunakan untuk menyampaikannya adalah Bahasa Minangkabau. Memang kalau kita mancimeeh (dalam pengertian positif) atau bacaruik rasanya sangat pas kalau disampaikan dalam bahasa ibu sendiri (mother tongue).

Rubrik HParangai persembahan harian Padang Ekspres yang telah menemani pembacanya selama kurang lebih setahun, adalah sebuah referensi yang langka tentang kritik orang Indonesia sendiri terhadap penggunaan berbagai teknologi media, khususnya media komunikasi seperti HP. Rubrik ini adalah sebuah satire tentang masyarakat kita yang larut dalam hiperrealitas dan euforia dalam penggunaan berbagai teknologi produksi bangsa asing. Dengan demikian ia juga mengandung hakekat sebagai kritik ironis terhadap diri kita sendiri.

Mungkin banyak pembaca Padang Ekspres yang merasa kehilangan dengan berakhirnya rubrik HParangaiini. Tetapi hukum alam berlaku untuk apa saja, ada awal dan ada akhir, tak terkecuali rubrik HParangai. Yang mungkin akan bertahan lebih lama, karena telah dinukilkan di atas kertas, adalah seluruh edisi rubrik ini. Berpuluh atau beratus tahun yang akan datang orang pasti masih dapat membacanya, mungkin di Perpustakaan Universitas Leiden, Cornell, atau ANU Canberra (semoga juga di Perpustakaan UNAND dan UNP). Generasi manusia Indonesia di masa depan (juga peneliti asing) dapat mengetahui keanehan-keanehan dan kelucuan-kelucuan dalam perilaku satu atau dua generasi bangsa Indonesia yang pernah dilanda demam teknologi telepon genggam. Selamat jalan HParangai! Adios!

Artikel ini terbit di harian Padang Ekspres, Minggu, 26 Februari 2012

Suryadi Dosen dan peneliti Leiden University Institute for Area Studies (LIAS), Leiden, Belanda


TAGS  


Author

Recent Post

Recent Comments

Archive