Suryadi

Khazanah Pantun Minangkabau # 90 - KAMI DATANG JENJANG DIHELA

25 Jul 2012 - 04:40 WIB

Pantun adalah salah satu genre sastra Melayu klasik yang telah pula mempengaruhi sastra Barat. Orang Perancis, misalnya, mengenal ‘pantoum’ yang konon terispirasi oleh pantun (Zalila Sharif, 2002); dalam Bahasa Rusia juga ada ekspresi literer yang diinspirasi oleh pantun (Victor A. Pogadaev, 2002). Ini tentu sesuatu yang luar biasa, karena yang biasa terjadi adalah aspek-aspek sastra Barat yang mempengaruhi sastra Melayu sejak zaman kolonial hingga kini. Jika demikian halnya, alangkah bagusnya khazanah sastra tradisional kita ini kita apresiasi dan kita pelihara. Mari kita nikmati sajian ‘Khazanah Pantun Minang’ di nomor ini (90).

697.

Apo guno kapuak di ladang,

Kok tidak barisi padi,

Apo guno barambuik panjang,

Kok tidak barani mati.

698.

Bukan sumbarang buruang sajo,

Buruang tabang mamakan padi,

Bukan si buyuang-buyuang sajo,

Si buyuang tunggang barani mati.

699.

Apo gulai urang di ladang,

Pucuak kacang bajelo-jelo,

Alang sakiknyo anak dagang,

Kami datang janjang baelo.

700.

Kain basahan bao mandi,

Kain salimuik bao pulang,

Ilmu dituntuik bao mati,

Uang dicari untuak urang.

701.

Siriah sirah di tangah tabiang,

Tanamlah padi jo tambilang,

Tolan sapantun darah dagiang,

Dibao mati mako ilang.

702.

Si Lujua tagak di gaduang,

Tagak mambilang limau kapeh,

Kok mujua mandeh manganduang,

Tidak ilang di lauik lapeh.

703.

Jauah bana rumahnyo kini,

jauah di ujuang baparak tabu,

Jauah bana ubahnyo kini,

Dahulu bukan bak itu.

704.

Malenggang malantiang pauh,

Talanting tunggua pasamaian,

Tacinto di dagang jauah,

Tariak puntuang panggang kumayan.

705.

Jangan ditabang palinduangan,

Jatuah badarai bungo capo,

Jangan dikanang paruntuangan,

Jatuah badarai aia mato.

Dua bait pertama (679 dan 698) jelas mengandung semangat pantang menyerah, untuk tidak mengatakan nekat. Baris-baris isi kedua bait itu membayangkan seorang pemuda berambut panjang, mungkin seperti figur Samson. Anak laki-laki memang diharapkan harus menjadi sosok pemberani.

Bait 699 merefleksikan diri yang ditolak, mungkin bisa berkonotasi cinta, tapi juga dalam pengertian umum. Ini memberi bayangan tentang dagang yang hina, wanderer yang hidup tanpa harta dan sanak saudara. Musafir yangn sebatang kara di dunia yang makin tak berkeruncingan ini. Dalam bait 700 terkandung nasehat: utamakan menuntut ilmu untuk bekal diri (ilmu yang diajarkan akan menjadi pahala yang bisa dibawa mati). Jangan malah gila mengejar uang (dan harta) saja, seperti laku para koruptor di negeri ini sekarang, karena semua itu biasanya akan diambil orang apabila kita sudah mati.

Bait 701 yang bergaya hiperbol merefleksikan harapan yang tinggi kepada pasangan. Ini mungkin rayuan gombal, tapi bisa juga datang dari lubuk hati yang paling dalam. Toh seseorang selalu punya peluang untuk mendapatkan hati seputih pualam dari pasangannya. Jika mendapatkan itu, pasangan itu pasti lengket sampai akhir hayat. Bait 702 perlu di-inok manuangkan oleh setiap perantau Minang: hanya dengan doa restu ibundalah Anda akan berhasil melayari lautan nan sakti dan sukses menaklukkan rantau nan bertuah.

Bait 703 merefleksikan sikap si dia yang berubah drastis setelah Anda putus dengannya. Ini nasehat untuk uang putus cinta: jangan menyakiti mantan kekasih Anda. Walau sudah berpisahlah, hubungan silaturahmi harus tetap baik. Bait 704 elok gaya bahasanya: jika ingat kekasih yang sedang jauh dari Anda, maka ambillah kemenyan, bakar dengan puntung api. Itu tentu sebuah ibarat yang manis. Maksudnya tiada lain: berdoalah untuknya, satukan tali batin dalam semedi di atas tilam berkelambu rumin.

Bait terakhir (705) memberi pesan yang cukup optimis: lupakan kenangan buruk yang terjadi di masa lalu, sebab itu hanya akan menderaikan air mata. Lebih baik berusaha lebih tekun lagi untuk menggapai masa depan yang lebih baik.

(bersambung minggu depan)

Suryadi [Leiden University, Belanda] | Padang Ekspres, Minggu, 22 Juli 2012


TAGS  


Comment

Author

Recent Post

Recent Comments

Archive