Suryadi

Khazanah Pantun Minangkabau # 91 - AIR MATA DIBUANG JANGAN

31 Jul 2012 - 05:30 WIB

Sejak sepuluh tahun terakhir ini negara asing, seperti Jepang, Jerman, dan Inggris mendanai pendigitalisasian naskah-naskah Nusantara. Rupanya khazanah pernaskahan Nusantara masih tetap diminati oleh pihak asing. Sebaliknya, Pemerintah RI masih belum juga menunjukkan perhatian serius terhadap naskah-naskah Nusantara. Kita mungkin baru dapat membayangkan bahwa pada suatu saat Pemerintah Provinsi Sumatra Barat akan mengalokasikan dana untuk memesan reproduksi atau kopian naskah-naskah Pantun Minangkabau yang tersimpan di Leiden, Belanda, untuk disimpan di Museum Adityawarman atau instansi lainnya yang relevan. Sambil menunggu mimpi itu jadi kenyataan, mari kita nikmati sajian ‘Khazanah Pantun Minang’ edisi minggu ini.

706.

Muaro Soma dilingkuang gunuang,

Batang aia sapanjang jalan,

Diri Ambo risau dek untung,

Banyak manangguang kasakitan.

707.

Dimano ilang kalakati,

Di bawah lapiak katiduran,

Dimano ilang laki-laki,

Di taluak rantau palayaran.

708.

Ukia-ukia tanah Batawi,

Pinang mudo dibalah duo,

Pikia-pikia di dalam hati,

Pada sorang elok baduo.

709.

Pupuik jo sardam dipantakan,

Di Puruih pandan manjarami,

Takuik jo sagan mangatokan,

Kuruihlah badan manahani.

710.

Jangan dibukak Pulau Batu,

Kalimantuang banyak di dalam,

Jangan dibukak saku baju,

Aia mato banyak di dalam.

711.

Cubadak buah namanyo,

Limpato dibuang jangan,

Taragak sabuik namonyo,

Aia mato dibuang jangan.

712.

Salamo bakudo di Pariaman,

Banyaklah urang bapadati,

Salamo bungo di halaman,

Banyaklah kumbang nan mananti.

713.

Kayu aro di tapi rimbo,

Rimbo di tapi aia gadang,

Putiah  mato mamandang bungo,

Bungo dililik ula gadang.

714.

Duo tigo singalik tali,

Pinang barago ateh pelang,

Duo tigo buliah diganti,

Tidak sarupo jo nan hilang.

715.

Jangan bakudo-kudo lai,

Kudo tapauik di ambacang,

Jangan bamudo-mudo lai,

Awak manuruik di balakang.

Bait 706 mendengungkan lagi suara dagang yang dilendo oleh kerasnya percaturan duniawi. Suara ini merefleksikan filsafat hidup orang Minang yang berorientasi harta, yang terkesan kontradiktif dengan Islam yang dianutnya. Bait 707 merekam lagi tradisi merantau orang Minang tahap awal. Adalah biasa kalau laki-laki Minang ‘hilang’ di rantau, apalagi mereka yang berwaktak Malin Kundang yang dengan pekerjaannya yang hebat-hebat di rantau lalu menjadi “maling kondang” – meminjam tajuk antologi puisi Syarifuddin Arifin (2012). Namun bunda yang mujur melepas akan mendapatkan kembali si penjelajah rantau, walau anak lelakinya merantau ke Negeri Atas Angin.

Ada nada rindu yang terpendam (mudah-mudahan tidak menjadi jerawat batu) dalam dua bait berikutnya.  Bait 708 memprovokasi si dia yang masih saja belum yakin untuk ke pelaminan. Ini mungkin sugesti untuk si peragu (mudah-mudahan ragunya bukan karena rembang mato). Bait 709, yang manis bahasanya, berisi sindiran untuk si pencinta yang penakut, yan ghanya mati dek raso. Lebih baik katakan terus terang daripada menyesal kemudian setelah si dia keburu disambar ‘elang’.

Bait 710, yang sungguh indah gaya hiperbolnya, cocok benar untuk menggambarkan kesedihan yang amat mendalam. Sambungannya pada bait 711, yang juga indah gaya bahasanya, makin menjelaskan bahwa kesedihan yang mengucurkan air mata itu tak lain karena sudah begitu lama berpisah dengan si pautan hati belahan jiwa.

Empat bait terakhir merekam suasana kompetitif dalam mengambil perhatian seorang gadis ‘kembang desa’. Kata ‘bungo’ (bunga) pada bait 712 dan 713 jelas lambang gadis idaman yang kemolekannya telah tersiar ke mana-mana. Bait 712, yang indah bahasanya, merekam kompetisi para lelaki (dilambangkan dengan ‘kumbang’) dalam merebut perhatian si ‘kembang desa’ yang cantik itu. Sedangkan bait 713, yang juga indah gaya bahasanya, melukiskan kecilnya harapan untuk dapat mempersunting si ‘kembang desa’ karena ternyata dia sudah ‘dililit oleh ular besar’. Kata kiasan ini bisa berarti: si gadis sudah akan dikawinkan dengan seorang orang kaya (seperti kisah Sitti Nurbaya dan Datuk Maringgih), atau; si gadis diproteksi ketat oleh ninik mamak dan ayah bundanya.

Bait 714 merekam lagi tambatan hati yang tak tergantikan. Suara penuh kesetiaan ini sering ditemukan dalam pantun Minangkabau. Saya jadi bertanya apakah ini representasi suara lelaki atau perempuan? Ia mungk in bisa memiliki makna yang berbeda jika dianalisa dari perspektif gender. Bait terakhir berisi ajakan serius dari si dia, yang tidak ingin status hubungan Anda dengannya seperti anak muda pacaran. Dia ingin segera ke penghulu, dia 100% akan setuju (manuruik di balakang). Ini pesan penting untuk pasangan yang masih terus ragu-ragu untuk segera ke pelaminan.

(bersambung minggu depan)

Suryadi [Leiden University, Belanda] | Padang Ekspres, Minggu, 29 Juli 2012


TAGS  


Author

Recent Post

Recent Comments

Archive