Suryadi

Khazanah Pantun Minangkabau # 92 - MATI DIKERLING SUDUT MATA

7 Aug 2012 - 05:30 WIB

Secara teori masing-masing bahasa etnis (vernacular language) di dunia Melayu memiliki tradisi pantun yang ciri-ciri instrinsiknya berbeda satu sama lain. Tentang Pantun Minangkabau sebenarnya belum ada kajian yang mendalam mengenai hal ini, kecuali oleh R.J. Chadwick (1994) yang juga masih terbatas membicarakan bentuk majas tak sempurna (unconsummated methaphor) dalam pantun-pantun Minangkabau. Oleh sebab itu, sambil menikmati sajian ‘Khazanah Pantun Minangkabau’ di nomor ini (92), saya mengajak para sarjana kita (di Unand, UNP, dll.) untuk memikirkan hal ini. Siapa tahu ada yang tertarik untuk menelitinya lebih lanjut.

716.

Bakudo baganti tidak,

Ilang dimano palanonyo?

Basuo bakato tidak,

Apokoh sabab karanonyo?

717.

Guruah patuih panubo limbek,

Pandan tajamua di subarang,

Tujuah ratuih carikan ubek,

Badan batamu mako sanang.

718.

Tidak salah junjuang limbayuang,

Salah dek pandan manjulito,

Tidak salah bundo manganduang,

Salah dek badan buruak pinto.

719.

Bak mano rumpun padiku,

Dek buahnyo jatuah ka halaman,

Bak mano rusuah hatiku,

Dek bak iko bana paruntuangan.

720.

Sakin  ketek di ateh batu,

Datang buayo manulakan,

Alang sakiknyo dagang piatu,

Datanglah urang manggalakan.

721.

Tagun-tagun Gunung Kurinci,

Batang paiweh buek dulang,

Dicaliak ambun ditangisi,

Awak jauh di rantau urang.

722.

Barangan di tapi koto,

Babuah madang di hulu,

Sungguah larangan sudah nyato,

Manyalang molah kami dahulu.

723.

Takilek tali layang-layang,

Saeto sampai ka Bangkahulu,

Tasirok hati adang-adang,

Takanang janji nan daulu.

724.

Biduak Sarampu dari Bunguih,

Si Angkuik nama nangkodonyo,

Tolan manaruh candai aluih,

Barilah tahu haragonyo.

725.

Api-api di paga dusun,

Anak Kaliang bagalang kaco,

Tidak mati kami dek racun,

Mati dek gendeang suduik mato.

Bait 716 menggambarkan sifat malu seorang yang sedang jatuh hati: ketika berjauhan hati ingin berjumpa, tapi kalau sudah dekat lidah kelu untuk berkata. Ini memang gaya kencan anak muda masa lalu, beda dengan anak muda zaman sekarang. Bait 717, yang indah sekali gaya hiperbolnya, merekam kerinduan hati dua sejoli yang sedang berjauhan.

Kepercayaan pada garisan nasib oleh Tuhan sejak dari rahim Ibu direfleksikan dalam bait 718. Bait ini mencerminkan konsep Islam mengenai takdir. Bait berikutnya (719) merekam lagi suara sedih seorang dagang Minang yang belum memperoleh nasib baik (di perantauan). Seperti sudah saya katakan dalam nomor-nomor terdahulu, soal materi dan duniawi ini sangat menonjol dalam teks-teks pantun Minangkabau. Nada sedih ini muncul lagi dalam bait 720. Kata ‘piatu’, yang cukup sering ditemukan dalam pantun-pantun Minangkabau, menggambarkan pentingnya keluarga matrilineal bagi orang Minangkabau. Bait berikutnya (721) masih merekam kesedihan hati dagang nan jauh di rantau orang. Bait ini merefleksikan kerinduan perantau Minang kepada ranah bundo (kampung halaman) mereka.

Bait 722, yang mengandung gurauan, menggambarkan bujukan agar boleh meminjam sesuatu yang dilarang. Konteks konotatif pantun ini jelas godaan seorang bujang terhadap seorang gadis yang berada dalam pingitan.

Bait 723 sungguh indah bahasanya. Bait ini menggambarkan dengan indah suasana hati seseorang yang berjumpa dengan mantan kekasihnya setelah lama tidak bertemu. Barangkali ketika berpisah dulu tak ada kejelasan hubungan antara keduanya, ‘gantuang nan indak batali’. Rumitnya, jika salah satu atau keduanya sudah menikah. Kalau belum, kabek nan lungga tentu bisa dipererat lagi, kalau mungkin dibuhul matikan.

Bait 724, yang sangat indah metaforanya, menggambarkan sebuah pinangan terhadap seorang gadis cantik. ‘Cindai aluih’ (kain yang sangat mahal harganya) jelas melambangkan gadis cantik itu. Ungkapan literer yang sangat manis dapat dinikmati pula dalam bait 725: kontras antara ‘racun’ dan ‘kerdipan sudut mata’ sungguh memberikan efek estetis yang daya kejutnya luar biasa. Anda, atau saya, pasti ‘pingsan’ jika mendapat kerdipan mata kejora seorang gadis yang cantik jelita. Jika di bulan puasa ini Anda mengalami itu, lepaskan sajalah puasa Anda, sebab puasa Anda sudah batal karena hati sudah badabok.

(bersambung minggu depan)

Suryadi [Leiden University, Belanda] | Padang Ekspres, Minggu, 5 Agustus 2012


TAGS  


Author

Recent Post

Recent Comments

Archive