Suryadi

Khazanah Pantun Minangkabau # 95 - BERMAIN GUNTING DALAM HATI

5 Sep 2012 - 15:19 WIB

Sudah seminggu Hari Raya 1433 H berlalu. Kampung sudah lengang kembali. Buaiyan Kaliang di pantai Pariaman sudah dibongkar. Oto-oto berkilat dari berbagai merek sudah balik ke rantau. Sebuah ‘ritual’ atas nama kebudayaan dan agama telah usai. Lebih dari 900 nyawa hilang di jalan. Puji dan umpat bergaung dalam laman-laman facebook (antara lain keluhan tentang semrawutnya kota Bukittinggi). Uang si perantau yang tercicir di kampung sebagian besar telah menguap ke udara. Namun tuah perantau itu, atau kesengrasaannya, serta keindahan kampung halaman dan rumah gadang, tetap abadi dalam pantun-pantun Minangkabau. Mari kita menghibur diri dengan sajian pantun di nomor 95 ini, karena orang rantau tidak akan mungkin dapat kita tahan untuk membali tidur di surau dan mengadu ujung celana galembong di sasaran silat.

743.

Kalangkari baju rang Sunua

Dijaik balun disudahkan,

Lamak manih nambek dilulua,

Paik nan jangan dimutahkan.

744.

Kuaik ureknyo si sulasiah,

Di halaman bapaga bungo,

Banda diaru rang Salido,

Jawek pakirim tando kasiah,

Galak marahai manyingkoknyo,

Antah barisi aia mato.

745.

Kapeh panji tangah halaman,

Disangko tidak kababuah,

Babuah juo mah kironyo

Bajanji bajawek tangan,

Disangko tidak kabarubah,

Barubah juo mah kironyo.

746.

Tabang buruang ka Taluak Ambun,

Tali perak tambang suaso,

Hati baguluang bagai tanun,

Dikambang banyak nan binaso.

747.

Bulan bulek bintang taletai,

Kaliang bamain bungo api,

Jokok santano Tuan rasai,

Bamain guntiang dalam hati.

748.

Nasi sacambuang nan dirandam,

Santapan Rajo Duo Selo,

Basi namuang kalamnyo tajam,

Mamutuih basi si malelo.

749.

Kasiak barambuang di muaro,

Dibao urang ka musajik,

Kasiah bagantung di udaro,

Satampok ganggang dari langik.

750.

Dibali maco satali,

Digulai jo buah patai,

Disangko tunangan haji,

Kironyo mainan labai.

751.

Baalah ujuang pandan nangko,

Tidak saujuang jo bingkawang,

Baalah untuang badan nangko,

Tidak sauntuang dangan urang.

752.

Indopuro Muaro Sakai,

Kalangkan biduak panjang tujuah,

Nan dimukasuik balun lai sampai,

Sapantun tinaman balun tumbuah.

Sesuatu yang kelihatan baik jangan langsung diterima. Sebaliknya, hal yang kelihatan buruk jangan langsung ditolak. Setiap keputusan yang akan dibuat harus dipertimbangkan dulu masak-masak, jangan memakai ‘ilmu koncek’: begitu teringat langsung melompat. Itulah refleksi bait 743. Bait 744 mengingatkan agar jangan terlalu larut dalam kegembiraan bila menerima pakirim dari kekasih (di rantau). Siapa tahu ada kabar buruk yang menyertainya. Bapado-pado-lah  mengeluarkan kegembiraan. ‘Terlalu berlebihan suka pertanda dekatnya duka’ kata Raja Ali Haji dalam salah satu pasal Gurindam 12.

Refleksi bait 745 - 747 mungkin dapat dirangkaikan: tampaknya hati si dia sudah berubah, dia memungkiri janji setia yang diikrarkannya sendiri. Orang seperti ini akan dimakan oleh biso kawi. Hancur hati, goyang pangana, tapi di lahir tidak diperlihatkan kepada orang banyak. Mulut senyum, hati menangis. Hati sakit bagai digunting. Mungkin Anda tidak akan tahan jika mengalaminya sendiri.

Bait 748 manis perumpamaannya: besi namuang (yang buruk kualitasnya) berhasil mengalahkan besi malelo (yang bagus kualitasnya). Ini makna kiasan bagi orang kecil (orang biasa) yang berhasil mengalahkan orang besar (orang berpunya/berkuasa) di galanggang rami.

Kasih yang hanya tergatung di benang sehelai, yang membuat jiwa terasa sawang-sinawang, direfleksikan dalam bait 749. Bait ini terasa sangat manis ungkapannya. Ia berhasil merekam gundah hati yang tak tepermanai karena cinta yang digantung tidak bertali. Bait 750 adalah pantun jenaka, walau mungkin tak vakum konteks sejarah: dulu banyak haji dan lebai yang berbini di setiap kampung. Di zaman itu haji dan lebai sangat laris untuk dijadikan ‘bijo’. Di Minangkabau sudah tak jadi mode lagi, tapi di Madura konon Kiyai masih ‘laris’ untuk dijadikan menantu.

Suara yang kalah dalam pertarungan di rantau terefleksi lagi dalam bait 751: tentang nasib baik yang masih menjauh dari diri. Tentu biasa terjadi dalam penjuangan hidup apabila harapan belum jadi kenyataan, seperti dikilatkan dalam bait 752. Juga dalam mendapatkan kasih sayang dari si dia. Agaknya dua bait terakhir ini ingin menasehatkan pembaca agar tetap tawakal dan tidak berputus asa dalam hidup ini.

(bersambung minggu depan)

Suryadi [Leiden University, Belanda] | Padang Ekspres, Minggu, 2 September 2012


TAGS  


Author

Recent Post

Recent Comments

Archive