Suryadi

Khazanah Pantun Minangkabau # 96 - PERAWAS MASAK JADI BATU

12 Sep 2012 - 05:30 WIB

Di abad ke-21 ini masyarakat Indonesia, baik dalam pengertian negara-bangsa maupun kumpulan etnisitas, makin terperosok ke dalam labirin modernisme. Ibarat masuk lubang gelap tanpa penerang, mereka saling berantukan satu sama lain dalam pusaran budaya pop. Dan mereka tak sadar pula telah diperantuk-antukkan bangsa asing melalui tangan-tangan maya imperialisme modern. Mereka cenderung lupa kepada kebudayaan sendiri, larut dalam xenosentrisme yang memuja kebudayaan asing secara berlebih-lebihan. Semoga sajian ‘Khazanah Pantun Minang’ – ini adalah edisi 96 – masih membantu orang Minangkabau meresapi kebudayaan sendiri.

757.

Baladang mudiak Koto Ranah,

Ditabeh mako dianguihsi,

Elok diambiak kutiko randah,

Kok tinggi gunuang ditangisi.

758.

Mambajak urang di Andaleh,

Banto nak kami jaja juo,

Guno tak joa kami baleh,

Jaso ka kami kana juo.

759.

Anak urang di Bukik Duku,

Ka pakan jinjiang durian,

Sariak nan tidak babuah lai,

Mambuhua kok mambuku,

Ratak kok nyo mangasan,

Cadiak tidak paguno lai.

760.

Carikan kami aro baa,

Aro nan condong ka subarang,

Daunnyo babuyun rapek,

Carikan kami jalo baa,

Panjalo ikan tangah padang,

Tahun pabilo ka kadapek.

761.

Panjaik panabang paku,

Puncak baliung panarawang,

Janyo siapo tak karagu,

Ikan baranang tangah padang.

762.

Dari Jalalak ka Jalalai,

Singgah ka Pakan Koto Tujuah,

Tuan bajalan kok talalai,

Tinggakan rambuik ganti tubuah.

763.

Anak alang di ateh talang,

Anak anso ateh kilangan,

Anak sipasan dalam buluah,

Antah bajari antah tidak,

Limpato dalam parahu,

Mari Tuan marilah sayang,

Mari kito bajawek tangan,

Tuan bajalan antah jauah,

Antah kumbali antah tidak,

Garak Allah siapo tahu.

764.

Pandan dituriah Sibaruliah,

Aia di hulu dilakuakkan,

Urang mangali manaruihkan,

Cindai diambiak panyubarang,

Tahun kini zaman baraliah,

Dahulu papeh babengkokkan,

Kini kaia lah baluruihan,

Panganai bukan alang-alang.

765.

Gadanglah aia Batang Anai,

Anyuiklah pandan sularonyo,

Takalo kaia kamanganai,

Ikan dimabuak saleronyo.

766.

Ditanun aru kajumbai,

Labiahnyo sahalai baju,

Mati maratoklah kau tupai,

Paraweh masak jadi batu.

Bait 757 mencatat kebiasaan menunangankan anak sewaktu masih kecil. Kalau sudah besar (kutiko lah tinggi) banyak yang akan berebut, artinya bisa kecolongan. Tapi bisa juga berarti tidak menyia-nyiakan kesempatan baik yang datang. Bait 758 mengilatkan betapa sulitnya membalas utang budi – ‘utang’ yang sering dibawa mati. Ada peringatan dalam bait 759 agar hati-hati dalam pergaulan. Jika sekali saja politik budi Anda ketahuan oleh orang lain, mungkin orang tidak akan percaya lagi kepada Anda untuk selamanya.

Kiasan yang ironis disajikan dalam bait 760 dan 761: tentang harapan yang mungkin utopia, ibarat orang menanti lesung akan berurat, menanti antan akan berdaun. ‘Ikan berenang di tengah Padang’ mengiaskan harapan yang sangat tidak mungkin akan jadi kenyataan.

Bait 762 sangat manis gaya bahasanya: jika engkau kekasih hati akan lama pergi dan telat kembali kepadaku, tinggalkanlah sehelai-dua rambutmu untukku sebagai pengganti badan dirimu. Ada suasana perpisahan yang sangat menyedihkan yang direkam oleh bait ini, seperti dapat dikesan dalam bait berikutnya (763).

Bait 764 merekam perubahan perilaku orang seiring dengan pergeseran zaman. Simbol di balik kata ‘papeh/kaia’ yang biasanya bengkok tapi kini menjadi lurus namun mampu memberikan hasil tangkapan ikan yang banyak tampaknya merujuk sikap permisif: dengan cara yang gampang sesuatu yang dulu sulit untuk didapatkan sekarang dengan mudah dapat diperoleh. Bait berikutnya (765) akan memberi jalan terang bagi kita untuk menafsirkan kata kiasan ini: tampaknya ini terkait dengan hubungan muda-mudi. Kedua bait ini mengiaskan tagarajai-nya seseorang (muda-mudi dalam konteks ini) karena tak kuasa menahan hawa nafsu.

Bait terakhir juga menampilkan kiasan yang sangat berkesan. Bait ini merekam hilangnya kesempatan atau peluang yang bagus karena sifat ragu atau takut. Peluang yang sama tidak datang dua kali. Oleh sebab itu Anda jangan menyia-nyiakan kesempatan. Jangan sampai Anda menyesal dan meratapi ‘cirik anyuik’.

(bersambung minggu depan)

Suryadi [Leiden University, Belanda] | Padang Ekspres, Minggu, 9 September 2012


TAGS  


Author

Recent Post

Recent Comments

Archive