Suryadi

Khazanah Pantun Minangkabau # 99 (Tamat) - SENGKETA MATA BELUM LAGI SUDAH

10 Oct 2012 - 15:15 WIB

Ini adalah nomor penutup rubrik “Khazanah Pantun Minang”. Minggu ini rubrik ini sampai pada edisi ke-100. Ibarat berlayar sudah sampai du pulau, berjalan sudah sampai di batas. Kepada penggemar setia rubrik ini, kami ucapkan selamat membaca sajian terakhir ini. Minggu depan mungkin akan muncul rubrik baru di halaman ini. Hanya satu pinta kami: walau pengganti rubrik ini lebih rancak nantinya, ingat-ingat jugalah rubrik “Khazanah Pantun Minangkabau” ini. Kalau sudah dapat “kawan” yang baru, “kawan lama” dilupakan jangan.

805.

Ayam putiah masuak ka parak,

Tibo di parak kanai jalo,

Gigi putiah dibao galak,

Bungo takarang di kapalo.

806.

Karambia sarangkai tujuah,

Tampak nan dari Pakandangan,

Ambiak simpai panjang tujuah,

Manembak bungo balarangan.

807.

Tuan Sikaut pai manembak,

Abihlah buruang batabangan,

Salamo tabuik jo katumbak,

Banyaklah kato kadorongan.

808.

Anak rang Matua pai ka Lawang,

Bajua kambiang nan panuruik,

Bakinco kasiah jo sayang,

Bak ampiang padi sipuluik.

809.

Urang manumbuak jolong gadang,

Ayam nan makan jolong turun,

Manangih di rantau urang,

Ka pulang baameh balun.

810.

Limau manih di Pulau Tiku,

Ureknyo sampai ka Pariaman,

Itam manih bukakan pintu,

Dagang barambun di halaman.

811.

Manapih maindang dadak,

Dadaklah lakek di tampian,

Manangih maulang jajak,

Jajak lah ilang dilipua hujan.

812.

Gunuang Padang batanggo janjang,

Bari batanggo batu mandi,

Manapi-napi bada balang.

Maintai buah pauah janggi.

813.

Sudah putuih tali katidiang,

Padi taserak anyo lai,

Sudah pai kawan sairiang,

Dagang lah sorang anyo lai.

814.

Cut Nyak Din rajo di Aceh,

Disangko anak Raja Judah,

Mukasuik hati sudah lapeh,

Sangketo mato balun lai sudah.

815.

Pinang mudo manih aianyo,

Tidak siriah bagagang lai,

Urang mudo manih muluiknyo,

Tidak kami picayo lai.

816.

Jangan picayo rimbo gadang,

Kayu aro banyak di dalam,

Jangan picayo sanggua gadang,

Cimaro banyak di dalam.

Kalau si pemilik gigi putih tersusun rapat sedang gelak manis, dan bunga melur tersusun indah di sanggul lintang sangkutnya, mungkin tak berkedip mata memandang. Itulah refleksi bait 805 yang menggambarkan keindahan senyum seorang wanita. Bait berikutnya (806) menyiratkan perlunya usaha keras untuk mendapatkan perhatian si gadis idaman orang sekampung. Sudah hukum dunia: yang bagus memang sulit mendapatkannya.

Bait 807 merefleksikan kata yang bergalau selama pesta keramaian. Sorak dan sorai, kias dan sindir, berseliweran. Bait ini menangkap suasana keramaian ala alek nagari atau pesta perkawinan di masa lalu. “Cakak” yang muncul adalah “cakak” kata-kata. Berbeda dengan situasi sekarang: bila ada keramaian, yang sering terjadi justru perkelahian fisik.

Perumpamaan pada bait 808 untuk mengiaskan kasih yang sedang membara sungguh sangat indah. Saya kira tak perlu diperjelas lebih detil jika para pembaca rubrik ini sudah pernah makan emping beras pulut, apalagi kalau dicampur dadih. Memang berkelintin-pintin rasanya, pas benar seperti hati yang sedang dimabuk cinta.

Bait 809 merefleksikan lagi hubungan rantau dan usaha pengumpulkan kekayaan. Jangan kita mendugang juga bahwa budaya merantau itu memang didorong oleh hal-hal yang berbau material. Tak aneh jika yang miskin di rantau akan memperjauh rantau, mengubur niat untuk pulang ke kampung halaman.

Bait 810 terkesan agak erotis. Begitulah estetika pantun Minang dalam menggambarkan hal-hal yang mengarah kepada seksualitas: tersembunyi dalam kiasan yang kental. Bait 811 mengiaskan harapan yang pupus kepada si dia, yang tampaknya mungkin akan tersangkut lama di rantau orang tubuhnya dan juga mungkin hatinya.

Nama buah “pauah janggi” muncul lagi dalam bait 812. Seperti telah dibahas dalam nomor-nomor yang lalu, bait ini mengiaskan percaturan para lelaki dalam usaha meraih hati si gadis idaman. Bait 813 menggambarkan rasa kesepian karena kehilangan “kawan” (dalam konteks ini bisa berarti kekasih hati). Ini bisa dikaitkan dengan bait 814 yang sangat indah kiasannya: apa yang terasa dalam hati sudah diungkapkan kepada si dia, tapi rasanya ingin memandangnya setiap hari, selalu ingin berdekatan dengannya 24 jam.

Bait 815 menyindir kelakuan (sebagian) pemuda yang sering suka mengumbar janji, tapi kebanyakan cuma “janji Hetty Koes Endang” alias angin sorga doang. Sukanya “menanam tebu di bibir” saja. Kritikan ini seolah dibalas dalam bait terakhir: ada juga sebagian wanita yang mengumbar cinta palsu. Atau lebih konkritnya: jangan terpana oleh penampilan luar seorang wanita. Pokoknya, jangan mudah tertipu oleh gincu merah dan pupur tebal. Lebih baik cari yang orisinal. (tamat)

Suryadi [Leiden University, Belanda] | Padang Ekspres, Minggu, 7 Oktober 2012


TAGS  


Comment

Author

Recent Post

Recent Comments

Archive