Suryadi

Khazanah Pantun Minangkabau # 97 - JERAT SUDAH MENGAMBUNG DIRI

19 Sep 2012 - 06:00 WIB

Sejauh yang terlacak oleh saya, belum banyak kajian mengenai paralelisme dan metafora dari perspektif linguistik dan stilistik yang mengambil objek pantun Minangkabau. Barangkali ada baiknya jika Jurusan Sastra Daerah/Program Studi Bahasa & Sastra Minangkabau, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas menawarkan mata kuliah kajian pantun Minangkabau. Dalam kuliah itu bisa dibahas aspek intrinsik dan ekstrinsik pantun Minangkabau. Mari kita nikmati lagi estetika pantun Minangkabau yang khas itu di nomor ini, tiga nomor menjelang edisi ke-100 rubrik ini.

767.

Siamang di kayu kalek,

Malompek ka puncak batuang,

Tuan tagamang lagi bajawek,

Takantuak Tuan lai badukuang.

768.

Taganang aia di lasuang,

Disalin ka buli-buli,

Marantak balam ateh batuang,

Jarek lah maambung diri.

769.

Mulo kami ka jadi mandi,

Baolah galuak gadang-gadang,

Latak’an ateh pincuran,

Mulo kami tak jadi pai,

Bao bagaluik adang-adang,

Ka pamupuih kamaluan.

770.

Karateh turap aia ameh,

Bagirah rono limbayuang,

Tuan kandung kamilah cameh,

Dalam paneh lai ka linduang?

771.

Rang Padang manggiliang rokok,

Diisok sambia manitih,

Binguang alang pandialah sikok,

Murai lah dapek dek sikikih.

772.

Rang Guguak macah galanggang,

Tampaklah tirai kulambunyo,

Dimalah lubuak nan tapanggang,

Kami baniaik di abunyo.

773.

Bagerai kapa si Ulando,

Kumandua mudiak ka Poncan,

Tahun mano musim pabilo,

Mangko ka sanang paratian.

774.

Balam timbago patah kapak,

Bulu tatabua di tapian,

Dalam nan tarang tidak tampak,

Alang kamabuak paratian.

775.

Tangih marunguik sambia mandi,

Karanggo mamanjek rangkiang,

Badan tubuah buliah diganti,

Guno Tuan tidak kailang.

776.

Carikan kami lado mudo,

Panggulai ikan nan tasangkuik,

Carikan kami jalo suto,

Pangauik jamua tangah lauik.

777.

Iyu pari tanggiri pari,

Kasumbo bao baranang,

Tau kami di diri kami,

Bagai suto tumbok jo banang.

Bait 767 merefleksikan hati seorang yang sedih karena tidak punya keluarga tempat berlindung, sementara orang lain ada yang menghibur atau melindungi ketika sedang mengalami kedukaan atau kemalangan. Bait berikutnya (768) sangat bagus kiasannya dalam menggambarkan sifat tidak sabar seseorang untuk mendapatkan hal yang sudah lama diincar atau diingininya.

Bait 769 mengilatkan keragu-raguan si dia karena dia kurang yakin apakah Anda betul-betul serius, sebab mungkin dia merasa banyak janji Anda yang muluk-muluk kepadanya tapi ternyata realisasinya tidak ada. Ini seperti diperjelas dalam bait berikutnya (770): si dia ragu-ragu apakah Anda bisa menjadi tempat berlindung baginya.

Bait 771 sangat bagus pula kiasannya. Bait ini mengiaskan orang-orang hebat (kaya, berkuasa) yang kecolongan oleh orang-orang kecil (orang biasa saja) dalam memperebutan kembang desa yang jadi incaran banyak lelaki. Bait 772 menghadirkan logika oposisi (ini salah satu ciri semantis yang penting pada pantun Minang) untuk menyampaikan makna tentang sesuatu yang sulit dan hampir tak mungkin dicapai – meminta ‘tanduak kudo’, kata orang.

Bait 773 menyampaikan suara dagang yang belum juga berubah nasibnya menjadi lebih baik. Nada yang sama tapi berbeda konteks disampaikan dalam bait 774 yang juga bagus kiasannya. Bait ini, yang juga memakai logika oposisional, mengiaskan orang sulitnya menjangkau sesuatu (dalam konteks ini bisa juga cinta seseorang) walaupun ia sehari-harinya kelihatan oleh orang yang berhasrat besar untuk mendapatkannya.

Bait 775 berisi ungkapan perasaan kepada seseorang yang sangat sulit dilupakan karena ia begitu berarti dalam hidup si aku lirik, yang kenangan kepadanya tertanam dalam di lubuk hati. Bait 776 juga bagus kiasannya, yang mengilatkan perlunya modal yang besar (jalo suto) untuk memperoleh sesuatu yang sangat mahal dan sulit (jamua dalam lauik). Memang betul kata orang: memancing ikan besar tidak mungkin memakai benang kail yang halus.

Bait terakhir (777) mengandung refleksi perbedaan kelas yang jomplang: si miskin (banang) yang merasa yang malu berdampingan dengan si kaya (suto). Si dia rupanya merasa rendah diri berdampingan dengan Anda yang berasal dari keluarga berada. Tapi dalam konteks ini bisa juga artinya perbedaan penampilan fisik yang sangat kontras. Bait ini mengingatkan pembaca rubrik ‘Khazanah Pantun Minang’ supaya tahu diri kalau nasksir seseorang. Rasa-rasakan dulu modal sendiri (dalam arti ekonomi dan juga tampang). Ini penting supaya jangan nanti jatuh kecewa karena cinta ditolak. Bahayanya, kalau cinta ditolak sering dukun bertindak. Ini membuat Anda bisa terkelenocong ke jalan yang sesat.

(bersambung minggu depan)

Suryadi [Leiden University, Belanda] | Padang Ekspres, Minggu, 16 September 2012


TAGS  


Comment

Author

Recent Post

Recent Comments

Archive