Suryadi

MAGIS BUMI INDONESIA DALAM REFLEKSI LITERER SEORANG PENGARANG BELANDA

5 Jan 2013 - 05:20 WIB

f3b2e50241bd142d5fef150ba5bbb751_suryadi-resensi-novel-kekuatan-diamJudul : Kekuatan Diam

Penulis : Louis Couperus

Penerjemah : Christina Dewi Elbers

Penerbit : Kanisius, Jakarta, 2011

Tebal : 246 hlm.

ISBN : 978-979-21-2912-0

Setelah menunggu seabad lebih, kini pembaca di tanah air dapat menikmati sebuah novel berlatar Indonesia yang sudah lama dikenal luas di Belanda, De Stille Kracht, yang diterjemahkan Christina Dewi Elbers, kandidat PhD di Universitas Gadjah Mada, menjadi Kekuatan Diam.

Kekuatan Diam adalah salah satu karya Louis Couperus (1863-1923), seorang pengarang Belanda era Belle Epoque yang karya-karyanya terkenal dengan sebutan Haagse romans (roman-roman Den Haag). Dalam rentang 1878-1923 Couperus telah menulis beberapa antologi puisi dan novel. Namanya dikenal luas di kalangan orang Belanda yang memiliki hubungan darah dan batin dengan Indonesia, baik golongan totok maupun Indo, berkat novel ini. De Stille Kracht pertama kali terbit tahun 1900. Setelah itu novel ini sudah berulang kali diterbitkan ulang di Belanda. Edisi terbaru diterbitlan Atheneaum-Polak & Van Gennep di Amsterdam (2001) dalam seri Salamander Klassiek.

Louis Marie-Anne Couperus (lahir di Den Haag, 10 Juni 1863 meninggal di De Steeg, Rheden, 16 Juli 1923) berasal dari keluarga bangsawan. Ia adalah cicit Abraham Couperus, Gubernur Belanda di Malaka pada abad ke-18. Antara 1871-1877 Couperus berada di Hindia Belanda dan bersekolah di Batavia. Menurut sejarawan Sastra Belanda Rob Nieuwenhuys, keluarga Couperus memiliki darah campuran Belanda dan Jawa (Indo). Lebih dari sekedar gubahan literer mengenai budaya dan masyarakat Orient yang tak sepenuhnya dapat dimengerti oleh orang Eropa, Kekuatan Diam merepresentasikan pula psikologi seorang yang terlahir dengan identitas Indo, yang melewatkan masa remajanya di Pulau Jawa.

Kekuatan Diam bercerita tentang kehidupan kaum elite kulit putih di Hindia Belanda pada zaman kolonial dan hubungan mereka dengan elit pribumi yang penuh intrik dan sarat dengan konflik kepentingan dalam alam dan kultur Jawa yang kaya dan mistis. Protagonis novel ini adalah seorang Eropa totok bernama Otto van Oudijck yang menjabat sebagai residen di sebuah residensi imajiner yang agak terpencil bernama Labuwangi yang, berdasarkan banyak petunjuk naratif dalam novel ini, dapat diperkirakan terletak di Jawa Timur. Ia dan istri keduanya, Leonie, menempati sebuah rumah dinas keresidenan yang bercitra Eropa, dengan beberapa orang babu dan jongos pribumi. Leonie yang cantik namun sering kesepian diam-diam berselingkuh dengan beberapa pria dan memacari anak tirinya sendiri, Theo dan Doddy. Tapi tanpa sepengetahuan Loenie, Doddy juga mengencani Addy, putri De Luce, pemilik kilang gula Patjaram.

Hubungan Van Oudijck dengan Bupati Labuwangi, Raden Adipati Soerio Soenario, sangat kaku dan tegang. Sang Bupati dianggap tidak becus dan tak mampu menasehati saudaranya, Bupati Ngajiwa, yang suka berjudi dan menghisap candu. Dalam suatu pesta di rumah sekretaris Residen, Onno Eldersma, Raden Adipati yang mabuk karena minum terlalu banyak memaki Van Oudijck. Residen itu mengancam akan memecatnya. Ibu sang Bupati Raden Ayu Pangeran, yang bertubuh kecil tapi sangat berwibawa, tidak menerima perlakuan Van Oudijck terhadap anaknya. Ia bersumpah akan melawan dengan caranya sendiri dan mengeluarkan kata-kata ancaman bahwa orang Belanda akan dienyahkan dari tanah Jawa.

Kehidupan Van Oudijck dan elit kecil Eropa di Labuwangi terus berjalan seperti biasa. Ada pesta amal, pertemuan-pertemuan akhir bulan sambil minum anggur dan makan-makan yang diselingi oleh gosip-gosip mengenai perselingkuhan Leonie, permainan ramal-meramal, dan main mata sembunyi-sembunyi antara bujang-gadis dan lelaki-perempuan yang sudah berkeluarga. Namun, kemudian muncul banyak kejadian aneh di rumah Van Oudijck: genteng rumah dilempari batu, bunyi suara anak-anak di pohon-pohon di sekitar rumah dan juga dari dalam sumur pada malam-malam pekat. Leonie sendiri diganggu dengan cipratan air sirih yang tak tahu dari mana asalnya ketika ia berada di kamar mandi.

Antara percaya dan tidak pada budaya tahayul masyarakat pribumi, Van Oudijck dan Leonie mulai dihinggapi rasa takut. Van Oudijck juga sering menerima surat kaleng yang belakangan diketahui ternyata dikirimkan oleh salah seorang anaknya sendiri dari seorang babu yang dulu dihamilinya. Suami-istri itu mulai sering cekcok karena akhirnya Van Oudijck mengetahui perselingkuhan yang dilakukan Leonie.

Kehidupan komunitas kecil elit Belanda di Labuwangi akhirnya jadi kacau-balau oleh kekuatan yang tak tampak dari (d)alam tanah Jawa itu. Van Oudijck dan Leonie memutuskan untuk berpisah. Residen yang panik dan frustrasi itu memutuskan berhenti dari pekerjaannya, dan tiba-tiba ia menghilang dari Labuwangi. Leonie dan beberapa perempuan lain dari keluarga mantan staf Van Oudijck memutuskan kembali ke Eropa. Rumah Dinas Residen Labuwangi kini kosong, sepi dan suram. Van Oudijck menyingkir ke Garut. Di sana ia hidup dengan uang pensiunnya, ditemani oleh seorang wanita pribumi. Ancaman Ibunda sang Bupati kini menjadi kenyataan.

Dalam wacana kesusastraan Belanda Kekuatan Diam dikategorikan sebagai Indische letteren, yaitu korpus karya sastra karangan orang Belanda (totok dan Indo) yang teks-teksnya merepresentasikan budaya dan masyarakat Hindia Belanda. Dengan demikian, karya-karya Indische letteren merupakan refleksi sosiologis masyarakat Belanda terhadap budaya dan masyarakat tanah jajahan mereka, Hindia Belanda.

Dalam Kekuatan Diam Couperus membenturkan pikiran orang Eropa yang rasional dengan alam spiritual orang Timur yang mempercayai mistik, guna-guna, dan berbagai jenis kekuatan supranatural lainnya. Lewat tokoh-tokohnya yang terdiri dari orang Eropa totok, Indo, dan pribumi, Couperus menyoroti kebudayaan Jawa yang kaya dan misterius.

Jika Anda ke Belanda, kunjungilah Museum Louis Couperus yang beralamat di Javastraat 17, 2585 AB, Den Haag (lihat: http://www.couperusmuseum.org/). Mungkin bukan kebetulan museum itu terletak di Jalan Jawa di Den Haag. Paling tidak nama jalan itu mengingatkan orang pada Kekuatan Diam yang mengambil latar pulau Jawa, tempat Couperus mengabadikan secara literer sejarah panjang ketidakpahaman rasionalitas pikiran orang Eropa terhadap dimensi mistis alam dan budaya Nusantara. East is East, and West is West, and never the twain shall meet, kata Joseph Rudyard Kipling. Sememangnyalah Kekuatan Diam merefleksikan ungkapan terkenal dari sastrawan Inggris itu.

Suryadi, pengajar kajian Indonesia di Leiden University Institute for Area Studies (LIAS), Leiden, Belanda


TAGS  


Comment

Author

Recent Post

Recent Comments

Archive