Suryadi

Sastra Melayu dan Karakter Bangsa

11 Jan 2013 - 08:55 WIB

‘[L]iterature’ was an institutionalized body of texts that should be able to bring the people of the nation-in-becoming together [...] (Henk Maier 2002:69).

Sastra dan pembangunan bangsa (literature and nation-building) adalah wacana yang sudah lama menjadi topik diskusi dalam dunia akademik. Di negara-negara bekas jajahan Eropa di Asia, Afrika dan Amerika Latin, sastra sering dianggap telah ikut memberikan kontribusi penting dalam melahirkan nasionalisme kaum pribumi yang akhirnya berhasil menjungkalkan hegemoni penjajah berkulit putih di negeri mereka.

Umumnya para founding fathers negara-negara pasca kolonial di luar Eropa adalah intelektual-intelektual pribumi yang memperoleh semangat anti penjajahan melalui bacaan-bacaan sastra yang justru berasal dari khazanah sastra Eropa sendiri. Fenomena ini juga terlihat di negara-negara pasca kolonial di dunia Melayu.

Banyak intelektual pribumi penentang gigih penjajajahan bangsa-bangsa asing di negeri mereka adalah pelahap karya-karya sastra. Tak sedikit pula di antara mereka juga menulis karya-karya sastra, tempat mereka menanam dan menggelorakan semangat nasionalisme bangsanya guna membebaskan diri dari belenggu penjajahan. Contohnya, Angkatan 45 di Indonesia atau Angkatan Sasterawan ‘50 (Asas ‘50) di Semenanjung Malaya. Mereka telah memainkan perannya sebagai motor penggerak dalam menggelorakan semangat nasionalisme dan membangun rasa kebangsaan di dunia Melayu pada paroh pertama abad ke-20.

Banyak kajian ilmiah menunjukkan bahwa sastra sangat berperan penting dalam tahap awal pembentukan bangsa Indonesia (lihat: Foulcher 1993; Budianta 2007). Kadar politik dalam narasi teks-teks sastra Indonesia, sejak zaman Balai Pustaka sampai ‘Angkatan Reformasi’ sangat menonjol. Puisi-puisi Indonesia, misalnya, gegap gempita oleh ‘pamflet-pamflet’ politik ketimbang renungan-renungan yang individualistik yang membawa sastra sebagai sebuah dunia independen yang hanya mengangungkan kredo ’seni untuk seni’. Dewasa ini keberpihakan sastra pada rakyat di Indonesia diperlihatkan oleh kelompok sastrawan Ode Kampung yang digerakkan oleh Wowok Hesti Prabowo, Saut Situmorang, Koesprihyanto Namma, dll., dengan jurnal Boemipetra-nya melawan ‘Genk Goenawan Mohamad’ yang mereka anggap borjuis dan menjadi antek-antek imperialisme Barat dalam bidang budaya di Indonesia.

Dalam sejarah pembentukan negara-bangsa di dunia Melayu, sastra jelas sangat berperan penting dalam membangun narasi kebangsaan yang bersifat lintas etnis. Akan tetapi proses nation-building dalam wacana sastra tidak bersifat linear dan singular yang cenderung membawa masyarakat ke satu entitas politik yang bersifat tunggal dan seragam. Sebaliknya, ia menyediakan ruang untuk diskusi/dialog yang terus-menerus untuk memperkaya dan mematangkan imajinasi dan konsepsi tentang bangsa. Demikianlah cara sastra memainkan peran pentingnya dalam menciptakan rasa memiliki (sense of belonging) dalam tubuh bangsa-bangsa dalam rumpun Melayu, termasuk di Indonesia.

Dunia Melayu sudah memiliki tradisi sastra yang sudah semula jadi sebelum kedatangan orang Eropa di rantau ini, yang diwadahi oleh lingua franca bahasa Melayu dan aksara Jawi, dan didukung oleh scriptorium-scriptorium yang berbasis pada institusi-institusi agama dan istana-istana lokal. Hal itu berlangsung paling tidak sejak abad ke-16 sampai pertengahan abad ke-19. Demikian pula, repertoar-repertoar tradisi lisan menunjukkan hubungan yang erat antara berbagai wilayah di dunia Melayu, sebuah wacana perekat antar puak di rantau ini.

Migrasi puak-puak Melayu yang terjadi sejak masa lampau, sebelum para pejajah Eropa datang ke kawasan ini, telah melahirkan hubungan budaya yang erat antara satu daerah dengan daerah lainnya di rantau yang luas ini. Sekedar menyebut contoh, Negeri Sembilan di Malaysia sudah lama menjadi tanah perantauan awal orang Minangkabau (lihat: Newbold 1835; Idris 1968; Gullick 2003). Banyak puak lainnya juga telah berpindah-pindah ke sana ke mari di wilayah Melayu Nusantara yang luas ini sambil membawa budayanya sendiri dan mengadopsi budaya tempatan.

Semangat kemelayuan mendapat energi baru ketika sastra Melayu bersentuhan dengan teknologi percetakan. Sejak 1828 teknik cap batu (lithography) diperkenalkan di dunia Melayu oleh orang Eropa. Kaum pribumi mengadopsinya untuk mencetak buku-buku sendiri yang berbahasa Melayu dan beraksara Jawi. Mendekati akhir abad ke-19 teknik cap batu digantikan oleh teknologi percetakan modern. Penguasaan teknologi percetakan oleh orang Melayu telah melahirkan budaya membaca buku yang dapat menjangkau wilayah yang lebih luas. Efek percetakan ini telah melahirkan tradisi sastra Melayu awal yang belum disekat oleh batas-batas nasionalisme seperti sekarang.

Beberapa ahli telah membahas peran tradisi percetakan sebagai faktor pencetus gerakan nasionalisme dan kemunculan kesadaran diri di kalangan bangsa Melayu di mana genre sastra memainkan peran yang penting. Penguasaan tradisi percetakan oleh kaum pribumi telah melahirkan press pribumi yang menjadi ‘jembatan penghubung’ komunikasi antara berbagai puak di dunia Melayu, yang pada gilirannya memberi kesadaran kepada mereka akan adanya perbedaan dengan subjek penjajah (lihat Roff 1967; Anderson 1983; Adam 1995). Kapitalisme cetak telah memberi ruang untuk menciptakan perasaan partisipasi dan keanggotaan dalam sebuah komunitas yang melewati batas-batas etnis.

Jadi, industri percetakan pribumi telah mentransformasikan sistem sastra Melayu sedemikian rupa sehingga ia menjadi simbol yang lebih jelas untuk menunjukkan identitas kaum pribumi sendiri. Hal itu terjadi seiring dengan pengambilalihan fungsi scriptorium institusi-insitusi agama dan istana oleh industri percetakan pribumi tersebut. Dalam konteks ini, aksara Jawi sangat berperan penting untuk memberi penanda yang jelas dan karakter yang kuat bagi identitas kemelayuan yang terkait dengan agama Islam.

Tradisi sastra Melayu di era aksara Jawi (abad ke-16-19) telah menjadi salah satu unsur penting sebagai penanda bangsa Melayu. Teks-teks sastra Melayu pada zaman itu beredar dalam wilayah yang luas, melewati batas-batas administrasi kolonial yang diatur oleh penjajah Inggris dan Belanda. Teks-teks sastra Melayu itu memberikan gerakan resistensi terhadap batas-batas administrasi kolonial yang dibuat oleh para penjajah.

Usaha para kolonialis untuk menggusur aksara Jawi dengan menggantinya dengan aksara Latin merupakan suatu strategi budaya yang sistematis yang dilakukan oleh penjajah untuk mengubah karakter dan budaya masyarakat Melayu. Para penasihat budaya Pemerintah Kolonial yakin bahwa dengan menyingkirkan aksara Jawi dari masyarakat Nusantara, radikalisme Islam dapat diminimalisir dan perasaan kebersamaan antar puak di dunia Melayu dapat dibonsai. Seperti dapat kita saksikan kemudian, usaha itu tampaknya berhasil: sifat kemelayuan yang semesta dari sastra Melayu beraksara Jawi terkikis akibat invasi hebat aksara Latin di dunia Melayu.

Kini dunia sastra di dunia Melayu Nusantara terkooptasi oleh nation-states pascakolonial yang makin terbelenggu oleh imperialisme modern. Justru karena itu, ketika negara-bangsa-negara-bangsa pascakolonial tersebut saling cekcok secara politik yang cenderung merusak rasa kebersamaan di antara puak-puak Melayu, kita memerlukan wacana sastra yang reformis untuk merevitalisasi rasa kebersamaan kemelayuan yang kelihatan makin aus oleh politik nation-states yang arogan itu. Ketika politik di negara-negara di dunia Melayu Nusantara menjadi dekaden karena ditunggangi oleh kekuatan-kekuatan neokolonialisme, yang makin menyengsarakan rakyat banyak, kita masih berharap wacana sastra masih mampu memainkan perannya melawan kekuatan yang merusak itu, sebagaimana dulu telah diperankannya di zaman kolonial.

Suryadi

Leiden University Institute for Area Studies (LIAS), Leiden, Belanda

* Ekstrak makalah Seminar Internasional dan Festival Seni Melayu Asia Tenggara Rediscovering the Treasures of Malay Culture’, Institut Seni Indonesia Padangpanjang, 25-29 November 2012.

** Artikel ini diterbitkan di harian Riau Pos, Kamis, 10 Januari 2013


TAGS  


Comment

Author

Recent Post

Recent Comments

Archive