Suryadi

REKONSTRUKSI MIGRASI ORANG MENTAWAI LEWAT TRADISI LISAN

1 Apr 2013 - 06:30 WIB

36bb7ad0d1424efb168a4fd5360f4ec9_rekonstruksi-migrasi-orang-mentawai-lewat-tradisi-lisanJudul buku : Familiy Stories: Oral Tradition, Memories of the Past, and Contemporary Conflicts over Land in Mentawai - Indonesia

Penulis : Juniator Tulius

Penerbit : [Disertasi, Leiden University, Belanda]

Cetakan : 1, Desember 2012

Tebal : 313 halaman

ISBN : 978-94-6203-160-9

Peresensi : Suryadi [Leiden University Institute for Area Studies, Leiden, Belanda]

Buku ini adalah disertasi Juniator Tulius, putra Mentawai kelahiran Muara Siberut (1975), yang dipertahankan di Universitas Leiden pada 11 Desember 2012. Komisi promosi terdiri atas Prof. Dr. B. Arps dan Prof. Dr. G.A. Persoon (promotor) dan Prof. Dr. J.J. Fox (ANU Canberra), Prof. Dr. D.E.F. Henley dan Prof. Dr. Patricia Spyer (Leiden University) sebagai anggota lainnya (overige leden).

Seperti terefleksi dari judulnya, buku ini membahas cerita-cerita keluarga milik kelompok-kelompok kekerabatan (kin groups) yang hidup di Kepulauan Mentawai. Cerita-cerita keluarga itu bersifat lisan dan diwariskan secara turun-temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Buku ini terdiri atas tiga bagian yang mencakup 9 bab di luar pendahuluan (Bab 1) dan kesimpulan (Bab 11). Dalam Bab 1 penulis mengajukan pertanyaan utama: ‘Bagaimana dan dalam hal apa cerita-cerita keluarga dipergunakan oleh kelompok-kelompok kekerabatan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari’. Tujuan yang lebih khusus dari penelitian ini adalah ‘[u]ntuk mengkaji tentang asal usul, gagasan tentang kedirian (jati diri), dan perdebatan yang terjadi antara kelompok-kelompok kekerabatan yang menyangkut kepemilikan tanah ulayat dan tanah leluhur di Mentawai’. (h.20). Selanjutnya penulis memaparkan perspektif teoretis dan kerja penelusuran kepustakaan dan penelitian lapangan untuk menyusun buku ini. Penulis juga mendiskusikan tempat cerita-cerita keluarga tersebut dalam perspektif studi oral tradition. Menurutnya, cerita keluarga yang ada di Mentawai berbeda dengan cerita-cerita lisan (oral narratives) yang ditemukan dalam banyak kajian terdahulu mengenai tradisi lisan. Perbedaannya yang utama adalah: cerita keluarga hidup dalam dan dianggap milik satu kelompok kekerabatan tertentu, sementara cerita-cerita lisan itu dianggap milik satu kelompok masyarakat, jadi lebih luas dari kelompok kekerabatan (h.21). Oleh sebab itu, baik fungsi, isi (dan variasi yang mungkin terjadi sebagai ciri kelisanannya), maupun model pertunjukan, penampil, dan khalayaknya juga punya ciri khas tersendiri (h.24-30).

Bagian Pertama (Bab 2-4) mendeskripsikan aspek geografis, konteks sosial budaya dan ekonomi, sistem kekerabatan, dan sistem kepemilikan tanah dalam masyarakat adat di Kepulauan Mentawai. Selanjutnya, dalam Bab 4 penulis memetakan kajian-kajian terdahulu tentang penduduk asli Kepulauan Mentawai dan tradisi lisannya, yang rupanya sudah ada sejak awal abad ke-19, sejak dari J.B. Neumann (1842) sampai Reimar Schefold (1960-an-1990-an).

Bagian Kedua (Bab 5-7) membahas 3 cerita keluarga yang dijadikan sebagai bahan bahasan utama dalam buku ini, yaitu: cerita tentang sengketa buah mangga (sipeu) (Bab 5), kisah tentang babi peliharaan (sakkoko) (Bab 6), dan cerita tentang kegagalan seorang ayah menangkap babi hutan untuk anaknya (siberi) (Bab 7). Ketiga cerita itu hidup dalam kelompok-kelompok kekerabatan yang nenek moyang mereka semula berasal dari kawasan lembah Simatalu di Pulau Siberut.

Dalam Bagian Ketiga (Bab 8-10) penulis menganalisa makna sosio-kultural dan memberi interpretasi terhadap ketiga cerita tersebut. Bab 8 menguraikan karakteristik cerita sipeu, sakkoko, dan siberi dan mengidentifikasi tema-tema utama dalam ketiga cerita tersebut. Penulis menyimpulkan bahwa cerita-cerita keluarga itu dapat dianggap sebagai catatan sejarah (historical accounts) mengenai kejadian-kejadian di masa lampau yang telah menyebabkan terjadinya percabangan dalam satu kerabat moyang orang Mentawai pada masa dulunya. Dalam penelitian lapangan yang dilakukan tahun 2002-2006, penulis merekam ketiga cerita ini dari kelompok-kelompok kekerabatan yang berbeda di Kepulauan Mentawai.

Berdasarkan rekaman-rekaman cerita sipeu, sakkoko, dan siberi, Juniator kemudian merekonstruksi arah dan jalur migrasi dan penyebaran (expansion) kelompok kekerabatan asal yang dianggap sebagai moyang kelompok-kelompok kekerabatan yang ada di Mentawai sekarang. Rekonstruksi ini, yang disertai dengan peta, dideskripsikan secara rinci dalam Bab 9. Dari rekonstruksi itu dapat dikesan bahwa wilayah lembah Simatalu di Siberut merupakan titik pusat berangkat moyang dari banyak kelompok kekerabatan yang hidup di Mentawai sekarang. Dari sanalah, melalui jalur sungai dan pantai, pecahan-pecahan kerabat moyang mereka menyebar ke berbagai tempat lainnya di Pulau Siberut sebelum sebagian dari mereka akhirnya melanjutkan migrasi ke Pulau Sipora. Namun, dalam perjalanan sejarah beberapa kelompok kekerabatan balik berimigrasi ke Siberut.

Lembah Simatalu terletak di pantai Siberut yang mengarah ke Samudera Indonesia, bukan di kawasan pantai yang berhadapan dengan Pulau Sumatera. Artinya, kecil kemungkinan bahwa asal muasal nenek moyang orang Mentawai datang dari daratan Sumatera. Namun demikian, dari mana sebenarnya nenek moyang orang Mentawai berasal, belum ada studi yang berhasil menjelaskan secara memuaskan. Rekonstruksi Juniator menunjukkan pula bahwa tidak tampak adanya migrasi kelompok-kelompok kekerabatan yang semula berasal dari Pulau Siberut ke Pulau Pagai Utara dan Pagai Selatan yang sekarang termasuk ke dalam gugusan Kepulauan Mentawai. Dengan demikian, apakah itu berarti bahwa moyang penduduk asli kedua pulau itu berasal dari kelompok kekerabatan lain yang datang dari tempat lain? Untuk menjawab pertanyaan ini, mungkin perlu dilakukan kajian lanjutan dengan memfokuskan perhatian pada cerita-cerita keluarga yang hidup dalam kelompok-kelompok kekerabatan yang ada di Pulau Pagai Utara dan Pagai Selatan.

Bab 10 mendeskripsikan konflik-konflik yang menyangkut klaim kepemilikan tanah ulayat di antara penduduk asli Mentawai di Pulau Siberut sekarang dan peran cerita-cerita keluarga sebagai pemicu maupun penyelesai konflik-konflik tersebut. Cerita keluarga seperti sipeu, sakkoko, dan siberi digunakan oleh kelompok-kelompok kekerabatan yang berkonflik untuk memperkuat klaim mereka atas tanah yang dipersengketakan, walau cerita-cerita seperti itu tidak memberi informasi yang rinci dan solusi yang jelas untuk menyelesaikan konflik-konflik seperti itu (h.271).

Dalam Bab 11 Juniator menyimpulkan bahwa cerita-cerita keluarga yang hidup dalam tradisi lisan Mentawai penting secara keilmuan dalam kaitannya dengan 3 hal: 1) usaha merekonstruksi arah dan sejarah migrasi kerabat moyang dari kelompok-kelompok kekerabatan yang ada di Mentawai sekarang; 2) peran cerita-cerita keluarga sebagai penyebab timbulnya konflik-konflik lahan sekaligus sebagai ‘referensi’ dalam mencari penyelesaian atas konflik-konflik itu; 3) fungsinya sebagai ‘bank data’ bagi masyarakat Mentawai yang kebanyakan masih nir aksara, yang mengingatkan kita pada ungkapan yang terkenal dalam kajian tradisi lisan bahwa teks-teks lisan merupakan sarana tempat segala pengetahuan suatu kelompok masyarakat nir aksara disimpan, diawetkan, dan ditransfer dari generasi ke generasi. Seorang tukang cerita pada hakekatnya adalah sebuah ‘perpustakaan’ dalam masyarakat nir kasara. Juniator, melalui penelitian lapangan dalam komunitas-komunitas etnisnya sendiri, telah berhasil ‘menfotokopi’ isi ‘perpustakaan-perpustakaan’ itu sebelum ‘perpustakaan-perpustakaan’ itu terlanjur terbakar (baca: sebelum para tukang cerita itu meninggal).

Kiranya akan lebih baik jika penulis menerjemahkan sendiri bukunya ini ke dalam Bahasa Indonesia, sehingga masyarakat umum dan komunitas akademik di Tanah Air mempunyai peluang yang lebih luas untuk mengaksesnya. Dengan demikian, bertambah pula pengetahuan masyarakat kita tentang aspek sosial budaya dan sejarah saudara sebangsa mereka yang hidup di Mentawai.

* Resensi ini diterbitkan di harian Singgalang, Minggu, 31 Maret 2013


TAGS  


Author

Recent Post

Recent Comments

Archive