Suryadi

PANTUN MINANG: “BIOGRAFI HEROIK” LELAKI MINANGKABAU

2 Jun 2013 - 05:30 WIB

Bagian terakhir dari dua tulisan

Urang Padang mandi ka pulau,

Putuih sianik paulehkan,

Anak dagang sakik di rantau,

Hujan di langik mamandikan.

Dalam bagian pertama tulisan ini (Padang Ekspres, 26-5-2013) telah digambarkan bagaimana bait-bait pantun Minang merepresentasikan keberangkatan calon perantau dari Ranah Bundo-nya dan suka-duka yang mereka hadapi dalam perjalanan menuju rantau. Pada bagian kedua ini akan dibicarakan pantun-pantun yang merefleksikan keadaan mereka di perantauan dan panggilan untuk menjenguk kampung halaman.

Banyak bait pantun Minangkabau merekam perasaan si perantau di rantau. Suka-duka hidup di rantau, yang tidak selalu berhasil menghatarkan mimpi-mimpi di perantau, bercampur baur dengan kenangan kepada kampung halaman.

Riak kehidupan di perantauan

Rantau digambarkan sebagai tempat yang sulit dan oleh karena itu perlu perjuangan dan keuletan untuk menaklukkannya. Kesuksesan hanya dapat diraih jika petuah ibu (mandeh) didengarkan, dan jika selama berada di rantau sifat rendah hati dan kerja keras dipakaikan. Namun, seiring dengan itu, suara-suara kerinduan kepada kampung halaman tempat ibu dan kekasih/ istri/tunangan ditinggalkan muncul dominan pantun. Banyak bait menggambarkan perasaan nelangsa hati si perantau dan sepinya hidup mereka karena ketiadaan famili di rantau orang. Sakit-senang dirasakan sendiri, tak ada orang yang membantu. Dalam keadaan seperti itu, suara rindu kepada ibu kerap muncul.

Simak umpamanya bait-bait berikut ini: Tabang anggang di tapi danau / Inggok di rantiang dulang-dulang / Anak dagang sakik di rantau / Baritonyo sajo sampai pulang; Pincalang karam tantang pulau / Udang tajamua ateh batu /Anak dagang sakik di rantau / Urang manjanguak hinggo pintu’.

Dalam bai-bait lain dikatakan: Hujanlah hari di Sipinang / Tampieh di kampung tabu / Manangih di rantau urang / Takana ranah kampuang ibu; Puyuah disangko unggeh pikau / Baranang-ranang di tapian / Mangaluah dagang di rantau / Takana padang pamainan; Barambuih angin di Kurinci / Asam pauh dari subarang / Awan bararak ditangisi / Badan jauah di rantau urang; Usah dirantak bungo tanjuang / Jatuah badarai bungo lado / Usah dikana mandeh kanduang / Jatuah badarai aia mato’.

Peluang untuk sukses dan gagal di rantau sama besarnya. Bagi yang tidak sukses, makin jauh rasanya kampung, seperti terefleksi dalam bait-bait berikut: Kambang bapucuak pudiang geni / Kambang di puncak Gunung Ledang / Jangan diarok badan kami / Kami jauah di rantau urang; Kok didulang pandan bak kini / Kalikih babuah tido / Kok pulang badan bak kini / Bapitih sarimih tido; Urang manumbuak jolong gadang / Ayam nan makan jolong turun / Manangih di rantau urang / Ka pulang baameh balun’.

Kekhawatiran, kerinduan, dan harapan orang kampung kepada perantau, terutama yang diwakili oleh kaum wanita, juga direfleksikan dalam banyak bait, misalnya: Ngilu gigi mamakan jambu / Dimakan duku ngilu pulo / Ingin hati andak batamu / Musim pabilo ka basuo; Tuan Katik manjalo udang / Dimalah biduak di latakan? / Sakik Ajo di rantau urang / Siapo manduduak managakan?; Kampia diganggam Ganto Sori / Barisi samuik salimbado / Kok ampia buliah lakeh dicari / Iko jauah antah dimano’.

Dalam bait Bungo cimpago satu halai / Tumbuah di kubua Tuan Haji / Aia mato salamo carai / Kok sumua elok tampaik mandi’ yang memakai gaya hiperbola dapat dikesan kesedihan hati yang begitu mendalam dari si dia yang ditinggalkan.

Menjelang kampung

Dari pembacaan saya terhadap ratusan bait pantun yang terdapat dalam naskah-naskah schoolchriften Minangkabau koleksi Perpustakaan Universitas Leiden itu, tidak banyak bait yang menggambarkan kepulangan perantau Minangkabau ke kampung halaman. Seringkali kepulangan itu hanya sesuatu yang dijanjikan (sering dipakai kata kok’, ‘jika’), misalnya dalam bait ini: ‘Lah masak buah kayu tulang / Makanan anak barau-barau / Kok untuang kumbali pulang / Tidak untuang mati di rantau’.

Antusiasme kepulangan si perantau ke kampung halaman sangat ditentukan oleh keberhasilan mereka di rantau. Apabila mereka berhasil, maka dorongan untuk pulang sangat besar karena mereka ingin memperlihatkan keberhasilan itu kepada sanak famili dan orang kampung mereka. Faktor ekonomi inilah yang antara lain mencirikan dua tipe merantau orang Minangkabau: merantau pipit’ dan merantau Cina’.

Namun demikian, dalam beberapa bait terkesan adanya rasa optimis: kampung halaman yang dirindukan akan dijelang; orang-orang tersayang yang ditinggalkan akan dikunjungi, misalnya dalam bait-bait ini: Ka dulang padi anyo lai / Dibao urang Tujuah Koto / Ka pulang kami anyo lai / Mananti bulan di muko; Apo takilek di subarang / Rajo Amaik bapacu kudo /Bulan Puaso kami pulang /Adiak balimau kami tibo’.

Seperti telah dibahas dalam banyak publikasi ilmiah, sifat penting dari tradisi merantau etnis Minangkabau adalah keterkaitan emosi yang tinggi dengan kampung halaman mereka. Saya melihat hal ini terkait dengan faktor-faktor sosial budaya yang mendorong orang Minang merantau, yang kemudian juga mendorong mereka untuk memperlihatkan hasil perantauan mereka kepada orang kampung. Jika seorang Minang ‘dipaksa’ pergi merantau karena di rumah dianggap belum berguna (secara ekonomi), maka ketika ia berhasil di rantau, ia akan pulang (secara periodik) ke kampungnya untuk memperlihatkan keberhasilannya, guna menunjukkan bahwa kini ia sudah berguna (sudah menghasilkan kapital). Mungkin hal inilah yang menghadirkan unsur ‘heroik’ dalam sifat perantauan orang Minang, sebagaimana direpresentasikan dalam khazanah pantun mereka. Oleh sebab itu, logis jika mereka yang tidak berhasil di rantau malu untuk pulang ke kampung, karena perantauannya yang gagal itu tidak menimbulkan perubahan pada status dirinya (secara ekonomi).

Epilog

Pantun Minangkabau adalah salah satu dokumen sosial dan sejarah tempat kita dapat ‘membaca’ secara historis apa arti merantau bagi lelaki Minangkabau dan bagaimana budaya merantau itu mempengaruhi hidup mereka. Pantun-pantun tersebut dapat dianggap sebagai rekaman sahih yang mencatat perasaan kaum lelaki Minangkabau terhadap aktivitas merantau yang mereka lakoni. Melalui bait-bait pantun Minang kita dapat ‘membaca’ faktor-faktor yang menonjol yang melatarbelakangi dan mendorong lelaki Minang marantau, yaitu soal ekonomi dan harga diri. Walaupun tradisi marantau orang Minangkabau cenderung derubah mengikuti perjalanan zaman, hal-hal yang bersifat emosional kolektif mengenainya mungkin tak banyak berubah.

Di dalam pantun-pantun Minangkabau yang sudah dibahas terekam pula perasaan dikotomis dalam diri perantau: antara dorongan untuk meninggalkan kampung karena faktor ekonomi dan harga diri dengan kerinduan kepada kampung halaman sendiri apabila mereka sudah berada jauh di rantau. Keterkaitan yang kuat antara perantau dengan figur wanita (ibu, kekasih/tunangan/istri) yang ditinggalkan di kampung dalam banyak bait pantun tersebut sepertinya mengilatkan pentingnya peran wanita dalam sistem matrilineal Minangkabau. Sebaliknya, unsur ayah dan mamak tak begitu menonjol kelihatan.

Membaca pantun-pantun Minang klasik adalah membaca perjalanan hidup lelaki Minangkabau yang berada dalam tarik-menarik antara rantau dan kampung, antara ibu dan istri/kekasih/tunangan. Kiranya R.J. Chadwick benar: bahwa bait-bait pantun-pantun Minangkabau adalah heroic biography kaum lelaki Minangkabau.

Suryadi, Leiden University Institute for Area Studies, Belanda

* Esai ini dimuat di harian Padang Ekspres, Minggu, 2 Juni 2013


TAGS  


Comment

Author

Recent Post

Recent Comments

Archive