Suryadi

MENAPAKTILASI PERJALANAN SEJARAH PERS [ISLAM] MINANGKABAU

10 Jun 2013 - 06:00 WIB

741afe0fdc6202a8122cc77f1da4d466_suryadi-review-buku-yuliandre-darwis-menapaktilasi-perjalanan-sejarah-pers-islam-minangkabauJudul buku : A History of Minangkabau Press (1859 1945)

Penulis : Yuliandre Darwis

Penerbit : Saarbrucken, Germany: Lambert Academic Publishing

ISBN : 978-3-65934215-8

Cetakan : 1, 2013

Tebal : vii + 413 halaman [appendices; notes]

Peresensi : Suryadi

Berbicara tentang sejarah persuratkabaran di Indonesia, tentunya kita tidak bisa mengabaikan Sumatra Barat. Sejarah sudah mencatat bahwa pada tahun 1850-an kota Padang, bandar yang terpenting di Sumatra selama abad ke-19, telah memiliki surat kabar. Padang adalah kota utama di luar Jawa yang lebih awal menghadirkan tradisi persuratkabaran. (Koran pertama di Hindia Belanda adalah Bataviaasche Nouvelles yang terbit di Batavia tahun 1744).

Seperti dicatat oleh Gerard Termorshuizen dalam bukunya Journalisten en heethoofden: een geschiedenis van de Indisch-Nederlandse dagbladpers, 1744-1905 (2001), bisnis persuratkabaran di Padang dimulai dengan terbitnya beberapa surat kabar berbahasa Belanda. Pionirnya adalah Sumatra Courant yang terbit di Padang tahun 1859 yang dipimpin oleh L.N.H.A. Chatelin. Lima tahun kemudian (1864) surat kabar berbahasa Melayu yang pertama diterbitkan di Padang, yaitu Bintang Timor. Pers berbahasa Melayu di Padang mulanya dirintis oleh beberapa orang Indo (yang terkenal di antaranya adalah Arnold Snackey), kemudian diikuti oleh orang Cina dan pribumi Minangkabau sendiri. Banyak di antara mereka yang juga berkerjasama dengan orang Eropa.

Seperti terefleksi dari judulnya, buku ini membahas sejarah pers Minangkabau. Buku ini aslinya adalah disertasi Yuliandre Darwis (dosen Universitas Andalas) yang dipertahankannya di Universiti Teknologi Mara, Malaysia, tahun 2011.

The History of Minangkabau Press terdiri dari 5 bab, di luar Introduction yang memaparkan persoalan kunci, signifikansi, ruang lingkup, dan metodologi yang digunakan dalam menyusunan buku ini.

Bab 1 mendeskripsikan sejarah dan budaya Minangkabau untuk memberikan konteks studi ini. Selanjutnya dalam Bab 2 penulis mendeskripsikan sejarah pergerakan Islam di Minangkabau. Yuliandre berargumen bahwa Islam movement di Minangkabau, sebagai efek dari Gerakan Paderi yang terjadi pada paroh pertama abad ke-19, merupakan salah satu faktor yang menggerakkan pers pribumi (vernacular press) di Minangkabau. Bab 3 membahas sejarah perkembangan pers di Minangkabau, sejak kehadiran surat kabar berbahasa Belanda di tahun 1850-an sampai 1945, ketika Indonesia memperoleh kemerdekaannya.

Bab 4 berfokus pada pers Islam di Minangkabau. Yuliandre membicarakan kekhasan pers Islam ini dan tokoh-tokoh pelopornya, seperti Hamka, Abdullah Ahmad, Zainuddin Labay El-Yunusi, dll. Bab ini juga membahas institusi sosial dan pendidikan yang didirikan oleh para pelopor pers Islam, seperti Adabiyah School, Sumatra Thawalib dan Al-Madrasah Al-Diniyah. Masih dalam bab ini, penulis juga membahas perdebatan-perdebatan dalam pers Islam itu, khususnya antara Soeloeh Melajoe dengan Al-Munir dan Al-Akhbar. Pembahasan dalam bab ini diakhiri dengan analisa wacana dalam Soeloeh Melajoe. Bab 5 merupakan kesimpulan dari seluruh pembicaraan dalam bab-bab sebelumnya.

Buku ini dilengkapi dengan dua lampiran sepanjang 106 halaman (hlm. 283-389) yang memuat foto-foto (dengan kualitas yang kurang bagus) beberapa edisi Soloeh Melajoe dan daftar nama 209 harian dan berkala yang terbit di Padang antara 1900-1942, yang hampir sepenuhnya dirujuk dari buku Ahmat Adam, Suara Minangkabau: Sejarah dan Bibliografi Akhbar dan Majalah di Sumatra Barat (Kuala Lumpur: Universiti Malaya, 2012 [menurut penulis di hlm. 293, buku ini terbit tahun 1995]). Deskripsi itu meliputi: nama penerbit dan pencetak, direktur, (chief) editor dan administrator, bahasa yang dipakai, tipe (aliran/misi/motto), harga, dan tempat penyimpanannya (storage) sekarang.

Harus saya akui dan kritik yang agak kritis seperti ini tak pernah saya lontarkan dalam meresensi puluhan buku sebelum ini bahwa buku ini memiliki banyak kelemahan. Mungkin harus saya mulai dulu dengan catatan terhadap penerbit(an)nya. Lambert Academic Publishing ternyata tidak melakukan pengeditan apa pun terhadap naskah buku ini sebelum diterbitkan. Banyak kesalahan dalam penulisan istilah (Inggris maupun Indonesia) dan ketidakcermatan dalam perujukan dan penulisan bibliografi. Bahkan untuk layout saja tampaknya penerbit ini banyak melakukan kesembronoan, sehingga dalam halaman Table of Contents saja sudah terlihat ketidakrapian di sana-sini. Menurut dugaan saya, baik penulis maupun penerbit tidak berkomunikasi dengan baik sebelumnya dalam rangka mempersiapkan naskah buku ini yang lebih rancak, rapi dan berkualitas.

Namun, hal yang lebih mendasar lagi adalah tentang isi buku ini sendiri. Tampaknya ruang lingkup buku ini terlalu lebar, sehingga akibatnya ia kehilangan fokus. Mungkin akan lebih baik jika seandainya penulis memokuskan perhatian pada pers Islam Minangkabau saja. Tujuan buku ini tampaknya memang begitu, sebagaimana dijelaskan dalam Significance of Study (hlm. 4), tapi objective itu diterjemahkan secara kurang konsisten dan terfokus dalam bab-bab selanjutnya.

Akibatnya, buku ini kurang berhasil menyajikan identifikasi yang menyeluruh mengenai eksistensi pers Islam di Minangkabau sampai tahun 1945. Konsep pers Islam itu sendiri tidak dibahas secara lebih mendalam. Jelas bahasa Arab atau Arab-Melayu (Jawi) tidak bisa dijadikan kriteria tunggal untuk menentukan apakah sebuah harian atau berkala termasuk pers Islam atau tidak. Dalam banyak pers Islam pun sering dibahas hal-hal yang bersifat sekuler. Istilah ‘Minangkabau press’ juga masih problematis karena rupanya di sini label etnisitas digunakan untuk merujuk aktivitas bisnis media cetak yang sebenarnya melibatkan entrepreneurs lintas etnis (orang Minang, Cina, Batak [seperti Dja Endar Moeda], Indo [seperti Arnold Snackey], dan orang Eropa).

Pembahasan mengenai tokoh-tokoh pelopor pers Islam (Bab 4) yang didahului oleh gambaran konteks sejarahnya (Bab 2) tidak dilengkapi dengan penelusuran ekstensif tentang harian-harian atau berkala-berkala Islam yang terbit di Minangkabau sepanjang dekade-dekade terakhir abad ke-19 sampai pertengahan pertama abad ke-20, yang tidak hanya yang ditemukan di kota-kota seperti Padang, Bukittinggi dan Padang Panjang, tapi juga di nagari-nagari seperti Maninjau, Matur, dll. Penulis juga tidak membahas lebih dalam berbagai penerbit dan percetakan yang mendukung pers Islam itu, seperti Zamzam, Tjerdas, Tsamaratoel Ichwan, Kahamij, Drukkerij Tandikat dan Poestaka Sa’adijah di Fort de Kock (Bukittinggi) dan Padang Panjang - untuk sekedar menyebut contoh. Tentu banyak hal yang bisa dibicarakan seputar penerbit/percetakan tersebut, baik saja dari segi personil yang terlibat, tapi juga dari segi pembiayaannya dan sistem pendistribusian produk-produknya, sebagaimana telah dibahas sedikit oleh Sudamoko dalam artikelnya, “Revisiting A Private Publishing House in the Indonesian Colonial Period: Penjiaran Ilmoe”, Indonesia and The Malay World 38(111), 2010: 181-216 mengenai penerbit Penjiaran Ilmoe di Bukittinggi.

Barangkali tidak maksimalnya capaian buku ini juga disebabkan oleh keterbatasan penulis dalam mengakses sumber-sumber primer (bronnen), sebagaimana dapat dikesan dari References buku ini, terutama sumber-sumber primer yang tersimpan di luar negeri seperti di Leiden, Berkeley, dll.. Walau bagaimanapun, bagian akhir dari Bab 4 buku ini memberi pengetahuan tambahan kepada pembaca mengenai profil dan wacana-wacana keagamaan yang dominan yang pernah muncul dalam Soeloeh Melajoe serta ciri-ciri kebahasaan berkala ini. Kiranya bab ini cukup untuk sedikit membedakan buku ini dengan kajian-kajian terdahulu mengenai sejarah pers di Minangkabau.

Lepas dari berbagai kekurangan di sana sini, sebuah buku tetap memberi manfaat kepada pembacanya. Hal itu jelas berlaku pula untuk A History of Minangkabau Press. Paling tidak buku ini telah berhasil mengungkapkan beberapa aspek seputar pers Islam di Minangkabau sebelum zaman kemerdekaan. Penelitian tentang topik ini tentu dapat dilanjutkan oleh orang lain, atau diperdalam oleh Yuliandre sendiri untuk proyek post doktoral-nya.

Suryadi, Leiden University Institute for Area Studies (LIAS), Leiden, Belanda | Resensi ini diterbitkan di harian Padang Ekspres, Minggu, 9 Juni 2013


TAGS  


Author

Recent Post

Recent Comments

Archive