Suryadi

PENGINJILAN

15 Jun 2013 - 08:59 WIB

Orang zaman saisuak menyebutnya misi zending. Dulu di zaman kolonial pusatnya ada beberapa negara Eropa, seperti Nederlands Bijbelgenootschaap dari Belanda atau Rhenis Missionary Society dari Jerman. Masyarakat Melayu lebih sering menyebutnya misi peginjilan. Ada juga yang menyebutnya misi misionaris. Mereka sudah bertapak di Singapura sejak pertengahan abad ke-19.

Di zaman lampau sekali, ketika bangsa kita masih banyak yang telanjang dan suka mengoleksi tengkorak manusia, misi pengingjilan telah menunjukkan manfaatnya. Banyak kelompok etnis di Indonesia yang sudah dimerdekakan dari kepercayaan paganisme oleh para penginjil yang kegigihannya memang membuat kita salut. Mereka berani tinggal di pedalaman di antara orang-orang yang masih ‘liar’. Kita tidak usah menengok jauh-jauh: orang Batak yang masih mempercayai paganisme di abad ke-19 menjadi tercerahkan berkat misi penginjilan yang dilakukan oleh Ingwer Ludwig Nommensen (1834-1918). Demikian pula halnya zending yang pertama kalinya masuk ke Kepulauan Mentawai di tahun 1901 yang dibawa oleh Pendeta Let, telah berhasil pula memperkenalkan tradisi keberaksaraan kepada orang Mentawai.

Di bagian timur Nusantara seperti Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara, dan Papua, misi-misi penginjilan juga telah berhasil membebaskan banyak kelompok etnis dari keterbelakangan. Para penginjil telah menerjamahkan Bijbel ke dalam berbagai bahasa daerah: Melayu, Sunda, Jawa, dan lain sebagainya. Mereka juga telah berhasil membukukan berbagai aspek bahasa dan budaya masyarakat lokal tempat mereka diutus.

Jadi, kita patut juga berterima kasih kepada para penginjil itu. Mereka telah melekatkan agama (Kristen) ke dalam hati saudara-saudara kita yang pada waktu itu masih menyembah gunung dan gua-gua.

Tapi itu cerita dulu. Sekarang apakah misi penginjilan itu masih relevan? Apa sebenarnya tujuan misi penginjilan itu didesakkan ke tengah-tengah umat lain yang sudah memeluk agama tertentu? Apakah dalam Bijbel ada suruhan Tuhan Yesus agar semua manusia di dunia ini memeluk satu agama saja: Kristen? Saya khawatir manusia modern telah merusakkan agamanya sendiri dengan tindakan-tindakannya yang penuh nafsu dengan mengatasnamakan Tuhan.

Misi-misi penginjilan di zaman modern ini, yang mendesakkan agama Kristen ke dalam masyarakat yang sudah memeluk agama lain, pada hakekatnya lebih merupakan refleksi kerakusan para pemuja duniawi ketimbang suruhan dari Tuhan. Sebab Tuhan cinta damai, dan penetrasi misi-misi penginjilan ke dalam masyarakat modern sekarang yang sudah memeluk agama tertentu hanya akan menimbulkan kekisruhan dan kekacauan ketimbang kedamaian. Indonesia, sampai batas tertentu, juga menderita karenanya.

Banyak misi penginjilan dikoordinir dari Eropa dan Amerika, tempat agama Kristen sudah lama diletakkan di bawah ‘kolong rumah’ oleh orang kulit putih, terutama generasi mudanya. Dewasa ini kebanyakan orang Eropa ateis. Mengapa kiranya bukan mereka yang sudah ‘membunuh’ Tuhan dalam hatinya itu yang menjadi target misi-misi penginjilan? Mengapa orang-orang di dunia timur yang sudah memeluk agama tertentu dan tak kalah tinggi peradabannya dari orang Eropa yang selalu direcoki oleh misi-misi penginjilan?

Di tahun 1930, seorang anak muda Minangkabau (dan sangat mungkin dia seorang Muslim walau sa-parewa apapun dia) menuliskan refleksinya mengenai misi penginjilan itu. Waktu itu dia sedang berada di geladak sebuah kapal api di Venezia dalam perjalanan pulang ke Indonesia dari lawatannya beberapa bulan di Eropa, jantung agama Roman Katolik. Di kapal itu ia melihat sekelompok pastor dan biarawati yang ditugaskan ke Asia untuk misi penginjilan.

“Didadanja tergantoeng silang perak jang sedjangka pandjangnja, dihijasi oleh patoeng Kristoes jang ketjil”, tulisnya. Mereka itoe pergi ke Tiongkok, moela-moela kabarnja ke Shanghai dan dari sana dibagi-bagi ke lain-lain tempat oentoek mengembangkan agama Kristen special Roomsch Katholiek”.

“Saja bertanja dalam hati saja”, kata anak muda Minang itu lagi, apa orang Tionghoa mintak mereka itoe datang ketanahnja dan inginkan sangat agama Roomsch Katholik? Saja tahoe mereka itoe pergi karena soeroehan Missie sadja jang merasa kewadjiban mengeristenkan seloeroeh doenia.

Adakah Europa berhak (dalam hal ini agama Roomsch Katholik) jang berpoesat di Rome mengatakan bahwa agamanja itoe lebih baik dari pada pengadjaran pengadjaran Kong Foe Tse atau Boedha jang dipertjajai orang Tionghoa semendjak berabad abad lamanja?

Kalau dibandingkan kultuur Europa, njata sekali bahwa kultuur Tiongkok lebih toea dan tidak alah oleh kultuur Europa. Achli achli Europapoen telah membenarkan hal itoe.

Dalam zaman sekarang ini dimana Tiongkok memadjoekan kenasionalannja orang Tionghoa maoe mengatoer penghidoepannja sendiri sebagaimana tersoerat dalam kitab-kitab jang tertoelis dalam zaman poerbakala sebeloem ada bijbel. Dan kedapatan bahwa isi kitab-kitab itoe masih modern sampai sekarang ini.

Saja tahoe orang Tionghoa tidak dipaksa akan menoeroet agama Kristen. Meskipoen demikian tidak ada saja lihat satoe djalan jang terang mengapa non-non dan pastor itoe dikirim kenegeri-negeri jang tidak memintanja datang.

Apa jang soedah saja persaksikan di Europa dalam perlawatan saja kesana sini? Ada boekti-boekti jang menoendjoekkan kepada saja bahwa dalam hal boedi, dalam hal moral orang Eropah boleh beladjar ke Asia. Menahan hawa nafsoe jang berlebih-lebih, orang Eropa oemoemnja tidak tahoe, karena bathinnja soedah hilang lenjap. Keadaan Eropa pada zaman sekarang perloe dapat reform jang dalam, dan berhoeboeng dengan hal itoe kenapa segala pastor itoe tidak bekerdja ditanahnja sendiri akan memperbaiki keadaan ranah airnja?

Eropa kekoerangan pastor dan non jang bekerdja memperbaiki keadaan disana, tetapi meskipoen begitoe tiap tahoen bilang ratoesan pastor dan non orang koelit poetih dikirim kenegeri asing akan mengadjari orang Asia perkara-perkara jang di Eropa sendiri mengandoeng tanda tanja jang besar dibelakangnja.

Orang Europa sendiri sering saja tanja-tanjai pendapatnja tentang perkara zendingnja agama Roomsch Katholik. Mereka itoe mengangkat bahoe karena dia djoega tidak mengerti itoe. Katanja dalam zaman sekarang soedah liwat waktoenja boeat menakloek[k]an bangsa-bangsa asing menoeroeti sesoeatoe agama seperti Roomsch Katholik[,] apalagi setelah bangsa Asia soedah bangoen dan pandai serta mengetahoei sendiri bagaimana letaknja agama didalam penghidoepan orang koelit poetih. Perang besar jang terlampau [Perang Dunia I] telah menggambarkan bagaimana kristennja orang Europa dan menggambarkan kepada sedoenianja bahwa sebetoelnja orang Europa djaoeh sekali dari tempat tjita-tjitanja jang soetji. Djoega anak-anak moeda angkatan sekarang berdiri dengan pandangan jang skeptisch (bimbang) sekali terhadap kepada missie dari Roomsch Katholik itoe.

Apa jang koerang pada Asia jaitoe boekannja agama dan boedi, melainkan ilmoe pengetahoean dan technik”.

Anak muda Minangkabau itu adalah [Djamaluddin] Adinegoro. Kutipan di atas, yang saya salin menurut ejaan aslinya dari bukunya Kembali dari Perlawatan ke Europa, Djilid I (Medan-Deli: N.V. Handel Mij. & Drukkerij Sjarikat Tapanoeli, 1930: 12-14), merefleksikan pandangan kritis wartawan yang terkenal di zamannya itu mengenai misi-misi penginjilan ke Asia. Dan apa yang dikatakannya tampaknya banyak benarnya.

Sekarang, 83 tahun setelah Adinegoro menulis pandangan kritisnya di atas, watak misi-misi penginjilan ke Timur tetap belum berubah. Sementara itu jumlah orang Eropa yang membelakangi Tuhan pasti jauh lebih banyak dibandingan tahun 1930-an. Mengingat hal ini, kiranya para penginjil Barat mungkin harus mempertimbangkan kata-kata Adinegoro di atas: memang di abad ke-21 ini kita makin tidak me”lihat satoe djalan jang terang mengapa [para penginjil] itoe dikirim kenegeri-negeri jang tidak memintanja datang. [K]enapa segala pastor itoe tidak bekerdja ditanahnja sendiri akan memperbaiki keadaan ranah airnja?”

Bukankah misi penginjilan harus ditujukan kepada orang-orang yang belum atau tidak beragama, tidak kepada mereka yang sudah memeluk agama tertentu, seperti disentil oleh Adinegoro dalam bukunya itu. Dan dalam konteks sekarang, sudah semestinya haluan misi-misi penginjilan dibelokkan ke Eropa, sebab memang di benua itulah kini banyak ditemukan orang-orang yang tidak mempercayai adanya Tuhan.

Suryadi - Leiden University Institute for Area Studies (LIAS), Leiden, Belanda

Rubrik Refleksi METRO Payakumbuh Edisi 15 Juni 2013


TAGS  


Author

Recent Post

Recent Comments

Archive