Suryadi

JEJAK MIGRASI ORANG MENTAWAI DALAM TRADISI LISAN

29 Jul 2013 - 04:00 WIB

799c75ce3f2192e74b90ca52714d49e0_suryadi-resensi-buku-juniator-tulius-kompasJudul buku : Familiy Stories: Oral Tradition, Memories of the Past, and Contemporary Conflicts over Land in Mentawai - Indonesia

Penulis : Juniator Tulius

Penerbit : [Disertasi, Leiden University, Belanda], Desember 2012

Tebal : 313 halaman

ISBN : 978-94-6203-160-9

Kepulauan Mentawai mungkin lebih dikenal oleh para pencinta ombak besar mancanegara ketimbang murid-murid sekolah kita yang pengetahuan geografinya makin jeblok karena sistem kurikulum pendidikan nasional yang tidak berkeruncingan. Nama Mentawai mungkin juga marginal dalam wacana keindonesiaan kita yang pengap oleh mental xenosentrik, sangkarut politik, kasus korupsi, dan perang klaim antar berbagai ’sekte’ agama mengenai rupa Tuhan dan calon penghuni surga. Secara fisik pun sudah lama konsep pembangunan negara ini sering abai terhadap wilayah pinggiran seperti Kepulauan Mentawai.

Familiy Stories mungkin dapat menjemput ingatan kita pada saudara-saudara sebangsa yang hidup di Kepulauan Mentawai. Buku ini adalah disertasi Juniator Tulius, putra Mentawai kelahiran 1975, yang dipertahankannya di Universitas Leiden pada 11 Desember 2012. Seperti terefleksi dari judulnya, buku ini membahas repertoar lisan berupa cerita-cerita keluarga milik berbagai kelompok kekerabatan (kin groups) yang hidup di Kepulauan Mentawai.

Buku ini terdiri atas tiga bagian yang mencakup 9 bab di luar pendahuluan (Bab 1) dan kesimpulan (Bab 11). Penulis mengajukan pertanyaan kunci: ‘Bagaimana dan dalam hal apa cerita-cerita keluarga dipergunakan oleh kelompok-kelompok kekerabatan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari’. Tujuan yang lebih khusus dari penelitian ini adalah ‘untuk mengkaji asal usul, gagasan tentang kedirian (jati diri), dan perdebatan yang terjadi antara kelompok-kelompok kekerabatan yang menyangkut kepemilikan tanah ulayat dan tanah leluhur di Mentawai’. (h. 20).

Cerita keluarga yang hidup dalam masyarakat Mentawai memiliki karakteristik yang berbeda dengan cerita-cerita lisan (oral narratives) yang sudah sering diperbincangkan dalam banyak kajian mengenai tradisi lisan (oral tradition) di berbagai belahan dunia. Menurut Juniator, cerita keluarga dianggap hanya milik satu kelompok kekerabatan tertentu, sementara cerita-cerita lisan dianggap milik kelompok masyarakat yang lebih luas dari kelompok kekerabatan (h.21). Oleh sebab itu, baik fungsi, isi (dan variasi yang mungkin terjadi sebagai ciri kelisanannya), maupun model pertunjukan, penampil, dan khalayaknya juga berbeda (h.24-30).

Bagian Pertama buku ini (Bab 2-4) mendeskripsikan aspek geografis, konteks sosial budaya dan ekonomi, sistem kekerabatan, dan sistem kepemilikan tanah dalam masyarakat adat di Kepulauan Mentawai. Bagian ini diakhiri dengan pemetaan kajian-kajian terdahulu tentang penduduk Kepulauan Mentawai dan tradisi lisannya, sejak dari J.B. Neumann (1842) sampai Reimar Schefold (1960-an - 1990-an).

Bagian Kedua (Bab 5-7) mendeskripsikan tiga cerita keluarga yang menjadi bahan utama buku ini, yaitu: cerita tentang sengketa buah mangga (sipeu), kisah tentang babi peliharaan (sakkoko), dan cerita tentang kegagalan seorang ayah menangkap babi hutan untuk anaknya (siberi). Berdasarkan tiga cerita tersebut, penulis merekonstruksi pohon genealogi dan ekspansi beberapa kelompok kekerabatan asal seperti Siribetung, Salakkau, dan Satairarak.

Dalam Bagian Ketiga (Bab 8-10) penulis membahas karakteristik dan makna sosio-kultural cerita sipeu, sakkoko, dan siberi. Berdasarkan identifikasi dan interpretasi terhadap tema-tema utama dalam ketiga cerita tersebut, penulis menyimpulkan bahwa cerita-cerita keluarga itu dapat dianggap sebagai catatan sejarah (historical accounts) mengenai peristiwa-peristiwa di masa lampau yang telah menyebabkan terjadinya percabangan awal dalam kelompok kerabatan asal (ancestors) yang mula-mula menghuni Kepulauan Mentawai.

Dalam penelitian lapangan yang dilakukan dari 2002 sampai 2006, Juniator merekam cerita sipeu, sakkoko, dan siberi dalam beberapa kelompok kekerabatan yang berbeda di Kepulauan Mentawai. Transkripsi rekaman-rekaman itu digunakan untuk merekonstruksi jalur migrasi dan penyebaran kelompok kekerabatan asal yang menjadi moyang kelompok-kelompok kekerabatan penduduk asli Mentawai sekarang. Dari rekonstruksi itu, yang dilengkapi dengan peta, dapat dikesan bahwa tempat asal kerabat moyang orang Mentawai adalah lembah Simatalu di Siberut. Dari sanalah, melalui jalur sungai dan pantai, pecahan-pecahan kerabat-kerabat asal itu menyebar ke berbagai tempat lainnya di Pulau Siberut sebelum sebagian dari mereka melanjutkan migrasi ke Pulau Sipora. Di antara kelompok-kelompok itu ada yang balik berimigrasi lagi ke Pulau Siberut.

Lembah Simatalu terletak di pantai Pulau Siberut yang mengarah ke Samudera Indonesia. Hal ini seolah meninggalkan petunjuk historis bahwa asal muasal nenek moyang orang Mentawai tidak datang dari daratan Sumatera. Dari rekonstruksi yang dilakukan Juniator, juga dapat dikesan bahwa tidak ada migrasi kelompok-kelompok kekerabatan yang semula berasal dari Pulau Siberut ke Pulau Pagai Utara dan Pagai Selatan yang sekarang termasuk ke dalam gugusan Kepulauan Mentawai. Apakah itu berarti bahwa moyang penduduk asli kedua pulau itu berasal dari kelompok kekerabatan lain yang datang dari tempat lain? Untuk menjawab pertanyaan ini, mungkin perlu dilakukan kajian lanjutan dengan memfokuskan perhatian pada cerita-cerita keluarga yang hidup dalam kelompok-kelompok kekerabatan yang ada di Pulau Pagai Utara dan Pagai Selatan.

Rupanya cerita-cerita keluarga itu telah digunakan oleh kelompok-kelompok kekerabatan di Mentawai antara lain untuk memperkuat klaim mereka atas tanah ulayat yang dipersengketakan, walau cerita-cerita seperti itu tidak memberi informasi yang rinci dan solusi yang jelas untuk menyelesaikan konflik-konflik mengenai tanah tersebut (h.271). Seperti dipaparkan dalam sebuah buku lain mengenai masyarakat Mentawai yang terbit baru-baru ini, Berebut Hutan Siberut: Orang Mentawai, Kekuasaan, dan Politik Ekologi oleh Darmanto dan Abidah B. Setyowati (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia dan UNESCO, cet. 1: Oktober 2012), konflik pertanahan dan perebutan fungsi hutan di Mentawai, khususnya Siberut, kian meningkat dan rumit menyusul makin ekstensifnya pengaruh luar terhadap masyarakat adat di salah satu pulau terluar Indonesia itu sejak 50 tahun terakhir.

Penulis menyimpulkan bahwa cerita-cerita keluarga itu setidaknya mengandung tiga fungsi penting: bermanfaat untuk merekonstruksi arah dan sejarah migrasi kerabat moyang dari kelompok-kelompok kekerabatan yang ada di Mentawai sekarang, menjadi sumber penting untuk mengidentifikasi penyebab timbulnya konflik-konflik lahan di kalangan kelompok-kelompok kekerabatan di Mentawai sekaligus sebagai ‘referensi’ dalam mencari penyelesaian atasnya, dan fungsinya yang penting sebagai bank data bagi masyarakat Mentawai yang kebanyakan masih nir aksara.

Dalam kajian tradisi lisan dikenal ungkapan bahwa teks-teks lisan merupakan sarana tempat segala pengetahuan suatu kelompok masyarakat nir aksara disimpan, diawetkan, dan diturunkan dari generasi ke generasi berikutnya. Dalam masyarakat lokal yang hidup dalam budaya kelisanan, seorang tukang cerita berfungsi layaknya sebagai sebuah ‘perpustakaan’ dalam masyarakat modern. Juniator, seorang putra Mentawai yang sudah melek huruf, menyadari bahwa isi ‘perpustakaan-perpustakaan’ itu harus cepat ‘difotokopi’ sebelum terbakar (baca: sebelum para tukang cerita itu meninggal). Namun, sayangnya buku ini tidak melampirkan transkripsi lengkap dari cerita-cerita itu. Mudah-mudahan Juniator akan menerbitkannya dalam satu buku tersendiri.

Buku ini jelas makin memperkaya body of knowledge tentang tradisi lisan Indonesia. Bidang ini kelihatan makin diminati sekaitan dengan dibukanya program doktor kajian tradisi lisan (KTL) di beberapa universitas dalam negeri yang diorganisir oleh Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) yang diketuai oleh Dr. Pudentia MPSS. Kiranya ATL dapat menerjemahkan bukunya ini ke dalam Bahasa Indonesia. Dari segi akademis, hasil terjemahan itu tentu besar manfaatnya bagi pengayaan perspektif teori dan metode studi tradisi lisan di Indonesia. Bagi pengambil kebijakan dan aktivis LSM, mungkin ada pelajaran dalam buku ini yang dapat diterapkan dalam usaha menangani konflik-konflik pertanahan yang makin marak terjadi dalam masyarakat adat di Indonesia.

Suryadi, Leiden University Institute for Area Studies (LIAS), Leiden, Belanda

* Resensi ini dimuat di harian Kompas, Minggu, 28 Juli 2013


TAGS  


Author

Recent Post

Recent Comments

Archive