Suryadi

Euro dan Oleng Eropa

2 Aug 2013 - 06:30 WIB

Ketika mata uang tunggal Eropa Euro diluncurkan tahun 1999 di sebelas negara anggota Uni Eropa, publik larut dalam kegembiraan. Berbagai media meliput koaran mulut para petinggi Uni Eropa yang kelihatannya yakin benar akan kehebatan manuver moneter yang mereka ciptakan lewat pembentukan Zona Euro. Mereka yakin bahwa Euro akan memperkuat ekonomi Eropa dan akan lebih menyejahterakan rakyatnya.

Tempat-tempat penukaran uang di Amsterdam, Paris dan Roma mematok kurs 1 dalam kisaran US$ 1,75. Orang Eropa mengalami euforia penggelembungan semu nilai uang kertas ciptaan manusia modern. Ketika mereka berlibur ke luar negeri, mendadak semuanya terasa menjadi relatif murah. Dengan Rupiah Indonesia, nilai tukar 1 ketika itu dipatok dalam kisaran Rp. 17.500 (bandingkan dengan 1mata uang Belanda sebelumnyayang hanya dihargakan sekitar Rp.7.500).

Sebagai seorang imigran asing yang tinggal di Belanda, pada waktu itu saya langsung merasakan sindrom devaluasi: simpanan saya di sebuah bank Belanda yang jumlahnya mungkin hanya sepersekian dari jumlah uang belanja sehari seorang selebritas tiba-tiba berkurang menjadi lebih setengahnya. Satu Gulden waktu itu hanya dipatok sekitar 0,55. Ibarat seorang anak yang sedang makan kerupuk lalu diparo untuk temannya, saya didera perasaan rela sekaligus kehilangan.

Anjlok

Sejak dua tahun terakhir nilai tikar Euro terdepresiasi berat. Ibarat gelombang tsunami yang sudah berlalu, sekarang kelihatan tinggi permukaan laut yang sebenarnya. Hanya dalam rentang sekitar satu dekade, daya beli Euro sudah tergerus sekitar 24%. Sekarang 1 dipatok hanya dalam kisaran US$ 1,30. Sementara itu harga barang-barang kebutuhan sehari-hari telah menjadi dua kali lebih mahal, bahkan di beberapa negara harga barang-barang lebih tinggi lagi. Tampaknya Euro mulai menuai badai. Kenyataan yang dihadapi orang Eropa terbalik dengan prediksi semula para penggagas Euro. Maka lahirlah kelas orang miskin baru di Eropa, benua yang paling maju di muka bumi ini. Setiap hari semakin banyak orang yang kehilangan pekerjaan dan tak mampu lagi memenuhi kebutuhan sandang, pangan, dan papan untuk diri dan keluarga mereka. Uang pensiun, jaminan sosial dan kesehatan, khususnya bagi lansia, terancam pemotongan. Angka bunuh diri meningkat karena stress dan frustrasi. Juga mereka yang kehilangan rumah akibat pembayaran hipotek yang macet. Bank-bank menyita rumah mereka tanpa menaruh belas kasihan. Kita seakan tak percaya melihat kenyataan semakin banyaknya gelandangan di kota-kota Eropa yang terancam mati membeku karena tidur di lorong-lorong stasiun kota di musim dingin.

Untuk pertama kalinya sejak Perang Dunia II Eropa mengalami krisis keuangan berat. Sulit untuk tidak menghubungkan krisis ini dengan eksperimen Euro kreasi para politikus nyentrik Eropa zaman ini. Survei terbaru menunjukkan bahwa kebanyakan orang Eropa menilai Uni Eropa kini bergerak ke arah yang salah. Efek negatif Euro telah dirasakan di Irlandia, Yunani, Italia, Spanyol, Portugal, dan kini Siprus. Gerak Euro yang makin liar tak terkendali membuat frustrasi para bangkir dan spion keuangan. Kabar terakhir memberitakan bahwa ekonomi Slovenia dan Estonia, salah satu negara pecahan Uni Sovyet yang bergabung dengan Zona Euro, juga mengalami kontraksi.

Euro dan pluralitas budaya (politik) Uni Eropa

Ada beberapa faktor budaya yang menyebabkan Euro yang semula digembar-gemborkan akan mampu menjadikan orang Eropa lebih sejahtera itu terjerembab. Pertama, kenyataan bahwa negara-negara yang tergabung ke dalam Zona Euro memiliki perbedaan budaya cukup besar. Perbedaaan budaya itu tentu termanifestasi dalam banyak segi kehidupan, seperti perbedaan budaya kerja, perbedaan budaya politik (tingkat korupsi di beberapa negara anggota baru Uni Eropa cukup tinggi), dan perbedaan sistem perbankan.

Para penggas Euro telah mengabaikan dimensi antropologis benda budaya buatan manusia yang bernama uang. Adalah naif jika penggagas Euro mengabaikan ekses-ekses yang mungkin terjadi dari penggabungan bangsa Spanyol yang memiliki budaya tidur siang dengan bangsa Belanda yang pekerja keras dan suka hidup hemat, atau sebuah negara seperti Siprus tempat banyak uang haram dari luar negeri disimpan dengan negara lain yang mendominasi ekonomi Eropa seperti Jerman, ke dalam satu sistem mata uang tunggal.

Kedua, kenyataan bahwa rakyat beberapa negara Eropa yang paling sejahtera dan memiliki ekonomi yang kuat, seperti Swiss, Swedia, Norwegia, Denmark, dan Inggris, masih saja belum mau bergabung dalam Zona Euro. Sudah beberapa kali diadakan refendum di negara-negara tersebut, tapi mayoritas rakyatnya tetap menolak Euro. Sejak semula mereka sudah menunjukkan keengganan bergabung dalam Zona Euro karena khawatir tingkat kesejahteraan mereka akan turun. Pemerintah negara-negara tersebut tidak mau otoritas mereka dipangkas jika bergabung dalam Zona Euro yang menerapkan kebijakan politik supra-nasional. Krisis Euro membuat rakyat keempat negara tersebut makin menunjukkan sentimen anti mata uang tunggal Eropa itu. Ini jelas berpengaruh besar terhadap eksistensi Euro ke depan.

Kini para politikus Euro membuka peluang kepada negara-negara pecahan Yugoslavia dan negara-negara pecahan Uni Sovyet, yang sebenarnya belum begitu maju dari segi ekonomi, untuk bergabung ke dalam Zona Euro. Sementara Turki, yang warganya banyak merantau ke Eropa, yang sejak awal sudah ingin bergabung dengan Euro masih saja ditolak dengan berbagai alasan (politis).

Mengancam kohesi masyarakat Eropa

Euro mengalami apa yang oleh Zaim Saidi dalam http://wakalanusantara.com/ sebagai fenomena runtuhnya uang kertas karena nilainya yang semakin susut. Uang kertas adalah pengkhianatan atas takaran nilai atau harga, yang diwujudkan sebagai alat tukar, dari fitrahnya semula berupa komoditas bernilai menjadi semata-mata simbol numerik.

Adanya Zona Euro di satu pihak dan Uni Eropa di lain pihak, yang anggotanya tidak sama, telah menimbulkan problem baru di bidang ekonomi, sosial dan politik di Eropa. Namun, para politikus yang tetap merasa pintar seolah menyembunyikan kenyataan itu.

Euro makin mempertajam friksi sosial dan politik di Eropa. Sentimen anti Euro makin meningkat di kalangan rakyat negara-negara yang tergabung dalam Zona Euro. Kini semakin sering terjadi demonstrasi di kota-kota Eropa menentang kebijakan rencana penghematan (austerity) yang dilakukan pemerintah yang tak jarang berakhir anarkis. Di Jerman parti anti Euro telah didirikan dan mendapat respon dari publik. Kesulitan hidup akibat resesi ekonomi telah memperkuat sentimen anti pendatang, yang dimanfaatkan oleh partai-partai politik yang beroposisi dengan pemerintah, termasuk kini di Jerman, negara utama pendukung Euro. Hal ini berbahaya karena potensial menggerus demokrasi, rasa solidaritas dan toleransi yang menjadi sokoguru penting kebudayaan masyarakat Eropa modern. Krisis yang terjadi telah melemahkan wibawa pemerintah di negara-negara anggota Zona Euro di mata rakyatnya. Jerman yang ekonominya mendominasi Eropa dianggap sebagai penjajah baru. Ini terefleksi pada poster-poster demontrasi di Athena yang menggambarkan Merkel memakai kumis Hitler.

Eksperimen moneter politikus Eropa akhir abad ke-20 dengan Euro telah membawa benua itu ke dalam bayang-bayang suram. Fenomena Euro adalah pelajaran penting bagi kawasan lain di dunia yang mau bereksperimen dengan sistem mata uang tunggal.

Suryadi, pengguna Euro (sebelumnya Gulden), tinggal di Leiden, Belanda. Pokok-pokok pikiran dalam esai ini adalah pendapat pribadi penulis.

* Artikel ini dimuat di harian Haluan, Kamis, 1 Augustus 2013


TAGS  


Author

Recent Post

Recent Comments

Archive