Suryadi

“CERITA YANG BETUL SUDAH KEJADIAN” DI MINANGKABAU TAHUN 1980-AN

14 Dec 2013 - 16:00 WIB

639925f93464fe6b4baa8e46bc4e8470_resensi-lonceng-cinta-di-sekolah-guruJudul : Lonceng Cinta di Sekolah Guru

Penulis : Khairul Jasmi

Tebal : 353 halaman

Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama, 2012

ISBN : 978-979-22-8169-9

Realitas fiksional dalam teks novel-novel Indonesia diramu dengan menggabungkan tiga unsur: ’sensasi’ kolonialisme, peristiwa sosial politik zaman kemerdekaan, dan pengalaman pribadi pengarang. Hal itu menjadikan novel-novel Indonesia cenderung historis dan otobiografis dan membagi rata realitas fiksional dan realitas sejarah. Bahkan dalam sejumlah novel aspek sejarah sering lebih kentara sehingga ada sejarawan yang berkomentar bahwa beberapa teks novel Indonesia berpotensi mengacaukan pemahaman khalayak tentang sejarah.

Pengacakan realitas fiksional dan realitas sejarah sudah dari dulu inheren dalam teks novel-novel Indonesia. Hal ini antara lain dapat dikesan dari judul banyak roman karya para pengarang Cina peranakan di zaman kolonial yang mencantumkan judul: Tjerita jang betoel soedah kedjadian di…’ (lihat misalnya, Thio Tjien Boen, Tjerita “Oeij-se”: jaitoe satoe tjerita jang amat endah dan loetjoe, jang betoel soedah kedjadian di Djawa Tengah, Solo: Sie Dhian Ho, 1903). Studi sastra Indonesia jarang memberi perhatian pada unsur marginalia ini. Unsur ini menyiratkan hakikat teks sastra dalam kesadaran kolektif masyarakat Indonesia sebagai peristiwa yang sama sekali bukan tidak mungkin ada dan pernah terjadi.

Seperti kebanyakan novel Indonesia lainnya, Lonceng Cinta di Sekolah Guru pekat dengan nuansa sosio-historis dan biografis. Teksnya mengandung ironi dan nostalgia, ciri yang juga sangat menonjol dalam novel-novel Indonesia. Dengan mengambil latar geografis beberapa tempat di Sumatera Barat, sedikit daerah Bengkulu dan Jawa, serta latar sosial tentang kehidupan murid-murid Sekolah Pendidikan Guru (SPG) di Padang Panjang, pengarang yang menerajui surat kabar Singgalang di Padang, dengan talenta jurnalistiknya, menggiring pembaca ke dalam realitas fiksional yang melayang setingkat di atas realitas sosial.

Protagonis novel ini adalah Nurus, seorang pemuda desa dari keluarga petani sederhana. Setamat dari Sekolah Dasar di kampungnya di Supayang (sebuah nagari yang benar-benar ada di Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, kampung pengarang sendiri), Nurus melanjutkan studinya di SPG di Padang Panjang. Di sana ia mulai mengenal asmara: ia jatuh hati kepada seorang gadis adik kelasnya yang bernama Zeta. Plot novel ini dikembangkan dari riak-kerenyutmeminjam istilah Chairil Anwarhubungan kedua tokoh ini dengan menghadirkan banyak tokoh lain seperti Ridwan, Fitri, Tata, dan Abrar.

Setamat dari SPG Nurus melanjutkan studinya ke IKIP Padang. Cintanya kepada Zeta tidak kesampaian. Nurus menikah dengan seorang teman kuliahnya. Zeta menikah dengan Zulkarnain, teman Nurus sendiri. Masing-masing pasangan itu dikaruniai anak. Akan tetapi hidup Zeta bersama Zulkarnain tidak bahagia.

Kisah Nurus yang mencoba menyisir alun kehidupan untuk mencapai cita-citanya diletakkan dalam latar geografis dan kenyataan sosial yang nyaris konkrit: Sumatera Barat yang pelan berubah karena efek pembangunan rancangan Orde Baru yang pelan tapi pasti mulai mengalirkan arus listrik ke desa-desa dan memperkenalkan televisi hitam-putih kepada orang-orang kampung. Pemuda Nurus dan ‘bidadari’ idamannya, Zeta, adalah representasi generasi Minangkabau yang mengenyam masa remaja di tahun 1980-an, ketika kehidupan modern dalam terjemahan generasi pasca Revolusi mulai merasuk ke dalam kehidupan masyarakat penganut sistem matrilineal ini. SPG Padang Panjang adalah pilihan latar yang pas untuk menggambarkan efek jangkauan dunia pendidikan menengah yang makin meluas di Indonesia memasuki dekade kedua kekuasaan Orde Baru.

Dalam Lonceng Cinta Khairul Jasmi menggambarkan sisi-sisi manusiawi anak-anak muda yang sedang membentuk jatidiri mereka dalam zaman yang berubah. Cara para tokoh dalam novel ini mengekspresikan perasaan asmara mereka terkesan relatif terbuka. Dunia remaja Nurus dan kawan-kawannya merefleksikan pergeseran pola hubungan muda-mudi Minangkabau yang mulai meninggalkan tradisi berkirim saputangan berminyak harum atau sekedar bergesekan bahu di tengah pekan ramai.

Dari segi intrinsik, Lonceng Cinta menghadirkan konvensionalitas, namun tidak mengurangi daya tarik tekstual novel ini. Justru karena itulah realitas fiksional yang dibangun dalam novel ini terkesan logis dan tidak mengada-ada. Seperti beberapa teks novel lain yang terkesan norak dengan menghadirkan tokoh-tokoh murid SD yang serba tahu tentang teori-teori ilmu fisika yang kebanyakan mahasiswa saja sulit memahaminya, teks Lonceng Cinta tidak menghadirkan tokoh-tokoh utopia. Pengarang tidak menciptakan tokoh-tokoh siswa SPG yang sok tahu tentang teori lubang hitam, pembelahan atom, atau teori-teori sosial dan politik Karl Marx dan Machiavelli. Meskipun sudut pandang penceritaan menghadirkan tokoh aku (Nurus) yang cenderung serba tahu, tapi ia hanya tahu mengenai dunia lokalnya, dunia kampung dan lingkungan sekolahnya.

Novel yang terdiri dari 30 bagian ini disusun dalam plot yang linear, meskipun di sana sini diinterupsi oleh kenangan-kenangan masa kecil tokoh Nurus di kampungnya di Supayang. Teks dibuka dengan tulisan “Medio 1983″ (hlm. 1), unsur perujuk waktu yang langsung mencantolkan horizon harapan pembaca dengan realitas sejarah. Waktu dalam teks bergerak ke depan dengan relatif cepat, dengan dialog-dialog yang dihadirkan seperlunya, yang kadang-kadang mengandung unsur humor yang khas Minangkabau. Novel ini tidak menghadirkan klimaks, kecuali sedikit dalam bagian 30, ‘Petir Cinta’, ketika Nurus mengetahui bahwa yang akhirnya mempersunting Zeta adalah temannya sendiri, Zulkarnain yang pendiam, yang kemudian malah menelantarkan cinta Zeta.

Nuansa lokal dalam teks novel ini cukup terasa melalui konstruksi kalimat-kalimat tertentu dan pemakaian idiom-idiom Minangkabau, yang mengingatkan kita pada pengaruh Minangkabau yang begitu kentara dalam novel-novel Indonesia modern di akhir zaman kolonial.

Dalam tradisi pernovelan Indonesia, warna lokal adalah suatu keniscayaan, yang biasanya direpresentasikan lewat simbol-simbol etnisitas. Lonceng Cinta mengggiring horizon harapan pembaca memasuki realitas fiksional yang bernuansa otobiografis dan merefleksikan unsur-unsur budaya Minangkabau seperti merantau dan peran penting mamak (saudara laki-laki ibu) dan bako (anggota keluarga matrilineal ayah).

Lonceng Cinta adalah sebuah heroic biography” lelaki Minangkabau - meminjam istilah R.J. Chadwick (1994)dalam representasi literer yang lebih modern (genre novel), yang mengingatkan kita pada arketipnya yang sudah lama wujud dalam khazanah novel dan roman Indonesia karya para pengarang berdarah Minangkabau. Membaca Lonceng Cinta membawa saya bolak balik antara Nasib karya Habib Soetan Maharadja (Balai Poestaka, 1932; lihat analisa Umar Junus tentangnya dalam Kalam 21, 2004:41-60) dan Semasa Kecil di Kampung karya Muhammad Radjab (Balai Pustaka, 1950).

Lonceng Cinta jelas tidak hanya menarik terutama bagi generasi Indonesia yang ingin bernostalgia tentang kehidupan remajanya di tahun 1980-an, tapi juga bagi para peminat studi budaya yang menyadari hakekat teks sastra sebagai salah satu laman budaya (cultural site) yang bermanfaat untuk memahami dinamika kultural masyarakat (lokal) Indonesia.

Suryadi, Leiden University Institute for Area Studies (LIAS), Leiden, Belanda


TAGS  


Author

Recent Post

Recent Comments

Archive