Suryadi

Pariaman: Kota Bersejarah

16 Jul 2014 - 05:30 WIB

Tanggal 2 Juli 2014 kota Pariaman merayakan hari ulang tahunnya yang ke-12. Bersempena dengan peringatan hari ulang tahun kota Pariaman itu, diadakan Rapat Paripurna Istimewa DPRD Kota Pariaman yang dihadiri oleh Wakil Gubernur Sumatera Barat Muslim Kasim, Walikota Pariaman Mukhlis Rahman, Wakil Walikota Pariaman Genius Umar, dan para pejabat terkait serta perwakilan tungku tigo sajarangan. “Hari Ini Kota Pariaman 12 Tahun, Bertabur Penghargaan”, tulis Sumbar Online.com (diakses 3-7-2014) yang memberitakan berbagai penghargaan yang diterima oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Pariaman bersama masyarakatnya.

Di tengah sukacita perayaan hari jadi kota Pariaman itu, ada sedikit catatan yang hendak saya kemukakan, lebih sebagai sumbangan pikiran dari seorang perantau awam asal Pariaman kepada Pemkot Pariaman. Catatan itu menyangkut tarikh hari jadi kota Pariaman yang ditetapkan tanggal 2 Juli 2002 dengan mengacu kepada tarikh resmi kota Pariaman menjadi kota otonom berdasarkan UU no. 12 Tahun 2002.

Tarikh itu paling tidak menimbulkan kesan bahwa kota Pariaman masih berusia seumur jagung alias masih muda belia. Padahal sejarah sudah mencatat bahwa Pariaman adalah salah satu entrepot (kota pelabuhan) tertua di pantai Barat Sumatra.

Banyak catatan orang Barat menunjukkan bahwa entrepot Pariaman sudah ada paling tidak sejak abad ke-16. Tiga sumber pertama (bronnen) penting yang mencatat entrepot Pariaman pada abad 16 dan 17 adalah:

Pertama, buku Suma Oriental of Tome Pires. Tome Pires (c. 1446-1524) adalah seorang pelaut yang bekerja untuk Kerajaan Portugis di Asia. Dalam bukunya itu, Pires antara lain mencatat bahwa telah ada lalu-lintas perdagangan antara India dengan beberapa kota pelabuhan di pantai barat Sumatera, yang terpenting di antaraanya adalah Pariaman, Tiku, dan Barus. Pires mencatat bahwa setiap tahun tidak kurang dari tiga kapal dagang dari Gujarat singgah di Pariaman untuk menjual tekstil yang dibarter dengan emas. Buku harian Tom Pires itu telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris oleh Armando Corteso tahun 1944.

Buku kedua adalah karya laborious Francois Valentijn, Oud and Niew Oost-Indien:… (Amsterdam: Joannes van Braam & Gerard Onder de Linden, 1724-1726). Dalam volume 5 bukunya (1724), Valentijn mencatat kota Pariaman dan juga menandainya dalam peta Pulau Sumatera yang dibuatnya.

Buku ketiga adalah karya Isaac Commelin, Begin ende Voorthgangh, van de Vereenighde Nederlantsche Oost-Indinshe Compagnie: … (Amsterdam: Jan Janz, 1646). Sebagaimana halnya Pires dan Valentijn, Commelin memberi catatan khusus mengenai entrepot Pariaman dalam deskripsinya mengenai Pulau Sumatera.

Pada masa sesudahnya (abad 18-19) tak kurang banyaknya catatan mengenai kota Pariaman yang ditulis oleh para pelaut dan pengelana Barat. Tentu kurang pada tempatnya untuk menyenaraikan seluruh catatan itu dalam esai yang pendek dengan ruang terbatas ini.

Apa yang hendak saya katakan adalah bahwa Pariaman adalah kota tua dan bersejarah. Bangsa Barat pertama yang singgah di Pariaman adalah orang Portugis, sebagaimana dapat dikesan dari catatan Tome Pires. Setelah itu baru menyusul orang Belanda dan orang Inggris. Pada 21 November 1600 dua kapal Belanda yang dinakhodai Paulus van Caarden tiba di Pariaman, disusul kemudian oleh kapal-kapal Belanda lainnya. Sedangkan ekspedisi dagang Inggris pertama kali baru sampai di Pariaman pada 1685.

Bukti-bukti historis tentang kedatangan orang Barat di Pariaman, baik fisik maupun non fisik, dapat ditelusuri sampai kini. Sebagai contoh, kehadiran orang Portugis dan Inggris di Pariaman mengendap jauh ke lubuk memori kolektif masyarakat Pariaman lewat penggambaran tokoh Rajo Sipatokah (Portugis) dan Rajo Sianggarai (Inggris) yang besar dan bengis dalam Kaba Anggun Nan Tongga Magek Jabang, sebagaimana dicatat Nigel Philips dalam disertasinya Sijobang: Sung Narrative Poetry of West Sumatra (1981) dan Hamka dalan bukunya Dari Perbendaharaan Lama (1982).

Setidaknya entrepot Pariaman sudah memiliki wilayah administratif yang jelas sejak awal abad ke-17. Menurut Valentijn dalam bukunya di atas (1724[V/Sumarta]:17), secara administratif kota Pariaman di Zaman VOC terbagi atas dua bagian: pertama, Kampung di Hulu yang dipimpin oleh Orang Kaya Raja Nanda (Urang Kayo Rajo Nando) yang dibantu oleh 5 penghulu; kedua, Kampung di Hilir atau Kampung Aceh (menyiratkan kuatnya pengaruh Aceh di Pariaman pada masa itu) yang meliputi 5 kampung: “Soengei Pampan”, “Soengei Rotang [Rotan] Batoe”, “Batang Koebon” (Batang Kabun/Kabung?), “Jatze” (maksudnya: Jati), “Gadja Mati” (Gajah Mati), dan “Pauw” (Pauh). Kampung di Hilir diperintah oleh Orang Kaya Sri Amar Bangsa Diraja yang dibantu pula oleh 5 penghulu.

Konsolidasi kekuatan VOC di Pariaman mempengaruhi pemerintahan lokal, hal yang terjadi di mana-mana pada masa itu. Penulis Belanda Van Basel mencatat bahwa sekitar 1730 Pariaman diperintah oleh 2 orang regent (berbeda dengan jabatan regent abad 19) dibantu oleh 10 penghulu. Kedua regent itu adalah Raja Ibrahim dan Maharaja Muda.

Banyak sumber yang mencatat susunan pemerintahan dan peta administratif kota Pariaman pada abad 17-19 (termasuk denah perkampungan-perkampungan penduduk yang terdiri dari penduduk asli dan pendatang seperti Cina, India/Keling, dan Arab), misalnya dalam Beschrijving van Sumatras Westkust oleh VOC dan Dagregisters tentang VOC, juga laporan Residen Sumatras Westkust Emanuel Alexander Intveld Francis (1835-1874) Register de aantekeningen en verrigtingen van den Resident van Sumatras Westkust, op eene reis over Priaman, Tieko en de Danauw naar de Padangsche Bovenlanden (1836) sekedar menyebut beberapa sumber primer.

Catatan singkat ini dimaksudkan untuk sekedar memberi gambaran bahwa kota pelabuhan Pariaman sudah berusia setidaknya 5 abad. Karena Pariaman adalah kota tua dan bersejarah, maka sebaiknya sejarah kota ini ditulis ulang dengan lebih lengkap. Usia kota Pariaman yang sudah berbilang abad itu tentu menjadi aset wisata yang penting bagi Pemkot dan masyarakat Pariaman. Tinggal Pemkot Pariaman (melalui Dinas Pariwisata) mengolah dan menjabarkannya di lapangan, misalnya dengan memperkenalkannya melalui berbagai media disertai dengan tindakan-tindakan konkrit yang menunjukkan kepedulian Pemerintah terhadap artefak-artefak sejarah yang ada di kota ini.

Dalam pertemuan dengan Wakil Walikota Dr. Genius Umar Januari lalu, saya sudah mendiskusikan pemanfaatan aspek sejarah Kota Pariaman ini untuk meningkatkan pariwisata khususnya dan kesadaran sejarah masyarakat pada umumnya. Kalau boleh saya memberi usul: alangkah baiknya jika diadakan seminar untuk menggali sejarah kota Pariaman dengan melibatkan pakar-pakar sejarah seperti Prof. Gusti Asnan (UNAND) yang menulis disertasinya di Jerman tentang masa masa gemilang ekonomi pelayaran di pantai barat Sumatera pada abad ke-19, Dr. Wannofri Samry dan Dr. Anatona Gulo (juga dari UNAND), Prof. Mestika Zed (UNP), Prof. Tsuyoshi Kato (Jepang), dll. dengan mengikutsertakan para pengulu dan cerdik pandai di Pariaman. Dalam seminar itu coba ditentukan hari lahir kota Pariaman secara historis dengan mengemukakan data-data sejarah yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan.

Ini bukan berarti menganulir hari lahir Kota Otonom Pariaman 2 Juli 2002. Jika hari lahir historis kota Pariaman itu berhasil disepakati, nantinya akan ada dua hari bersejarah kota Pariaman: dalam perayaan hari jadi kota ini pada tahun-tahun mendatang disuarakan (dalam spanduk, udangan, dll) dua hari lahir kota Pariaman: 1) Hari ulang tahun Pariaman sebagai kota otonom (2 Juli 2002) dan hari lahirnya secara historis.

Demikian sedikit catatan dari saya untuk Pemkot dan DPRD kota Pariaman. Semoga bermanfaat.

Suryadi, perantau Pariaman, dosen/peneliti di Universitas Leiden, Belanda

* Artikel ini dimuat di harian Singgalang, Kamis, 10 Juli 2014


TAGS  


Comment

Author

Recent Post

Recent Comments

Archive