Suryadi

Peresmian ‘Jalan Pahlawan Bagindo Dahlan Abdullah’ di Pariaman

23 Aug 2014 - 06:00 WIB

Tanggal 25 Agustus 2014 Pemerintah Kota Pariaman membuat alek gandang untuk meresmikan nama baru sebuah jalan di kota itu, yaitu Jalan Pahlawan Bagindo Dahlan Abdullah. Acara itu diramaikan dengan seminar setengah hari tentang Bagindo Dahlan Abdullah (dalam catatan-catatan colonial namanya dieja ‘Baginda Dahlan Abdullah’), tokoh nasional asal Pariaman yang namanya diabadikan untuk nama jalan tersebut.

38b0326301849d9b975a1dcc722ccee1_suryadi-peresmian-e28098jalan-pahlawan-bagindo-dahlan-abdullahe28099-di-pariaman

Suryadi dari Universitas Leiden akan menapaktilasi sejarah hidup Bagindo Dahlan Abdullah (1895-1950) dan Prof. Gusti Asnan dari Universitas Andalas akan memaparkan konteks sejarah Pariaman sebagai salah satu entrepot yang maju dalam era perdagangan pantai di abad ke-19 untuk memberikan latar historis kehidupan masa kecil Bagindo Dahlan Abdullah.

Setelah itu, beberapa wakil dari keturunan Bagindo Dahlan Abdullah akan menyampaikan kesan-kesandan kata kenangan tentang ayah/kakek mereka. Seusai seminar, akan dilakukan pembukaan selubung nama jalan baru tersebut, dilanjutkan dengan acara ramah-tamah dan hiburan.

Dalam rangka alek gadang itu pula, padaMinggu 24 Agustus, Yayasan H. Bgd Dahlan Abdullah & Hj. Siti Akmar akan menyerahkan sumbangan tahunan untuk 100 murid SD di Pariaman dan Sungai Limau dan memberi beasiswa untuk 30 murid SMP/SLA. Acara itu akan dihadiri oleh Walikota Pariaman Drs. H. Mukhlis Rahman, MM, Wakil Walikota Pariaman Dr. Genius Umar, dan Kepala Dinas Pendidikan Kota Pariaman, Drs. Kanderi, MM.

Mungkin banyak orang Minang dan orang Pariaman sendiri yang tidak mengenal nama Bagindo Dahlan Abdullah. Untuk itu, masih dalam rangka alekgadang tersebut, pada 22 Agustus jam 09:30-10:30 Radio Dhara FM Pariaman menyiarkan secara langsung riwayat hidup Bagindo Dahlan Abdullah, diikuti dengan quiz berhadiah yang dapat diikuti oleh para pendengar acara tersebut.

Dahlan Abdullah adalah salah seorang putra Pariaman yang telah memberi kontribusi cukup besar dalam gerakan nasionalisme Indonesia di akhir zaman kolonial dan menjadi politisi yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan mempertahankannya ketika dalam usianya yang masih bayisudah dirongrong lagi oleh Belanda dengan agresi militer yang mereka lakukan tahun 1947-1949.

Dahlan Abdullah lahir pada tanggal 15 Juni 1895 di Pasia Pariaman dari pasangan Haji Abdullah, seorang kadi di Pariaman, dan istrinya yang akrab di panggil ‘Uniang’. Mula-mula ia belajar di Sekolah Melayu (Inlandsche School) di Pariaman dan, sebagaimana anak Minangkabau lainnya, juga diserahkan oleh orang tuanya mengaji ke surau. Kemudian ia melanjutkan pendidikannya ke Sekolah Guru (Kweekschool) di Fort de Kock (Bukittinggi). Dahlan seangkatan dengan Tan Malaka yang juga bersekolah di sana. Studi dahlan di Kweekschool Fort de Kock diselesaikannya tahun 1913.

“Lantaran keentjeran otaknya”, demikian tulis harian Merdeka edisi 15 Mei 1950, maka setamatnja dari sekolah ini, ia [Dahlan] beserta Tan Malaka dan seorang temannja jang lain mendapat kesempatan untuk melandjutkan peladjarannya ke negeri Belanda dan masuk pada Kweekschool voor onderwijzer di Den Haag sampai tammat tahun 1915. Bersamaan dengan itu (atau mungkin dalam rombongan lain) dikirim pula ke Belanda dua orang putra Pariaman yang termasuk jalan mamak oleh Dahlan Abdullah, yaitu Djamaludin Rasad dan Zainudin Rasad.
“Kemudian ia [Dahlan] menjambung pengetahuannja untuk mempeladjari ‘Maleische Land en Volkenkunde’ pada Universiteit Leiden hingga tammat pula. Lalu ia mempeladjari ilmu bahasa2 Timur sambil membantu Prof. Van Ronkel [menjadi native speaker, 'penutur asli' dalam pengajaran bahasa Melayu di Universitas Leiden], tetapi peladjarannja ini tak pernah ditamatkannja.

Sebabnja ialah, sebagaimana djuga kebanjakan mahasiswa Indonesia dimasa itu lantaran ketularan semangat pergerakan nasional. Ia lebih mentjurahkan fikiran dan tenaganja untuk perdjuangan ‘Perhimpoenan Indonesia’ [berdiri 1908 dengan nama awal De Indishe Vereeninging, 'Perhimpunan Hindia'] jg. diketuainja beberapa waktu lamanja [Dahlan menggatikan Loekman Djajadinigrat menjadi ketua 'Perhimpoenan Hindia' pada akhir 1917]. Teman seperdjuangannja diantaranja ialah Ir. Soerachman [Presiden Balai Perguruan Tinggi tahun 1950-an], Prof. Surjomihardjo dan banjak lagi lain2 jang termasuk golongan radikal”.

Sampai akhir hayatnya, Dahlan Abdullah mengabdi kepada Republik Indonesia yang waktu itu masih berusia muda. Oleh sebab itu, pengabadian nama Bagindo Dahlan Abdullah untuk nama sebuah jalan di Pariaman ibarat mengembalikan sirih ke gagangnya, mengembalikan pinang ke tampuknya, memulangkan kembali seorang putra Pariaman diaspora ke kampung halamannya. Baik Dahlan Abdullah sendiri maupun para keturunannya yang masih hidup sampai sekarang kebanyakan tinggal di rantau (dalam dan, luar negeri. Di antara keturunannya yang masih hidup antara lain adalah anak-anaknya Malik Abdullah, Gandasari Abdullah (Amerika), Jamaludin Abdullah, dan cucunya ‘Ajo’ Iqbal Alan Abdullah, mantan anggota DPR pusat. Namun demikian, mereka tetap peduli kepada kampung halaman mereka (Pariaman), terbukti dengan aktifitas Yayasan H. Bgd Dahlan Abdullah & Hj. Siti Akmar [yang terakhir ini adalah nama istri beliau] yang didirikan di Pariaman tahun 2007 yang setiap tahun memberikan bantuan kepada pelajar dan masyarakat di Pariaman dan Sungai Limau.

Peresmian nama Jalan Pahlawan Bagindo Dahlan Abdullah adalah wujud penghargaan masyarakat dan Pemerintah Kota Pariaman terhadap seorang putra terbaik Pariaman. Sebagai bangsa yang besar, sudah sepantasnya kita menghargai jasa dari para Pahlawan yang sudah mengorbankan jiwa dan raga untuk merebut kemerdekaan dari tangan para penjajah. Dua tulisan berikutnya di harian ini, penyambung tulisan ini, akan memaparkan lebih jauh lanjut sejarah hidup dan perjuangan Bagindo Dahlan Abdullah untuk Republik Indonesia. (*)

Harian Singgalang | August 22, 2014


TAGS  


Comment

Author

Recent Post

Recent Comments

Archive