Suryadi

Dahlan Abdullah Pantas Jadi Pahlawan Nasional

25 Aug 2014 - 11:24 WIB

PERNAH SEKELAS DENGAN TAN MALAKA

Padang, SinggalangMungkin, belum banyak yang mengenal nama H. Bagindo Dahlan Abdullah. Ia urang awak asli Pariaman. Tokoh besar Indonesia yang harum namanya hingga ke luar negeri. Ia senior Bung Hatta, seangkatan dengan Tan Malaka. Ikut pula memperjuangkan kemerdekaan. Saat ini, dia sedang diajukan sebagai pahlawan Indonesia.


Dahlan Abdullah menyumbangkan banyak jerih payah untuk tanah air. Aktif dalam banyak organisasi perjuangan kemerdekaan. Pernah menjadi walikota, burgermeester Jakarta (waktu itu masih kota bernama Hindia Belanda) hingga menjadi duta besar di Irak. Ia juga salah seorang pendiri UniversitasIndonesia dan Universitas Islam Indonesia.

c42f3410045f9474abba7dd12c9d9b01_dahlan

Sungguh nama Dahlan Abdullah sudah sejak lama harum di luar negeri. Makamnya di Irak dimuliakan. Pusaranya terletak di komplek pemakaman Syekh Abdul Kadir Jailani.
Lalu, mengapa nama Dahlan hilang berpuluh tahun lamanya di negeri sendiri? Bahkan setelah 69 tahun Indonesia merdeka? Pun juga di tanah kelahirannya? Tak perlu dicari kemana jawabnya.
Sekarang, keluarganya bersama peneliti Suryadi di Universitas Leiden, sedang memperjuangkan Dahlan Abdullah masuk sebagai jajaran pahlawan yang pantas dikenang dalam sejarah Indonesia. Pemerintah Kota Pariaman pun ikut dalam barisan terdepan memperjuangkannya.
Senin (25/8) ini, Pemerintah Kota Pariaman akan meresmikan namanya sebagai salah satu nama ruas jalan di kota itu. Pemerintah setempat pun sudah beberapa kali menggelar seminar tentangnya demi memperkenalkannya pada generasi sekarang. Sebelum peresmian ruas jalan pun akan digelar seminar serupa.


Lalu, agaknya benar pulalah istilah buah tak jatuh dari pohonnya. Jika di masa lalu Abdullah Dahlan gemilang untuk perjuangan kemerdekaan Indonesia, saat ini, cucunya ikut pula mengisi kemerdekaan Indonesia.


Adalah Iqbal Alan Abdullah, cucu tertua Dahlan Abdullah yang saat ini menjadi wakil rakyat di Komisi V DPR-RI dari Partai Hanura. Sang cucu pulalah yang sekarang giat memperjuangkan agar jasa sang kakek tak tenggelam dan terlupa begitu saja.


Iqbal mengatakan, ia kaget mengetahui di Unversitas Leiden Belanda banyak dokumentasi data tentang perjuangan kakeknya. Mulai dari keaktifannya berangan sejak menjadi pelajar di negara itu, hingga perjalanan hajinya. Semuanya ada dokumentasi di sana.


Iqbal kepada Singgalang, Minggu (24/8), mengatakan, saat ini sebagai cucu, ia bersama pihak keluarga, terutama anak-anak Dahlan Abdullah, Malik Abdullah, Gandasari Abdullah dan Jamalludin Abdullah, terus menelusuri perjuangan Dahlan. Nanti, bersama Suryadi, buku tentang Dahlan Abdullah pun akan diterbitkan.


Iqbal merasa kakeknya perlu masuk dalam dokumentasi sejarah Indonesia sebagai pahlawan demi generasi mendatang, terutama urang Piaman. Ia menilai, sejarah bisa membuat bangsa menjadi percaya diri dan besar. Urang Piaman perlu tahu, ada tokoh besar yang terlahir di tanah itu, sehingga mereka termotivasi untuk maju.


Sekilas Hidup Dahlan


Dahlan Abdullah lahir di Pasia, Pariaman, 15 Juni 1895. Setelah tamat di sekolah rendah, Dahlan melanjutkan pendidikannya ke sekolah Raja (Kweekschool) di Fort de Kock (sekarang: Bukittinggi). Di sekolah ini ia duduk sekelas dengan Tan Malaka.


Iqbal mengatakan, sekolah Raja ini merupakan sekolah ala Eropa yang sangat bergengsi pada waktu itu dan hanya bisa dimasuki sedikit golongan elit Minangkabau.

“Saya heran, kenapa Kakek (Dahlan Abdullah-red) bisa masuk sekolah itu karena keluarga saat itu bukan dari golongan elit Minangkabau”, ujarnya.


Karena keenceran otaknya, selepas dari Sekolah Raja, Dahlan melanjutkan sekolah ke negeri Belanda bersama Tan Malaka. Sekolahnya ke Belanda juga bersamaan dengan Djamaludin Rasad dan Zainuddin Rasad. Bertiga mereka akhirnya tercatat sebagai putra Pariaman pertama yang melanjutkan pendidikan ke Eropa (Negeri Belanda).


Di negeri Belanda ia bergabung dengan Perhimpunan Hindia untuk ikut serta memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sekembali ke Tanah Air, dia lalu bergabung dengan Partai Indonesia Raya (Parindra).


Ia sempat menjadi Dewan Kota Batavia, anggota Badan Pekerja Harian kota Batavia. Lalu pada masa penjajahan jepang, sempat diangkat menjadi Tokubetu Huku Sityoo atau Walikota Khusus Walikota Jakarta dan menjadi walikota (burgesmeester) Jakarta. Dalam masa perjuangan itu, dia sempat pula ditangkap dan dipenjara oleh Belanda. (403)

Harian Singgalang | August 25, 2014


TAGS  


Author

Recent Post

Recent Comments

Archive