Suryadi

In Memoriam Prof. Harun Zain (1 Maret 1927 - 19 Oktober 2014)

22 Oct 2014 - 10:42 WIB

f1a124eac369c7833e93a469244d6853_harun_zain

Pada Minggu pagi 19 Oktober 2014 Allah SWT telah memanggil kembali salah seorang putra Minang terbaik: Bapak Harul Alrasyid Zain, mantan Gubernur Sumatra Barat dua periode (1966-1977). Dalam usia 87 tahun, beliau pergi mengahadapNya dengan tenang di kediaman beliau di Jakarta.

Hasril Chaniago dalam 101 Orang Minang di Pentas Sejarah (2010:284) mencatat bahwa Harun Zain, begitu beliau sering dipanggil, adalah seorang gubernur yang berhasil mengembalikan harga diri orang Minangkabau yang hancur remuk akibat kalah dalam pergolakan PRRI (1958-1961). Dalam pertemuan penulis dengan Bapak harun Zain di kediaman beliau di Kebayoran Baru Jakarta pada 21 Januari 2014, beliau bercerita betapa pada masa awal tugasnya sebagai gubernur Sumatra Barat, beliau menghadapi masyarakat Minangkabau yang menekur ke tanah dan menggigil persendian jika berpapasan dengan polisi dan tentara (asal Jawa) di jalan-jalan. Suatu kali beliau turne ke daerah, dan di dekat Padang Panjang iring-iringan mobil beliau dicegat oleh polisi. Polisi membentak-bentak seperti sekuriti kolonialisme Belanda mengawasi pribumi, kenang beliau. Baru kemudian mereka sadar bahwa yang mereka cegat adalah rombongan gubernur Sumatra Barat.

Dilahirkan pada 1 Maret 1927 di Jakarta, Harun Zain merupakan anak keenam dari tujuh bersaudara dari pasangan linguis dan pekamus Indonesia asal Pariaman, Prof. St. Moehamad Zain dan Siti Murin. Masa kecil beliau praktis dijalaninya di rantau, sebab sudah sejak awal orang tua mereka sudah menjadi perantau Minang golongan kerah putih. St. Moehamad Zain sendiri, sang ayah, sudah meninggalkan Minangkabau sejak 1907, membina kariernya di Jawa, dan pernah menjadi dosen Bahasa Melayu di Universitas Leiden Belanda tahun 1922-1926 menggantikan orang kampungnya sendiri, Bagindo Dahlan Abdoellah.

Pendidikan dasar dan menengah Harun Zain dijalaninya di Jawa Timur karena sang ayah ditugaskan di sana selama tahun-tahun awal kemerdekaan Indonesia. Pada usia 18 tahun beliau, sebagaimana banyak pemuda republiken lainnya, telah ikut memanggul senjata mempertahankan Republik Muda Indonesia dari nafsu birahi Belanda yang ingin kembali menguasai tanah airnya.

Pada tahun 1950 Harus Zain mendapat kesempatan berkuliah di UI. Beliau tamat dari Fakultas Ekonomi UI pada 1958, dan setahun kemudian mendapat kesempatan untuk melanjutkan studinya ke Amerika Serikat di bidang perburuhan dan industri.

Tahun 1961 Harun Zain kembali ke Indonesia. Beliau mendapati ranah bundo-nya, Minangkabau, baru saja dikebat oleh tantara pusek menyusul dipadamkannya Pemberontakan PRRI oleh Presiden Soekarno dengan jalan militer. Melihat keadaan itu, dan didorong oleh intelektual Minang di perantauan, beliau terpanggil untuk membangun kampung halamannya. Mula-mula beliau menjadi dosen terbang untuk Universitas Andalas (di FKIP yang kini menjadi UNP) yang hampir vakum selepas perang. Kemudian beliau diangkat menjadi dekat Fakultas Ekonomi universitas itu sambil tetap bolak balik mengajar di UI, Jakarta. Pada Mei 1963 beliau diangkat menjadi Rektor Univeritas Andalas.

Pada tahun 1966, atas dukungan para perantau, tokoh politik, dan unsur-unsur masyarakat Minangkabau, Harun Zain ikut dalam pemilihan Gubernur Sumatra Barat dan terpilih. Presiden Soekarno melantik beliau sebagai Gubernur Sumatra Barat dengan tugas yang amat berat: membangun ekonomi dan kehidupan sosial politik dan budaya Minangkabau yang hancur akibat perang saudara (PRRI).

“Sebagai gubernur, setiap kali saya berpidato di depan niniak mamak dan masyarakat di berbagai daerah, saya menyuruh pengawal saya, tentara dan polisi menjauh dari lokasi pertemuan”, kata Harun Zain menceritakan salah satu rahasia kesuksesan beliau memimpin Sumatra Barat kepada saya dalam pertemuan di bulan Januari 2014 itu. Beliau juga menceritakan satu kunci penting lain: bila datang ke daerah-daerah, bertanyalah kepada masyarakat tentang apa yang mereka butuhkan, jangan sebaliknya, menjadi pejabat seolah mengetahui segalanya dan datang ke masyarakat dengan perintah ini dan itu.

Itulah antara lain kunci suskses Harun Zain memimpin orang kampungnya selama dua periode menjadi Gubernur Sumatra Barat. Dan sebagaimana telah dicatat oleh sejarah, nama beliau melekat di hati kalangan generasi Minangkabau yang masih hidup selepas Pergolakan PRRI. Hal itu merupakan refleksi kesuksesan beliau memimpin Sumatra Barat yang pernah kehilangan mantagi akibat kalah perang

Harun Zain mengakhiri jabatannya sebagai Gubernur Sumatra Barat tahun 1977, di zaman Orde Baru sedang naik daun. Hanya sedikit pejabat daerah yang semula diangkat oleh pemerintah sebuah orde (Orde Lama) yang selamat di tangan penguasa dari orde yang menyingkirkannya (Orde baru). Harun Zain adalah salah satu pengecualian. Malah, setelah turun dari kursi gubernur, Presiden Soeharto menariknya ke pusat dan menunjuk beliau sebagai Menteri Tenaga Kerja Kabinet Pembangunan III, menandai satu tradisi baru: gubernur yang ditarik oleh penguasa pusat menjadi menteri karena dinilai sangat sukses ketika menjadi pemimpin daerah.

Selesai menjadi menteri, Harun Zain masih dipercaya menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) hingga 1987, sambil juga menjabat sebagai Rektor Universitas Mercu Buana, Jakarta. Selanjutnya, sejak 1988-1992 beliau menjadi anggota MPR-RI.

Setelah meninggalkan dunia politik, Harun Zain tetap tinggal di Jakarta bersama anak-anaknya. Perkawinannya dengan istri tercinta, Ratna Sari, dianugerahiNya tiga orang putri: Ratna Heimawaty Zain, Yuliety Ilona Zain, dan Ratna Yuliaveranita Zain.

Walau sudah berjarak dengan dunia politik, Harun Zain tetap dihormati oleh komunitas perantau Minang di Jakarta. Beliau dianggap sebagai orang tua yang arif, pergi tempat bertanya, pulang tempat berberita. Dalam masa pensiun hingga akhir hayatnya, beliau tetap aktif dalam berbagai kegiatan yang menyangkut masyarakat Minang, seperti Gebu Minang, dll.

Berbagai penghargaan pernah diterima oleh Harun Zain dari negara. Juga banyak pujian dari tokoh-tokoh Minang dan nasional terhadap pribadi yang pergaulannya sangat luas ini, seperti terefeksi dalam buku Tokoh yang Berhati Rakyat: Biografi Harun Zain (Jakarta: Yayasan Gebu Minang, 1997) suntingan Abrar Yusra yang dipersembahkan kepada Harun Zain sempena perayaan 70 tahun usia beliau. “Dalam masa pensiunnya, banyak peneliti dan juga politisi yang datang mengunjungi Papa untuk bertanya bagaimana kiat beliau bisa sukses membangun daerah bekas konflik”, kata Ratna Heimawaty Zain kepada penulis.

Kini salah satu ‘kilau cahaya’ dari Tuhan untuk Minangkabau itu telah diambilNya kembali. Dan sekarang tiba giliran masyarakat Minangkabau sendiri untuk menaruh bekas ‘cahaya’ salah satu ‘intan berkilau Minangkabau’ itu di ranah bundo-nya sendiri: mengabadikan namanya - mungkin sebagai nama sebuah bandara, mungkin sebagai nama sekerat jalan, atau sebuah gedung publik, terserah kepada masyarakat yang akan memberikannya.

Selamat jalan Bapak Harun Zain. Jasamu selalu akan dikenang oleh masyarakat Minangkabau.

Suryadi - Leiden University, Leiden, Belanda | Esai ini dimuat di harian Singgalang, Rabu, 22 Oktober 2014

Foto : Wikimedia/image


TAGS  


Author

Recent Post

Recent Comments

Archive