Suryadi

Suryadi Raih Doktor di Universitas Leiden

18 Dec 2014 - 12:00 WIB

b9004cdcd57c769eadf40bbdec0af2fa_10314569_814509418621841_5839921863829526380_nSudah menjadi kisah banyak perantau Minang untuk tidak menyerah begitu saja menerima nasib di perantauan. Hal itu dibuktikan Suryadi, putra Sunur Pariaman, yang berhasil meraih gelar doktor di Faculteit der Geesteswetenschappen Leiden University pada hari Selasa (16/12). Sidang terbuka berlangsung selama satu jam. Kemudian dilanjutkan dengan borrel (acara minum-minum dan pemberian ucapan selamat) dan makan siang di Restoran Kwantung, Leiden.

Tak kurang dari 100 orang undangan menghadiri promosi Suryadi yang diadakan di Senaatkamer Academiegebouw Leiden University, Rapenburg 73, 2311 GJ Leiden. Dua kandidat doktor di Universitas Leiden bertindak sebagai pendamping (paranymphs) Els Bogaerts, MA (Belanda) dan Yuxi Nie, MA (Tiongkok).

Ikut acara promosi itu sang istri tercinta Nurlismaniar Mustafa, dan dua anaknya, Raisa Mahesvara Niadilova (13) dan Farel Darvesh Bramatias Suryadi (5).

Disertasi Suryadi berjudul ‘The Recording Industry and “Regional” Culture in Indonesia:The Case of Minangkabau’, dengan promotor Prof. Dr. B. Arps. Disertasi setebal 340 halaman itu (11 bab, termasuk introduction dan conclusion) membahas sejarah persentuhan teknologi rekaman suara dengan kebudayaan daerah Indonesia.

Disertasi itu mengkaji kehadiran berbagai jenis teknologi rekaman di Indonesia, sejak era gramofon di abad ke-19 sampai era VCD saat ini. Lalu signifikasi budaya yang dibawanya sebagai konsekuensi penggunaannya dalam menghadirkan dan merepresentasikan budaya lokal Indonesia.

Sebagai studi kasus, studi ini meneliti pertemuan teknologi-teknologi itu dengan budaya Minangkabau yang terkenal dengan sistem matrilineal dan budaya merantaunya.
Dalam disertasinya Suryadi meneliti bagaimana suara yang direproduksi berkat penemuan teknologi rekaman telah memengaruhi kehidupan manusia. Pada gilirannya, menyebabkan terjadinya transformasi masyarakat dan budaya lokal.

Suryadi dengan mulus melewati sesi tanya jawab yang cukup menegangkan dalam ruang senat Universitas Leiden yang berusia 400 tahun lebih (Universitas Leiden berdiri tahun 1575). Barisan para penguji terdiri dari Prof. Dr. Matthew Isaac Cohen (Royal Holloway University of London), Prof. Dr. Willem van der Molen dan Prof. Dr. Titik Pudjiastuti (Universitas Indonesia). Yang lainnya berasal dari Universitas Leiden sendiri, yaitu: Prof. Dr. Patricia Spyer, Prof. Dr. Nira Wickramasinghe, Prof. Dr. Remco Breuker, Prof. Dr. Kees van Dijk, Prof. Dr. David Henley, Dr. Bart Barendregt, dan Dr. Daniela Merolla.

Dalam acara borrel di lantai bawah Academiegebouw yang diadakan seusai sidang terbuka terihat pada undangan orang Eropa bercampur baur dengan orang Indonesia. Di antaranya Malik Abdullah (dari Maryland, Amerika) dan Iqbal Alan Abdullah (dari Jakarta), dua orang keturunan Bagindo Dahlan Abdullah, orang Minangkabau pertama (putra Pariaman) yang menjadi dosen bahasa Melayu di Leiden University (1919-1922), yang sekarang dijabat Suryadi. Juga terlihat dosen senior Universitas Andalas, Dr. Sawirman, yang datang dari Padang ke Leiden lewat Warsawa.

Satu tugas berat sudah terselesaikan, kata Suryadi dalam emailnya kepada Singgalang. Dapat dimaklumi bahwa disertasi ini ditulis oleh Suryadi sambil mengerjakan bermacam-macam tugas: mengurus keluarga, mengajar, menulis artikel ilmiah dan resensi buku untuk berbagai jurnal, termasuk pula mengasuh rubrik Minang Saisuak di Singgalang Minggu. (*)

Harian Singgalang | December 18, 2014


TAGS  


Author

Recent Post

Recent Comments

Archive