Suryadi

Renung #47 | 2015

12 Jan 2015 - 12:00 WIB

Tak terasa, hari ini sudah sebelas hari pula tahun 2015 kita lalui. Rasanya baru kemarin malam bunyi petasan dan semarak kembang api masih tampak-tampak di ruang mata. Sampah-sampah hasil produksi malam pergantian tahun masih basah oleh hujan semalam dan masih berserakan di taman-taman dan jalan-jalan kota.

Makin lama waktu makin cepat bergulir, dan terasa kian singkat. Inilah hakikat lain dari modernitas yang sering tidak disadari manusia: waktu yang semakin mengerut, seperti plastik terkena api. Manusia modern merasa makin tangkas mengejar waktu, tapi waktu makin cepat meninggalkan mereka. Makin modern manusia, mereka dan waktu makin seperti bayang-bayang di sore hari. Jarak ujung kaki dan ujung kepala dalam bayangan makin memanjang dan makin sulit dijangkau.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, di malam pergantian tahun dari 2014 ke 2015, manusia modern merayakannya dengan membakar kembang api, terompet dan petasan. (Di Belanda hanya petasan dan kembang api, tidak ada aksi ramai-ramai meniup terompet). Orang-orang bersulangan, berdansa-dansi, dan larut dalam eforia. Para kawula yang hidup dalam kemiskinan, sambil meremas perut, ikut terpana melihat tebaran cahaya di langit dan gemeretak bunyi petasan bersahut-sahutan. Berpuluh juta rupiah, euro, dan dollar dibakar dalam beberapa jam. Kepuasan apa yang diperoleh oleh para pelakunya? Entahlah!

Kita tidak tahu dari mana tradisi hingar bingar di malam pergantian tahun itu berasal dan kapan dimulai. Yang kita ingat adalah bahwa aksi itu mirip dengan perilaku orang-orang kuno si zaman lampau mengusir setan. Ada yang mengatakan tradisi itu dibawa orang Cina. Yang jelas, di kalangan orang Islam tradisi seperti itu juga sudah lama dipraktekkan, tak terkecuali di pantai barat Sumatera. Pedagang kesohor Pariaman pada paroh kedua abad ke-19 Muhammad Salleh Dt. Orang Kaya Besar dalam memoirnya Riwajat Hidoep dan Perasaian Saja (1914) menceritakan bahwa ketika dia berada di sebuah pelabuhan di pantai Barat Aceh - Bakongan, kalau saya tak salah - pada akhir abad 19, dia melihat pesta perayaan tahun baru di mana kapal-kapal yang sedang sandar dan melintas di pelabuhan menembakkan meriam dan orang-orang membakar suluh. Suara gaduh terdengar di mana-mana.

Jadi, bunyi dentuman dan tembakan serta kilau kelip cahaya api, yang asosiatif dengan senjata dan perang, sebenarnya sudah lama gayut dengan perayaan pergantian tahun. Tapi, yang mungkin tidak pernah kita inap menungkan adalah: apa hakikatnya? Mengapa orang harus merayakannya dengan cara seperti itu? Setiap tahun terjadi banyak kecelakaan karena membakar petasan dan kembang api di malam pergantian tahun. Ada yang mengalami luka bakar (ringan dan parah), bahkan ada yang sampai kehilangan nyawa. Tidak sedikit pula terjadi kebakaran rumah san mobil. Dan, seperti biasa, selalu ada pro kontra soal ini, yang terus berulang setiap tahun dan cenderung makin tidak berkeruncingan.

Kalau kita cari tali halusnya ke dalam dunia filsafat, mungkin kulikat manusia di malam tahun baru itu menunjukkan hakikat salah satu makhluk ciptaan Tuhan ini: cinta kepada duniawi. Berpesta pora berlebihan suka di malam pergantian tahun merupakan ekspresi pembangkangan kepada sang waktu. Dan wajar bila muncul kemalangan menyertainya, karena seperti kata Raja Ali Haji dalam salah satu bait Gurindam 12: ‘Terlalu berlebihan suka, pertanda dekatnya duka’.

Dengan mengusik malam yang senyap dengan kembang api dan bunyo daarrrderrrdoorrr, si manusia seorang ingin mengatakan: pergilah engkau tahun yang lama, aku masih punya tahun-tahun sesudahnya. Lihat, aku masih belum tertaklukkan olehmu. Aku masih hidup, aku masih akan terus melintasi dan menaklukkanmu, wahai sang waktu! Mereka melepas petasan dan kembang api di malam hari, menantang waktu untuk tidak tidur dan terus berjaga.

Sebaliknya, bagi mereka yang merasakan betapa singkatnya hidup manusia di dunia ini, malam pergantian tahun adalah waktu yang tepat untuk berefleksi, berdiam diri, tafakur mengenang Yang Maha Kuasa, meminta ampunanNya. Mereka berdiam diri di rumah, atau pergi ke rumah ibadah, bersujud di sajadah panjang, mengenang betapa banyak yang tersia-siakan dalam menjalani tahun yang baru saja lewat; betapa manusia hanya menunda habisnya waktu yang dipinjamkan Tuhan kepada mereka. Seperti kata Chairil Anwr: ‘Hindup hanyalah menunda kekalahan’.

Kedatangan tahun baru bagi mereka adalah peringatan bahwa jatah hidup di dunia ini telah berkurang setahun lagi. Kedatangan tahun baru justru disambut dengan rasa cemas: apakah aku akan dapat memanfaatkannya untuk berbuat baik dan lebih mendekatkan diri kepada Tuhan Pencipta Alam Semesta Raya ini? Apakah aku dapat mempertanggungjawabkan penggunaan waktu satu tahun yang sudah berlalu kepada Sang Pencipta Alam Semesta dan Waktu yang telah murah hati meminjamkannya kepada diriku? Dan garansi apa yang dapat aku berikan kepadaNya bahwa tahun 2015 akan dapat kugunakan dengan lebih baik?

Di mana Anda merayakan tahun baru dan bagaimana Anda merayakannya, merefleksikan prinsip hidup Anda dan makna yang Anda berikan kepada waktu dan kehidupan Anda, anugerah Tuhan yang teramat singkat dan secuil itu.

Padang Ekspres, Minggu, 11 Januari 2015


TAGS  


Author

Recent Post

Recent Comments

Archive