Suryadi

Renung #48 | Batas Satir

19 Jan 2015 - 11:30 WIB

Kasus penembakan terhadap wartawan dan kartunis koran Charlie Hebdo di Paris minggu lalu, membuat kita bertanya: sampai di manakah sesungguhnya batas satir? Berita yang kita dengar adalah bahwa dua penembak meneriakkan ‘Allahu akbar’ sebelum memuntahkan peluru dari kalashnikov mereka. Kemudian opini banyak orang di dunia, dari yang paling pintar sampai yang paling bodoh, digiring ke arah isu terorisme yang, langsung atau tidak, menyudutkan umat Islam. Media Barat secara tangkas langsung melahap kejadian itu dengan menambah asam garam dan bumbu-bumbu dalam pemberitaannya: bahwa pembunuhan itu terkait dengan karikatur Charlie Hebdo yang melecehkan Nabi Muhammad yang sangat menyinggung perasaan umat Islam. Maka bergembiralah para petualang politik Eropa abad 21 yang menggunakan sumbu api Islamophobia untuk mewujudkan ambisi-ambisi politik mereka.

Akan tetapi banyak orang melalui media sosial langsung memberikan ulasan lain: bahwa kasus Charlie Hebdo sebenarnya adalah sandiwara yang dilakukan oleh ’setan-setan besar dunia’, pemburu tampuk bumi. Tujuannya adalah untuk meningkatkan sentimen anti Islam di Eropa khususnya dan di dunia pada umumnya. Orang bertanya-tanya, karikatur yang melecehkan Nabi Muhammad sudah lama dirilis oleh Charlie Hebdo, tapi kok sekarang terjadi penembakan itu?

Associate editor jurnal Wall Street Dr. Paul Craig Roberts bahkan memberi ulasan lebih jauh lagi. Kasus Charlie Hebdo adalah ‘sebuah false flag operation’, yang digunakan untuk ‘suatu atau beberapa tujuan yang lebih besar’, katanya. Salah satu tujuannya, ulasnya lagi, adalah untuk membawa Paris kembali ke orbit Washington yang sejak jatuhnya sanksi Amerika dan antek-anteknya kepada Rusia telah membuat ekonomi Perancis seret karena melorotnya hubungan ekonomi Paris - Moskow sampai batas bawah pusar. Sudah berkali-kali para petani Perancis memprotes pemerintahnya sendiri, yang begitu suka ngendon di ketiak AS, karena sanksi yang disetir oleh Obama dan konco-konconya telah merugikan mereka karena Hollande melarang mereka mengekspor hasil-hasil pertanian mereka ke Rusia. Ada pula yang mengaitkannya dengan dukungan publik Perancis yang semakin kuat terhadap Palestina. Oleh karena itu, muncul wacana tandingan: serangan Paris bukan berasal dari Islam. Ini adalah bagian dari rekayasa yang berkelanjutan untuk menyudutkan umat Islam.

Akan tetapi, lepas dari semua itu, kita ingin bertanya: sejauh manakah para kartunis boleh melacurkan diri mereka untuk memperolok (para penganut) agama? Apakah komunitas media Perancis (juga di Denmark), dan pemerintahnya, tidak malu melihat tindakan segelintir anggotanya yang berjiwa rendah dan bermental hina itu? Katakanlah para kartunis itu tidak percaya kepada Tuhan, tapi apakah lantas mereka boleh melecehkan apa saja, termasuk Tuhan dan orang-orang suci yang dihormati oleh penganut agama tertentu?

Dalam konteks inilah, masyarakat dunia menjadi terbelah dalam melihat kasus Paris itu. Ada yang berpendapat bahwa kebebasan berekspresi mesti ada batasnya. Kebebasan yang bablas tak terkendali akan merusak tatanan sosial. Jangan sampai dunia ini dirusak oleh para kartunis yang tidak lagi memiliki rasa respek kepada agama dan orang-orang yang masih mempercayai akan adanya Tuhan. Mereka tidak lebih dari penyebar kebencian.

Para kartunis memang identik dengan satir. Mereka adalah orang-orang tempat kita minta bantuan untuk menertawakan diri sendiri. Melalui karikatur yang mereka buat, kita dapat bercermin dan mengeritik diri sendiri. Mereka mengeritik berbagai aspek kehidupan manusia, politik khususnya. Mereka membuat senang perasaan orang-orang tertentu, tetapi sekaligus juga membuat banyak orang lain tersinggung, khususnya mereka yang dijadikan objek lelucon dalam karikatur mereka.

Namun, jarang kita mendengar para kartunis diserang oleh orang-orang yang mereka parodikan dalam karikatur-karikatur mereka. Para kartunis berlindung di bawah payung kebebasan media. Negara pun cenderung melindungi mereka. Tak ada yang dapat mencegah sampai batas mana mereka ingin berbuat kecuali perasaan dan moral mereka sendiri yang akan memandu tangan mereka. Jika hati mereka sudah berulat, maka hasil kerja mereka tidak akan banyak manfaatnya bagi kemaslahatan orang banyak.

Dan kini itulah yang terjadi: lahirnya segelintir kartunis berjiwa busuk dan kurang kreatif. Mereka telah merusak nama baik komunitas kartunis. Dengan mendengung-dengungkan kebebasan berekpresi dan kebebasan media, kartunis-kartunis yang kurang kreatif itu, yang hati mereka tiada lagi menaruh rasa respek dan rasa malu, telah beraksi kelewat batas.

Olok-olok yang sangat menyinggung aspek paling sakral dari agama apapun, mungkin akan menimbulkan reaksi. Barangkali banyak orang mengutuk dalam diam, tapi pasti ada satu-dua yang menunjukkan rasa tidak suka seradikal para kartunis itu sendiri melecehkan agama mereka melalui karikatur yang mereka buat. Jika ayah-ibu para kartunis itu sendiri dibuat jadi objek karikatur, misalnya digambarkan bertelanjang sambil melahap tahi anjing, bagaimanakah kira-kira perasaan mereka?

Para kartunis sesat tidak akan tahu lagi batas satir. Mereka tak bisa lagi membedakan kata lelucon dan penghinaan. Mereka menyinggung perasaan pemeluk berbagai agama dan memberi citra buruk pada dunia media. Mereka tahu itu, tapi mereka tak tahu cara lain untuk mendapatkan uang.

Padang Ekspres, Minggu, 18 Januari 2015


TAGS  


Author

Recent Post

Recent Comments

Archive