Suryadi

KELISANAN DAN KEBERAKSARAAN DALAM SURAT KABAR DI MINANGKABAU

21 Jan 2015 - 16:23 WIB

KELISANAN DAN KEBERAKSARAAN DALAM SURAT KABAR TERBITAN AWAL DI MINANGKABAU (1859 - 1940-AN)

6292723eb7749620b20d4c432deff3e8_xc-szJudul :, Kelisanan dan Keberaksaraan dalam Surat Kabar Terbitan Awal di Minangkabau (1859 - 1940-an).

Penulis : Sastri Sunarti

Tebal : 2013, xvi + 287 halaman.

Penerbit : Jakarta: KPG - EFEO - KITLV Jakarta - Fadli Zon Library,

ISBN (Indonesia): 978-979-91-0655-1;

ISBN (Perancis): 978-285-539-188-5;

KPG: 901 13 0750 (paperback). (Pustaka Hikmah Disertasi (PhD) Seri IX; Kajian Lintas Media)

Selama ini, wacana akademik tentang pers pribumi (vernacular press) terbitan awal di Indonesia dan Malaysia lebih sering dihubungkan dengan lahirnya nasionalisme kaum pribumi yang berujung pada perlawanan terhadap kelonialisme Eropa. Hal itu antara lain dapat dikesan dari karya Ben Anderson Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism (London: Verso, 1991) dan karya William R. Roff The Origin of Malay Nationalism (Kuala Lumpur: Oxford University Press, 1994). Kedua karya itu mendewakan tulisan, khususnya surat kabar pribumi, sebagai faktor kunci yang mendorong kelahiran dan bertumbuhkembangnya perasaan kebangsaan, meskipun barangkali penulisnya tahu bahwa hanya segolongan kecil kaum pribumi pada akhir abad ke-19 dan awal abad 20 yang melek huruf Latin. Baik Anderson maupun Roff tampaknya mengabaikan kekuatan lisan seperti pidato-pidato Soekarno (langsung atau melalui radio) dan siaran-siaran musik pribumi dalam rekaman gramofon dan siaran radio, sebagaimana dikaji oleh Susumu Takonai (2006), yang lebih berdampak luas, baik terhadap orang yang melek huruf maupun yang buta huruf Latin, dalam menyemaikan nasionalisme di kalangan kaum pribumi Indonesia.

Buku ini, yang semula merupakan disertasi penulisnya di Universitas Indonesia (2011), secara tidak langsung mengingatkan kita untuk kritis terhadap postulat Anderson dan Roff tersbut, yang cenderung melihat fenomena dunia keberaksaraan cetak (print literacy) Indonesia awal abad 20 dari “geladak kapal Eropa” dan kurang memperhatikan adanya unsur kelisanan (orality) dalam tulisan-tulisan beraksara Latin, buah dari kehadiran industri percetakan di Hindia Belanda dan Negeri-negeri Selat (The Straits Settlements) sejak paroh kedua abad 19. Muhammad Haji Salleh menyebut fenomena kultural ini sebagai “menyurat pada dengung” (Salleh, 1995), dan Amin Sweeney yang sangat kritis terhadap kacamata kuda Eurosentris dalam penelitian sastra Melayu menyebutnya sebagai “surat naskah angka bersuara” (Sweeney, 1998).

Buku ini membahas efek “the technologizing of the word” - meminjam istilah Walter J. Ong (1982) - dalam konteks kebudayaan lokal Indonesian di akhir zaman kolonial. Sastri Sunarti menunjukkan bagaimana unsur-unsur kelisanan yang menjadi perangkat lunak penciptaan, pemeliharaan, dan pewarisan khazanah pengetahuan lokal dalam kebudayaan Minangkabau direpsentasikan dalam medium baru yang berbasis huruf cetak hasil adopsi terhadap teknologi Barat dalam wujud surat kabar yang terbit di Sumatera Barat pada paroh kedua abad 19 dan paroh pertama abad 20.

Buku ini terdiri dari empat bab utama (Bab II, III, IV dan V) yang dibuka dengan pendahuluan (Bab I) dan kesimpulan (Bab VI). Dalam Bab II (21-34) yang memaparkan teori dan metodologi, penulis mendedahkan ciri-ciri kelisanan seperti penggunaan bentuk kesejajaran (paralelisme), asonansi, aliterasi, simplok, responsi, dan ciri keberaksaraan yang cenderung membentrokkan gagasan sehingga memunculkan gagasan baru (29). Salah satu konsep penting yang dibahas dalam bab ini, walaupun menurut saya belum cukup mendalam diuraikan, adalah soal noetika (noetic), yaitu tentang bagaimana pikiran dan intelektualitas di-/terbentuk dalam suatu kelompok masyarakat tertentu. Masuknya Indonesia ke dalam budaya keberaksaraan cetak pada akhir abad 19 telah menimbulkan transformasi pada aspek noetika masyarakatnya, karena di samping budaya lisan dan keberaksaraan tulis (kirografi) yang sudah lebih dulu eksis, kini mereka dihadapkan pada budaya keberaksaraan cetak.

Tiga bab berikutnya yang menjadi inti buku ini, yaitu Bab III, Bab IV, dan Bab V, berturut-turut memaparkan konteks sosial percetakan dan penerbitan awal di Minangkabau (1859-1940-an), perkembangan keberaksaraan dan orientasi lisan dalam surat kabar dan majalah terbitan awal di Minangkabau, dan struktur dan isi surat kabar dan majalah terbitan awal di Minangkabau.

Populernya bentuk pantun dan syair dalam surat-surat kabar terbitan awal di Minangkabau menjadi salah satu fokus perhatian penulis dalam Bab III (35-88). Hanya saja tak ada diskusi lebih lanjut bagaimana format surat kabar (medium baru) menghadirkan bentuk baru pula pada format penulisan pantun. Kita tahu bahwa dalam tradisi naskah masih ada pantun dan syair yang ditulis sejajar dari margin kiri ke margin kanan kertas. Jadi, baris pertama dan kedua (sampiran) ditulis sejajar, dan baris ketiga dan keempat (isi) diletakkan di bawahnya dengan posisi sejajar pula. Dalam surat kabar, format penulisan seperti itu sama sekali hilang, berubah menjadi berjejer empat baris ke bawah. Ini jelas disebabkan oleh penggunaan format kolom dalam halaman-halaman surat kabar. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa perbedaan medium turut mengubah perwujudan fisik sebuah genre.

Dalam bab ini penulis juga membahas masyarakat pembaca surat kabar terbitan awal di Minangkabau. Namun, uraian penulis terasa agak kering dari aspek empiris. Cukup banyak bukti yang menunjukkan bahwa pada zaman itu lidah seorang yang melek huruf menjadi “mikrofon” bagi telinga banyak orang yang buta huruf. Dengan kata lain, dalam kesempatan tertentu teks surat kabar didaraskan. Adalah cukup biasa pada waktu itu seorang yang pandai membaca dan menulis huruf Latin, yang menurut informasi intelektual Minang Ibrahim Marah Soetan dipercayai oleh segolongan orang Minangkabau akan menyebabkan malaikat memotong jari mereka di akhirat nanti karena dianggap mengikuti budaya orang “kafir”, membantu melisankan isi surat kabar untuk orang lain yang tidak pandai membaca. Terdapat banyak sketsa dan foto mengenai fenomena ini (lihat antara lain dalam edisi-edisi Bintang Hindia, 1901-1907). Ini artinya bahwa untuk tahap awal, model apresiasi dalam budaya naskah masih diteruskan dalam budaya cetak.

Dalam Bab IV (89-154) penulis menguraikan mundurnya pranata keberaksaraan tulis dan berkembangnya budaya keberaksaraan cetak sejak pergantian dari abad 19 ke abad 20. Analisis yang mendalam mengenai aspek sitanksis dan struktur kalimat dalam beberapa jenis rubrik yang terdapat dalam surat kabar terbitan awal di Minangkabau yang dilakukan penulis menunjukkan adanya persambungan ke tradisi lisan dalam dunia percetakan pada periode itu. Sayangnya penulis alpa untuk memberi perhatian pada motto surat kabar-surat kabar yang dibahas, yang sering ditemukan di bagian atas halaman judul banyak surat kabar lama, yang menurut hemat saya merupakan salah satu “jalur” tekstual penting yang dapat dinapaktilasi oleh seorang peneliti dalam kapasitasnya sebagai penafsir teks untuk mengelaborasi lebih dalam “khalayak andaian” dan “khalayak sasaran” yang dibicarakan di bagian akhir Bab V. Bab ini (155-213) memberi kesimpulan kepada kita bahwa struktur sebuah surat kabar yang terbit dalam periode yang dikaji sangat ditentukan oleh visi dan misi surat kabar tersebut.

Ignatius Haryanto yang memberi pengantar untuk buku ini (xi-xvi) menggarisbawahi pendekatan lintas disiplin yang diterapkan oleh penulisnya. Menurutnya, kajian ini telah memberi kontribusi pada studi tentang (sejarah) press dan komunikasi di Indonesia. Namun, menurut hemat saya, apapun kombinasi pendekatan yang dipakai, hendaknya model penelitan seperti ini dapat memperkaya dunia akademis kita dalam memahami konsep noetika bangsa sendiri, sehingga temuan-temuan yang diperoleh dapat membantu dalam menciptakan program dan kebijakan di ranah praktis dalam rangka memajukan bangsa dan negara Indonesia.

Dr. Suryadi

Leiden Institute for Area Studies, SAS Indonesia

Leiden University, The Netherlands

s.suryadi@hum.leidenuniv.nl

* Resensi ini dimuat di Kompas, Minggu, 11 Januari 2015


TAGS  


Comment

Author

Recent Post

Recent Comments

Archive