Suryadi

Renung #49 | Anda

26 Jan 2015 - 12:00 WIB

Sebuah tulisan oleh Idham Hamdani muncul di laman Facebook seorang teman. Judulnya: ‘Disapa “Anda” malah tersinggung’ (http://goo.gl/oq3U3N). Tulisan itu memaparkan kekeliruan pemakaian kata ganti diri ‘Anda’ oleh seorang guru yang berbicara dengan para orang tua murid di sebuah sekolah. Menurut para orang tua murid itu, kata ‘Anda’ yang dipakai oleh si guru ketika berbicara dengan mereka menimbulkan kesan formal dan tidak menghadirkan suasana akrab. Kata ‘Anda’ dianggap juga memberi kesan bahwa si pembicara sombong dan memandang rendah lawan bicaranya.

Saya sependapat dengan para orang tua murid itu. Bila seseorang memanggil ‘Anda’ kepada saya ketika berbincang-bincang, saya langsung merasa terganggu. Saya digiring ke suasana sangat formal dan juga merasa lawan bicara saya agak pongah. Saya lebih suka memakai kata ‘Saudara’.

Peneliti LIPI Dr. Erwiza Erman, dalam sebuah komunikasi pribadi dengan saya, mengatakan bahwa beliau sangat terganggu melihat berbagai acara talkshow di TV-TV kita sekarang, di mana pembawa acaranya yang masih muda mentah memanggil ‘Anda’ kepada para narasumber yang berusia (jauh) lebih tua dari mereka. Saya yakin banyak orang merasakan hal yang sama, termasuk saya. Orang Indonesia yang masih waras dan tahu sopan santun - konon ini adalah salah satu ciri bangsa kita - pasti risih mendengarkannya. Bayangkan, seorang pembawa acara atau reporter TV mengucapkan kata ‘Anda’ kepada seseorang yang seusia dengan ayah, ibu, kakek atau neneknya. Itulah realita sosiolinguistik Bahasa Indonesia sekarang: menipisnya kesopanan dan etiket berbahasa.

Menurut saya, fenomena penggunaan kata ‘Anda’ ini hanyalah bagian kecil dari pergeseran nilai budaya dalam Bahasa Indonesia, seiring dengan eforia demokrasi yang melanda (jiwa anak) negeri ini. ‘Bahasa menunjukkan bangsa’, kata sebuah ungkapan klasik. Jadi, jika bahasa berubah, itu menunjukkan adanya perubahan aspek psikologi sosial dalam masyarakat penuturnya. Generasi masa kini bangga memakai kata ‘Anda’, karena dianggap lebih demokratis dan punya urban sense. Malah ada pula yang beranggapan kata ‘Bapak’ dan ‘Ibu’ bersifat feodal.

Seperti saya katakana di atas, Bahasa Indonesia memiliki kata ganti orang kedua ‘Saudara’. Kata itu sudah lama ada dalam perbendaharaan kata bahasa nasional kita itu. Kenapa kita tidak memakai kata itu? Saya lebih suka dipanggil ‘Saudara’, sebab kata itu mengakrabkan, membuat yang berbicara dan lawan bicaranya lebih dekat secara emosional. Salah seorang yang selalu memanggil saya ‘Saudara’ setiap ada kesempatan berbincang-bincang dengan beliau adalah Prof. Henry Chambert-Loir, filolog naskah Nusantara asal Perancis. Menurut saya, beliau adalah salah seorang bangsa asing yang sangat memahami aspek sosiol budaya Bahasa Indonesia.

Kata ‘Saudara’ bisa digunakan untuk lawan bicara sesama usia atau yang lebih muda. Sedangkan untuk orang yang lebih tua, kita bisa memakai kata ‘Bapak’ dan ‘Ibu’, dan aneh jika ada yang menganggap kedua kata itu bernuansa feodal. Bukankan kata itu juga bisa digunakan untuk menyapa kedua orang tua kita? Kata ‘Bapak’ dan ‘Ibu’ lebih fleksibel dibanding kata ‘Puan’ dan ‘Tuan’ yang dipakai di Malaysia yang, bila ditujukan kepada orang dari kelas sosial yang lebih rendah, mungkin dianggap sebagai melecehkan atau mengolok-olok.

Penggunaan kata ‘Anda’, mungkin memang bermula dari kalangan kelas sosial tinggi dan petinggi militer di metropolitan Jakarta. Ahli bahasa Prof. Jim Collins, yang sudah sejak tahun 1960-an mengamati Bahasa Indonesia, menceritakan kepada saya bahwa pada dekade 1970-an dan 80-an kata ‘Anda’ sangat terbatas pelafalannya: hanya dipakai bila berbicara dengan orang asing (dalam pengertian orang yang tidak memiliki hubungan yang rapat dengan kita dan foreigner), dan juga di kalangan militer. Menurut beliau, kata ‘Anda’ hampir tak pernah dilafalkan, hanya ditemukan dalam tulisan-tulisan tercetak.

Jadi, kata ‘Anda’ mungkin cukup cocok digunakan dalam komunikasi ragam tulis. Sementara dalam ragam lisan, kita punya kata ‘Saudara’. Walau ada juga kata, ‘kamu’ dan ‘kau’, kedua kata itu tentu lebih cocok dipakai dalam suasana bicara yang bersifat informal.

Jadi, biarkan kata ‘Anda’ dalam ragam lisan dipakai oleh orang-orang parlente di Jakarta sana, dalam debat-debat tidak berkeruncingan yang terus menjamur di TV-TV. Kalau di Padang, ah… janganlah ber-Anda-Anda pula angku ka aden lai!

Padang Ekspres, Minggu, 25 Jauari 2015


TAGS  


Author

Recent Post

Recent Comments

Archive