Suryadi

Renung #51 | Dikutuksumpahi adat, dikibuli modernitas

9 Feb 2015 - 12:00 WIB

Apa guna adat di zaman ini?

Kita sering mendengar kalimat sinis seperti itu keluar dari mulut orang-orang yang menyembah London dan New York, Mekah, dan Madinah - mereka yang menganggap dirinya lahir dari rahim modernitas atau para pengapling sorga. Dalam setiap zaman, orang-orang seperti itu datang silih berganti. Mereka memandang adat negerinya sebagai penghalang kemajuan. Orang-orang seperti itu ada dimana-mana, juga di Minangkabau.

Dan kronik Minangkabau adalah kisah panjang persitegangan antara mereka yang mencintai adat dan yang ingin membuangnya.

Namun, sejarah mencatat, mereka yang ingin mengenyahkan adat itu selalu jatuh menjadi pecundang.

Di tahun 1925, setelah mengunjungi Sumatra Barat, Parada Harahap, wartawan prolifik kelahiran Tapanuli itu menulis: “Saja rasa tidak ada satoe bangsa dimoeka boemi ini jang paling koeat memegang adat, selain dari bangsa Minangkabau ditanah airnja. Saja maoe bilang 99% dari segala kehidoepannja dan perboeatannja dinegerinja, adat ke adat sadja, sehingga dalam pertjakapan hari-harian poen bisa kedengaran hal ini”. Demikian Parada menulis dalam bukunya menarik dan penuh informasi, Dari pantai ke pantai: perdjalanan ke-Soematra, October - Dec. 1925 dan Maart - April 1926. Weltevreden: Uitgevers Maatschappij Bintang Hindia, 1926, hlm.70.

Parada mungkin tidak berlebihan. Masih di era yang sama sebuah ungkapan Minangkabau pernah menjadi buah bibir anak negerinya: “Ulando babenteng basi, Minangkabau babenteng adaik” (Belanda berbenteng besi, Minangkabau berbenteng adat).

Akan tetapi pada masa itu, Minangkabau sebenarnya sedang bergolak dari segi budaya. Itu adalah era ketika orang-orang muda sedang gandrung-gandrungnya kepada modernitas dan Islam puritan. Mereka berhadapan dengan generasi bapak dan mamak mereka yang mereka sebut “kaum tua”. Seperti dapat disimak dalam studi Taufik Abdullah, Schools and politics: the Kaum Muda movement in West Sumatra (1927-1933) (1971), orang-orang muda yang suka mengenakan jas, dasi, dan pantalon itu menganggap diri mereka modern, dan orang-orang tua itu adalah kaum kolot. Namun, serangan yang begitu gencar dari orang-orang muda tersebut, yang menganggap adat tidak sesuai lagi dengan peredaran zaman, tak mempan menggeser kedudukan ‘kaum tua’ itu, sebab orang-orang muda itu hanyalah generasi geneang bak si buntung baru dapat cincin.

Dalam zaman yang terus bergulir, persitegangan antara kedua pihak itu terus belangsung sambung-sinambung, dengan tokoh-tokohnya yang silih berganti. Minangkabau - dan barangkali juga etnis-etnis lainnya di negara ini - terus-menerus berada dalam dinamik antara warganya yang mendukung adat dan yang menentangnya. Ada kalanya mereka yang ingin meninggalkan adat itu berada di atas angin, kali lain mereka berada di bawah angin.

Di zaman sekarang kita mendengar berbagai kritik bahwa orang Minangkabau sudah banyak yang tidak beradat lagi. Apakah itu berarti mereka jadi modern dan menjadi lebih baik? Ternyata yang sering terjadi adalah munculnya manusia-manusia yang cenderung mengalami masalah kepribadian, tidak jadi ular, tidak pula jadi belut. Jadi, dengan meninggalkan adat pun, tampaknya orang tidak menjadi lebih baik.

Maka, yang gencar terdengar sekarang ini adalah usaha untuk kembali ke jalan adat. Modernitas yang begitu dahsyat melanda masyarakat kita rupanya telah memunculkan kembali kerinduan kepada adat. Globalisasi yang cenderung menimbulkan keseragaman di mana-mana telah memunculkan arus balik budaya dimana orang ingin mencari lagi identitas lokal mereka.

Mungkin sudah menjadi garis nasib bahwa masyarakat kita selalu berada dalam tegangan antara membela adat dan menentangnya. Di satu sisi orang ingin lepas dari adat, di sisi lain orang ingin mempertahankannya.

Orang yang meninggalkan adatnya sering menghadapi masalah identitas. Mereka sebenarnya tidak tahu mau hijrah ke mana. Sebab dalam kenyataannya di dunia ini tidak ada orang yang berasal dari sebuah kebudayaan bisa pindah total (raga, lebih-lebih lagi jiwa) ke dalam kebudayaan lain.

Maka, zaman ini, seperti di zaman-zaman lampau, terus melahirkan Hanafi-Hanafi, protagonis roman Salah Asuhan itu, yang mengalami keterbelahan identitas dan tidak tahu lagi siapa sejatinya diri mereka. Mereka adalah liyan yang dikutuksumpahi adat nenek moyang mereka sendiri dan dikibuli oleh modernitas Barat yang tak pernah sepenuhnya mampu mereka gapai.

Padang Ekspres, Minggu, 8 Februari 2015


TAGS  


Author

Recent Post

Recent Comments

Archive