Suryadi

Orang Minang di Eropa

13 Feb 2015 - 05:30 WIB

5e0ca570c756b56f368a002c1654641a_suryadi-orang-minang-di-eropa-nofend

Kisah orang Minang di perantauan mungkin sudah sering kita dengar. Lantaran perantau Minang ada di mana-mana, kisah-kisah para perantau Minang itu seakan-akan tak habis-habisnya ditulis orang, dalam berbagai genre, fiksi maupun non fiksi.

Namun kebanyakan kisah para perantau Minang yang sering kita baca di media (konvensional dan media sosial), adalah mengenai mereka yang merantau di berbagai wilayah Indonesia di luar Provinsi Sumatera Barat. Kalaupun ada cerita-cerita dari luar negeri mengenai mereka, lebih sering berasal dari negara-negara jiran seperti Malaysia dan Singapura.

Kita belum banyak tahu mengenai kehidupan para perantau Minang di rantau-rantau antar benua. Tulisan ini menceritakan sedikit tentang pertemuan para perantau Minang di Eropa yang baru-baru ini dilangsungkan di Belanda. Pertemuan yang sekaligus untuk merayakan malam tahun baru itu diadakan di rumah Efi Carelse di Alkmaar, Belanda. Efi Carelse adalah seorang perantau Minang asal Taram, Limapuluh Kota, yang mendapat jodoh lelaki Belanda bernama Daniel Carelse. Mereka dikaruniai dua anak perempuan. Sebagaimana generasi indo di zaman kolonial, anak-anak Efi-Carelse secara fisik dan mental lebih dekat ke budaya bapaknya. Akan tetapi mereka sangat ingin tahu budaya asal ibu mereka.

Pertemuan di malam tahun baru 2015 itu dihadiri oleh beberapa keluarga Minang yang tinggal di Belanda, Jerman, Italia, dan Swiss. Tentu saja tidak semua perantau Minang dapat hadir pada kesempatan itu. Di Eropa sendiri, orang Minang ada di mana-mana, konon juga di negara-negara yang terletak di lingkaran kutub Utara seperti Norwegia dan Islandia.

Dari pertemuan itu terlihat semangat keminangan yang sangat tampak jelas di antara anak-kemenakan Datuak Katumanggungan dan Datuak Parpatiah Nan Sabatang yang terdampar jauh di ‘Tanah Dingin’ - istilah untuk Benua Eropa yang dipakai oleh orang Indonesia di Zaman Kolonial.

Para tamu yang hadir di rumah keluarga Efi Carelse memakai pakaian tradisional Minangkabau. Barangkali ini refleksi dari ikatan batin mereka dengan kampung halaman. Walau tinggal jauh di Eropa dan rata-rata berada dalam kondisi hidup yang lebih baik secara ekonomi, hubungan emosional mereka dengan ranah bundo tetap kuat. Dalam kesempatan itu dipertunjukkan tari-tarian dan lagu Minang, dan tentunyajuga santapan malam berupa aneka masakan Minang, mulai dari gulai asam padeh sampai rendang. Anak-anak Efi Carelse yang berdarah indo itu juga tampil menari.

Tidak ada data statistik berapa persisnya jumlah perantau Minang di Eropa. Juga tidak ada organisasi tunggal yang kuat yang menyatukan mereka. Pertemuan-pertemuan di antara perantau Minang lebih karena inisiatif beberapa pribadi, dan itu menjadi mungkin berkat bantuan teknologi sosial media seperti Facebook. Fenomena umum menunjukkan bahwa para perantau Minang, di manapun mereka berada, cenderung meleburkan diri ke dalam masyarakat tempatan. Mereka jarang membentuk enclave di rantau, sebagaimana dilakukan oleh para perantau dari etnis-etnis lainnya. Mungkin ini pengejawantahan dari ungkapan adat mereka ‘Dima bumi dipijak, di sinan langik dijujuang’.

Secara umum dapat dikatakan bahwa komposisi perantau Minang di Eropa sekarang relatif berbeda dengan masa kolonial. Di Zaman Kolonial para perantau Minang yang berada di Benua Putih itu umumnya berasal dari kalangan mahasiswa dan intelektual, seperti Amroellah gelar Soetan Mangkoeta, Abdoel Rivai, kakak beradik dan saudara sepupu Djamaloeddin Rasad, Zainoeddin Rasad, dan Bagindo Dahlan Abdoellah, Tan Malaka, Muhammad Hatta, Nazir Datoek Pamoentjak, Roestam Effendy, Sutan Sjahrir, dan Soetan Mohammad Zain - untuk sekedar menyebut beberapa nama. Rantau mereka pun lebih terkonsentrasi di Belanda, karena kebanyakan dari mereka belajar di institusi-institusi pendidikan yang ada di Belanda. Satu-dua orang juga merantau di Jerman, Perancis, dan Swiss.

Pada zaman sekarang perantau Minang yang ada di Eropa terlihat lebih beragam. Kaum mahasiswa dan intelektual masih tetap ada, tapi jumlahnya lebih sedikit dibanding orang biasa. Banyak di antara mereka yang berasal dari kalangan orang biasa ini adalah perempuan Minang yang bersuamikan lelaki Eropa dan lelaki Minang yang beristrikan perempuan Eropa. Ada juga pasangan suami-istri yang dua-duanya orang Indonesia (sesama Minang atau antara Minang dengan pasangan dari suku lain) yang karena satu dan lain alasan akhirnya terdampar di Eropa.

Mungkin cukup lumrah jika banyak lelaki Minang yang kawin dengan perempuan Eropa, lantaran tradisi merantau lelaki Minang sudah lama ada. Di zaman lampau pun hal itu sudah dilakukan oleh Abdoel Rivai, Sutan Sjahrir, Zainoeddin Rasad, dll., yang beristrikan wanita kulit putih. Tapi kalau perempuan Minang yang menikah dengan lelaki Eropa bagaimana pula tuh ceritanya? Kiranya menarik untuk diadakan penelitian lebih jauh mengenai hal ini. Di manakah pada umumnya mereka bertemu pada awalnya? Apakah dalam rumah tangga, istri-istri Minang itu menarik suami Eropanya masuk Islam? Dari segi budaya dan agama, bagaimana mereka membesarkan anak-anak mereka? Dan tentu banyak pertanyaan sosiologis lain yang menarik untuk diketahui dari keluarga campuran Minang-Eropa tersebut.

Namun, yang jelas hubungan asmara antara perempuan Minang dengan lelaki Eropa terjadi tidak hanya di zaman sekarang saja, tapi sudah sedari dulu ada. Sejauh yang diketahui, wanita Minang pertama yang menikah dengan lelaki Eropa adalah seorang yang bernama (Ence’) Lena yang kawin secara temporary spouse dengan John Marsden, kakak lelaki William Marsden, sekitar 1783 (atau lebih awal) di Bengkulu. Tapi keduanya harus berpisah selamanya ketika Johh harus kembali ke Inggris dengan membawa dua dari tiga anak mereka (keduanya perempuan, bernama ‘Nona Kete’ dan Nona Gadang). Surat-surat pribadi Lena yang menyentuh hati yang dikirimkannya kepada John Marsden yang membawa dua anaknya ke negeri utara yang jauh untuk tidak akan pernah kembali lagi ke Sumatra telah dikaji oleh E. Ulrich Kratz dalam artikelnya ‘Like a fish gasping for water: the letters of a temporary spouse from Bengkulu’, Indonesia and the Malay World 34,100 (2006: 247-280).

Para perempuan Minang sekarang yang bersuamikan lelaki Eropa, seperti Efi Carelse, tentu tidak akan diseso rindu seperti Lena. Setelah menikah, umumnya mereka langsung diboyong oleh suami mereka ke Eropa. Akan tetapi, jarak rantau yang mereka huni yang jauhnya hampir separo keliling bumi dengan ranah Minang, tampaknya selalu menimbulkan kerinduan yang tak terpermanai. Refleksinya secara fisik kelihatan dalam pertemuan tahun baru 2015 di Alkmaar Belanda itu.

Suryadi, dosen/peneliti di Leiden University, Belanda | Singgalang, Minggu, 15 Februari 2015


TAGS  


Author

Recent Post

Recent Comments

Archive