Suryadi

Renung #53 | Bahagia

23 Feb 2015 - 12:00 WIB

Di zaman ini orang suka menakar kebahagiaan. Mungkin ini refleksi dari kecintaan manusia modern, yang makin materialis, kepada hal-hal yang duniawi. Ada institusi yang mengaku mampu mengukur kebahagiaan penduduk negara-negara di dunia ini. Dan baru saja beberapa minggu lalu beredar pula berita di media cetak dan elektronik bahwa tingkat kebahagiaan makhluk-makhluk yang bernama manusia di setiap provinsi di Indonesia juga sudah diukur.

Para peneliti menetapkan parameter tertentu untuk mengukur tingkat kebahagiaan suatu bangsa, suatu etnis, atau sekelompok manusia. Tentang indikator-indikator apa saja yang dipakai, tentu kita dapat mencarinya di internet. Dalam sebuah situs di dunia maya saya baca bahwa kriterianya antara lain adalah jika sudah tercukupinya kebutuhan primer, seperti sandang, pangan dan papan.

Akan tetapi tampaknya sulit untuk mengukur kebahagiaan karena itu menyangkut suasana hati orang per orang, yang tentu saja dipengaruhi oleh faktor pribadi dan lingkungan. Bukankah sudah disebutkan dalam sebuah ungkapan bahwa dalam laut dapat diduga, dalam hati siapa tahu. Oleh karenanya, tentang kriteria untuk mengukur kebahagiaan itu, sudah terlihat adanya silang pendapat.

Legatum Institute (di London), misalnya, berbeda pendapat dengan New Economics Foundation (NEF) soal kriteria untuk menentukan tingkat kebahagiaan sebuah bangsa. Legatum mementingkan syarat-syarat seperti ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan kebebasan individu. Sementara NEF lebih mengutamakan aspek-aspek lain seperti penduduk, kelestarian alam, bayangan mengenai masa depan, tingkat keramahan, dan harmonisasi dalam pernikahan.

Hasil penelitian Legatum Institute, dengan demikian, menempatkan negara-negara maju yang paling makmur sebagai negara-negara yang penduduknya paling bahagia di dunia, dengan lima urutan pertama: Swedia, Kanada, Swiss, Belanda dan Amerika. Sebaliknya NEF justru menempatkan negara-negara berkembang sebagai negara yang penduduknya paling bahagia di dunia, dengan urutan sebagai berikut: Kosta Rika, Vietnam, Kolombia, Belize, dan seterusnya. Penelitian NEF menempatkan Indonesia di urutan ke-14 bangsa yang paling bahagia di dunia.

Dari penelitian kedua lembaga riset di atas, sudah jelas betapa sulitnya menentukan kriteria yang objektif untuk mengukur kebahagiaan manusia. Kita melihat betapa naifnya lembaga seperti Legatum Istitute yang tampaknya berpikir bahwa kelimpahan materi dan uang otomatis dapat menghadirkan kebahagiaan. Tapi kita tahu bahwa angka bunuh diri yang paling tinggi justru ditemukan di negara-negara Skandiavia. Lembaga ini secara tak langsung seolah hendak mengatakan bahwa tak ada orang kaya yang stress dan bunuh diri. Sebaliknya, NEF tampaknya kepincut oleh keramah-tamahan, sifat komunal dan bersahabat orang-orang non Eropa yang, walau kekurangan uang dan materi, sering masih suka tersenyum dan berbagi kesenangan dengan para tetangga dan orang lain. Tapi bukankah di balik canda tawa, sering orang menyimpan penderitaan dan keluh kesah hati.

Bagaimana dengan etnis Minangkabau? Beberapa minggu lalu media merilis hasil survei Badan Pusat Statistik (BPS) yang mengatakan bahwa tingkat kebahagiaan penduduk Sumatra Barat - dengan demikian berarti mayoritas orang Minangkabau - termasuk paling rendah di Indonesia. Sebaliknya, penduduk provinsi tetangga mereka, Riau, termasuk paling tinggi tingkat kebahagiaannya.

Walaupun kebahagiaan dipersepsikan oleh individu secara berbeda-beda, BPS mengaku telah memasukkan indikator-indikator subjektif sebagai tambahan indikator-indikator objektif dalam penelitiannya.

Mengapa orang Minang tidak bahagia? Tentang hal ini, kita pernah mendengar beberapa penjelasan antropologis dan sosiologis. Para peneliti berfokus pada fenomena keluarga-keluarga Minangkabau, di ranah dan juga di rantau. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa ada kontestasi laten - untuk tidak mengatakan percekcokan - dalam banyak keluarga Minangkabau yang disebabkan oleh sistem pewarisan harta pusaka tinggi, posisi laki-laki (ayah dan mamak) dalam keluarga, dan lain sebagainya, yang berpangkal pada adanya dikotomi antara sistem nasab ibu (matrlineal) dengan Islam sebagai agama orang Minangkabau yang patrilineal oriented, ditambah lagi dengan munculnya modernisasi, seperti antara lain dijelaskan oleh Nacy Tanner dalam artikelnya ‘The nuclear family in Minangkabau matriliny: mirror of disputes’, Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 138,13 (1982):129-151. (Lihat juga disertasinya di University of California, 1971).

Kepribadian orang Minangkabau diteliti oleh H.H.B. Saanin Dt. Tan Pariaman: ‘Kepribadian orang Minangkabau’, dalam M.A.W. Brouwer dkk. (eds.), Kepribadian dan perubahannya (1979), hlm.139-164. Profesor Tan Pariaman memperkenalkan istilah ‘Padangitis’ dan ‘keduaan’ sebagai suatu gejala (symptom) psikologis yang khas ditemukan pada banyak orang Minang. Kita tentu ingat pula penelitian Istutiah Gunawan Michel, ‘The socio-cultural environment and mental disturbance: three Minangkabau case histories, Indonesia 7 (April 1969): 123-137, yang membahas problem psikologi akut (gilo) yang sering diderita oleh orang Minangkabau. Dan tentu menarik pula membaca buku Karl G. Heider, The cultural context of emotion: folk psychology in West Sumatra (New York: Palgrave Macmillan, 2011) yang mencoba menjelaskan psikologi etnis Minangkabau.

Penelitian-penelitian itu menunjukkan bahwa kebahagiaan terkait erat dengan budaya. Tapi kita bangsa-bangsa timur juga yakin bahwa agama juga mempengaruhi kebahagiaan dalam diri. Barangkali di zaman ini, akibat modernisasi dan globalisasi, makin banyak orang yang tidak bahagia. Mereka makin jauh dari agama dan sibuk terus mengumpulkan materi dan mengejar prestise. Tak ada lagi waktu untuk berefleksi. Walau materi dan uang sudah berkelimpahan, terasa ada sesuatu yang dalam diri, menyebabkan jiwa manusia-manusia modern jadi kering.

Orang-orang modern yang selalu kelihatan necis itu, yang memiliki rekening-rekening gendut di beberapa bank, yang menikmati rumah-rumah mewah dan istri-istri cantik, yang mengunjungi villa-villa mewah di atas bukit dengan gundik-gundik muda mereka, yang meracak mobil-mobil mahal di jalanan, yang minum anggur dan vodka di kafe-kafe mentereng, yang belibur ke ke luar negeri, mungkin berbahagia. Tapi kebahagiaan mereka agaknya berbeda dengan kebahagiaan Mak Pono dan kawan-kawannya, yang setiap hari gelak lepas berdekak-dekak sambil main domino dan maota lamak di lepau kopi Uwo Pulin di pinggiran kota Padang.

Kebahagiaan itu bukan barang tunggal. Tampaknya ia terbagi seven pula….

Padang Ekspres, Minggu, 22 Februari 2015


TAGS  


Author

Recent Post

Recent Comments

Archive