Suryadi

Syiah di Indonesia dan politik global

24 Apr 2015 - 06:00 WIB

Bagi kebanyakan umat Islam, Syiah dianggap aliran/mazhab sempalan. Pengikut Syiah hanya mengambil porsi 10% dan 90% mayoritas Sunni. Mazhab Dua Belas Imam (Itsna Asyariyah) ini paling banyak dianut di Iran dan sedikit di beberapa wilayah Timur Tengah lainnya. Orang Syiah menolak tiga khalifah pertama dari Bani Ummaiyyah (Abukabar al-Siddiq, Umar al-Khatab, dan Uthman bin Affan). Mereka percaya bahwa hanya sepupu dan menantu Nabi Muhammad, Ali bin Abi Thalib, kepala keluarga Ahlul Bait, yang menjadi suksesor kekhalifahan Islam yang sah setelah Muhammad wafat.

Namun akhir-akhir ini, kita melihat melebarnya penganut Syiah ke beberapa wilayah lain di Timur Tengah. Yang terbaru adalah fenomena menguatnya pengaruh kelompok Syiah Houthi di Yaman. Mereka sudah mengambil alih pemerintahan negara di mulut Laut Merah itu, membuat jirannya, Saudi Arabia, yang mayoritas warganya beraliran Sunni, melancarkan serangan militer ke Yaman, dibantu oleh konco-konconya, dan konon juga oleh militer Amerika Serikat dan Israel.

Di Asia Tenggara, terlihat adanya indikasi makin maraknya gerakan Syiah di Indonesia. Ajaran Syiah makin mendapat simpati di negara yang dihuni oleh mayoritas muslim Sunni ini. Publikasi-publikasi Syiah di Indonesia makin meningkat hingga mencapai ratusan yang diterbitkan oleh tidak kurang dari 63 penerbit. Meningkatnya atensi terhadap ajaran Syiah ini telah memunculkan berbagai silang pendapat, baik berupa sokongan maupun penolakan.

Walaupun gerakan Syiah di Indonesia makin dihebohkan, tapi tak ada data yang pasti mengenai jumlah pengikutnya di negara ini. Dalam disertasinya The Struggle of the Shiis in Indonesia (Leiden University, 2009), Zulkifli mengatakan bahwa berbagai usaha yang sudah dilakukan untuk mendata jumlah pengikut Syiah di Indonesia termasuk pendataan jumlah ulama Syiah yang pernah diadakan tahun 2000 tidak pernah berhasil. Para pengikut Syiah terkesan menutup diri, suatu cara untuk memproteksi diri dalam lingkungan yang cenderung memusuhi mereka. Namun demikian, Zulkifli merujuk estimasi Dimitri Mahayana, mantan ketua IJABI (Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia) yang pada tahun 2000 memprediksikan bahwa jumlah pengikut Syiah di Indonesia ada sekitar 3 juta orang (hlm. 15).

Muncul pertanyaan: apa sebabnya ajaran Syiah makin diminati di Indonesia? Artikel ini mencoba melihatnya dari perubahan politik global yang tentu saja, langsung atau tidak, mempengaruhi masyarakat dan politik Indonesia.

Syiah: dari simbol agama ke politik

Sejak ambruknya ideologi Komunis, yang ditandai secara simbolik dengan pembubaran Uni Soviet pada akhir 1991, praktis ideologi Kapitalis, sang oponen, yang dipimpin oleh Amerika dan sekutu Eropanya, terus menunjukkan arogansinya dan merancah dunia ini dengan sekehendak hatinya. Kasus Ukraina yang sangat berbahaya yang seang terjadi sekarang adalah contoh terbaru ekspansi ambisius ideologi Kapitalisme (berkedok demokrasi) yang mau merangsek ke halaman belakang Rusia, mantan pantolan Blok Timur. Ketegangan politik global yang terjadi saat ini adalah di luar prediksi banyak analis politik yang meramalkan bahwa pasca pembubaran Uni Soviet dunia akan menjadi lebih damai dan aman, jauh dari ancaman perang nuklir.

Salah satu teori politik menyatakan bahwa politik global selalu mencari keseimbangan. Sepak terjang ideologi Kapitalisme yang tak terkontrol oleh hati nurani para penggeraknya sendiri teryata telah dan akan terus memunculkan gerakan-gerakan politik lain untuk menyeimbangi dan menandinginya. Apa yang kemudian kita lihat adalah munculnya resistensi dari ideologi-ideologi alternatif yang sebelumnya mungkin tidak terlalu diperhitungkan kemunculannya.

Jika dipetakan, praktis sekarang hanya Rusia dan Iran yang cenderung bersuara lantang melawan dominasi Amerika Serika dan sekutunya, biang kerok ideologi kapitalisme dan juga neoliberalisme. Cina kelihatan cenderung mencari keuntungan ekonomi saja. Sedangkan Korea Utara dan beberapa negara Amerika Latin, khususnya Venezuela, masih terus menunjukkan resistensinya melawan dominasi AS. Sementara Kuba yang selama ini menjadi salah satu simbol perlawanan yang penting terhadap Amerika, kelihatan sudah mulai menyerah.

Namun, jika dilihat secara umum, Iran memiliki potensi lebih besar sebagai inspirator/motivator dalam gerakan resistensi melawan kapitalisme global itu. Iran diidentikkan dengan Syiah, satu-satunya mazhab dalam Islam yang dianggap masih belum berhasil dibelit oleh tentakel-tentakel ideologi kapitalisme. Sedangkan mazhab Sunni yang diasosiasikan dengan Saudi Arabia dianggap sudah berhasil dijinakkan oleh para kreator kapitalisme global. Di sisi lain, aliran Wahabi masih menyisakan pertanyaan besar: ideologi ini sering disinyalir sebagai ciptaan alien ketimbang muncul secara sahih dari kalangan Islam sendiri.

Sunni v Shia: why the conflict is more political than religious, tulis The Guardian dengan lugu pada 5 April lalu, tanpa menganalisa (atau pura-pura tidak tahu?) peran Barat dalam melahirkan fenomena yang tampaknya berpotensi menghancurkan bangsa Arab ini. Kebijakan politik Amerika Serikat dan sekutunya di Timur Tengah telah memunculkan sangkarut politik yang berada di luar perhitungannya, yang di satu sisi mungkin menguntungkan mereka, tapi di sisi lain juga membahayakan mereka. Salah satunya adalah kemunculan ISIS. Dalam waktu yang relatif singkat, kelompok brutal dan tidak berperikemanusiaan ini telah membantai ribuan orang Arab dari lintas sub(suku) dan kelompok. Aksi ISIS membantai pengungsi Palestina di Suriah baru-baru ini disinyalir untuk memancing kemarahan Hamas dan Hezbollah di Libanon. Wajar kalau banyak orang berprasangka bahwa kreator ISIS ini adalah alien yang cerdik: suatu aksi genosida terencana terhadap bangsa Arab dengan meminjam merek Islam sendiri.

Sekarang muncul lagi konflik di Yaman, yang efek ke depannya mungkin akan memunculkan kisruh politik baru yang berada di luar perhitungan para politikus Barat (dan para komprador lokalnya) yang haus darah itu. Apakah keputusan Saudi Arabia, yang didukung oleh patron-patron Baratnya, menyerang Yaman akan memunculkan reaksi dari warga Syiah di dalam negeri Saudi sendiri yang merupakan 25% dari total penduduk negeri pemilik Kabah itu? Mari kita lihat apa yang akan terjadi pada hari-hari mendatang di Timur Tengah. Syiah di Timur Tengah telah berubah dari hanya sekedar aliran minoritas dalam Islam menjadi sebuah simbol gerakan politik pembebasan/penentagan. Langsung atau tidak, hal ini makin memberi peluang makin besar bagi Iran sebagai kekuatan politik penyeimbang di dunia Islam maupun dalam menghadapi dominasi Barat.

Indonesia

Bagaimanakah kita di Indonesia, negeri Islam dengan penganut mazhab Sunni terbesar, memaknai dan menyikapi perubahan-perubahan konstelasi politik dunia Islam dan global ini? Bangsa Indonesia, khususnya kaum muslimnya, tampaknya masih naif: meningkatnya minat terhadap Syiah di negara ini masih dilihat dalam perspektif kompetisi antar mazhab dalam Islam. Padahal di Tumur Tengah, sebagaimana telah disebutkan di atas, Syiah sudah menjadi simbol ideologi politik perlawanan terhadap hegemoni Barat.

Perlakuan negara tentu saja hal ini tak lepas dari setiran para kreator kapitalisme dan neoliberalisme global yang terus menyudutkan kaum muslim Indonesia (Sunni), lebih-lebih lagi di era Pemerintahan Jokowi ini, sangat potensial akan menambah energi penarik minat orang untuk masuk Syiah. Kaum muda yang gelisah dan bosan dengan keadaan politik yang tidak berkeruncingan dan kebijakan eknomi yang berbau neoliberal akan mudah dirangkul oleh para propagandis Syiah.

Walau kecil kemungkinan ideologi perlawanan Komunis dan Syiah akan bisa bersatu, sebagaimana halnya PKI dan Islam di tahun 1920-an, namun Indonesia perlu waspada agar tidak menjadi ladang pembantaian umat manusia lagi akibat pertentangan ekstrim rakyatnya ulah kerasukan ideologi/agama impor, seperti yang terjadi di tahun 1965.

Suryadi - Leiden University, Belanda

* Tulisan ini adalah pendapat pribadi penulis.


TAGS  


Comment

Author

Recent Post

Recent Comments

Archive