Suryadi

Renung #54 | Mengkhianati Si Pemberi Roti

1 May 2015 - 06:00 WIB

‘Tiba-tiba kata blusukan menghilang’, demikian tulis teman saya, Dr. Rina Marnita, di laman Facebooknya. Ibarat saudagar besar yang jatuh bangkrut, pelan tapi pasti, kata blusukan, yang menyimbolkan kedekatan orang berkuasa/berstatus sosoal tinggi dengan rakyat/kawula, mulai dilupakan orang. Kata itu, yang begitu ’sakti’ selama masa-masa kampanye Pemilu Indonesia 2014, kini mengerut seperti karet terbakar.

Menghilangnya kata blusukan akhir-akhir ini tentu terkait erat dengan dinamika politik tanah air. Presiden Joko Widodo menghadapi berbagai tantangan untuk mewujudkan janji-janji kampanyenya. Sebagian tantangan itu muncul dari partai yang mengusungnya ke kursi kepresidenan: PDI Perjuangan. Akan tetapi sebagian lainnya lebih disebabkan oleh karakternya yang kurang menunjukkan ketegasan sebagai orang nomor satu Indonesia.

Bila kita mengamati representasi Presiden Jokowi di media sosial sejak kampanye pemilihan presiden pada pertengahan 2014 sampai sekarang, maka terlihat suasana yang bertolak belakang. Jika dulu harapan-harapan yang begitu besar kepada Jokowi disuarakan oleh para pendukungnya, maka sekarang rasa pesimis mulai menghinggapi pikiran mereka. Hal ini dapat ditangkap melalui banyak komentar miring dari mantan pendukung mereka dulu dan juga sikap diam dari yang lain yang dulu berkoar-koar keras mengampanyekan Jokowi di media sosial. Minggu ini, ungkapan saya menyesal memilih/mendukung Jokowi makin nyaring terdengar.

Mungkin kelompok pendukung Jokowi yang paling kecewa adalah rakyat berderai dan komunitas lembaga swadaya masyarakat (LSM), khususnya mereka yang terus-menerus mengampanyekan gerakan anti korupsi dan yang menyuarakan HAM. Harapan kelompok pertama di bidang ekonomi benar-benar sirna dengan kebijakan Pemerintahan Jokowi yang kelihatan sangat pro pasar. Hanya beberapa bulan setelah berkuasa, Jokowi menaikan harga bahan bakar, yang kemudian berimpak luas kepada naiknya harga-harga kebutuhan pokok masyarakat. Harapan kawula yang dulu berbondong-bondong memilihnya dalam pemilu kini buyar. Dengan naiknya harga, golongan masyarakat bawah ini makin dibuat ringkih oleh pemerintah yang notabene hasil pilihan mereka sendiri.

Sementara kelompok-kelompok LSM dibuat kecewa berat oleh gerakan pelumpuhan KPK oleh Pemerintah Jokowi sendiri (akibat tidak kuasa melawan kemauan partai pendukungnya) dan juga berbagai isu HAM seperti hukuman mati, kebebasan media, dan masalah Papua. Kekecewaan mereka dapat dipahami mengingat harapan tinggi kelompok LSM ini kepada Jokowi di masa kampanye: masih ingat dalam ingatan kita bahwa Jokowi sudah dibayangkan menjadi lambang pemimpin yang merakyat dan ikon pemberantas korupsi. Oleh karena itulah peluang oponennya, Prabowo Subianto yang, karena masa lalunya yang tidak mungkin bisa bebas dari ikon militer, untuk memenangi pemilu menjadi lebih kecil. Para aktivis HAM menghindarinya, dan cenderung taklid buta memilih Jokowi, yang sekarang justru membuat mereka kecewa berat. Kenapa tidak? Justru di masa kepresidenan Jokowilah KPK malah dibuat lumpuh layuh oleh pemerintah.

Sekarang tidak hanya kata blusukan yang menghilang. Kebijakan Presiden yang mengobral uang negara untuk memenuhi nafsu duniawi para politikus di sekelilingnya untuk memiliki mobil baru (meskupun kemudian dianulir) juga membuat rakyat tercengang-cengang. Yang lebih membuat rakyat termehek-mehek lagi adalah: mobil limousine Sang Presiden - yang disebut di media sosial sebagai ‘bajaj enam pintu’ - dan lusinan mobil mewah baru lainnya yang dipakai oleh para pejabat di sekelilingnya. Tidak ada presiden Indonesia sebelumnya, walau Soeharto sekalipun, yang memakai limousine untuk mobil dinasnya. Sulit bagi orang awam memahami, mengapa tiba-tiba segala image tentang budaya hidup sederhana yang dulu (di)lekat(kan) pada diri Jokowi, kini terbang dari dirinya?

Pepatah Melayu lama menyatakan: ‘Kerbau dipegang talinya, manusia dipengang janjinya.’ Agaknya kini makin banyak orang, juga mereka yang telah menghantar Jokowi ke tampuk kekuasaan, ingin menyampaikan sebuah pepatah lama kepada Presiden yang tak lagi memperlihatkan kesederhanaan itu: “Jangan mengkhianati orang yang memberimu roti.”

Suryadi - Leiden University, Belanda


TAGS  


Author

Recent Post

Recent Comments

Archive