Suryadi

Melawan Amnesia Sejarah : “Cindaku” dan “Palasik”

12 Jun 2015 - 13:30 WIB

Dari hal “Cindaku” dan “Palasik” yang ditakuti orang di Sumatera

cd1ecc7f0887502c27ec554ad8aba681_164-kirata-coupleHipa menyiarkan kepada B. T. [Bintang Timur] karangan tentang takhyul anak negeri yang kami rasa tentu menarik hati pembaca. Sebab itu kami kutip sepenuhnya seperti berikut:

Tidak lama lagi, bulan Zulhaji (Zulhijjah) bakal mendatang, dan di seluruh kampung-kampung di Sumatera (terutama di Sumatera Barat), rumah-rumah pukul enam petang sudah tutup pintu dan orang di jalanan lengang dan sunyi, sebab takut akan bertemu dengan “cindaku” (jadi-jadian) atau “palasik” (vampir).

Tentang “cindaku” ini, sebenarnya adalah yang kerap kali diketemui orang kampung sebagai macan; dari jauh bila orang akan berpapasan dengan dia, kedengaran suara “kucinda”, sementara dari jauh lagi kedengaran “ku”, sehingga inilah yang menguatirkan orang yang berjalan malam, sebab kabarnya bila bertemu dengan “cindaku” ini orang terus dibinasakannya secara gaib.

Riwayat cindaku ini, yang sekarang menjadi satu hikayat yang terkenal di kalangan penduduk Minangkabau, Bengkulen, Palembang, Riau dan Tapanuli, adalah sebagai berikut:

Seorang perempuan, yang tidak mempunyai suami, di masa bulan haji lagi mengirik padi di sawahnya yang letaknya jauh dari kampung.

Hari sudah petang, udara memperlihatkan warna-warna awan yang luar biasa, sebagai satu tanda yang mempunyai arti di kalangan [orang yang mempunyai] ilmu sihir, yang kebiasaannya oleh penduduk disebut “senja”, dan buat menghilangkan itu, ialah dengan menyemburkan abuan ke atas udara.

Tetapi itu perempuan, karena asyiknya, tidak mengacuhkan kebiasaan ini, dan sekonyong-konyong ia terkejut, karena seekor harimau sudah mendekatinya, yang kemudian bertukar rupa menjadi manusia.

Ini laki-laki macan, minta supaya si perempuan suka dijadikan istrinya, dan berjanji tidak akan bertukar rupa lagi. Perempuan tersebut turuti ini permintaan sebab kehabisan akalnya, lalu mereka mendirikan pondok di dalam hutan, tidak jauh dari sawah mereka itu.

Lamalah mereka itu kawin, keadaan cindaku itu masih tetap sebagai manusia, tetapi bila malam ia minta permisi ke luar, pulang membawa binatang-binatang yang dimakannya jantungnya dengan mentah-mentah, dan kalau di masa menuai padi, ia katanya pergi menangkap ikan, seperti kebiasaan harimau di Sumatera Barat.

Mereka pun mendapat dua orang anak, tetapi keduanya tiap-tiap si ibu ke luar rumah, sudah bertukar rupa jadi harimau, sehingga karena ketakutan, pada suatu hari perempuan tersebut melarikan diri dan minta pertolongan orang kampung untuk melepaskan dirinya dari pengaruh cindaku itu. Orang ilmu sihir pun disuruhlah ke tempat yang di[t]unjukkan perempuan itu, di mana orang lagi dapati, si suami [yang] sudah menjadi macan, lagi sedang memakani jantung kedua anaknya itu.

Demikianlah riwayat itu, sehingga bila masa bulan haji ini, gadis-gadis amat berhati-hati menjaga dirinya, dan tidak ia pernah lagi pergi ke luar rumah, kalau tidak diiringkan oleh orang tuanya, sebab takut nanti akan ditangkap oleh cindaku itu.

Juga di masa ini, berhubung dengan naiknya padi ke kampung, di mana-mana orang mulai mengadakan pesta perkawinan, dan di masa ini juga banyak anak-anak yang terlahir. Orang yang berpesta kawin ini, banyak mesti menyediakan penjaga, seperti dukun untuk menjaga supaya pesta keramaian itu jangan sampai mendapat halangan dari ilmu-ilmu atau penyakit yang ditimbulkan oleh tukang-tukang sihir.

Minangkabau, di pesta perkawinan, biasanya sekarang ada musimnya “sijundai”, sehingga banyak kita merasa kasihan melihat gadis-gadis yang mendapat penyakit itu, sebagai orang gila bernyanyi-nyanyi di kamarnya, sementara kalau yang keras penyakitnya itu, ia pergi memanjat-manjat ke atas pohon yang amat tinggi.

Selain dari sijundai ini, masih ada satu botol kecil, yang di dalamnya diisi dengan serupa tepung yang rupanya arah kekuningan dan bersama dengan ini tepung disertakan beberapa biji jarum yang patah.

Ini botol dimasukkan orang dengan jalan ilmu sihir ke dalam perut musuhnya, sehingga perut itu menjadi seperti “busung”, satu penyakit yang amat berbahaya, dan tidak bisa diobati dengan pertolongan dokter.

Di Tapanuli, Padang Lawas, di mana semua (sic) dengan Sumatera Barat orang mengadakan pesta-pesta perkawinan, dengan pertolongan penerangan lampu {344} battery, orang bisa membinasakan musuhnya, atau merusak pesta yang sedang diadakan musuh itu, dengan jalan menyebar biang penyakit “sodom” dengan perantaraan sinar battery itu.

Ini penyakit sodom ada dua macam, pertamanya hanya di kulit saja yang hampir menyerupai “lepra”, dan yang paling jahat adalah “sodom tape”, sebab karena ini penyakit tulang-tulang manusia yang kena, busuk semuanya, sehingga si korban hanya akan menanti-nanti hari jiwanya melayang. Ia tidak dapat bergerak ataupun bergumit sedikit saja, sebab di dalam tulangnya ia merasa amat gatal.

Ini penyakit banyak sekali membawa korban, terutama di Tanah Batak, di mana ini penyakit ada berasal. Dokter tidak bisa bikin apa-apa, dan yang kena tidak bisa ketolongan lagi.

Kembali kita ke Minangkabau, kepada kaum ibu yang banyak melahirkan anak di bulan Zulhijah ini, selama tujuh hari menurut kebiasaan, rumah tempat lahir anak itu mesti di “sembur” dengan obat-obatan yang terdiri dari cakur (kencur), lada, ketumbar, jintan, dll. guna mengusir “setan” katanya, atau gangguan dari palasik. Di bawah kasur anak yang baru lahir ini, ditarok pula sebilah pisau, untuk jaga-jaga juga. Kain-kain kotor dari anak-anak yang baru terlahir tidak boleh dijemur malam hari, atau siang di tempat yang lekas kelihatan dari jalan raya, sebab ini dikuatiri benar, yang nanti darah-darah yang di kain anak itu akan dihisap oleh palasik (vampir) yang di masa siang hari berjalan keliling dengan menyaru [menyamar] sebagai manusia. Kebiasaannya mereka menjadi tukang jual barang loyang, yang bisa ditandai, dengan tidak mempunya bendar [belahan] di bawah batang hidungnya.

424dda85b50ea305a836befc38e6e1ce_palasik_ilmu_hitam_minangkabauIni kebiasaan, kerap kali juga menjadikan timbul salah sangka, sebab yang kebanyakan yang berjualan barang-barang loyang itu ada[lah] orang-orang sebelah Lintau dan Sungai Puar, sehingga mereka ini bila di hari bulan haji amat dikuatiri penduduk-penduduk kampung.

Juga Lintau karena terkenal dengan ilmu sihirnya, di mana tiap-tiap anak kampung Lintau yang merantau bisa menangkap sepesan [lipan] yang berbisa, serta menangkan ular [ber]bisa, zonder berkesudahan apa-apa.

Dewasa ini juga, seperti di Minangkabau dan Padang Lawas, ada[lah] musimnya orang bunian (jihin ['jin']). Banyak gembala-gembala kerbau yang nakal-nakal di dalam hutan kehilangan akal, sehingga ia tidak dapat mencari jalan pulang dan hilang beberapa hari. Kebiasaannya, anak yang hilang ini didapati orang sudah tujuh hari atau sampai berbulan-bulan, dan bila orang ketemu dia, orang dapat lihat anak itu sudah menjadi dungu.

Kebanyakan setelah ditanyai, anak menerangkan bahwa ia dibawa oleh jihin ke suatu Istana yang amat permai dan tinggi, dan di sana ia diberi makan makanan yang enak. Tetapi lama-kelamaan katanya terasalah pikirannya baik, dan ia lihat istana bagus dan tinggi itu kenyataannya pohon kayu yang amat besar dan rindang, dan nasi atau makan-makanan yang enak itu terdiri dari binatang-binatang yang mati dan semut putih yang banyak kedapatan di hutan-hutan Sumatera.

Sebab itu juga maka sampai sekarang, orang-orang tua di Sumatera, percaya akan adanya jihin-jihin di pohon-pohon kayu yang besar yang dibilangnya berjihin, di mana rumah jihin itu katanya ialah itu “sekat” (;sakek’, Melayu Minangkabau), yaitu serupa bunga besar dari daun sekat yang menyerupai piring yang besar.

Hal-hal yang kita sebutkan di atas, di dalam surat-surat kabar di Sumatera kerap kali orang dapat baca, sehingga bila waktu saya pertimbangkan itu kabaran. Banyak orang-orang pandai di Jawa ini tidak percaya akan kebenaran itu, tetapi saya yang sudah banyak mengalami kejadian-kejadian seperti ini, boleh berkata bahwa sedikitnya kita muat (sic)anggap betul ini, sebab bukan sekali dua kali terdengar, malahan terus tiap-tiap tahun di masa bulan Haji.

Ahli-ahli sihir di Sumatera yang saya kunjungi, di Aceh, Tapanuli, Sumatera Barat dan Batak Karo, semua menerangkan bahwa keadaan itu ada betul, dan bilang juga yang ini kejadian hanya bisa terdapat di negeri-negeri dekat khatulistiwa.

Pelawan ini jihin-jihin oleh ahli-ahli sihir, adalah dengan satu ucapan, di mana terdapat satu kalimat “saudaraku yang lima”. Seterusnya ucapan itu tidak perlu saya siarkan, sebab berhubung dengan larangan dari yang menerangkannya.

Seorang bernama Tapa di Padangsidempuan, yang sekarang masih hidup, kata orang ada mempunya istri seorang “bunian”, pernah menceritakan riwayatnya, bahwa permulaan katanya ia sedang berada di dalam satu hutan dekat gunung Lubuk Raya, di mana ia ditahan oleh orang-orang bunian dan dikawinkan, dan baru dilepas, sesudah istrinya itu mendapat seorang anak.

Sekarang katanya, anaknya itu sudah dua orang, dan pernah dibawanya ke kota Padangsidempuan, tetapi toh tidak pernah orang lihat.

Keadaan ini orang sekarang ada normal, ia terkenal juga dalam pergaulan orang tua-tua, dan tidak akan ada orang yang bisa menuduhkan yang ia berkata tidak benar, sebab sudah beberapa kali orang turuti sendiri ia ke dalam hutan, yang katanya tempat tinggal istrinya, dan sesampainya di tengah-tengah hutan itu, ia terus menghilang.

Satu lagi, kalau orang mau bukti yang terang, cobalah orang pergi ke pulau Pandan, di mana tinggal juga sekarang ini seorang haji yang mempunyai istri orang bunian juga.

Pendapat satoe prof. Duitsch

Satu prof. Duitsch [Jerman], yang menyelidiki keadaan-keadaan ajaib di Sumatera pernah menerangkan bahwa sesudah diselidikinya betul-betul, orang mesti tarok percaya juga atas kepercayaan anak negeri itu, dan itu stillekracht [kekuatan gaib] katanya, ada[lah] satu wetenschap [pengetahuan] dari Sumatera, yang belum begitu diketahui oleh ahli wetenschap di Barat.

Bermula juga katanya, ia beranggapan yang itu semua kejadian ada sebagai “verschijnsel” [gejala], sebab katanya sudah pernah diperiksa batok kepalanya seorang manusia dari Sumatera Barat, yang mempunyai ilmu di waktu hidupnya, di mana orang dapat tahu bahwa otaknya ada luar biasa beratnya, dan tahan kuat buat berpikir hal-hal yang sulit.

Di dalam otak [orang] itu ada semacam “zat” yang jarang didapati pada manusia biasa, ingatannya amat terang, dan mudah sekali buat dididik orang serupa ini buat mempelajari filosofi.

Bahwa segala ini kejadian-kejadian bisa didapat hanya di orang-orang yang tempatnya dekat garisan equator, prof. itu juga percaya, sebab katanya di tanah Afrika juga terdapat ahli-ahli ilmu sihir, di tempat-tempat yang dekat equator, dan begitu juga di Amerika [Latin] {345}.

***

* Sumber: Anonim, “Dari hal ‘tjindakoe’ dan ‘palasik’ jang ditakoeti orang di Soematera”, Pandji Poestaka, No. 22, Tahoen X, 15 Maart 1932: 344-345 [rubrik Serba-Serbi]). Ejaan disesuaikan; angka dalam tanda { } merujuk pada halaman asli majalahnya; kata-kata dalam tanda [ ] merupakan tambahan dari penyalin; foto ilustrasi merupakan tambahan dari penyalin.

Penyalin: Suryadi, Leiden University, Belanda

Foto : Cindaku (A pair of kirata (Pat Burroughs/karlshuker.blogspot.com) dan Palasik(warisdjati.blogspot.com)


TAGS  


Author

Recent Post

Recent Comments

Archive